11. Dihantam Bimbang

2182 Kata
"Rajin banget anak Mama," wanita paruh baya yang masih tampak energik dan cantik diusianya yang tak lagi muda itu, merekahkan senyuman. Mendapati putranya fokus pada tugas sekolah yang tengah dikerjakan. "Supaya belajarnya makin semangat, Mama bawa camilan kesukaan kamu, tadaaaa!" Dengan penuh semangat, ia memperlihatkan apa yang dibawanya, "pisang nugget dengan berbagai toping kesukaan kamu, ada coklat, keju, matcha—" "Ma," meletakkan pensil yang sedari tadi dalam genggamannya. Gavin memperbaiki letak kacamatanya yang nyaris melorot jatuh. "Maaf, aku ... Nggak bisa makan itu." "Loh, kenapa? Biasanya kamu suka. Atau, bosan? Mau camilan yang lain? Apa Sayang? Nanti Mama buatkan." "Ma, maaf, aku lagi nggak mau ngemil apa pun." Mengela napas, Iva usap lembut kepala putra semata wayangnya, "Mama perhatikan, akhir-akhir ini, nafsu makan kamu menurun. Mama jadi khawatir." Gavin terdiam, sejujurnya, ia paling tidak suka mendapati kesedihan yang menggelayuti wajah sang Mama. Tapi, sepertinya dia memang harus mengatakan yang sebenarnya. "Kamu kurang enak badan? Mama panggilkan dokter keluarga kita ya, buat periksa kamu? Biar nanti, setidaknya minta vitamin supaya nafsu makan kamu bisa bagus lagi. Sebentar, Mama telepon du—" "Ma," menahan lengan sang Mama agar tak beranjak ke mana pun. Gavin memiringkan posisi duduknya agar bisa leluasa berbicara dengan Mamanya yang masih digelayuti kekhawatiran.  Mengela napas, Gavin menyingkirkan ragu dan kembali buka suara, "aku nggak apa-apa. Nggak ada sakit atau apa pun. Nafsu makan juga baik-baik saja." "Ck! Apanya yang baik-baik saja? Biasanya kamu makan bisa nambah dua sampai tiga kali. Ini cuma sekali, itu pun sangat sedikit dari biasanya, Sayang. Ngemil pun, Mama perhatikan akhir-akhir ini sudah jarang. Gimana Mama nggak khawatir?" "Ma," panggil Gavin, menatap Mamanya yang tampak gusar, dan sejujurnya, itu cukup mengusiknya. "Gavin baik-baik saja, sungguh! Nafsu makan juga normal kok, cuma ... Memang sengaja dikurangi." "Sengaja dikurangi gimana maksudnya?" "G—Gavin, mau diet." "Hah? Apa? Diet?" "Iya Ma, mau diet." "Ck! Mama nggak setuju. Buat apa sih diet-diet segala? Nanti pipi chubby kesayangan Mama hilang." Ucap Iva, sembari mencubit gemas pipi putranya. Tak peduli Gavin yang terus merengek karena risih. "Ma, aku bukan bocah lagi." "Yang bilang kamu bocah siapa? Mana ada Mama bilang gitu?" "Memang nggak bilang. Tapi sikap Mama, yang kadang masih suka perlakukan aku kaya bocah." Mengela napas, Iva berusaha untuk tak mendebat Gavin yang sudah berwajah keruh. Kadang, ia tau harus berhenti untuk menggoda putranya yang meski penurut, tapi bisa menjadi sangat keras kepala. "Kamu belum jawab pertanyaan Mama." "Pertanyaan yang mana?" "Kenapa mau diet?" Gavin terdiam sejenak. Tak segera menjawab pertanyaan yang baru saja mamanya lontarkan padanya. Dia ... Kebingungan. Haruskah, menjawab sejujurnya? Jika keinginannya untuk diet, ada hubungannya dengan seseorang yang ia harap bisa benar-benar 'melihat' keberadaannya? "Apa karena gadis yang kamu suka itu?" Dengan gerakan cepat, Gavin yang sebelumnya menunduk memperhatikan lantai kamarnya, segera mendongakkan wajah. "Ma?" "Nggak usah kaget gitu," mengibaskan tangan sambil lalu, Iva terkikik, sebelum kemudian, senyum hangatnya ia perlihatkan sembari mengusap surai hitam Gavin, "anak Mama ternyata sudah besar. Bahkan sekarang, sedang jatuh cinta sama seseorang." Mengembuskan napas, ia bawa kepala putra semata wayangnya itu untuk bersandar di perut. Tempat di mana dulu, putranya pernah berada di sana. "Kamu benar, kadang, Mama memperlakukan kamu seperti anak kecil. Karena di mata Mama, kamu tetap Gavin, bocah lucu kesayangan Mama." "Mama tau dari siapa?" Tanya Gavin dengan suara yang sedikit teredam karena wajahnya masih ia tenggelamkan diperut mamanya. "Raka," jawab Iva yang membuat Gavin segera menegakkan posisi duduknya. "Ck! Dasar ember." Kesal Gavin pada sahabatnya yang memang tak bisa menjaga pembicaraan. "Raka keceplosan, pas kemarin main ke sini. Cuma waktu Mama interogasi, dia malah kabur. Katanya takut kamu ngamuk. Kamu kalau ngamuk serem dia bilang. Jadi, itu kimbab yang kamu awetkan terus dikasih kotak kaca dan dipajang di kamar ini, dari gadis itu?" Tanya Iva, dengan tatapan yang ia arahkan pada kotak kaca berisi kimbab yang menjadi salah satu benda yang sangat dijaga putranya. "Iya Ma," jawab Gavin akhirnya, sembari melihat ke arah yang sama. Kimbab pemberian Fany yang jatuh karena siswa yang mengerjainya dan berhasil membuat Gavin murka.  Karena tak mungkin dimakan, juga tak ingin Gavin buang. Akhirnya, celotehan Raka, yang waktu itu mengolok-oloknya karena galau sembari melihat kimbab-kimbab yang tak bisa dimakannya. Meminta agar diawetkan sekalian, supaya bisa dilihat sepanjang hidupnya. Hal yang kemudian benar-benar Gavin lakukan. Ia mengawetkan kimbab tersebut lalu meletakkannya di sebuah kotak kaca. "Coba dong, sesekali ajak main ke rumah. Mama kan mau kenalan. Pasti seru bisa ngobrol, terus bakal Mama ajak masak bareng."  Gavin tersenyum melihat binar antusias di mata Mamanya. Sebagai anak tunggal, ia tau, sebenarnya sang Mama ingin memiliki momongan lagi. Sayang, dulu, calon adiknya tak sempat melihat dunia. Dan setelahnya, sang Mama tak lagi bisa mengandung karena bisa mengakibatkan risiko untuk kesehatan tubuhnya.  Kadang, wanita paruh baya itu mengeluh soal sifat Gavin yang terlalu pendiam, persis seperti sang Papa. Berbeda dengan Mamanya yang ekspresif dan energik. Gavin meringis, jangankan diajak main ke rumahnya. Mencoba mendekat dan bersitatap langsung dengan Fany saja, dia sudah gemetaran. "Nanti Ma," ya, semoga, suatu saat nanti benar-benar bisa mengajak Fany ke rumah ini. Harap Gavin dalam hati. Merekahkan senyuman, Iva memeluk putranya dan memberi satu kecupan di pelipis. "Benar ya? Mama tunggu, loh! Yasudah, lanjut lagi belajarnya. Mama nggak akan gangguin kamu. Mama mau gangguin Papa aja di kamar." Kikiknya sembari mengecup sekali lagi putranya, yang kali ini didaratkan di pipi chubby yang selalu membuatnya gemas. Sebelum akhirnya berlalu pergi. Meninggalkan Gavin yang hanya bisa mengela napas dan menggelengkan kepala. Gavin berniat kembali melanjutkan belajarnya. Tapi pensil yang nyaris ia raih tiba-tiba urung. Saat netranya menangkap piring berisi pisang nugget berbagai toping yang tadi Mamanya bawakan untuknya. Sebelum akhirnya ditolak, karena ia berniat untuk diet. Meraih piring berisi pisang nugget, Gavin berniat membawanya ke dapur. Tapi ... Ck! Kenapa di matanya saat ini, kumpulan pisang nugget itu tampak menggoda? "Dietnya besok aja deh, kasihan Mama, udah capek-capek buatin." Ya, dan dengan begitu. Piring berisi pisang nugget tersebut kembali ke tempatnya. Gavin melanjutkan belajarnya sembari sesekali mengunyah. ***  Ini masih terlalu pagi, perut bahkan belum di isi, dan Fany, sepertinya masih lelap di alam mimpi. Sementara Anin, sudah menginjakkan kaki di sekolahnya. Tak mau merepotkan Mang Karyo, dia memilih untuk naik angkutan umum. Meski pria itu sebenarnya berkenan mengantarkan Anin, dan tak masalah jika harus kembali ke rumah besar, menjemput nona muda mereka yang masih tertidur nyenyak. Tapi ... Tidak, Anin tak mau merepotkan.  Mengela napas, Anin yang berjalan seorang diri di lorong kelas, tengah sibuk berpikir. Bagaimana caranya untuk menghentikan Gavin agar tak lagi mengirimi Fany berbagai hadiah, dan meletakkannya di kolong meja? Ya, benar. Alasan utama Anin berangkat sekolah di waktu yang masih sangat pagi adalah karena ini.  Fany sudah memberikan titah. Dan tentu saja harus segera Anin laksanakan. Masalahnya, gadis itu membebankannya dua tugas berat sekaligus. Menjauhkan Gavin, dan mendekatkannya dengan Elard. Ck! Menggaruk pipi dengan wajah frustasi, Anin nyaris sampai dikelasnya. Untuk melihat, apakah Gavin sudah datang lebih dulu dan meletakkan hadiah yang entah apalagi di kolong meja Fany? Tapi langkah Anin tertahan saat tas gendongnya ditarik seseorang dari belakang. "Ish! Apa-apaan sih?!" Kesal, Anin segera berbalik, dia dalam mode senggol bacok saat ini. Kepalanya pusing, kurang tidur karena semalaman mengerjakan tugas miliknya dan tentu saja termasuk punya Fany. Lalu sekarang, dia harus mencari solusi untuk bisa menyelesaikan misi yang dibebankan Fany padanya.  Segala u*****n bercampur makian yang sudah berada di ujung lidah, terpaksa Anin telan kembali ke dalam tenggorokan. Saat kedua netra hitamnya mendapati sosok pelaku yang mengusiknya tadi. "K—Kak Elard?" Anin bertanya dengan nada tak percaya. Mengerjap-ngerjapkan mata, gadis itu melirik ke arah bawah. Apakah, seseorang yang kini berdiri di hadapannya, bisa menapak lantai? Tak hanya terkejut, sejujurnya Anin juga takut. Saat tiba-tiba mendapati Kakak kelasnya yang kini menjulang di depannya. Apa benar dia Elard? Atau ... Elard jadi-jadian? Terlebih, cowok itu masih di skorsing dan belum bisa masuk sekolah. Wajar bukan, jika Anin curiga? "Ck! Kenapa muka lo?" Mendengkus, Elard memajukan wajah hingga Anin menjauhkan kepalanya. Ingin bergerak mundur, tapi lengannya sudah lebih dulu ditahan. Hingga membuatnya tak bisa melarikan diri. "Gue bukan makhluk halus penghuni sekolah." Seakan tau apa yang kini bercokol di kepala Anin. Elard mengatakannya dengan santai.  "Kak Elard, ngapain di sekolah?" "Mau numpang cebok!" "Hah?!" Ini bahkan lebih horor dari apa yang Anin pikirkan sebelumnya. "Ini tangan gue belum dicuci. Tadi nggak tahan, jadi buang di semak-semak belakang sekolah." "Kak!" Jerit Anin sembari meronta, berusaha melepaskan diri. "Jorok banget sih?!" Tergelak puas, alih-alih melepaskan. Elard menarik Anin hingga tubuh gadis itu terhuyung ke depan dan menubruk dadanya. Dengan santai, Elard mengalungkan lengannya di leher Anin. "Kak, lepas!" "Ck! Gue cuma bercanda! Ya kali, gue seliweran ke sana-kemari pas belum cebok?" "Kak Elard kenapa sih, suka banget ngomongin hal jorok?" Keluh Anin, yang akhirnya pasrah dalam tawanan Elard yang masih enggan melepasnya. Dia bahkan masih ingat, saat kebingungan memberikan kimbab yang Elard inginkan sebagai ganti, tak akan mengerjai Gavin. Masak pagi-pagi, tapi Elard justru tak masuk sekolah karena skorsing setelah membully siswa lain.  Parahnya lagi, saat Anin menelpon, pria itu mengoceh sewaktu berada di kamar mandi. Dan sekarang, cowok itu lagi-lagi bercanda hal-hal jorok. "Biar lo diem. Nggak banyak nanya. Gue malas jawabnya." Mengela napas pasrah. Anin yang akhirnya bisa terbebas setelah Elard melepas dengan suka rela pitingan dilehernya. Memposisikan kembali dirinya untuk berhadap-hadapan dengan pria yang ... Astaga, bagaimana bisa berkeliaran dengan piyama bergambar Pororo? "Kak Elard belum mandi ya?" "Kalo iya kenapa? Tadi ngaca masih ganteng kok." Jawab Elard enteng. Memutar bola mata, Anin menahan dengkusan kesalnya. "Kakak nggak malu, berkeliaran, apalagi di sekolah dengan keadaan belum mandi, bahkan masih pakai piyama tidur?" "Kenapa harus malu? Kan pakai baju. Kalau telanjang, baru gue malu." "Ya bukan gitu, maksudnya, gimana kalau ada yang mentertawakan?" "Emang ada yang berani?" Tantang Elard balik yang berhasil membuat Anin meringis sembari menggelengkan kepala. "Ya ... Nggak sih kayaknya," paling di balik punggung Kak Elard gibahnya. Lanjut Anin dalam hati. "Nah, itu lo tau! Lagian, kalau ada yang berani ketawain gue juga nggak apa-apa sih." Jawab Elard sembari mengedikkan bahu tak acuh. "Serius?" Tanya Anin yang keheranan dan tak percaya. Elard menganggukkan kepala, "iya serius. Nggak apa-apa itu orang ketawain gue. Ya ... Paling giginya gue bikin rontok." Anin mencebik, tentu saja, Elard tak mungkin melepaskan mangsanya begitu mudah. Dari kantung celana piyamanya, Elard tiba-tiba mengeluarkan uang seratus ribuan, lalu menyodorkannya pada Anin yang menatap penuh kebingungan. "Mau kasih uang jajan Kak?" "Emang gue Bapak lo?!" Jawab Elard galak. "Beliin gue nasi uduk di kantin sana! Gue lagi mau sarapan nasi uduknya Bu Endang yang sambalnya selalu nendang pedesnya." Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin meringis sembari menggaruk pipi. "Sekarang?" "Ck! Entar, pas rumah Spongebob berubah jadi buah naga. Ya iyalah, sekarang!" Sentaknya sebal, membuat Anin buru-buru menerima uang yang sedari tadi disodorkan Elard. "Gue malas beli sendiri. Pas banget ketemu sama lo di sini. Jadi, mending lo aja yang beliin. Mana gue lapar banget, terus maunya nasi uduk Bu Endang." Curhat Elard tiba-tiba, "lo buruan belinya, gue lapar. Mau lanjut tidur juga!" "I—iya Ka," mengangguk patuh, Anin memasukan uang milik Elard ke saku seragam sekolahnya.  Jadi, ketua geng paling ditakuti siswa, pagi-pagi berkeliaran di sekolah dengan piyama Pororo, karena mau sarapan nasi uduk Bu Endang? Udah kaya orang ngidam. Pikir Anin sembari meringis dan menggaruk pelipisnya. "Dah, sana! Ngapain bengong?" Mengibas-ngibaskan tangan, Elard meminta Anin pergi dengan tak sabaran, "gue tunggu diparkiran."  Menganggukkan kepala sekali lagi, Anin bergegas menjalankan perintah dari Elard. Gadis itu bahkan lupa tujuan awalnya datang pagi-pagi ke sekolah untuk berbicara dengan Gavin, yang pasti berniat meletakan hadiah lagi di kolong meja Fany. Karena waktu yang masih pagi, Anin tak perlu mengantri apalagi berdesakan di kantin. Dengan kantung plastik berisi satu bungkus nasi uduk pesanan Elard. Anin segera melangkahkan kakinya menuju parkiran.  Astaga ... Pagi-pagi dia sudah di beri titah ini-itu. Setelah ini, ia harus bergegas ke kelas. Semoga saja, Gavin belum datang untuk meletakan hadiah di kolong meja Fany. Ia harus bicara dengan Kakak kelasnya itu, untuk tak lagi mengirimi hadiah.  Di sepanjang jalan menuju parkiran, Anin pusing mencari kata-kata yang tepat untuk ia katakan kepada Gavin nanti. Bagaimana caranya agar cowok itu mengerti dan mau menghentikan kebiasaannya yang meletakan berbagai hadiah di kolong meja Fany? Tapi tak sampai menyinggung perasaannya. "Kalau jalan pikirannya jangan nyangkut di tempat lain."  Teguran itu membuat Anin meringis. Berdiri di samping motor sport hitam dengan Elard yang sudah duduk cantik di atasnya. Anin menyerahkan kantung plastik berisi nasi uduk yang Elard minta. "Ini Kak, nasi uduknya." Bergumam singkat, Elard meraihnya, "kerja bagus." Alih-alih mengucap terima kasih, cowok itu malah berkata seperti itu.  Anin sendiri tak ambil pusing. Tak apa jika tak ada ucapan terima kasih untuknya. Apa yang tadi Elard katakan pun tak buruk. Ia anggap, cowok itu puas dengan hasil kerjanya. Dan semoga, membuat Elard segera pergi. Bukannya Anin ingin mengusir cucu pemilik sekolah. Tapi dia harus pergi karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. "Kak, kembalinya?" Anin menyodorkan kembalian pada Elard yang hendak mengenakan helm. "Buat lo aja. Gue nggak biasa bawa recehan." Usai mengatakan hal itu, Elard mengenakan helmnya. Dan tanpa menunggu lama, segera melajukan motornya. Meninggalkan Anin yang terbengong seorang diri. Melihat pria dengan piyama bergambar Pororo kini telah melaju dengan motor sportnya, hingga tak lagi tertangkap penglihatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN