13. Terjebak Situasi

2283 Kata
Anin mengabaikan mangkuk berisi bakso yang menjadi menu makan siangnya di kantin. Karena sejak tadi, yang gadis itu lakukan hanya mencuri pandang pada seseorang yang menempati meja tak jauh dari tempat Anin yang kali ini ikut makan siang di kantin bersama Fany dan teman-temannya. Ketiga gadis itu masih sibuk berceloteh, menggosipkan ini dan itu. Sementara Anin sibuk dengan hal lain. Atau lebih tepatnya, sibuk memperhatikan seseorang. Jika biasanya Anin memilih mendekam di kelas dan mengisi perut dengan bekal yang sudah di bawa dari rumah. Kali ini, Anin ikut mengekori Fany, hanya untuk melihat sosok Gavin yang tengah makan siang bersama kedua teman cowok itu. Sudah nyaris satu minggu sejak pembicaraan seriusnya dengan Gavin. Dan, ke esokan harinya, Fany tampak kesenangan karena tak lagi menemukan hadiah di kolong mejanya.  Tentu saja, karena sosok yang selama ini memberikan hadiah, telah Anin buat kecewa. Hal yang benar-benar mengusiknya karena terus dirong-rong oleh rasa bersalah. Anin terkesiap, gadis itu tergesa menundukkan kepala. Berpura-pura menuangkan sambal ke dalam mangkuk basonya yang tak lagi hangat karena terlalu lama diabaikan, saat Gavin tiba-tiba menoleh kearahnya. Ia benar-benar terkejut saat pandangannya dan Gavin bersirobok. Apa cowok itu merasa diperhatikan? Atau sekadar kebetulan melihat kearahnya? Fany melirik Anin yang menuangkan sambal terus-menerus ke dalam mangkuk. Membuat gadis itu mengernyit bingung tapi terlalu malas untuk peduli. Biar saja, kalaupun Anin menumpahkan satu mangkuk wadah sambal, itu bukan urusannya. Melanjutkan obrolan seru bersama Sela dan Mona itu jauh lebih baik. Injakan kaki cukup keras di bawah meja membuat Anin yang sebelumnya menunduk, kini segera mengangkat wajah. Memperhatikan Fany yang posisi duduknya berhadap-hadapan dengannya. "Kenapa Fan?" Tanya Anin yang tak mengerti dengan senyuman aneh yang Fany perlihatkan. Baru saja akan kembali melempar tanya, suara seseorang yang tak asing tertangkap pendengarannya. "Pindah, gue mau duduk disitu!"  Meneguk ludah kelu, dengan gerakan kaku, Anin menolehkan kepalanya, dan mendapati sosok Elard dengan kedua tangan yang tenggelam disaku celana, tengah mengedikkan dagu. Memberi titah pada Mona yang sebelumnya duduk di sebelahnya untuk pindah. Bergabung bersama Fany dan Sela yang menempati kursi di seberang. Bentuk kursi kantin yang memanjang, biasanya bisa memuat empat orang untuk satu kursi. Jadi, satu meja yang juga panjang dan cukup luas, dengan dua kursi yang saling berhadapan, bisa di tempati delapan orang. Dan kini, tanpa permisi, Elard bersama teman-temannya bergabung di meja yang sama dengan Anin. Membuat gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata dengan raut bingung. Terlebih, saat cowok itu menarik mangkuk basonya dengan santai.  "Tumben nggak dipojokkan, Bos?" Panca buka suara tapi kemudian ikut duduk di sebelah kiri Anin, karena sebelah kanan sudah di isi Elard. Dika ikut menyusul duduk di samping Panca. Sementara Dava, mau tak mau, menempati kursi panjang yang sudah diduduki tiga gadis yang tampak salah tingkah. "Lo semua kalau mau ke tempat biasa, pergi aja sana. Gue lagi butuh suasana baru." Ucap Elard sebelum kemudian melahap baso milik Anin dan segera tersedak saat rasa pedas membakar lidahnya. "Uhuk! Uhuk! Gila! Ini kuah baso apa kuah sambal?!"  Fany, Mona, dan Sela menyodorkan gelas minuman mereka untuk Elard. Membuat teman-temannya bersiul memberikan godaan. Tapi dengan tampang malas, Elard justru meraih teh tawar milik Anin yang hendak gadis itu minum.  "Udah tau gue kepedesan gara-gara kuah baso lo yang nggak ada akhlak! Malah nggak kasih gue minum!" Omel Elard sebelum meneguk minuman Anin hingga nyaris tandas.  Menelan kesal, Anin biarkan saja Elard berbuat semaunya. Mengingat, ia tak akan bisa menang melawan cowok itu. Ya, tentu saja! Lagipula, kenapa dirinya terus yang sedari tadi disalahkan? Seingat Anin, tidak ada yang menawari Elard baso miliknya. Cowok itu yang tiba-tiba mengambil alih, bahkan tanpa ucapan basa-basi! Lalu, sewaktu Elard tersedak dan kepedesan, dia lagi yang menjadi tempat omelan karena tak memberikan minum. Tak memberikan minum? Untuk apa? Anin sengaja tak menawarkan minuman miliknya karena sudah ada tiga gadis cantik yang menawarkan minuman mereka pada Elard. Jadi, kenapa cowok itu masih saja uring-uringan? "Lo biasa makan baso dengan kuah yang pedasnya segila ini? Nggak kasihan sama lambung lo?" Elrad mengomel pada Anin yang hanya bisa meringis sembari menggelengkan kepala. Berdecak, Elard menatap ke arah Dava yang membuat cowok itu segera menegakkan posisi duduknya. Meski dalam hati mengerang karena mendapat firasat tak enak. Mengingat, kemungkinan besar dia akan mendapat titah, yang entah apa dari Elard? "Dav, beliin baso dua mangkuk sana! Eh, sama minumannya sekalian. Es teh manis sama teh tawar." Kan, keluh Dava dalam hati. Meski pada akhirnya cowok itu bergegas berdiri. "Siap Bos!" Ucapnya lantang sembari memberi hormat, sebelum kemudian mengulurkan tangan.  "Apaan?" Tanya Elard mengerutkan kening, tak mengerti melihat Dava yang bukannya bergegas menjalankan perintah darinya, justru menyodorkan tangan kearahnya. "Gue suruh lo beli baso! Cepetan sana!" "Belinya pake uang kan Bos?" "Ya iyalah! Masa batu!" "Nah, itu Bos." "Itu apaan?" Elard yang memiliki kesabaran tipis mulai termakan kesal melihat Dava yang sejak tadi membicarakan hal yang membingungkan. Meringis, Dava berusaha untuk tak gentar pada raut keruh Elard. "Sesuai yang Bos bilang tadi. Beli baso itu butuh uang. Jadi ... Ya begitulah, gue butuh uang biar Mang Jaja bersedia siapin basonya." Berdecak, Elard merogoh saku seragam sekolahnya, kemudian memberikan uang seratus ribuan pada Dava yang tersenyum lebar. "Dav, gue juga dong sekalian, mau soto Mpok Sarti. Minumnya teh manis dua sendok aja, sama es batunya banyakin." Dika angkat bicara saat Dava bersiap pergi. "Lah, gue juga dong, mau ayam geprek Bu Ami. Minumnya es jeruk." Kali ini Panca yang ikut bergabung dalam pembicaraan. Dava berdecak mendengar pesanan tambahan yang tiba-tiba ia dapatkan. "Jalan sendiri sana! Lo pikir gue bisa bawa makanan sama minuman sebanyak itu?" "Kan bisa bawa bolak-balik," ucap Dika santai, mengabaikan pelototan kembarannya. "Gue nggak serajin itu! Beli sendiri!" Tak memedulikan protes yang Panca dan Dika layangkan. Dava memilih untuk segera membeli menu makan siang yang dipesan Elard, juga untuk dirinya sendiri. Sementara Dika dan Panca, hanya bisa menahan dongkol karena pesanan mereka diabaikan, atau lebih tepatnya ditolak mentah-mentah oleh Dava. Membuat keduanya terpaksa beranjak dari tempat duduk, untuk memesan makan siang mereka sendiri. Sepeninggal teman-temannya, Elard tetap bertahan di posisinya. Mengabaikan jika saat ini, hanya tinggal dirinya sendiri yang merupakan cowok di meja itu. Mona dan Sela tak bisa menahan diri untuk saling berbisik-bisik. Tak menyangka jika seorang Elard, cowok paling ditakuti, sekaligus dikagumi para siswi, kini berada satu meja dengan mereka. Sosok yang menjadi pusat perhatian, justru tampak tak acuh dan memilih memainkan ponselnya. Sementara Anin, hanya bisa duduk kaku. Meski sesekali tatapannya tertuju pada Gavin yang sudah bangkit dari duduknya bersama dua temannya.  Tendangan cukup keras yang mengenai kakinya dari bawah meja membuat Anin meringis. Gadis itu mengalihkan pandangan dan menemukan Fany yang memberikan tatapan kode padanya. "Kenapa lo?" Elard yang duduk di samping Anin tampak penasaran, karena gadis yang sejak tadi hanya diam hingga membuatnya nyaris bosan dan memilih bermain game diponsel. Tiba-tiba saja meringis seperti tengah kesakitan. Memutus tatapan dengan Fany. Anin berusaha untuk tetap tenang dan menjawab pertanyaan Elard. "B—bukan apa-apa Kak. Cuma tadi itu, hm ... Digigit s—semut, iya semut." Menaikan satu alis mata, Elard menatap Anin yang memperlihatkan senyuman yang lebih mirip seperti ringisan. Mengedikkan bahu, cowok itu kembali melanjutkan permainan yang sempat terjeda diponselnya. Untuk beberapa lama, tak ada yang berani membuka obrolan. Kehadiran Elard benar-benar membawa suasana yang berbeda. Lebih tepatnya, semua tampak sungkan pada cowok itu. "Itu bocah-bocah pada kemana sih? Beli makan lama amat kaya harus nyeberang benua?" Berdecak, Elard mulai sebal karena teman-temannya yang pergi membeli makan siang tak juga kembali. Anin tersentak saat suara ponsel dan getaran dikantung roknya terasa. Merogoh untuk meraih ponsel yang ia simpan di kantung rok. Anin mendapati nama Fany sebagai pengirim pesan. "Astaga, ponsel lo suaranya cempreng banget. Sampai ngilu kuping gue." Celoteh Elard sembari mengorek telinga kirinya dengan ujung jari kelingking. Sementara Mona dan Sela mentertawakan ucapan Elard, seolah mendukung untuk mengolok-olok ponsel butut milik Anin. "Ck! Ketawa lo berdua bikin kuping gue sakit!" Ucapan judes Elard membuat Mona dan Sela yang tengah tertawa dan bagi Anin sangat terdengar dibuat-buat anggun. Akhirnya terhenti setelah mendapat protes dari Elard. Kedua gadis itu tampak malu dan saling sikut, berbisik hanya untuk menyalahkan satu sama lain. Mengela napas, Anin kembali fokus pada ponselnya. Terlebih, lagi-lagi Fany menendang-nendang kakinya dari bawah meja. Meski tak sekeras tadi. 'Kapan lo mau bikin Kak Elard deket sama gue?!' Menggigit bibir bawahnya untuk menyingkirkan resah. Anin mengetik balasan untuk pesan yang baru saja Fany kirimkan padanya.  Ini mungkin terlihat konyol. Mereka saling mengirimi pesan padahal Anin dan Fany bahkan duduk dalam posisi saling berhadapan. Tapi situasi tak memungkinkan mereka berbicara secara langsung. Karena sosok yang menjadi pembicaraan mereka kini tengah berada di sini. 'Kak Elard, bukannya udah dekat sama kamu Fan?' Anin bisa melihat kening Fany yang mengernyit dengan raut wajah yang tampak bingung. Lalu ibu jari gadis itu kembali mengetikkan sesuatu. Tak lama, Anin kembali mendapatkan pesan. 'Maksud lo? Kapan gue bisa dekat sama Kak Elard? Lo aja gerak lamban, nggak pernah punya inisiatif! Oh, atau cuma akal-akalan lo biar nggak perlu repot-repot lakuin apa yang udah gue perintahkan?' Tanpa sadar, Anin menggeleng-gelengkan kepala. Membuat Elard yang rupanya menjeda sejenak permainan diponselnya dan memperhatikan Anin, tampak mengerutkan kening melihat gadis itu yang tiba-tiba menggelengkan kepala cepat dengan raut panik. "Kenapa lo?" Tanyanya yang tak lagi bisa hanya diam mengamati. Tergagap, Anin yang nyaris mengetikkan balasan untuk Fany, akhirnya urung karena harus meladeni Elard, agar cowok itu tidak curiga. "K—kenapa apanya Kak?" "Itu, tadi, geleng-geleng kepala kaya lagi dugem." Mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, Anin terkekeh kering, "bukan apa-apa kok Kak." "Ck! Dasar aneh." Mengalihkan pandangan, Elard kembali fokus pada ponselnya. Begitu pun dengan Anin yang segera membalas pesan dari Fany. 'Bukannya sekarang kamu udah dekat sama Kak Elard?' Balasan cepat dari Fany segera Anin dapatkan. Dan gadis itu menggaruk pipi saat membaca pesan Fany yang seperti tengah kesal. 'Kapan? Lo jangan ngarang!' Anin lagi-lagi kena omel. Membuat gadis itu kian kebingungan dalam bersikap. Tapi tetap mengetikkan balasan. 'Tapi sekarang kan sudah dekat Fan. Maksudku, dengan Kak Elard menempati meja yang sama dengan kita sekarang. Bukannya bikin kamu dekat dengan dia? Atau tukar posisi sama Sela aja, biar bisa duduk berhadapan sama Kak Elard.' Menunggu sejenak, suara pertanda ada pesan masuk diponselnya membuat Anin segera menundukkan pandangan. Membaca apa yang kali ini Fany tuliskan. 'Astaga ... Bukan dekat yang semacam ini maksud gue! Maksudnya, gue mau Kak Elard jadi cowok gue!'  Takut-takut, Anin mengintip ekspresi Fany. Dan benar saja, gadis itu tengah memelototinya dengan raut kesal. Anin meneguk ludah kelu, melihat pesan yang kali ini ditulis begitu jelas maksudnya oleh Fany. Mungkin agar lebih bisa dipahami. Atau sudah terlanjur kesal pada Anin yang tak juga mengerti keinginan Fany untuk dekat dengan Elard. Jadi, Fany ingin agar Elard menjadi pacarnya? Astaga, mana bisa dia jadi Mak Comblang? Anin lebih baik disuruh mengerjakan tumpukan tugas dibanding mengurusi hal semacam ini. Menggigit bibir bawah, Anin kembali mengetik pesan untuk Fany. 'Gimana caranya Fan?' Dan seperti biasanya, Anin tak perlu menunggu lama, karena pesan balasan dari Fany sudah berhasil masuk ke dalam ponselnya.  'Itu urusan lo, lah! Justru itu tugas yang harus lo lakuin. Gimana caranya, supaya Kak Elard bisa jadi cowok gue!' "Lo semua beli makan di Madagaskar? Lama banget, astaga!" Suara kekesalan Elard yang tertangkap pendengarannya membuat Anin segera memasukkan ponsel ke kantung roknya. "Ya maaf Bos, kan ngantri. Coba Bos yang beli, pasti mereka langsung mundur kasih jalan." Ucap Panca sembari meletakan nampan yang berisi satu mangkuk soto, satu piring nasi putih dengan taburan bawang goreng dan satu piring ayam geprek serta nasi putih, juga lalapan milik Dika. Sementara Dika sendiri membawa nampan dengan enam gelas minuman. Dava tak kalah ribet, cowok itu juga membawa nampan berisi dua mangkuk baso pesanan sang Bos. Serta satu mangkuk mie ayam miliknya sendiri. Setelah menyusun makanan di atas meja. Mereka semua mulai sibuk dengan makan siangnya masing-masing. Termasuk Elard, cowok itu menyodorkan baso baru pada Anin yang hanya bisa tersenyum kaku. "A—aku kan, udah pesan baso Kak. Itu aja belum habis." Bahkan belum dimakan sama sekali. Lanjut Anin dalam hati. "Nggak usah uji nyali. Lo mau makan baso apa kuah sambal? Udah, ini aja." Anin nyaris kembali buka suara, saat orang lain sudah lebih dulu berbicara pada Elard yang tengah sibuk mencicipi kuah basonya, setelah menambahkan saus sambal dan kecap manis ke dalam mangkuk yang tadi berkuah bening. "Bos, duit lo yang tadi sekalian bayarin makanan kita-kita ya?" Ucap Dava yang baru ingat belum mengatakannya pada Elard. Jika uang Bosnya digunakan, bukan hanya untuk membayar dua mangkuk baso, es teh manis dan teh tawar yang dipesan tadi. Meskipun Elard tak pernah perhitungan, tetap saja Dava merasa, jika harus mengatakannya pada Elard. Dengan pipi kiri yang menggelembung akibat baso, Elard menganggukkan kepala. "Iye, santai." Ucapnya, lalu beralih pada Anin yang hanya diam. "Lo ngapain bengong? Buruan makan, bentar lagi bel. Lo kira bisa pindah ke perut itu baso, kalau cuma dipelototin doang?" Anin yang tak punya pilihan, karena merasa segan jika harus menolak Elard yang sudah berbaik hati membelikannya baso. Akhirnya mulai mencicip kuah dengan pelan. "Ck! Kalau kuah bening begitu mana enak?" Elard mengambil botol saus dari atas meja. Lalu menuangkan saus tersebut ke mangkuk Anin pelan-pelan agar tak keluar berlebihan. "Kurang nggak? Apa cukup?" Tanyanya karena tak tau selera Anin. Tapi yang jelas, tak boleh terlalu pedas seperti baso Anin yang tadi dia cicipi.  "S—sudah Kak, terima kasih. Aku bisa sendiri."  "Nanti sambalnya dikit aja, jangan banyak kaya tadi. Atau nggak usah pakai sambal. Saus aja udah pedas." Elard terus mengoceh, tak tau jika sosok yang tengah mendapat perhatian darinya tengah dirong-rong gelisah. Anin benar-benar merasa sungkan dengan perlakukan Elard. Cowok itu bahkan mengabaikan suitan menggoda teman-temannya. Tapi yang membuat Anin ketar-ketir, adalah tatapan menusuk yang Fany layangkan padanya. Andai tatapan Fany adalah sebuah belati tajam, saat ini, Anin pasti sudah terkapar karena tatapan gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN