"Jadi, lo belum bilang apa pun sama si celengan ayam itu?" Fany mendengkus melihat Anin yang menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala kaku. "Pantesan, dia masih aja kirimin gue sampah!"
Pluk!
Sebuah kotak hitam berukuran kecil dengan pita merah, mendarat di atas pangkuan Anin, bahkan sebelumnya sempat mengenai pelipis saat Fany melempar benda tersebut ke arahnya.
"Terus, Kak Elard gimana? Jangan bilang, lo juga belum bertindak biar gue bisa dekat sama dia?" Bersedekap tangan, Fany menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan wajah keruh. Moodnya sudah memburuk sejak mendapat hadiah dari kakak kelasnya yang ... Uh, sangat ingin dia hindari. Meski tak pernah mengusiknya secara langsung. Tapi hadiah-hadiah yang cowok itu kirimkan benar-benar membuatnya sebal.
Meringis, Anin tak memiliki pilihan selain menggelengkan kepalanya kembali. Membuat wajah Fany kian masam. "Kak Elard masih di skorsing Fan, jadi aku belum bisa melakukan apa yang kamu perintahkan," ya, meski tadi pagi cowok itu datang ke sekolah. Dengan rambut kusut masai, wajah setengah ngantuk tapi tetap galak, dan ... Piyama bergambar Pororo yang berhasil membuatnya terpana.
Meski enggan, alasan yang kali ini Anin katakan memang benar. Elard masih dalam masa hukuman. "Oke, gue masih kasih lo kesempatan. Tapi nanti, gue nggak mau tau! Lo harus bisa lakuin apa yang gue perintahkan, ngerti?"
"Ya," jawab Anin singkat sembari menganggukkan kepalanya.
Fany nyaris melanjutkan ocehannya, tapi kehadiran Guru yang sudah memasuki kelas, membuatnya harus kembali menelan semua kata-katanya dengan perasaan dongkol. Karena sejujurnya, ia masih belum puas untuk mengkonfrontasi Anin.
Untuk sementara, semua terfokus pada materi yang tengah Guru jelaskan di depan kelas.
Saat jam pelajaran selesai dan bel penanda waktu istirahat berteriak lantang, semua siswa tampak bersemangat. Sibuk mengemasi peralatan tulis di atas meja, sebelum meninggalkan kursi mereka. Meski beberapa memilih untuk bertahan di dalam kelas.
Fany dan teman-temannya sudah berlalu lebih dulu. Sementara Anin, masih tinggal di kursinya dengan pikiran kalut.
Mengela napas, gadis itu menggaruk kening. Bingung bercampur ragu kini tengah merongrongnya. Tapi ... Jika tak segera dilakukan, Fany bisa mengamuk. Anin tak masalah jika dia yang harus menanggung kemarahan anak majikannya itu. Tapi masalahnya, Fany selalu memanfaatkan kelemahannya agar mau bertekuk lutut padanya. Apalagi? Kalau tidak dengan melibatkan sang Bibi?
"Ck! Memangnya aku punya pilihan?" Rutuk Anin pada diri sendiri, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
Sepanjang perjalanan, Anin berusaha untuk tak mundur dengan rencana yang beberapa saat lalu bercokol dikepala. Menaiki lift menuju lantai tiga yang merupakan kelas para siswa kelas tiga, Anin meremas rok abu-abunya sembari berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdetak kencang.
Bersama beberapa siswa lain yang berada satu lift yang sama dengannya. Anin memilih untuk berdiri di sisi pojok sebelah kanan. Menunggu sejenak siswa lain turun lebih dulu setelah akhirnya sampai dilantai tujuan. Sebelum kemudian gilirannya yang ikut keluar.
Menelan gugup, ia berusaha agar tak berbalik arah dan berlari memasuki kembali lift untuk mengantarkannya ke lantai bawah.
Menyusuri lorong kelas, Anin lebih banyak menundukkan kepala, meski tetap berhati-hati agar tak sampai menabrak apa pun atau siapa pun. Mengingat, suasana koridor yang cukup ramai.
Sesampainya di kelas yang dituju, Anin kebingungan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tidak mungkin masuk begitu saja bukan? Berada di tengah-tengah para kelas tiga sudah membuatnya sungkan. Tapi, hanya berdiam diri pun tak mungkin. Dia harus bergegas sebelum waktu istirahat selesai.
Beruntung, sosok yang tengah dicarinya tiba-tiba keluar kelas. Bersama dua temannya yang Anin sering lihat.
"K—kak Gavin?!" Menyingkirkan ragu, Anin segera berderap menuju sosok yang kini menghentikan langkah dan menoleh kearahnya. Termasuk, dua temannya yang melempari Anin dengan tatapan penasaran.
Berdeham untuk meluruhkan gugup, Anin memberikan senyuman kecil yang sayangnya berubah menjadi ringisan canggung. "Maaf Kak, mengganggu waktunya."
Gavin mengangguk, meski dengan raut wajah bingung. "Ada apa?"
Di sebelahnya, Raka tampak memperhatikan Anin dengan penuh rasa penasaran. Siapa sosok gadis yang mendatangi sahabatnya ini?
Berbeda dengan Ben yang berdiri dengan wajah datar dan tak peduli. Ya, seperti biasa.
"Gue Raka," tiba-tiba saja, Raka mengulurkan tangan sembari menyebutkan namanya. Membuat fokus Anin yang sebelumnya tertuju pada Gavin, kini beralih padanya.
Setelah reda dari rasa terkejutnya, Anin ikut mengulurkan tangan dan membalas perkenalan yang Raka lakukan dengan tiba-tiba. "A—anin Kak," ucapnya sungkan.
"Anin?" Ulang Raka setelah melepas tangan Anin dalam genggamannya. Bersedekap, ia angguk-anghukan kepala dengan tatapan menilai. "Jadi, Anin, ada urusan apa lo sama Gav—"
"Kita ke kantin duluan. Nanti susul aja setelah urusan lo selesai." Ben yang sebelumnya hanya diam, tiba-tiba menarik lengan Raka hingga ucapannya tak sempat terselesaikan. Tak memedulikan gerutuan sahabatnya, ia seret paksa agar membiarkan Gavin menyelesaikan urusannya sendiri.
"Akh! Lo, Ben. Ganggu aja, gue kan belum dapat info apa-apa."
"Nggak usah kepo sama urusan orang."
"Gue nggak kepo, cuma penasaran doang."
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Ben harus menebalkan kesabaran. Saat Raka terus mengoceh dan melampiaskan rasa kesalnya karena tak berhasil mendapat informasi soal gadis asing yang kini mendatangi Gavin.
Sementara itu, Anin yang masih berdiri di hadapan Gavin, hanya bisa meremas rok abu-abunya. Telapak tangannya bahkan sudah terasa basah oleh keringat. Oh, dan jangan lupakan degup jantungnya yang kian menggila.
"Jadi?" Memperbaiki letak kacamata yang nyaris melorot, Gavin memandang sosok teman dari gadis yang dia suka. Ada sedikit harap yang tumbuh disudut hatinya melihat keberadaan ... Ah, iya, Anin. Gavin melihat nama yang tertera pada nametag diseragam gadis itu. Apa Fany menitipkan sesuatu lagi untuknya?
Meski sebenarnya, Gavin berharap, Fany sendiri yang datang menemuinya.
Astaga, bukankah itu sebuah harapan yang terlalu besar?
"M—maaf sebelumnya, karena sudah mengganggu waktunya." Mengais keberanian yang sempat berceceran. Anin menyampaikan apa yang membuatnya sampai mendatangi Gavin. "Bisa minta waktunya sebentar Kak? Ada yang ingin saya bicarakan."
"Tentu, mau bicara di mana?" Karena tak mungkin mereka bicara di koridor yang cukup ramai seperti sekarang.
"Terserah Kak Gavin saja," Anin tengah sibuk memutar otak untuk mencari kata-kata yang tepat, saat nantinya disampaikan pada Gavin. Jadi, dia kesulitan berpikir, bahkan sekadar mencari tempat untuk mereka bicara.
"Bagaimana jika perpus?" Itu adalah tempat yang jarang dikunjungi siswa. Terlebih, saat di jam istirahat seperti sekarang. Jadi sepertinya, bisa menjadi tempat yang tepat untuk mereka berdua.
Mengangguk, Anin menyetujui dengan segera dan tanpa banyak bicara. Lalu mengekori Gavin yang sudah lebih dulu beranjak pergi.
Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan. Tak ada obrolan di antara mereka. Anin yang sebelumnya berjalan mengekor di belakang Gavin. Kini sudah bersisian dengan cowok yang sesekali membuatnya tak bisa menahan diri untuk mencuri pandang. Meski fokus yang tengah diperhatikan Kakak kelasnya itu hanya terus menatap lurus. Seolah keberadaan Anin adalah tak kasat mata.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di perpustakaan. Dan seperti apa yang Gavin duga, tempat itu cukup lengang. Hanya ada beberapa siswa yang tampak sibuk dengan buku bacaannya. Bahkan ada juga yang berpura-pura membaca dengan menegakkan buku di atas meja, sementara dirinya tertidur pulas. Menjadikan buku sekadar tameng untuk menutupi kelakuannya.
Gavin mengajak Anin untuk duduk di posisi yang paling pojok. Bukannya apa, ia rasa, akan ada pembicaraan serius yang akan dilakukan gadis itu. Mengingat, sampai harus mendatangi kelasnya. Jadi, mereka butuh tempat yang benar-benar tak diusik oleh siapa pun.
Duduk dalam posisi berhadapan. Anin meremas tangannya yang berada di atas pangkuan. Berusaha mengenyahkan kegugupan yang sialnya kian menjadi-jadi.
"Jadi, ada apa?" Tanya Gavin akhirnya. Mengingat, sosok gadis di depannya yang berniat mengatakan sesuatu, justru terus bungkam.
Tak ada jalan lagi untuk mundur. Anin harus segera menyelesaikan tugasnya atas titah Fany.
Demi sang Bibi! Ingat Anin pada dirinya sendiri.
Ya, ini semua demi Bibinya. Anin tau, Fany tak pernah main-main dengan ancamannya.
Gadis itu, selalu tampak lemah lembut dengan kecantikan yang memukau banyak orang. Tapi ada sisi mengerikan yang hanya Anin seorang yang tau. Karena di hadapannya, Fany tak pernah sungkan menunjukkan segala sifat sadis yang tak pernah gadis itu perlihatkan kepada siapa pun. Fany terbiasa bermain cantik untuk menyingkirkan mereka yang tak disukainya.
Termasuk, Gavin. Cowok malang di depannya sekarang ini, tak lama lagi akan menelan kekecewaan yang sialnya, Anin yang memberikannya secara tak langsung.
Mengela napas, Anin meraih kotak hitam dengan pita merah dari kantung rok abu-abunya. Lalu meletakan benda tersebut di atas meja. Hal yang tentu saja membuat wajah Gavin berubah tegang. "Apa maksudnya?" Tanya cowok itu. Berusaha mengais ketenangan meski tau itu sia-sia.
"Ini ... Dari Kak Gavin kan?" Oh, Anin tau, itu terlalu berbasa-basi. Tapi mau bagaimana lagi? Ia butuh waktu, setidaknya, mengulurnya sedikit lagi, sebelum menjatuhkan bom di depan wajah Kakak kelasnya ini.
"Ya," menelan rasa tak nyaman yang merongrongnya, Gavin menganggukkan kepala pelan. Mengakui, jika benda yang kini tergeletak di atas meja, adalah miliknya. Yang ia niatkan untuk diberikan pada seseorang. "Kenapa bisa ada sama lo?"
Menggigit bibir bawahnya, Anin berusaha untuk tak gentar dengan sorot rasa ingin tau, sekaligus kecewa di mata Gavin.
"Fany merasa tak nyaman," mulai Anin, menyusun kata demi kata, agar Gavin bisa mengerti. Jika semua hadiah yang cowok itu berikan. Nyatanya, akan menjadi sia-sia. Mengingat, sosok yang disukainya justru terganggu atas semua pemberiannya.
Terkekeh kering, Gavin memperbaiki letak kacamatanya yang sebenarnya masih baik-baik saja. Ia ... Hanya butuh pengalihan untuk hal yang cukup mengejutkannya.
Apa mungkin, jika perbuatannya yang diam-diam memberikan hadiah pada Fany, sudah terbongkar?
"Sejak kapan?"
"Hah?" Anin yang sebelumnya melamun sembari melihat kotak pemberian Gavin, akhirnya mengangkat wajah. Hingga tatapannya bersirobok dengan netra hitam cowok itu. "M—maaf Kak, bisa diulangi pertanyaannya?"
"Sejak kapan lo—oh, mungkin juga Fany, tau jika yang selama ini meletakan hadiah di kolong meja gadis itu adalah gue?"
Anin bungkam. Ia kebingungan, apakah harus mengatakan hal yang sejujurnya? Tapi, mendapati sorot kecewa di mata Gavin benar-benar melemahkannya. Astaga ... Dia tak tega! Sungguh!
Jika saja Fany tak mengancam menyeret Bibinya. Anin tak masalah jika harus mendapat hukuman. Daripada, mengecewakan seseorang yang kini berwajah bak tengah patah hati. Atau mungkin, Gavin memang sudah patah hati? Karena dengan kedatangannya bersama kotak pemberian cowok itu, ia pasti paham jika Fany menolaknya meski melalui perantara.
"S—saya lupa Kak." Anin memang lupa, kapan tepatnya ia mengetahui jika Secret admirer Fany adalah Gavin. Bisa juga, akibat gugup yang kini melandanya, membuat Anin kesulitan untuk mengingat-ngingat.
"Tapi intinya, kalian sudah tau itu gue?" Ada nada getir dari ucapan Gavin yang masih bisa tertangkap pendengaran Anin. Dan hal itu, lagi-lagi mengusik hatinya. Seolah, ikut merasakan atas kekecewaan yang kini Gavin alami.
Anin terdiam, sebelum akhirnya mengangguk kaku.
"Fany merasa terganggu dengan semua hadiah konyol yang gue berikan?"
Hadiah yang Kak Gavin kasih sama sekali tidak konyol!
Ingin sekali Anin mengucapkannya dengan lantang. Sayangnya, ia tak memiliki keberanian sebesar itu. Bertahan duduk berdua dengan pembicaraan serius seperti sekarang saja, sudah sangat menyulitkannya.
Terkekeh kering, Gavin lagi-lagi memperbaiki letak kacamata yang Anin tau tak melorot sama sekali. Mungkin cowok itu hanya butuh pengalihan.
Mengela napas, Gavin menatap Anin yang justru menahan napas di tempatnya. Mendapatkan tatapan intens seperti itu.
"Bilang sama Fany. Tidak perlu khawatir. Gue nggak akan usik dia lagi. Termasuk dengan hadiah-hadiah konyol yang mengotori kolong mejanya. Maaf, kalau apa yang gue lakukan selama ini bikin dia nggak nyaman." Setelah mengatakan hal itu, Gavin tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Sebelum kemudian berlalu pergi, meninggalkan Anin yang membatu di tempatnya.
Cowok itu menghilang dari pandangan Anin sembari membawa kekecewaan. Bahkan, di saat Anin sendiri belum menanggapi ucapan Gavin karena lidahnya berubah kelu. Hingga tak ada satu kata pun yang berhasil tercuri keluar dari bibirnya yang hanya bisa terkatup rapat.
Menumpukan lengan di atas meja. Anin menyembunyikan wajahnya di sana. Dia ingin meraung frustasi. Tapi takut diamuk penjaga perpustakaan juga para siswa yang berada di sini. Jadi, yang bisa dilakukannya sekarang hanya bisa merutuki diri, atas ketidak berdayaanya.
Usai menenangkan diri meski secuil ketenangan yang di dapatnya, mengingat, setumpuk rasa bersalah yang kini lebih mendominasi. Anin akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar perpustakaan.
Di sepanjang koridor, Anin terus melangkah tanpa semangat. Mengabaikan para siswa yang berlalu lalang atau tampak seru mengobrol satu sama lain. Pikirannya kini tengah melayang pada sosok Kakak kelasnya yang baru saja ia kecewakan.
Anin mengacak rambutnya hingga kunciran yang tadi rapi kini kusut masai.
Rasa lapar membuat perutnya berbunyi, seolah memprotes Anin karena sedari pagi belum di isi. Sayangnya, hal itu tetap tak bisa membuat pikiran Anin tentang Gavin teralihkan.
"Astaga ... Gue cariin ke mana-mana, sampai panci Bu Endang gue cek, taunya cuma kuah soto doang. Taunya lo di sini?"
Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin menatap sosok cowok dengan slayer merah sudah berdiri di depannya. Menghalangi perjalanan Anin yang berniat kembali ke kelasnya. Dia ingin merenung, meski sebenarnya rasa lapar tengah merongrong. Tapi memilih untuk mengabaikan karena tak bersemangat.
Anin tiba-tiba saja waspada. Mendapati salah seorang anak buah Elard mencarinya. Jangan bilang, cowok itu kembali mendatangi sekolah meksipun masih dalam masa skorsing?
"Ada apa ya Kak?"
"Nih! Dari si Bos. Katanya tadi beli, tapi tiba-tiba nggak pengen lagi. Daripada di buang, jadi dia nyuruh gue kasihin ini ke lo!" Menyodorkan kantung plastik dengan logo makanan cepat saji, Dava menggerak-gerakkannya di depan Anin yang justru terbengong. "Ye ... Malah lanjut ngelamun. Buruan ambil. Bisa kena omel si Bos gue, kalau belum naympe di tangan lo."
Menyingkirkan rasa bingung yang sebenarnya masih bercokol di kepala. Anin menerima apa yang Dava sodorkan padanya. "Ini ... Beneran buat saya Kak? Nggak salah?" Tanyanya memastikan.
"Iyalah, buat lo. Siapa lagi? Gue? Ya kali!" Mengibaskan tangan di depan wajah dengan gerakan sambil lalu, Dava kemudian mengambil ponsel dari saku seragamnya. "Foto dulu bentar, buat bukti."
"Hah? Foto Ka?"
"Iye foto. Biar si Bos percaya. Ntar gue dituduh makan sendiri lagi. Buruan gaya, gue mau jepret ini."
Berdiri kaku, sembari memegang bungkusan plastik dengan logo makanan cepat saji yang katanya dari Elard. Anin menatap kamera ponsel Dava yang kini tengah membidiknya.
"Mana senyumnya? Gersang banget muka lo? Senyum dong, biar jadi cantik bak taman bunga."
Menuruti perkataan Dava, Anin berusaha menarik bibirnya membentuk senyuman, yang semoga saja tak tampak aneh.
"Nah, kan cantik kalau begini." Ucap Dava sebelum kemudian mengambil beberapa foto Anin. "Kaku banget lo, kaya mau foto buat kartu pelajar. Bergaya kek, untung hasilnya tetap cantik."
Anin hanya bisa tersenyum kering mendengar celotehan Dava padanya. Dia nyaris pamit pergi dan mengucapakan terima kasih saat Dava menginterupsinya lebih dulu.
"Sekarang video. Lo bilang sesuatu buat si Bos."
"Hah?"
"Bilang sesuatu, jangan 'hah' doang."
"Video buat apa Kak? Kan sudah foto."
"Buat dokumentasi. Biar makin percaya si Bos."
Meski sebenernya enggan. Sayangnya, Anin lagi-lagi tak punya pilihan. Hingga akhirnya menuruti apa yang Dava perintahkan.
Berdeham, Anin melihat kamera ponsel Dava, "t—terima kasih, untuk makanannya Kak Elard." Ucapnya sembari mengangkat bungkusan pemberian Elard sembari meringis canggung.
"Gitu doang? Ck! Lumayan lah." Dava memeriksa kembali hasil videonya sebelum kemudian menganggukkan kepala. "Oke, tugas gue udah beres. Saatnya cabut, bye!" Berdadah singkat, Dava berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Anin yang hanya bisa terbengong di tempatnya.