10. Titah Sang Nona

2270 Kata
Anin menyeret langkah menuju kamarnya. Tubuh lelahnya sudah tak sabar bertemu dengan tempat tidur.  Ck! Tapi sebelum itu, Anin harus membersihkan diri, mengingat, tubuhnya sudah bau kecut seperti sekarang. Elard saja mengoceh, jika pengharum mobil mahalnya terkontaminasi aroma yang mengusik penciumannya. Saat tadi dengan keras kepala, memaksa untuk mengantar Anin. Tapi sepanjang perjalanan selalu mengomel ini dan itu, membuat pendengaran Anin terasa pengang. Hey, karena siapa dia berakhir kucel dan bau kecut, akibat keringat bercucuran di tubuhnya sampai membuatnya menyedihkan seperti ini?  Usai berkutat di dapur apartemen Elard, memasak banyak menu makanan yang sejujurnya membuat Anin takjub, karena dia kira, itu terlalu banyak untuk mengisi perut empat orang. Tapi ternyata, sembari terus berceloteh, Elard dan gengnya bisa menghabiskan semua makanan yang Anin masak. Ia sendiri ikut serta, meski hanya mengambil sedikit makanan, karena nasi yang tertelan ke dalam tenggorokan, bak kerikil jalanan. Anin tak bisa menikmati makan siangnya karena terlalu tegang. Dia beberapa kali nyaris tersedak, saat obrolan kasar dan v****r dari para cowok itu mengudara hingga mengusik pendengarannya. Mengela napas, Anin meraih kenop pintu. Dalam kepala, dia sudah berencana untuk merebahkan diri sejenak, sebelum nanti menyeret langkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Sayang, keinginannya harus pupus, saat membuka pintu kamarnya, dan mendapati seseorang yang sudah duduk di pinggir kasur sembari bersedekap tangan. Bersilang kaki, mengangkat dagu dengan wajah dingin yang membuat Anin meneguk ludah kelu. "Dari mana lo?" Menaikan satu alis mata, Fany melempar tanya pada Anin yang bergeming di ambang pintu. "Fan, k—kamu di sini?" "Gue tanya, dari mana lo?" Ulang Fany sekali lagi, dengan penekanan yang lebih tegas dari ucapan sebelumnya. "Fan, a—aku ... Itu," Anin memaki diri, jangankan mencari alasan. Mengeluarkan kata saja ia kepayahan. Astaga ... Bagaimana ini? Kenapa Fany sudah pulang? Setau Anin, jika sudah berpergian dengan teman-temannya, Fany baru akan pulang saat tengah malam nanti. Meremas sisi rok abu-abu yang dikenakan. Menjadikannya pegangan dari rasa gugup yang kini menjamah sekujur tubuh, Anin mencoba mengais sisa keberanian yang tiba-tiba berceceran, saat mendapati Fany di kamarnya. "Ck! Lama ya, lo?" Keluh Fany tak sabaran, hingga berdiri dari duduknya, sembari tetap bersedekap tangan. Tak lupa dagu yang ia angkat tinggi. "Kenapa? Bingung cari alasan?" Anin menggelengkan kepala. Penyangkalan yang ia tau sia-sia. Karena nyatanya, dia memang tengah berusaha mencari alasan agar Fany tak curiga. Sialnya, dia kebingungan. Sekadar menyusun kebohongan demi terhindar dari amukan Fany. "B—bukan Fan, aku cuma—" "Cuma apa? Cuma bohong? Mulai bertingkah ya lo sekarang? Apa karena gue yang udah terlalu lunak?" Seringai misterius di bibir Fany adalah bencana untuk Anin. Terakhir kali melihat seringai mengerikan itu, adalah saat Fany murka karena tak berhasil menjadi ranking pertama sewaktu SMP. Dan itu ... Karena Anin memberontak. Jengah terus terkubur dalam kegemilangan prestasi akademis Fany yang sebenarnya dari dia. Menggelengkan kepala cepat, sampai nyaris terasa pusing. Anin berderap untuk memangkas jarak yang terbentang antara dirinya dengan Fany yang masih bersedekap tangan sembari memperlihatkan sorot tajam. Dan sekali lagi, Anin harus katakan, jika itu bukan pertanda baik. Kemarahan Fany, berarti hidup tenangnya dan sang Bibi tengah dipertaruhkan di tempat ini. "B—bukan Fan, bukan seperti itu." Anin yang kini hanya berjarak dua langkah dengan Fany yang berdiri berhadap-hadapan. Mencoba untuk melunakkan hati anak majikannya yang masih dirongrong kesal. "Lo nggak pernah keluyuran selain untuk urusan 'remeh'. Tapi belajar kelompok?" Fany mendengkus, memberikan senyuman sinis yang membuat Anin hanya bisa mematung di tempatnya berdiri.  Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan? Ketika kebohongannya sudah terendus Fany yang kini menuntut kejujuran. Gadis lihai berbohong, tapi sangat benci dibohongi. "Bibi lo bilang, lo pergi kerja kelompok. Dan ya?" Fany mengedikkan bahu tak acuh, "kita jelas tau, jika alasan kerja kelompok cuma sekadar bualan. Yang gue pake," tekan Fany pada ujung kata yang diucapkannya dengan tatapan yang tak pernah lepas dari wajah pucat Anin. "Cuma sekadar bualan, karena mau main bareng teman-teman gue tanpa harus pulang dulu dan minta izin sama nyokap. Terus, lo ngapain ikut-ikutan pake omong kosong itu biar bisa keluar dan baru pulang nyaris malam kaya sekarang? Jadi intinya, dari semua ocehan panjang ini, gue tetap menunggu jawaban yang paling penting. Dari—mana—lo—sebenarnya?" Tekan Fany pada setiap kata dengan desisan tajam. Menutup mata sejenak, demi mengais ketenangan yang tercerai berai. Anin membuka mata kembali, setelah mampu mencuri secuil ketenangan dari tumpukan resah yang merongrongnya. Semakin kuat mencengkram rok abu-abu yang dikenakan, Anin membalas tatapan Fany yang tampak tak sabaran. "A—aku .... Dari, tempat Kak Elard." Jika saja mereka berada di dunia kartun. Mungkin saat ini, Anin bisa melihat jika mulut Fany terbuka lebar dengan rahang yang jatuh menyentuh lantai. Sayangnya, penggambaran itu tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi ekspresi yang Fany perlihatkan memang seperti kartun dengan rahang yang jatuh ke lantai karena rasa terkejut. "L—lo dari mana?" Fany mendekatkan telinga sembari mengorek dengan ujung kelingking. "Gue kayaknya selalu rajin bersihin telinga dengan baik. Tapi sekarang, mungkin ada yang menyumbat jadi pendengaran sedikit bermasalah." Oceh Fany yang membuat Anin kian tersulut resah. "Apartemen Kak Elard, aku dari apartemen Kak Elard." Ulang Anin yang lebih jelas dan lantang. Mengikis keraguan dan tidak seperti cicitan sewaktu ucapan sebelumnya. Terkekeh kering, Fany menyugar rambut coklatnya sembari mengembuskan napas panjang. "Jadi, hubungan lo, sama si pembuat onar itu, sudah begitu jauh?" Mengurai tangannya yang sedari tadi bersedekap, kini berganti jadi berkacak pinggang. "Lo menyembunyikan sesuatu kan?" Fany mendesis di depan wajah Anin yang kian pucat, "lo harusnya tau, konsekuensi apa yang bakal diterima kalau berani berbohong sama gue? Oh, atau sekarang sudah lupa? Perlu gue ingatkan lagi?" "J—jangan Fan! M—maaf, aku ... Aku nggak bermaksud seperti itu." "Tapi kenyataannya, lo emang seperti itu!" Mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Anin, Fany tersenyum miring, "lo emang benar-benar perlu di ingatkan. Dan gue, dengan senang hati akan melakukannya." "J—jangan Fan, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tolong, jangan sentuh Bibi aku. Ini semua sepenuhnya salahku. Apa pun, lakukan saja sama aku, tapi tidak dengan Bibi." Menelengkan kepala ke satu sisi, Fany mendengkus remeh, "gue masih berbaik hati kali ini." Mulainya yang berhasil membuat Anin mendapat secuil kelegaan. Karena ia tau, tak mungkin seorang Fany melepasnya dengan begitu saja. Pasti, di balik kata 'baik hati' yang gadis itu ucapkan, ada hal lain yang harus Anin lakukan sebagai pertukaran, agar tak sampai menyeret Bibinya. "A—apa? Apa yang harus aku lakukan, sebagai rasa terima kasih atas 'kebaikan hati' yang kamu lakukan ini?" "Oh, waw!" Fany menunjukkan raut terpukau dengan terlalu berlebihan, sebelum kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Anin. "Lo udah banyak belajar ya sekarang. Tanpa perlu gue kasih tau, lo udah tau diri duluan." Ucapnya sembari terkekeh puas. Pujian yang Fany berikan, tentu saja hanya sekadar omong kosong. Yang perlu Anin lakukan sekarang, adalah mempersiapkan diri, untuk menyetujui, apa pun yang gadis itu titahkan padanya. "Gue cuma minta satu hal yang mudah," memilin ujung rambutnya, Fany tersenyum miring, "gue mau Kak Elard." "Hah?" Anin mengerjap-ngerjapkan mata, apa tadi dia salah dengar? Sepertinya iya, karena mana mungkin, Fany mengatakan hal yang tadi tertangkap pendengarannya? "Ck! Ekspresi lo b aja! Bikin mood gue rusak tau nggak?" Kesal Fany yang berhasil membuat Anin buru-buru merubah raut keterkejutannya agar tampak biasa. "M—maaf, Fan. Bisa ... Kamu ulangi lagi, apa yang tadi kamu katakan?" "Astaga! Malesin banget sih, lo! Atau, lo sengaja mau mengolok-olok atas apa yang tadi gue minta?" Tuduh Fany yang segera dibantah Anin dengan menggeleng-gelengkan kepala cepat. "Nggak Fan, sungguh! Aku benar-benar kurang fokus tadi. Jadi, aku nggak dengar apa yang kamu bilang." Sebenarnya dengar, tapi nggak yakin. Tambah Anin dalam hati. Ya, hanya sekadar dalam hati, karena mana berani mengungkapkannya di depan Fany? Gadis itu bisa murka dan menuduhnya cuma mau mempermainkan. Meski sebal, Fany mengembuskan napas panjang sebelum kemudian mengulang apa yang sebelumnya ia katakan dengan ogah-ogahan, tapi nada suaranya sengaja dikeraskan, agar Anin tak lagi bisa beralasan tak mendengar ucapannya yang ... Sejujurnya cukup memalukan. Tapi, biar sajalah! Yang penting, dia bisa mendapatkan apa yang dia mau! "Gue—mau—Kak—Elard!"  Meneguk ludah bak menelan kerikil, Anin menegang di tempatnya berdiri. "Dengar nggak lo?!" Bentak Fany yang diangguk-angguki cepat oleh Anin. "Jadi, tugas lo adalah, bikin gue bisa dekat sama Kak Elard."  "K—kenapa?" Ragu-ragu, Anin akhirnya nekat melempar tanya yang sedari tadi bercokol di kepala. Tentang keheranannya, pada Fany yang tiba-tiba ingin bisa dekat dengan seorang Elard. Ketua geng di sekolah mereka yang paling ditakuti seluruh siswa.  "Apa maksud lo?" "Kenapa, kamu mau dekat sama Kak Elard?" "Karena gue mau! Kenapa, lo keberatan?" "Bukan, tidak seperti itu." "Terus?" Kembali bersedekap tangan, Fany menelengkan kepala ke satu sisi dengan tatapan terusik, "kenapa lo harus repot-repot mempertanyakan keinginan gue itu? Apa sekarang, apa pun yang gue mau, lo perlu tau?" "Maaf." "Gue nggak butuh maaf lo. Yang gue butuh, adalah hasil. Di mana lo bisa bikin gue dekat sama Kak Elard." "Tapi Fan, g—gimana caranya?" "Ya lo pikirkanlah, pakai otak! Ngapain gue harus repot ikut mikirin? Kan ini tugas lo! Hukuman karena berani bohong sama gue." Kesal Fany, sembari mendengkus jengah. "Kalau sampai, lo gagal." Bergerak mendekati Anin yang tampak tegang, Fany berbisik di telinga kanan gadis itu, "Bibi lo yang bakal terima akibatnya." Menggeleng-gelengkan kepala panik, Anin meraih kedua tangan Fany dan meremasnya dengan gusar. "J—jangan Fan, jangan libatkan Bibi. Apa pun itu, biar aku saja yang menerimanya. Jangan limpahkan pada Bibi." Berdecak sembari melepas paksa tangan Anin dari tangannya. Fany tersenyum remeh, "ya makanya, kerja lo harus beres. Lo udah punya akses. Gue nggak tau gimana awalnya sampai lo bisa dekat sama Elard dan kelompoknya? Tapi yang jelas, gue nggak lagi tertarik untuk mencari tau. Yang gue inginkan sekarang, cuma Kak Elard." "B—bukannya, kamu lagi dekat sama Kak Andre? Aku pikir pacaran sama kapten basket itu." "Ck! Gue nggak ada status apa-apa sama si Andre. Awalnya memang gue sedikit tertarik. Apalagi, dia salah satu sosok populer di sekolah. Tapi terlalu membosankan dan kelihatan banget ngebet dapetin gue. Nggak menantang sama sekali." Mengibaskan tangan tak acuh di depan wajah. Fany menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Beda sama Kak Elard. Jauhlah, kalau mereka dibandingkan. Kak Elard jelas paling ditakuti, bukan cuma soal dia yang cucu dari pemilik sekolah. Tapi karismanya itu loh!" Kekeh Fany dengan tatapan menerawang. "Asal lo tau, banyak yang ngincer dia. Sayang aja, muka gantengnya selalu mode galak, kaya mau gigit orang yang dekat-dekat sama dia selain kelompoknya. Bikin cewek-cewek mengekeret takut dan cuma bisa jingkrak-jingkrak terpesona di belakang punggung dia." Anin terdiam, sebetulnya, dia pun tau. Meski terkesan ditakuti dan menyeramkan karena kelakuannya yang kadang bar-bar. Ada banyak cewek yang menyukai Elard. Sayangnya, cowok itu selalu memandang sengit siapa pun, seolah bersiap untuk mengajak duel. Jadi, mana ada siswi yang berani maju? "Pokoknya, gue nggak mau tau! Mulai besok, lo harus bisa bikin gue dekat sama Kak Elard." Titah Fany yang tentu saja seperti biasa. Tak ingin di bantah. Dan Anin, apa lagi yang bisa dilakukannya selain menganggukkan kepala dengan kaku?  "Oh, gue lupa satu hal lagi." Fany yang nyaris beranjak dari kamar Anin, kembali bersedekap tangan di depan gadis yang baru saja mengela napas lega diam-diam. Tapi sayang, harus kembali dihadapkan pada sosok Fany yang masih belum mau meninggalkan kamarnya. "Apalagi Fan?" "Ini soal si celengan ayam!" Anin mengerutkan kening, celengan ayam? Tentu saja dia tau, siapa yang gadis itu maksud. Ya, siapa lagi kalau bukan Gavin? Dulu, Anin harus mendatangi sekolah pagi buta untuk mencari seseorang yang terus-menerus memberikan hadiah misterius di kolong meja Fany dengan sebuah pita merah yang seperti sudah menjadi ciri khasnya. Dan ternyata, sosok itu adalah Gavin. Kakak kelas mereka yang tampak begitu menyukai Fany. Ya ... Layaknya para siswa lain yang mengantri menginginkan gadis itu menajdi pacarnya. Fany yang awalnya kesenangan memiliki penggemar rahasia, lama-lama merasa jengah dan menugaskan Anin mencari tau. Ketidak sukaan gadis itu kian menjadi besar saat mengetahui, jika sosok Gavin yang merupakan pemberi semua hadiah-hadiah itu. "Kenapa sama Kak Gavin?" Mendengkus, Fany mengibas salah satu sisi rambutnya, "lo urus dia." "Hah, maksudnya?" "Astaga, gitu aja lo nggak ngerti?" "Maaf." "Ck! Minta maaf mulu lo! Lebaran masih lama juga!" Meringis, Anin hanya bisa mengangguk dan menggumamkan 'maaf' pada Fany yang berdecak kesal. "Bikin dia nggak ganggu gue lagi." "Tapi, Kak Gavin nggak pernah gangguin kamu, seingatku, Fan?" "Kado-kado yang dia kasih itu ganggu! Mana semuanya perintilan nggak guna! Gue masih bisa beli sendiri dengan yang berkali-kali lipat lebih bagus." Anin meredam sesak yang tiba-tiba menghantamnya. Ucapan Fany, jelas sangat keterlaluan. Sekali pun tak suka, seharusnya tetap menjaga lisan. "Lo harus bikin dia setop ganggu gue! Terutama, hadiah-hadiahnya yang bikin gue dongkol. Lagian, nggak penting banget hadiah recehan kaya gitu, ck! Dikira gue nggak mampu beli sendiri apa? Lagian, yang dia kasih itu bukan selera gue banget!" Mengembuskan napas, Anin berusaha mengais kesabaran. Entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang terselip dihatinya, saat Fany merendahkan Gavin seperti itu. "Ngerti nggak lo, sama apa yang harus lo lakuin?" "Ya, mengerti, Fan." Anin menganggukkan kepala dengan wajah meyakinkan. Meski ia sendiri tengah kalut dengan dua permintaan berat yang Fany jejalkan sekaligus padanya.  Mendekatkan Fany dengan Elard, dan menjauhkan Gavin dari gadis itu. Apa mungkin dia bisa? Jika berurusan dengan dua cowok itu saja, jantung Anin sudah kepayahan. Berdegup gila dengan gelenyar yang berbeda. Penuh rasa was-was dan takut, saat berusuan dengan seorang Elard. Sementara itu, Anin akan dilumuri kecanggungan, juga gugup, setiap kali bersinggungan dengan Gavin. "Bagus, kalau lo ngerti. Dan tugas lo itu, berlaku sejak besok. Awas aja kalau hasilnya tak memuaskan gue! Lo tau kan, apa akibatnya?" Buru-buru, Anin menganggukkan kepala. "Aku akan berusaha memberikan yang terbaik."  Berdecih, Fany beranjak keluar dari kamar Anin. Membuat gadis itu segera menutup pintu saat anak majikannya tak lagi tertangkap pandangan. Mengembuskan napas penuh kelegaan sembari bersandar lemas di balik pintu hingga merosot jatuh kelantai. Baiklah, mulai besok, hari-harinya kian berat. Dan semua itu, karena misi tak masuk akal yang Fany bebankan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN