8. Serba Salah

2061 Kata
"Jadi?" Bersedekap tangan sembari menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Fany memulai interogasinya pada Anin, yang kali ini bahkan ikut duduk di kursi belakang. Sepertinya, anak majikannya itu tak mau menunggu hingga sampai di rumah. Untuk mengorek informasi, tentang Anin yang bisa bersinggungan dengan geng yang paling ditakuti seantero sekolah. "Gue nggak mau ada kebohongan yang terselip di cerita lo nanti ya. Jelasin semuanya dan kenapa lo nggak pernah kasih tau?" Meneguk ludah kelu. Anin yang duduk tegang di samping Fany. Tampak kebingungan harus memulai ceritanya dari mana? Dengan tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Anin berusaha untuk mengendapkan rasa gugupnya. "Ck! Buruan! Sebelum sampai rumah, lo harus kelar ceritain semuanya." Titah Fany yang seperti biasa, enggan untuk dibuat menunggu meski sering kali dirinya membuat orang lain menelan kesal karena menungguinya terlalu lama. "I—itu, nggak sengaja Fan." Mulai Anin yang meringis di bawah tatapan tajam nona mudanya. "Jadi, aku ... Pernah nggak sengaja, melempar bekas minuman ke kepala Kak Elard." Menggigit bibir bawahnya, Anin meminta maaf dalam hati karena tak bisa mengatakan hal yang sejujurnya. Mengingat, ada Gavin yang harus ikut serta ia ceritakan. Sementara Fany sendiri, sangat tidak suka dengan cowok itu. Mengerjap-ngerjapkan mata, Fany kesulitan mengeluarkan kata-kata, untuk menanggapi apa yang tadi Anin katakan padanya. "Terus, lo diapain sama Kak Elard?" Memiringkan posisi duduknya, Fany kian tertarik dengan permasalahan yang menimpa Anin karena berurusan dengan kelompok Elard. "A—aku, disuruh sikat gigi pakai wasabi, tapi—" Anin belum menyelesaikan kata-katanya, tapi terinterupsi oleh ledakan tawa dari Fany. Karyo yang tengah mengendarai mobil pun sempat mencuri pandang kearah jok belakang. Di mana anak majikannya tengah terbahak-bahak puas. "Oh, astaga, perut gue sakit!" Masih dengan sisa-sisa tawa, Fany menyeka sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Perutnya bahkan nyaris keram. "Kak Elard memang nggak ada duanya. Lo tau nggak sih? Dia tuh udah kaya Voldemort yang namanya aja kaya ditakuti para siswa. Apalagi sampai harus berurusan sama dia. Ya ampun, Nin, lo sial banget!" Racau Fany yang kembali meledakan tawa. Mengusap belakang lehernya, Anin hanya bisa meringis melihat Fany yang wajahnya sudah memerah karena terus tertawa. Padahal, tadi itu Anin ingin mengatakan jika tak sempat melaksanakan ancaman Elard untuk sikat gigi dengan wasabi, karena lebih dulu berontak dan melarikan diri. "Terus, ngapain tadi salah satu anak buahnya Kak Elard cari lo dikelas? Gue dengar dari anak lain, Kak Elard lagi kena skorsing karena ngiket si Bimo yang sok-sokan nantangin. Ck! Itu anak emang gede omong doang. Kebanyakan gaya, tapi baru digertak Kak El udah ngompol. Yang begitu mau jadi cowok gue? Hah! Yang benar aja?!" Fany bergidik saat mengingat teman seangkatannya yang sok berkuasa. "Teman Kak Elard cuma ... Minta dibelikan jajanan dikantin." Lagi-lagi, Anin terpaksa berbohong. Dalam hati ia terus mengucap maaf. Tapi sungguh! Mengurusi semua yang Fany titahkan padanya saja, dia sudah kepayahan. Dan sekarang, Anin harus menghadapi satu orang lagi yang setipe dengan Fany. Mengernyitkan kening, Fany melempar tatapan yang membuat Anin mengekeret di tempat duduknya. Apa mungkin, jika kebohongannya kali ini terendus? "Kenapa harus lo yang beli?" Tanya Fany yang belum melepas tatapan curiganya, "jarak kelas kita ke kantin bahkan lebih jauh. Dibanding kelas temannya Kak El yang tinggal turun dari lift terus langsung menuju kantin setelahnya." "A—aku juga nggak tau Fan. Mungkin, dia cuma mau ngerjain aku aja." Meski tampak belum puas sepenuhnya. Fany mengedikkan bahu tak acuh. Lalu merubah posisi duduknya lebih kearah depan. "Mang Yo! Turunin di mall depan ya." Ucap Fany tiba-tiba. Membuat Karyo menganggukkan kepala dan dari kaca spion dalam, melihat nona mudanya. "Kamu nggak pulang Fan?" Tanya Anin yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. "Gue ada janji sama yang lain di mall itu. Nanti, kalau nyokap tanya, bilang gue kerja kelompok. Dan kalau dia tanya, kenapa lo nggak ikut? Bilang aja, kali ini kita beda kelompok. Ngerti?" Bisik Fany agar hanya Anin yang bisa mendengar ucapannya. Menganggukkan kepala patuh, Anin hanya bisa mengiyakan apa pun yang Fany titahkan padanya. Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah mall di mana Fany janjian bertemu dengan teman-temannya. Usai menurunkan gadis itu, mobil kembali melaju, setelah Anin pindah tempat. Mendudukkan diri di kursi bagian depan, samping Karyo yang melajukan kendaraannya dengan tenang. "Non Fany kenapa minta turun di mall?" Tanya Karyo setelah mobil keluar dari area mall dan bergabung bersama kendaraan lain di jalanan yang siang itu cukup padat. "Mau kerja kelompok." Jawab Anin, sesuai alasan yang Fany katakan padanya tadi. "Ngerjain tugas kok di mall? Bisa fokus memangnya?" Tanya Karyo yang masih belum puas dengan rasa penasarannya. "Loh, kenapa tadi nggak tanya langsung sama orangnya, Mang?" Tantang Anin meski hanya bergurau, dan dibalas dengkusan oleh Karyo. "Mana berani aku, Nin. Bisa disemprot Non Fany." Terkekeh, Anin nyaris kembali buka suara untuk menanggapi Karyo, tapi terinterupsi oleh getaran ponsel yang berada di saku seragam sekolahnya. Meraih ponsel jadulnya dari dalam saku, Anin meneguk ludah kelu, saat melihat nama 'Bos Gila' yang kini menelponnya. "Kenapa nggak diangkat Nin? Kamu jawabnya lewat telepati apa gimana?" Gurau Karyo yang sempat mencuri pandang kearah Anin yang mematung sembari melihat ponsel yang terus berteriak meminta perhatian digenggaman gadis. Meringis canggung, Anin dengan berat hati menerima panggilan tersebut. "Ha—" "Lo kenapa belum nongol?" Ucap sosok di seberang sambungan dengan ketus, "gue tau, sekarang udah jam pulang. Di mana lo?!" Meremas rok abu-abunya, Anin mengais kesabaran yang selalu tercerai-berai saat berhadapan dengan seorang Elard. "Masih di jalan, soalnya rame." "Ya iyalah rame! Namanya juga jalan. Kecuali kuburan!" Ya kalau udah tau, terus ngapain masih tanya? Ingin sekali Anin menjawab seperti itu. Sayang, keberanian yang dimiliki tak sebesar kekesalannya sekarang. "Sebentar lagi sampai." Ucap Anin akhirnya. "Oke, gue tunggu. Kalau sampai lo masih belum nongol, gue beneran ikat si Gavin ditiang bendera besok!" "J—jangan Kak—" Tut ... Tut ... Tut .... Belum sempat Anin menyelesaikan kata-katanya, sambungan sudah diputus begitu saja. Astaga ... Ada apa sih dengan orang-orang itu? Kenapa mereka memiliki tingkat kesabaran yang sangat tipis? Tapi sangat ahli menguji kesabaran orang lain? "Kenapa Nin?" Karyo gatal ingin melempar tanya, saat melihat wajah Anin yang berubah keruh. "Mang," Anin memanggil Karyo setelah memasukan ponselnya ke dalam saku seragam sekolahnya. "Maaf, bisa antarkan saya?" Mengerutkan kening, Karyo menatap gadis yang duduk di sampingnya, ketika mobil berhenti karena lampu merah. "Antar kemana? Kamu jangan ikut-ikutan keluyuran. Nanti Bibi kamu nyariin." "B—bukan keluyuran kok. Aku ... M—mau kerja kelompok juga." Dalam hati, Anin meminta ampunan karena hari ini sudah begitu banyak melakukan kebohongan kepada orang-orang di sekitarnya. "Kenapa nggak bareng sama Non Fany tadi?" "Itu Mang, k—kita beda kelompoknya." Menganggukkan kepala, Karyo kembali fokus menyetir setelah lampu lalu lintas berubah hijau. "Mau di antar ke mana?" Tanyanya yang kemudian mendengarkan baik-baik, alamat yang Anin sebutkan. "Wah, itu mah apartemen mewah." Ucap Karyo yang membuat Anin penasaran. "Kok bisa tau?" "Nyonya punya unit di sana. Hasil arisan. Orang kaya arisannya bikin orang macam kita migren ya Nin? Bukan cuma uang yang jumlahnya bisa berlipat-lipat dari gaji. Tapi juga perhiasan, berlian, sampai apartemen. Mang Karyo kan pernah anterin nyonya ke situ, bantu beresin barang juga. Tapi kayaknya jarang di tempati. Sayang banget, padahal bagus banget tempatnya. Teman kamu tinggal di sana?" "I—iya Mang. Dia di sana." Anin bahkan baru tau hari ini. Menganggukkan kepala, Karyo kembali fokus menyetir. Dengan Anin yang terdiam di sampingnya. Meski ada banyak hal yang bercokol di kepala. ***  Suara bel yang tertangkap pendengaran membuat Elard yang sedang tengkurap di atas sofa panjang mengangkat wajah. "Bukain pintu, Ca!" Titahnya pada Panca yang tengah seru bermain PlayStation dengan Dika. "Yah ... Bos, nanggung ini. Bentar lagi bisa nikung si Dika." "Oh ... Lo bantah perintah gue?" Hanya dengan suara yang berupa desisan. Panca yang sebelumnya ogah-ogahan, kini melempar stick PlayStation hingga mengenai Dika yang menggerutu sebal. Tapi Panca abaikan karena segera berdiri dari duduknya yang sejak tadi bersila di atas karpet bulu empuk. Cowok itu dengan cepat berderap menuju pintu. "H—halo Kak?" Sapa Anin canggung saat pintu di depannya terbuka dan memperlihatkan salah seorang teman Elard yang sayangnya tak ia tau namanya. "Nongol juga lo akhirnya. Si Bos hampir aja nyuruh kita ngunyah kulit jeruk karena kesal nungguin lo." Ucap Panca yang membuat Anin melongo tak percaya. Hal yang justru membuat Panca terbahak karena melihat wajah menggemaskan di depannya. "Pantesan si Bos betah kali ini. Lo antik, beda sama yang lain." "CA! GUE SURUH BUKA PINTU! BUKAN RUMPI DI SANA!" Suara Elard membuat tawa Panca meredup seketika. "I—IYA BOS! INI TUAN PUTRINYA SEGERA MEMASUKI ISTANA!" Balas panca dengan teriakan tak kalah keras, yang bahkan membuat Anin meringis dsn berharap telinganya tak pengang. "CA! LO MAU LULURAN PAKAI BIJI CABE?!" Meringis sembari menggaruk-garuk kepala, Panca segera memiringkan tubuh dan membuka pintu lebih lebar agar Anin bisa masuk. "Buruan ke dalam, gue nggak mau luluran pakai biji cabe." Keluhnya dengan wajah memelas. Membuat Anin mengangguk kaku dan segera melangkah masuk. Anin tak bisa menahan diri, untuk mengedarkan pandangan ke setiap sudut apartemen milik Elard yang sesuai dengan apa yang Mang Karyo katakan padanya. Begitu luas dan memiliki interior modern yang bagus serta nyaman untuk mereka yang menempatinya. Apa sang nyonya juga memiliki unit apartemen seperti ini? Mungkin hampir sama, hanya interiornya saja yang berbeda. Pikir Anin saat melihat-lihat unit apartemen milik Elard. "Ayo sini, si Bos di ruang santai." Panca menjadi penunjuk jalan, dengan Anin yang hanya bisa mengekor di belakangnya. "Lo buka pintunya pakai rumus? Lama banget!" Omel Elard yang sudah duduk tegap di atas sofa sembari bersedekap tangan. "Yaelah Bos, nggak lama-lama amat kali. Kan kita harus beramah tamah sama tamu." Elak Panca yang kemudian mengangkat jari telunjuk dan jari tengah hingga membetuk huruf V. "Iya deh Bos, maaf, nggak lagi-lagi." Ringisnya yang kemudian segera mendudukkan diri di atas karpet bulu bersama Dika yang tampak puas melihatnya ketar-ketir karena takut Elard murka. "Lo sih, nyari penyakit." Ejek Dika yang membuat Panca melempar tatapan galak padanya. "Udah, ayo lanjut lagi." Keduanya kemudian sibuk dengan permainan mereka. Tak menghiraukan dua sosok yang berada di belakang punggung. Elard yang masih duduk bak penguasa. Sementara Anin, hanya berdiri dengan rasa canggung luar biasa. "Lo telat sepuluh menit," Elard berdesis, lalu bangkit dari duduknya. Hingga menjulang di hadapan Anin yang harus sedikit mendongakkan kepala. "T—tapi kan, nggak ada perjanjian jam Kak? C—cuma di suruh ke sini." Anin merasa takjub dengan dirinya sendiri. Saat ini, dia bak memasuki kawanan serigala yang bisa mencabiknya kapan saja. Tapi ternyata, masih ada stok keberanian yang dia punya. "Gue nggak peduli!" Jari telunjuk dan ibu jari Elard yang dibentuk seperti pistol berada di depan kening Anin. "Lo udah buang sepuluh menit waktu berharga gue. Jadi sekarang, tugas lo harus ikutin perintah gue! Paham?" Tanyanya sebelum kemudian menyentil kening Anin hingga gadis itu mengaduh. Merengut kesal, Anin mengusap-usap keningnya. Lalu mengangguk dengan berat hati. Sebaiknya dia menurut agar bisa pulang. Semoga Elard tak menahannya terlalu lama. Bisa gawat kalau Bibinya mencari-cari. "Gue lapar!" "Wah! Sama Bos!" Sahut Dika penuh semangat. "Pesan delivery aja biar cepat, Bos!" Kali ini Panca yang angkat bicara. "Ck! Siapa yang nyuruh lo berdua ikutan bacot, hah?" Tanya Elard yang membuat kedua anak buahnya bungkam. Kembali meletakan atensi pada permainan mereka. Merogoh sesuatu, Elard kemudian menarik tangan kanan Anin dan meletakan sebuah kartu berwarna hitam di atas telapak tangan gadis itu. "Beli bahan-bahan makanan di supermarket dekat sini. Bikin masakan yang sesuai selera gue." Titah Elard yang membuat Anin mengerjap-ngerjapkan mata. "Seleranya Kak Elard yang kaya gimana?" "Ya lo cari taulah. Yang pasti, bikin makanan yang bisa gue suka. Gue pemilih soalnya." Usai mengatakan hal yang membuat Anin ingin mengerang frustasi. Dengan santai, Elard kembali mendudukkan diri. Dan kali ini, sembari bersilang kaki. "Ngapain bengong? Buang waktu ya lo? Gue itu benci sama yang namanya menunggu. Udah sana!" Usirnya sembari mengibas-ngibaskan tangan seolah tengah mengusir nyamuk. "U—uang buat belanjanya Kak?" Elard mengusap wajah, "itu yang ditangan lo dikira apaan?" Anin memperhatikan kartu berwarna hitam pemberian Elard. "Memangnya ini apa Kak?" "Astaga ... Lo benar-benar ya! Itu black card. Lo bahkan bisa beli mobil atau rumah pakai itu!" "U—uang tunai aja Kak," bukannya merasa takjub dan senang. Anin justru ngeri jika harus mengunakan kartu yang Elard berikan padanya. Panca dan Dika saja sampai kompak terbatuk-batuk. "Gile ... Lo kasih black card punya lo Bos?" Tanya Panca berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Gue aja belum pernah pegang itu kartu sultan punya lo Bos." Kali ini Dika yang ikut angkat bicara. "Bacot lo berdua. Udah, main aja sana!"  Meski merengut masam, Panca dan Dika kembali sibuk dengan permainan. Meski telinga keduanya dipasang baik-baik untuk bisa mencuri dengar. "Udah, pakai itu aja. Gue nggak punya recehan." "T—tapi Kak, aku nggak bisa." "Ck! Ribet ya lo!" Menggerutu kesal, Elard meraih jaket yang sebelumnya tergeletak di sandaran sofa, lalu memakainya. "Gue beneran udah lapar dan lo malah memperlama!" Merebut kembali black card miliknya dari tangan Anin, Elard menggenggam pergelangan tangan kanan gadis itu. "Lo berdua, tunggu di sini. Gue keluar sebentar!" Titah Elard yang kemudian berlalu pergi, tanpa menunggu lebih dulu jawaban dari kedua temannya yang hanya bisa melongo, melihat bos mereka menarik Anin yang kepayahan menyamakan langkah cepatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN