"Kak El, pelan-pelan." Anin meringis, dia berusaha untuk menyamai langkah tergesa Elard yang benar-benar membuatnya kepayahan dan beberapa kali nyaris jatuh tersungkur. Terlebih, tangan kanannya dalam genggaman erat pria itu. "Kak," percuma! Kesal Anin, dia tak bisa lagi berharap Elard mau memelankan langkah. Karena sejak tadi, cowok itu seolah menulikan pendengarannya. Memilih pasrah. Anin akhirnya bernapas lega, saat mereka sampai di parkiran. Buk! "Astaga!" "Pakai!" Menyingkirkan sesuatu yang baru saja dilempar Elard dan menutupi wajahnya, Anin mengerjap. Saat mendapati sebuah jaket kulit berwarna hitam. "Kak—" "Pakai! Sekarang!" Elard berusaha mengais kesabaran. Dia benar-benar dalam mode yang mudah meledak. Dan Anin terus menguji kesabarannya dengan bantahan yang terus dilontark

