"Ck, buruan, oy! Lelet banget lo, kaya siput lagi bunting."
Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana, Elard menoleh kearah belakang. Menatap malas, sosok Anin yang kepayahan membawa begitu banyak kantung plastik yang memenuhi tangan kanan dan kirinya.
"I—iya Kak," Anin menahan diri agar tak melemparkan barang-barang yang tengah dipegangnya kearah Elard.
Lalat, lelet, lalat, lelet! Dia nggak tau apa, tangan Anin sudah memerah dan sakit karena banyaknya belanjaan yang dia bawa seorang diri?
Lagipula, bukankah yang makan tak lebih dari lima orang? Kenapa membeli bahan makanan seperti untuk satu kecamatan?
Keduanya baru saja selesai berbelanja, atau lebih tepatnya, Anin yang sibuk ke sana-kemari, membeli ini dan itu. Karena kesibukan Elard sebatas bermain game online di ponselnya dan mengeluhkan Anin yang lama. Sekarang keduanya tengah menuju mobil milik Elard terparkir.
"Wah! Wah! Coba lihat? Ketemu siapa di sini?"
Anin nyaris menubruk punggung tegap Elard di depannya, saat pria itu menghentikan langkah secara tiba-tiba.
"Ck! Sial banget gue, ketemu upil kaya lo di sini." Bersedekap tangan, Elard menatap malas sosok cowok dengan jambul tinggi yang berwajah keruh di depannya. Tak lupa dengan dua dayang setia cowok itu. Yang satu bertubuh kurus dengan rambut klimis hingga membuat Elard berpikir, semut pun bisa terkilir jika nekat merayap di sana. Sementara satunya lagi memiliki tubuh cukup tambun dan selalu menampilkan wajah yang dibuat sangar saat bertemu Elard. Bukannya terlihat menakutkan, justru seperti orang yang mengejan di kamar mandi akibat sembelit.
"Wih, Bos. Ada yang bening di belakang." Ucap si rambut klimis dengan siulan yang membuat Anin ingin menjejalkan kangkung yang tadi dibelinya.
"Ah, tau aja lo yang bening." Kesal cowok dengan jambul tinggi itu, sembari meraup wajah genit anak buahnya yang memandangi Anin. Hingga gadis itu mengekeret dan tanpa sadar bersembunyi di belakang punggung Elard.
"Lo duluan, gue urus perkumpulan upil ini dulu." Mengabaikan Anin yang kebingungan, Elard menyerahkan kunci mobilnya pada Anin yang cukup kesulitan menerima karena kedua tangannya sudah penuh oleh belanjaan.
"Tapi Kak—"
"Gue nggak suka harus mengulang perintah."
Menelan kembali semua ucapan yang nyaris meluncur keluar dari bibirnya yang kini terkatup rapat. Anin hanya mengangguk takut-takut, sebelum kemudian beranjak pergi, tapi dihalangi salah seorang dari tiga cowok yang menatap Elard dengan bengis.
"Mau kemana lo?"
"Urusan kalian sama gue. Dia nggak boleh di libatkan." Ucap Elard dengan tatapan tajam, "minggir, kasih dia jalan, atau gue patahin kaki lo?" Desisnya yang membuat cowok yang menghalangi kepergian Anin menggeser pelan tubuhnya. Hingga gadis itu bisa segera melarikan diri, tak mau terlibat perkelahian para cowok yang ... Sebenarnya tak seimbang. Tiga lawan satu?
Anin yang sebelumnya tergesa-gesa, menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Tatapan takut dan khawatirnya bertemu dengan tatapan tajam milik Elard yang seolah mengatakan 'cepat—pergi—sesuai—perintah!' dan sialnya, meski hanya dengan tatapan, Anin dibuat patuh seperti terhipnotis. Kembali melanjutkan langkah, mencari keberadaan mobil Elard yang lupa di mana letaknya tadi saat diparkir.
Melihat Anin yang sudah benar-benar hilang dari pandangan. Elard kembali fokus pada tiga upil yang menghalangi jalannya. "Jadi, apa yang lo mau? Gue nggak ada waktu."
"Cih! Sok penting lo!"
"Emang! Kan gue bukan 'sampah' kaya lo bertiga."
"Sialan lo!" Habis kesabaran, ketiganya merangsek untuk menerjang Elard yang masih sempat-sempatnya mengorek telinga dengan jari kelingking saat menghindari pukulan dari segala arah yang ketiga lawannya layangkan.
Wajah bosan Elard dan gerak lincah cowok itu setiap kali menghindari serangan. Membuat ketiga lawannya kian geram karena merasa diremehkan.
"Sialan!" Cowok dengan jambul tinggi itu terengah-engah. Sejenak menyingkir dan melihat kedua temannya masih sibuk melayangkan pukulan dan tendangan pada Elard yang begitu pandai meloloskan diri dari serangan mereka.
"Udah?" Tanya Elard pada tiga lawannya yang tadi menyerang dengan gerakan serampangan. Kini berakhir ngos-ngosan. "Ck! Bukan gitu caranya mukul." Ucapnya santai, sebelum kemudian meraih kerah kaus si rambut klimis, dan dengan gerakan cepat melayangkan satu pukulan ke wajah hingga cowok itu terjerembap. Tak terima kawannya tumbang, cowok yang memiliki tubuh tambun dan sedari awal tampak begitu bernafsu menghajar Elard. Segera merangsek maju, nyaris berhasil melayangkan sebuah cutter ke wajah Elard, andai cowok itu tak sigap menghindar.
"Wuhu ... Sekarang bukan tangan kosong lagi ya?" Elard berdecih dengan tatapan mencemooh.
"Gue bakal robek mulut lo yang selalu membual dengan kesombongan!" Geramnya yang kembali mencoba menyerang Elard. Tapi dengan mudah selalu bisa menghindar. Justru dia yang terkena tendangan hingga cutter dalam genggamannya terlempar. "b******k!" Amuknya di tengah ringisan sembari memegangi tulang rusuknya yang terkena tendangan.
"Sudah, cukup! Ayo pergi." Titah cowok dengan jambul tinggi. "Lo!" Tunjuknya pada Elard yang hanya menaikan satu alis mata, "gue bakal laporin sama Bos besar! Dan lo bakal dapat balasannya. Lihat aja nanti!"
"Iye, gue liatin, nih!" Elard memelototkan mata, "lo bilang sama Bos besar atau emak, bapak, lo juga nggak masalah. Gue tungguin!"
Mengumpat kesal, ketiga cowok itu akhirnya pergi dengan tertatih-tatih dan sesekali mengeluarkan ringisan. Sementara Elard, melakukan beberapa peregangan. "Ck! Buang waktu banget itu tiga upil!" Kesalnya yang kemudian beranjak pergi. Mencari keberadaan mobilnya dan juga gadis yang mungkin sudah mengantuk menungguinya yang cukup lama.
Langkah Elard terhenti, saat mendapati seseorang yang duduk sembari memeluk lutut, dengan punggung yang disandarkan pada badan mobilnya. Beberapa kantung plastik tampak teronggok di dekatnya.
"Astaga, lo ngapain di sini?" Tanya Elard yang berhasil membuat Anin, yang sebelumnya menyembunyikan wajah dilipatan lengan. Mendongak dan tergesa-gesa berdiri. Tapi kemudian meringis saat kakinya terasa kesemutan.
"S—sudah selesai Kak?"
"Lo ngapain duduk-duduk di situ? Gue kan udah kasih kunci mobilnya tadi. Itu juga!" Tunjuknya pada kantung-kantung plastik berisi belanjaan yang akan Anin olah untuk makan siangnya dan teman-temannya yang lain. "Ck! Itu nanti kotor, lo taro sana gitu aja."
Mengelus belakang lehernya, Anin menatap gugup sosok Elard yang berwajah keruh. "M—maaf Kak."
"Gue udah kasih lo kunci mobil. Itu artinya, gue suruh buat masukin semua belanjaan ke bagasi dan lo bisa nungguin gue di dalam, selagi gue urus trio upil tadi."
"A—anu Kak,"
"Anu lo kenapa?"
"Hah?" Anin mengerjap-ngerjapkan mata, sebelum kemudian menggelengkan kepala cepat sembari mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, "b—bukan anu saya Kak."
"Terus anu siapa? Anu gue?"
"Hah?" Anin benar-benar kebingungan dengan pembicaraan yang kini mereka lakukan. Astaga ... Sebenarnya apa yang sekarang tengah dibahas? Kenapa jadi anu-anu?
"Udah, nggak usah mikirin anu lo atau pun anu gue." Ucap Elard membingungkan, dan cowok itu kemudian menengadahkan tangan, "mana kunci mobilnya?"
Masih dengan setengah linglung, Anin merogoh saku seragam sekolahnya, mengeluarkan kunci mobil milik Elard yang ia simpan di sana, lalu menyerahkan benda tersebut kepada pemiliknya.
"Angkut itu semua, terus masukin ke bagasi." Titah Elard setelah membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam. Duduk di depan kemudi, sembari mencuri pandang ke arah Anin yang kepayahan memasukkan barang-barang belanjaan seorang diri.
Ingin memaki, tapi Anin tidak berani. Jadi dia hanya menelan semua kekesalan yang bercokol di hatinya.
Usai memasukan semua kantung plastik berisi belanjaannya. Anin kemudian membuka pintu mobil bagian belakang, tapi belum sempat bokongnya menyentuh jok empuk itu, teriakan Elard sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Heh! Ngapain lo?" Tanya Elard judes sembari menoleh ke arah kursi penumpang bagian belakang.
"M—mau duduk Kak," jawab Anin dengan wajah kebingungan.
"Gue tau lo mau duduk, siapa yang bilang kayang di sana?" Sewot Elard dengan wajah keruh. Kenapa gadis yang kini meringis canggung itu selalu memantik kekesalannya?
"T—terus, salahnya di mana Ka?"
"Salahnya, kenapa bulu ketek lo item? Bukan abu-abu monyet?"
Anin ternganga mendengar ocehan Elard. Apa yang sebenarnya pria itu bicarakan?
"Akh! Gara-gara lo, gue pengen ngunyah orang!"
Anin kian terbelalak dengan wajah pucat. Hal yang membuat Elard ingin berdecak kesal sekaligus terbahak melihat raut ketakutan gadis itu.
"Pindah ke depan! Lo kira gue supir lo apa? Enak aja ongkang-ongkang di belakang."
Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin akhirnya paham dengan apa yang membuat cowok itu marah-marah sedari tadi. Salahnya, karena setengah linglung dan membuatnya tak fokus hingga kemudian memilih duduk dikursi belakang, setelah meletakkan semua barang belanjaan.
"M—maaf Kak," dengan tergesa, Anin menutup pintu belakang dan setengah berlari, terburu-buru pindah ke kursi depan.
"Lo ya, buang waktu banget. Kita harus buru-buru balik, gue udah kelaparan dari tadi. Jangan sampai gue benar-benar makan orang." Mendengkus kesal, Elard melajukan mobilnya, dengan Anin yang duduk kaku di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka suara. Elard yang fokus menyetir, sementara Anin yang mengkeret di jok penumpang. Memilih mengalihkan pandangan keluar jendela. Dengan tangan yang saling meremas resah di atas pangkuan.
Setelah beberapa lama, akhirnya mobil yang Elard kendarai sampai digedung apartemen yang cowok itu tinggali.
Lagi-lagi, Elard hanya sibuk memberi titah ini dan itu. Sementara Anin, bersusah-payah mengambil semua kantung plastik berisi belanjaan dari bagasi mobil.
Dengan santai, Elard menyusuri lorong apartemen, dengan Anin yang tergopoh-gopoh mengekor di belakangnya. Cowok itu mengerutkan kening, saat melihat seseorang yang duduk di depan pintu unit apartemen miliknya.
Berdecak, dengan ujung sepatu, Elard menendang-nendang kaki seseorang yang berselonjor sementara matanya terpejam. Bahkan terdengar dengkuran. Anin yang berdiri di belakang Elard meringis, saat melihat sosok yang menghalangi pintu masuk apartemen Elard tertidur pulas.
"Heh! Bangun! Ngapain lo ngorok depan apartemen gue?!"
Berjengit karena terkejut, Dava mendongakkan wajah, dan segera bangkit saat melihat keberadaan Elard. "Bos, lama banget sih?" Rengeknya sembari mengusap ujung bibirnya. Takut ada air liur yang tanpa sadar mengucur keluar. "Dari tadi ditungguin." Adunya lagi, bak bocah yang merajuk karena tak diajak pergi orangtuanya.
"Emang siapa yang nyuruh lo nunggu?"
"Kan gue nggak bisa masuk Bos. Gue nggak tau kodenya."
"Ck! Kan di dalam ada Panca sama Dika."
"Mereka kurang ajar Bos, nggak mau bukain pintu. Katanya suruh nunggu Bos datang." Adu Dava dengan bibir mencebik.
Memutar bola mata, Elard membuka pintu apartemennya, dan melangkah masuk. Sementara Dava, yang nyaris bergegas ikut masuk. Tak sabar mengomel pada Panca dan Dika, yang sudah mengerjainya. Tapi keinginan menggebu-gebu itu sedikit padam, sewaktu melihat Anin yang kerepotan membawa plastik belanjaan.
"Berat?" Tanya Dava yang kemudian meringis, karena tanpa mengatakannya pun, sudah terlihat jika semua barang-barang yang Anin bawa cukup banyak dan tentunya pasti berat. "Sini, gue bantu bawain."
Anin kebingungan, dia nyaris membuka mulut untuk menjawab, tapi urung saat seseorang tiba-tiba saja sudah mengambil alih semua plastik belanjaan yang sebelumnya memenuhi tangan kanan dan kirinya.
"Lelet lo nggak ada obat ya?" Kesal Elard yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara Anin dan Dava yang terkejut secara bersamaan, "buruan masak, sebelum gue beneran makan orang!"
"J—jangan gue Bos, daging gue pahit. Kebanyakan dosa." Celetuk Dava yang hanya mendapat dengkusan dari Elard.
"Buruan masuk! Ngapain bengong depan pintu?" Elard melenggang dengan belanjaan yang sudah berpindah tangan padanya.
Anin mengekori Elard. Sementara Dava segera menghampiri dua sosok yang sibuk berdebat. Di mana Panca dan Dika yang masih anteng depan televisi sembari bermain PlayStation, sama seperti saat Anin pergi dengan Elard tadi.
"Lo berdua ya! Gue sampai ketiduran depan pintu!" Seru Dava yang menumpahkan kekesalannya.
"Ya siapa suruh tidur depan pintu?" Tanya Dika dengan pandangan yang tak lepas dari tv. Sementara jemarinya dengan lincah menekan-nekan stick PlayStation.
"Tau, lo mah depan kandang buaya juga masih bisa ketiduran." Kali ini Panca yang angkat bicara.
Sementara tiga cowok itu sibuk berdebat. Anin dan Elard sudah berada di area dapur. Anin tampak takjub dengan dapur di apartemen Elard yang begitu lengkap, rapi dan bersih.
"Kakak suka masak sendiri?"
Setelah meletakkan semua plastik belanjaan di atas meja makan, Elard bersedekap tangan dengan pinggul yang disandarkan di tepian meja. "Kadang-kadang, kalau lagi nggak malas." Jawab Elard sembari mengedikkan bahu.
"Kak Elard, suka makanan apa?" Tanya Anin, karena sampai sekarang, dia masih kebingungan memasakkan apa? Bagaimana jika tak sesuai dengan selera Elard? Bukankah nanti peluhnya sia-sia? Belum lagi hasil masakannya yang terancam mubasir?
"Gue suka makanan enak."
Anin meringis mendengarnya, ya iya, tapi makanan yang enak itu seperti apa? Kenapa jawabnya tidak jelas begitu? Semua orang juga pasti suka dengan makanan enak! Tapi jenisnya yang ingin Anin tau!
"Jangan lama-lama, ini udah lewat jam makan siang." Tanpa menunggu jawaban dari Anin yang masih dirongrong kebingungan. Elard kemudian berlalu begitu saja.
Mengela napas, Anin mengusap peluh yang meluncur turun dari pelipis menggunakan punggung tangannya. Menatap tumpukan palstik belanjaan yang masih teronggok menyedihkan.
Harus dari mana Anin memulai?
Sementara Elard, sudah mengempaskan tubuh di sofa setelah menendang Dava yang terpaksa menyingkir dan berpindah ke bawah bersama Panca dan Dika yang masih betah bermain.
"Lo belanjanya lama banget Bos?" Tanya Panca disela-sela permainannya yang tengah sengit melawan Dika.
"Bos pacaran dulu, lah! Gitu aja nggak paham lo, Pan. Makanya punya cewek, biar nggak terus-terusan jomlo sedari embrio."
"Ck! Sesama jomlo tidak perlu saling menghujat ya!"
"Gue beda kasta sama lo. Gue kan jomlo platinum."
Mendengkus, Panca yang kesal dengan ocehan Dika, menggeplak kepala sahabatnya dengan stick PlayStation ditangannya. Dava yang melihat kembarannya mengaduh sakit, bukannya merasa iba dan kesal pada Panca. Justru terbahak dan mengajak ber-high five.
"Beneran lo pacaran dulu Bos? Cie ... Bos kita pacarannya anti mainstream ya? Sambil pilih-pilih bumbu masakan." Goda Dava yang hanya ditanggapi dengkusan dari Elard.
"Pacaran pala lo kotak?"
"Lah, pala kotak mah Spongebob, Bos. Dan seingat gue, sedari SD nonton kartunnya. Spongebob masih jomlo, belum pernah pacaran. Tapi pura-pura kencan pernah dia, sama anak bosnya yang paus itu."
"Lo ya Dav, sampai hafal. Dik, kembaran lo noh!" Ucap Panca yang ditanggapi Dika dengan mengedikkan bahu tak acuh.
"Nggak usah pada halu ya, lo semua! Gue malah sibuk ngurusin trio upil yang tiba-tiba nongol."
Ketiga temannya serentak menatap serius pada Elard yang duduk santai. Sebelum mendapat serbuan tanya, dia sudah mengangkat tangan kanannya lebih dulu, karena ponsel miliknya memekik nyaring meminta perhatian.
Menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan, Elard menempelkan ponsel ketelinga kanannya. Alih-alih mengucap 'halo'. Elard justru menggumam malas.
"Nanti malam, di tempat biasa. Gue tantang lo! Berani-beraninya lo hajar anak buah gue?" Ucap seseorang dengan geram diujung sambungan.
Dan lagi-lagi, Elard hanya menjawab dengan gumaman malas. Sebelum kemudian mengakhiri sambungan.
"Siapa Bos?" Tanya Panca yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Biasa, cecunguk yang haus pembuktian."
Dan hanya dengan secuil informasi itu, ketiganya saling pandang. Mengerti jika seseorang, baru saja menantang bos mereka yang kini menggaruk ketiak dengan santai.