Anin tengah sibuk menyelesaikan soal dengan fokus. Sesekali, memperbaiki letak kacamata bacanya yang nyaris melorot jatuh dari pangkal hidungnya.
Mencuri pandang kearah jam weker di atas meja belajar, sudah nyaris pukul delapan malam. Sudah hampir satu jam Anin mendudukkan diri di kursi. Pantas saja pinggangnya pegal dan bokongnya panas.
Ada PR dua mata pelajaran yang harus diselesaikannya. Yang sebenarnya sudah selesai dikerjakan sejak tadi, andai tak harus mengerjakan milik Fany juga. Keahliannya yang bisa menirukan tulisan seseorang, membuat Anin tak dicurigai karena sejak dulu, mengerjakan semua tugas milik Fany. Entah, kemampuannya yang mampu menirukan tulisan orang lain bisa disebut anugerah atau ... Sebaliknya? Karena hal itu membuat Fany kian senang.
Suara ponsel miliknya yang meraung meminta perhatian, mengoyak konsentrasi Anin sejenak. Meletakkan pensil, tangannya mengais tumpukan buku yang sepertinya menimbun ponsel.
Setelah berhasil mendapatkannya, Anin terdiam dengan mata mengerjap-ngerjap, saat nama Fany yang tertera dilayar. Tak ingin anak majikannya mengomel, ia segera menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan.
"Ha—"
"Pergi ke mini market sana! Beliin gue semua yang ada di daftar. Nanti gue kirim daftarnya. Dan tentu aja, jangan—pakai—lama. Bye!"
Tut ... Tut ... Tut ....
Sambungan terputus dengan Anin yang hanya bisa bergeming di tempat duduknya.
Astaga ... Anin bahkan belum mengatakan apa pun. Salam pembuka saja tak sempat terselesaikan olehnya. Tapi Fany sudah mengoceh panjang.
Suara ponsel yang menandakan adanya pesan masuk, mengentak Anin yang sempat terbengong dengan ponsel yang bahkan masih tertempel di telinga kanannya.
Pesan dari Fany, dan seperti yang gadis itu bilang tadi. Dia mengirimkan semua daftar belanjaan yang harus Anin beli di minimarket dekat rumah. Dari mulai camilan, deodorant, sampai pembalut dengan merek, panjang, dan jenis yang Fany inginkan.
Mengela napas, Anin segera menutup buku tugasnya. Sebelum kemudian bangkit dari duduk, dan beranjak kearah lemari pakaian untuk mengambil cardigan berwarna dusty pink, untuk melapisi piyama lengan pendek bergambar minnie mouse.
Kembali berderap menuju meja belajar, Anin meraih ponsel dari atas meja, sebelum kemudian memasukannya ke celana piyama panjangnya yang memiliki kantung. Lalu mengayunkan langkah menuju pintu keluar.
Usai berpamitan pada bibinya, yang tadi tengah membuatkan teh hijau untuk nyonya rumah. Sekaligus memberikan uang yang dititipkan Fany untuk membeli semua barang-barang yang gadis itu inginkan. Anin, dengan sepeda keranjang berwarna pink, hadiah dari bibinya saat ia berhasil meraih juara satu waktu SMP. Hal yang membahagiakan sekaligus meninggalkan ketakutan untuknya karena membuat Fany murka.
Sembari mengayuh sepedanya, Anin menikmati keadaan sekitar yang cukup senyap. Padahal, waktu belum begitu malam. Mungkin ada banyak orang yang malas keluar. Terlebih, setelah hujan tadi sore yang meninggalkan hawa dingin. Membuat siapa pun, lebih tertarik untuk menyamankan diri di atas tempat tidur, dengan selimut hangat yang menutupi tubuh.
Setelah beberapa menit, Anin akhirnya sampai disebuah minimarket terdekat. Memarkirkan sepedanya, gadis itu segera masuk ke dalam. Meraih keranjang belanjaan dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam ponsel. Melihat daftar belanjaan yang di kirimkan Fany. Berjalan mengitari dari satu rak ke rak lain, guna mencari barang-barang yang sesuai di dalam daftar.
Keranjang belanjaan yang sebelumnya kosong, kini mulai terisi penuh dan memberat. Sayangnya, Anin masih harus mencari beberapa barang lagi yang belum didapatkan olehnya.
Setelah berkeliling ke beberapa rak, Anin mengembuskan napas lega karena akhirnya, semua barang-barang yang diminta Fany berhasil di dapatkannya. Selagi menunggu antrian di kasir yang tampak panjang. Anin memilih untuk beralih kederetan lemari pendingin minuman. Tiba-tiba saja terasa haus, ingin meneguk sesuatu yang manis dan dingin.
Meletakkan keranjang belanjaan yang berat di atas lantai. Anin membuka lemari pendingin minuman yang berisikan jus kemasan. Gadis itu memperhatikan semua minuman yang berbaris rapi di sana, dengan berbagi merek dan rasa.
Astaga ... Hanya memilih minuman saja, Anin bisa menghabiskan waktu yang cukup lama.
"Lo mau beli apa ngadem?"
Suara seseorang yang berbisik tepat di telinga kanannya, membuat Anin terlonjak hingga tak sadar melangkah mundur. Tapi justru menabrak seseorang yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya?
Membalikkan tubuh, Anin membelalakkan mata tak percaya. Mendapati sosok yang sangat tak ingin dia jumpai bahkan saat dilingkungan sekolah sekali pun. Tapi justru dipertemukan di area luar sekolah.
Bersedekap tangan, dengan seringai menyebalkan, cowok itu menaikan satu alis mata. "Napas, lo bisa mati kalau nggak menghirup oksigen. Gue kan orangnya baik hati, jadi izinin lo buat berbagi oksigen yang sama kaya gue di sini."
Anin menggerutu dalam hati, tanpa izin dari cowok menyebalkan itu pun, ia sadari lahir sudah menghirup oksigen dengan bebas.
Mengela napas panjang, Anin mencebik kesal. Lebih pada dirinya sendiri. Reaksinya pasti terlihat sangat berlebihan. Ia bahkan menahan napas tanpa disadari. Dan anehnya, cowok menyebalkan itu sampai tau.
"K—kak Elard, ngapain di sini?"
Dengan satu tangan yang ditumpukkan pada pintu lemari pendingin minuman yang telah tertutup, dengan punggung Anin yang kini menempel di sana hingga terasa dingin. Elard mengungkung tubuh gadis itu hingga tak berkutik dan kesulitan melarikan diri.
Meneguk ludah kelu, Anin menatap waspada sosok cowok yang kini tak tampak ikatan slayer di kepalanya. Tapi digantikan beanie yang lagi-lagi berwarna hitam. Sepertinya, Elard sangat suka warna hitam. Lihat saja penampilannya kali ini. Beanie yang menutupi kepalanya, hoodie yang membungkus tubuhnya, sampai jeans belel yang dikenakannya, semua berwarna hitam. Oh, hanya sepatu yang berbeda warna. Bukan hitam, tapi putih.
Jari telunjuk yang terlingkari cincin itu mengangkat dagu Anin yang sedari tertunduk, kini mengangkat wajah hingga tatapan mereka saling bersirobok. "Lo harus tanggung jawab." Desis Elard di depan wajah Anin yang mulai memucat.
Jika sebelumnya Anin terfokus pada netra berwarna hazel milik Elard, kini tatapannya beralih pada hidung mancung cowok itu yang ditempeli plester.
"K—kenapa, aku harus tanggung jawab?" Mengais keberanian yang sebelumnya tercecer. Anin berusaha agar tak terintimidasi. Sayangnya, dia memang tengah ketakutan. Berhadapan dengan Elard, berandal sekolah yang kini berjarak sangat dekat dengannya. Bahkan embusan napas cowok itu bisa dirasakan olehnya.
Mendengkus sebelum terkekeh, Elard kian menipiskan jarak diantara mereka, hingga Anin mendorong mundur kepalanya, yang sayangnya sudah tak lagi bisa bergerak karena tertahan lemari pendingin minuman di belakangnya.
"Hidung gue nyaris patah gara-gara lo, dan masih tanya kenapa?"
"I—itu bentuk perlawanan diri." Elak Anin yang tak mau disalahkan sepenuhnya. Hei, siapa yang tak akan panik, jika dipaksa untuk gosok gigi dengan wasabi? Anin rasa, ada yang salah dengan isi kepala kakak kelasnya itu.
"Gue nggak mau tau, lo harus tanggung jawab." Elard bersikeras, "atau ... Si cupu itu yang mewakilkan?" Tanyanya dengan menaikkan satu alis mata dan senyuman menggoda, "ya, benar. Sepertinya lebih seru 'bermain' dengan si cupu." Ucap Elard sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Anin mengepalkan tangan di masing-masing tubuhnya. Dia kesal karena Elard menggunakan Gavin untuk mengancamnya. Sialnya, Anin justru mengatakan hal yang mungkin akan disesalinya nanti. "B—baiklah, tapi jangan ganggu Kak Gavin lagi."
"Uh ... Apa ini? Pengorbanan untuk sang pujaan hati?" Kekeh Elard yang hanya mendapat tatapan nyalang dari Anin. Baru saja akan melanjutkan konfrontasinya dengan 'mainan baru' di depannya ini. Suara menyebalkan seseorang, tiba-tiba tertangkap pendengarannya.
"Bagus, dicariin kaya anak hilang, taunya pacaran di depan lemari pendingin minuman."
Berdecak, Elard membalikkan tubuh, tapi kemudian menarik Anin agar berdiri sejajar dengannya. Merangkul leher gadis itu yang berdiri kaku di bawah tatapan tiga cowok yang merupakan gerombolan Elard.
Anin mengerjap-ngerjapkan mata, melihat penampilan ketiganya yang serupa dengan Elard. Yang membedakan, hanya warna beanie dan hoodie yang mereka kenakan. Sesuai warna slayer yang biasa terikat di kepala.
"Tumben lo mau nempel sama cewek Bos?" Panca yang tadi menyindir Elard kembali buka suara. Cukup terkejut dengan pemandangan yang tadi berhasil tertangkap penglihatannya. Di mana, seorang Elard yang biasanya galak dan risih dengan para perempuan, tiba-tiba saja terlihat intim. "Eh, nona galak rupanya." Kekehnya saat menyadari siapa yang kini berada dalam rangkulan bosnya.
"Nggak takut hidungnya di seruduk lagi Bos?" Kali ini Dika ikut buka suara.
"Kayaknya Bos udah punya pawang," kekeh Dava yang langsung meringis, saat mendapat tatapan maut dari Elard, "ah, elah, canda doang Bos." Akunya dengan bibir mencebik sok imut. Membuat Dika, saudara kembarnya yang melihat hal itu kesal dan menggeplak belakang kepala Dava. "Heh! Karet ketoprak! Apa-apaan Lo?" Sungut Dava tak terima sembari mengelus-elus belakang kepalanya.
"Mual gue, lihat muka lo yang sok imut kaya tadi. Jangan sampai ya, gue muntah. Sayang nanti, steak mahal, traktiran dari si Bos keluar lagi."
Meski kembar, Dika dan Dava bukan kembar identik. Jadi mudah untuk mengenali mereka. Karena selain wajah yang tak terlalu sama, penampilan keduanya juga berbeda. Dika memiliki tubuh yang tinggi dan perawakan kurus. Sementara Dava lebih mungil dengan rambut ikal.
"Ck! Lo berdua kalau mau adu bacot, cari tempat lain sana!" Kesal Elard sembari memelotot kearah Anin yang terus menggeliat seperti cacing tanah. "Ini lagi satu, nggak bisa diam dari tadi."
"Kak, aku harus pulang." Ucap Anin dengan suara memohon dan raut wajah memelas. Satu hal yang ia pelajari saat bersinggungan dengan seorang Elard. Cowok itu akan semakin tertantang jika Anin melawannya. Jadi kali ini, ia mencoba melarikan diri dengan cara yang lebih halus.
"Baiklah, kali ini, gue lepasin. Tapi ingat perjanjian kita, mulai besok, lo harus jadi babu gue. Sebagai ganti rugi udah bikin hidung gue nyaris patah."
Anin menganga tak percaya. Seingatnya, ia tak pernah menyetujui perjanjian apa pun dengan seorang Elard. Ayolah, dia masih cukup waras dan ingin masa sekolahnya berjalan tenang seperti biasanya. Ya, meski bagi orang lain, tampak membosankan. Tapi Anin tak peduli. Dan sekarang, ia harus terlibat dengan berandalan sekolah? Astaga ... Ini bahkan lebih buruk dari mimpi buruk.
"Ngapain bengong? Sana pergi! Katanya mau pulang? Jangan bikin gue berubah pikiran ya?" Ancam Elard yang berhasil membuat Anin mengerjap-ngerjapkan mata. Gadis itu kemudian mencari keranjang belanjanya yang terasa berat. Sebelum kemudian berlalu pergi, meninggalkan Elard dan kelompoknya. Biarlah cowok itu mengocehkan perjanjian sepihak yang sama sekali tak Anin setujui. Yang penting, dirinya sekarang bebas dan bisa pulang.
Bersyukur, antrian di depan kasir tak sepanjang sebelumnya. Mempercepat Anin melakukan proses pembayaran. Sembari menunggu Mbak kasir menghitung total belanjaannya, oh, bukan, belanjaan milik Fany lebih tepatnya. Anin mencuri pandang kearah Elard dan gerombolannya yang masih berdiri di tempat yang sama seperti tadi.
Tiba-tiba saja, Elard menangkap basah Anin yang melihat kearahnya. Cowok itu menyeringai, membuat Anin nyaris tersandung kakinya sendiri karena refleks ingin kabur. Dia lupa masih berdiri di depan kasir yang sudah hampir selesai menghitung semua belanjaan di dalam keranjang. Berdiri kaku, Anin merutuki diri karena bisa-bisanya penasaran dengan berandalan sekolah itu. Gadis itu berusaha untuk tak tergoda menengok ke belakang, melihat Elard dan gerombolannya.
"Jangan cuma dipandang dari kejauhan dong, Bos," goda Panca yang terkekeh saat Elard mendelik padanya.
"Lo semua nggak tau, di bumi ini ada yang namanya keranjang belanjaan buat memudahkan orang-orang?" Dengkus Elard yang baru menyadari jika masing-masing dipelukan anak buahnya, sudah terisi penuh oleh berbagai hal. Dari mulai makanan ringan, minuman, sampai celana dalam. "Lo mau ngemil celana dalam Dav?" Tanyanya pada Dava yang hanya memberi cengiran.
"Iya Bos, mau dicocol pakai sambal campur mayones." Sambar Dika yang kemudian meringis saat kakinya diinjak Dava. Untung saja, tumpukan camilan berada dalam pelukannya tak ada yang jatuh.
Mengela napas melihat tingkah ajaib anak buahnya. Elard mencuri pandang kearah kasir, di mana gadis yang sialnya, ia lupa namanya, sudah tak lagi terlihat di sana. Baiklah, akan ia cari tau saat di sekolah nanti. Menyeringai hingga membuat ketiga temannya saling pandang dan memperlihatkan wajah bingungnya. Elard membalikkan tubuh, menghadap lemari pendingin minuman, membukanya dan mengambil beberapa kaleng soda. Sebelum kemudian mengayunkan langkah menuju kasir yang telah sepi. Di ikuti ketiga anak buahnya yang mengekor di belakang. Persis seperti anak bebek yang mengikuti sang induk.
***
Anin memasuki kediaman Samitra dengan dua bungkusan besar plastik berlogo minimarket yang dipegangi tangan kanan dan kirinya.
Di ruang tengah, langkah Anin terhenti, saat menemukan sosok Fany yang tengah duduk santai di atas sofa merah yang tampak nyaman. Bersilang kaki, dengan majalah fashion yang berada di pangkuan.
"Fan," panggil Anin pelan, tapi berhasil mengalihkan atensi nona mudanya dari majalah yang entah sudah berapa lama dibacanya.
"Ck! Lama banget sih, lo? Belinya di minimarket yang ada di luar kota apa gimana?" Kesal, Fany berdiri dari duduknya. Sebelum kemudian berderap menuju Anin yang bergeming di tempatnya. Siap menerima omelan dan kekesalan Fany yang sudah dibuat menunggu lama karenanya.
"Minimarketnya ramai. Jadi antri lumayan lama tadi." Jelas Anin. Tak sepenuhnya berbohong akan keterlambatannya. Meski sejujurnya, bukan hanya minimarket yang tengah ramai hingga membuat Anin terjebak lama di sana. Tapi Elard dan gerombolannya yang menjadi alasan utamanya terlambat pulang dan membuat Fany kesal padanya.
Mengibaskan tangan tak acuh, Fany yang tak mau tau alasan yang Anin kemukakan, segera merebut salah satu kantung plastik berisi belanjaan yang dipesannya. Sayang, baru saja berpindah tangan, sudah dijejalkan kembali ke pelukan Anin, "berat, bawa ke kamar gue aja langsung." Titahnya, sebelum kemudian berbalik. Mengayunkan langkah menuju kamarnya yang berada dilantai atas. Dengan Anin yang mengekor di belakangnya.
Setelah meletakkan semua belanjaan Fany di pojok kamar gadis itu. Anin segera keluar, meninggalkan Fany yang sudah sibuk dengan telepon dari seseorang.
Setelah berhasil menutup pintu kamar Fany, Anin mengembuskan napas lega. Mengelap peluh yang mengaliri pelipisnya dengan punggung tangan. Bersiap untuk kembali ke kamarnya yang berada dibangunan belakang rumah utama.
Baru saja Anin menjejak anak tangga terakhir. Suara ponsel miliknya berbunyi, yang menandakan adanya pesan. Merogoh kantung celana piyamanya. Anin mengerutkan kening, saat mendapati sebuah nomor asing yang kini terlihat di layar ponselnya. Saat membuka pesan tersebut, matanya memelotot tak percaya, dengan degup jantung yang tiba-tiba saja menggila.
'Tugas lo jadi babu, dimulai dari besok. Dan gue mau kimbap, sebagai bekal. Awas lupa, gue suruh si cupu sampoan pakai kecap!'
Meski tak ada nama, Anin jelas tau siapa pengirimnya.
Astaga ... Apa belum cukup, ia menjadi pesuruh Fany? Dan sekarang, ia harus memiliki 'bos' lainnya?
Mengacak rambut hingga kusut masai. Anin menuju kamarnya dengan setengah berlari. Ia ingin segera merebahkan diri. Karena kepalanya sudah sangat berdenyut sakit saat ini.