"Dari mana lo?"
Dengan napas yang masih terengah-engah, Anin menumpukkan kedua tangannya di atas meja. Menjadikannya pegangan agar tak meluruh ke lantai saat merasakan kakinya yang sudah bergetar karena lelah. Setelah melarikan diri bersama Gavin dari amukan Elard dan anak buahnya. Mereka berdua segera menuju kelas masing-masing, saat mendengar suara bel yang memberitahukan jika waktu istirahat sudah usai, berteriak lantang.
Anin jadi merasa kasihan pada Gavin. Dia saja sudah kelelahan setelah berlari menuju kelasnya yang masih di lantai satu. Tapi memang, bangunan kelasnya terletak cukup ujung. Apalagi Gavin? Yang harus menaiki tangga menuju lantai tiga. Karena panik, cowok itu bahkan melupakan keberadaan lift yang menjadi salah satu fasilitas di sekolah mereka. Karena bangunan yang memiliki tiga lantai.
"Fan, b—bisa, geser dulu? Aku, m—mau duduk." Pinta Anin dengan suara terputus-putus, berusaha mengabaikan wajah sebal Fany karena tak segera memberikan jawaban atas pertanyaan gadis itu. Ia benar-benar harus mendudukkan diri dengan segera. Sebelum kakinya yang sudah lemas, benar-benar tak lagi bisa menopang tubuhnya.
Meski berdecak, Fany memiringkan posisi duduknya, agar bisa memberikan ruang bagi Anin menduduki kursi yang berada di dekat tembok.
Tak membuang waktu, Anin segera beranjak menuju kursinya. Dan mengembuskan napas lega setelah bokongnya mendarat dengan sempurna. Jika harus menunggu lebih lama lagi, mungkin bukan kursi yang tersentuh bokongnya. Tapi lantai dingin ruangan kelas.
Tindakan gilanya baru bisa Anin rasakan sekarang efeknya. Setelah mendapat tumpukkan keberanian yang entah ia dapatkan dari mana? Sekarang, Anin justru diserbu rasa takut, karena bisa-bisanya terlibat masalah dengan berandalan sekolah.
Anin merutuki diri. Setelah ini, harinya tak akan sama lagi. Elard tentu saja tak akan sebaik hati itu untuk melepas Anin begitu saja.
Ingat! Anin tak hanya berani menentang, mendebat, bahkan mengancam untuk melaporkan Elard dan anak buahnya pada guru BP. Tapi dia juga sudah membenturkan keningnya dengan sangat keras, kearah hidung Elard hingga berdarah. Iya, berdarah! Entah bagaimana keadaan hidung mancung pria itu sekarang? Bengkok, atau mungkin patah? Bagaimana jika hidung Elard sampai harus dioperasi? Apa cowok itu akan menuntutnya? Jika jawabannya adalah 'iya', apa yang harus Anin lakukan? Berkemas dan melarikan diri, lalu menjadi gelandangan dan buronan? Atau menyerahkan diri agar tak sampai menyeret sang bibi?
Terlebih, bukan lagi rahasia umum jika Elard adalah cucu pemilik sekolah ini. Jadi tak heran, jika cowok itu tak pernah bisa ditendang keluar dari sekolah, setelah membuat semua keonaran yang sudah dilakukan. Meski tak jarang mendapat hukuman untuk mendisiplinkan, Elard seolah kebal. Di balik punggung, mayoritas siswa membicarakan, sekaligus mengaguminya. Hal yang membuat Anin tak mengerti. Bagaimana bisa, sosok Elard bisa dibenci dan sukai dalam waktu bersamaan?
Anin kepayahan untuk mengubur rasa resahnya. Ck! Di mana keberanian yang tadi berkobar-kobar? Kini, dia sibuk merutuki diri. Apa yang sebenarnya tadi dilakukannya? Bagaimana bisa melakukan hal segila itu? Atau jangan-jangan, dirinya kerasukan penunggu pohon besar yang berada di belakang sekolah?
"Oy! An! Lo dengerin gue nggak sih? Helo ... Otak lo nggak jatuh di jalan kan?" Menjentik-jentikkan jari di depan wajah Anin yang tampak termenung. Fany berusaha untuk mengoyak lamunan gadis itu yang bersikap tak biasa.
Mengejap-ngejapkan mata, Anin yang berhasil menginjak kesadaran, segera meringis meminta maaf. Sibuk dengan pikirannya sendiri, ia sampai lupa dengan Fany yang tengah memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kenapa Fan?"
"Ck! Lo kenapa sih? Jadi aneh. Terus tadi abis dari mana? Tumben keluyuran? Biasanya malas ngangkat b****g dari tempat duduk, kaya induk mengerami telur yang mau jadi anak ayam."
Menggaruk pipi yang sama sekali tak terasa gatal, Anin sibuk mengais alasan agar tak membuat Fany mencurigainya. Meski ... Itu bukan hal mudah. Anin tak pernah menyembunyikan apa pun pada gadis yang kini sudah menyandarkan punggung di sandaran kursi sembari bersedekap tangan. Tak lupa memberi tatapan menuntut untuk Anin yang masih mengatupkan bibir. Kebingungan mencari alasan.
"Jadi?" Dengan satu alis mata yang terangkat, Fany mulai menunjukkan rasa tak sabarnya.
"Pak Sur belum masuk kelas, Fan? Kok tumben?" Tersenyum gugup, Anin melarikan pandangan pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sembari menatap kursi guru yang masih kosong.
"Beliau nggak masuk." Mengedikkan dagu kearah papan tulis, Fany menunjukkan tugas yang sudah ditulis ketua kelas mereka untuk dikerjakan dan dikumpulkan.
"Oh ...." Mengangguk-anggukkan kepala sembari meringis, Anin meneguk ludah kelu saat kehabisan mencari bahan pembicaraan yang bisa membuat Fany lupa rasa penasarannya. Sayang, gadis itu tak akan mudah teralihkan jika sudah dirong-rong penasaran. Tak akan berhenti mengorek informasi sampai tuntas.
"A—aku ... Kerjain tugasnya sekarang ya? Harus dikumpulkan kan? Aku kerjain punyamu dulu. Lumayan banyak, ada dua puluh soal."
Sayangnya, Fany menahan lembar kerja siswa miliknya yang akan diambil alih oleh Anin, "lo bisa kerjain setelah jawab pertanyaan gue."
Mengais ketenangan yang nyaris berhamburan, Anin mengela napas dan kembali menatap Fany yang sudah berwajah keruh. Tentu saja bukan hal yang baik. Gadis itu akan uring-uringan jika merasa terabaikan.
"P—pertanyaan yang mana?" Meremas rok abu-abu yang dikenakannya, Anin mencoba mempertahankan wajah yang semoga meyakinkan, jika dirinya benar-benar lupa dengan apa yang tadi Fany tanyakan.
"Jangan main-main sama Gue ya, An," menipiskan bibir dengan mata memicing tajam, Fany mulai dikepung rasa kesal. Kenapa hari ini Anin bersikap begitu menyebalkan? Oh, lebih tepatnya, setelah jam istirahat. Karena sedari pagi, gadis itu masih menjadi pesuruhnya yang patuh.
Membuat Fany kesal, apalagi sampai marah. Adalah daftar terakhir yang ingin Anin lakukan. Itu bencana. Karena imbasnya bukan hanya padanya. Tapi juga sang bibi yang pasti akan mendapat tugas tak masuk akal dari Fany. Seperti membeli kue dibandung dengan sepeda motor milik Pak Tono. Tentu saja, tugas-tugas itu sekadar untuk mengerjai. Melampiaskan rasa kesalnya pada Anin yang sengaja dilimpahkan pada sang bibi. Karena nona muda itu tau, jika wanita paruh baya itu, kini menjadi satu-satunya keluarga yang Anin miliki dan sangat berarti.
Hal itu terjadi sewaktu SMP, Anin yang merasa tak adil harus dipaksa sekadar masuk lima besar dan membuat Anin juara satu terus. Melakukan pemberontakan diam-diam. Naik ke kelas dua SMP, Anin tak menuruti perintah Fany agar tak mendapat nilai terbaik. Hasilnya, Anin Berhasil juara satu, sementara Fany, harus puas diposisi ketiga.
Fany murka. Gadis manis nan bak hati itu menjelma bak serigala kelaparan yang siap mengoyak Anin yang dianggap dengan pengkhianat. Dengan sikap manipulatifnya, hampir saja berhasil menendang Anin dan bibinya keluar dari kediaman keluarga Samitra. Cara yang gadis itu lakukan bak adegan di sebuah sinetron. Berpura-pura kehilangan kalung berlian yang merupakan hadiah ulangtahun dari sang Mama, dan entah bagaimana caranya, benda dengan harga yang membuat tubuh Anin lemas itu bisa berada di tumpukkan baju bibinya dilemari.
Beruntung, Anin bisa mengais maaf dari Fany. Meski dengan perjanjian bak tali kekang tak kasat mata yang resmi dikalungkan ke leher Anin. Menjadikannya bak b***k yang tak diizinkan melakukan penolakan, atas semua titah yang Fany berikan padanya.
Entah dengan apa Fany berhasil membujuk kemurkaan orangtuanya, terutama sang mama yang begitu meledak saat mengetahui ada salah seorang asisten rumah tangga yang berani mencuri dikediamannya.
Sejak saat itu, Anin tak lagi berani memberontak. Sesulit dan semelelahkan apa pun yang Fany perintahkan padanya.
"Aku ... Dari itu, hm, t—toilet." Sayangnya, kali ini, Anin terpaksa menyimpan kebenaran dari Fany. Entahlah, ia sendiri tak mengerti. Kenapa harus bersusah-payah berbohong? Toh, sekali pun gadis itu tau, dia nyaris menjadi bulan-bulanan Elard dan gengnya. Fany jelas tak akan peduli. Selagi itu bukan hal yang bisa merugikannya.
Meski memperlihatkan wajah yang masih tak percaya, Fany akhirnya mengedikkan bahu tak acuh. "Tempat lo mengeram pindah? Nggak lagi di dalam kelas?"
"Kayaknya ... Aku salah makan, jadi sakit perut."
"Oh," menjawab singkat, alih-alih menanyakan keadaan Anin yang mengaku tengah sakit perut. Fany justru menggeser lembar kerja siswa miliknya pada Anin, "isi," titahnya tenang, sebelum kemudian mengeluarkan ponsel dari saku seragam sekolah. Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah sibuk menggulir layar, melihat-lihat komentar dari para pengagumnya di media sosial. Sementara para haters, Fany tak segan memblokir akun mereka. Ia tak mau jika kolom komentar diakunnya harus dikotori oleh-oleh orang yang iri akan kecantikan dan kehidupannya yang selalu berhasil mendapatkan yang terbaik dalam semua hal.
"Sialan!" Umpat Fany, meski dengan suara pelan. Tak ingin ada orang lain yang mendengar umpatannya. Anin yang sebelumnya menundukkan kepala, fokus mengerjakan tugas, akhirnya mengangkat wajah karena mendengar dengan jelas kekesalan gadis itu. Membuatnya meletakan atensi pada Fany yang tampak bersungut-sungut.
"Kenapa Fan?" Tanya Anin dengan kening berkerut.
"Biasa, ada sampah yang ngotorin kolom komentar gue. Jempolnya yang pengen gue patahin itu, berani ngetik komentar sampah. Dia bilang, gue cantik karena efek ponsel mahal? Aslinya nggak sama kaya difoto. Kurang b******k apa lagi coba?!" Geramnya dengan wajah keruh.
Tersenyum kaku, Anin kebingungan harus memberikan kata-kata penghiburan seperti apa? Dalam suasana hati yang buruk seperti sekarang, Fany biasanya sangat sensitif. Semua yang ia katakan dan lakukan akan terlihat salah. Anin jadi menyesal, seharusnya, dia pura-pura tak peduli dengan hal yang membuat Fany kesal. Sialnya, ia tak bisa menelan rasa penasarannya.
"Lo ngapain bengong? Kerjain tugasnya!" Sentak Fany yang membuat Anin terkejut di tempat duduknya.
Mengangguk cepat, Anin segera menundukkan kembali kepalanya. Memelototi soal agar terhindar dari raungan kemarahan anak majikannya. Anin lebih baik menyelesaikan tumpukan tugas, daripada menghadapi Fany dengan moodnya yang tengah buruk.
***
"Pelan-pelan! Lo mau hidung gue copot?!"
"Duh, Bos, kita ke rumah sakit aja ya?" Panca, cowok dengan slayer kuning dikepalanya menggaruk-garuk rambutnya yang ikal. Gemas sekaligus frustasi, karena Elard terus mengeluh dan mengomelinya yang tengah berusaha membantu mengobati hidung sang Bos, yang terluka karena gadis asing yang tiba-tiba datang bak pahlawan tak terduga untuk si cupu Gavin.
"Bos sih, Dokter Melati mau obatin malah disuruh keluar. Si panca bedain plester luka sama lakban aja nggak bisa. Malah disuruh ngobatin." Sembari mengunyah permen karet dan sesekali membentuknya menjadi balon. Dika, cowok berslayer hijau yang berdiri dan menyandarkan tubuhnya di belakang tembok sembari bersedekap tangan, memperhatikan sang Bos besar yang berwajah keruh, membuatnya segera menegakkan tubuh dan mengangkat jari telunjuk serta tengahnya hingga membentuk huruf V. "Ampun Bos, nggak lagi-lagi. Tadi belum makan siang, jadi mulut gue agak sembrono ngeluarin kata-kata yang harusnya disaring dulu." Ringisnya takut-takut, saat melihat wajah menyeramkan Elard.
"Bagus lo sadar. Gue masih mampu bikin hidung lo lebih parah dari ini." Tunjuknya pada hidung sendiri yang meski tak lagi mengeluarkan darah. Denyut rasa sakitnya masih menyiksa Elard.
Sialan!
Ini semua gara-gara gadis itu. Ck! Terbuat dari apa kepalanya? Mungkin bola bowling? Elard merasa hidungnya nyaris patah. Hei! Dia bukannya cengeng! Ini reaksi alami saat seseorang tengah merasakan sakit pada anggota tubuhnya. Mana mungkin Elard cengengesan santai setelah rasa sakit menghantamnya dan darah terus menetes dari hidungnya? Ya, meski dia terbiasa terlibat perkelahian yang nyaris membuat babak belur, entah kenapa, kali ini sikapnya begitu rewel seperti bocah yang baru belajar naik sepeda dan harus tersungkur jatuh ke tanah.
"Panggil Dokter Melati aja Bos, sama perawat Tina. Biar di obati dengan benar. Sama Panca, bukannya sembuh, nanti hidung Bos bisa infeksi. Terus kalau diamputasi gimana? Napasnya pakai apa?" Kali ini Dava, cowok dengan slayer warna merah dikepala, yang sedari tadi berbaring di brankar yang bersebelahan dengan brankar yang di tempati Elard yang duduk dengan kaki bersila alih-alih berbaring seperti Dava, ikut angkat bicara. "Astaga Bos! Itu kaus kaki direndam tumpukan sampah apa gimana? Baunya nggak ada akhlak!" Teriak Dava yang sebelumnya sibuk bermain game online diponselnya. Tiba-tiba dikejutkan dengan kaus kaki yang mencemari penciumannya karena mendarat tepat diwajahnya. Dan disambut ledakan tawa oleh Panca dan Dika.
"Biar otak lo kembali waras!" Dengkus Elard sembari memutar bola mata, saat melihat Dava yang mencebik. Lalu merubah posisi berbaringnya menjadi memunggungi teman-temannya yang kian mengeraskan tawa.
"Dih, lo anak perjaka, apa anak perawan? Kok ambekan?" Ledek Panca yang membuat Dika kian terpingkal.
"Dia udah nggak perjaka. Kan kemarin pagi dipatok ayam keperjakaannya."
"Serius lo, Dik? Gue kira digondol kucing!" Sahut Panca cepat, yang kian membuatnya dan Dika terbahak, nyaris keram perut. Sementara Elard hanya menyunggingkan senyuman melihat tingkah konyol mereka semua. Lalu mengobati lukanya sendiri karena Panca tengah sibuk bersekutu dengan Dika untuk mengolok-olok Dava.
"Sialan ya lo semua! Harga diri gue, oy! Bisa terserap kaya kena lumpur hisap kalau ada yang dengar!" Kesal Dava yang akhirnya kembali berbalik menghadap teman-temannya. Cowok itu bahkan sudah bangkit dari posisinya yang tadi berbaring. Menjadi duduk, dengan mata yang memelotot kesal.
Alih-alih takut, Panca dan Dika justru kian semangat, bahu-membahu melempar ucapan yang membuat Dava ingin mencabuti satu persatu bulu kaki teman- teman laknatnya itu.
Elard sendiri tengah terdiam dengan banyak hal yang kini bercokol di kepala. Sosok gadis asing yang tadi merusak 'pesta kecilnya' bersama Gavin, akan mendapat 'hadiah spesial' darinya nanti. Karena sekarang, ia harus menyembuhkan hidungnya terlebih dahulu.
Sial!
Elard benar-benar tak sabar untuk berkonfrontasi dengan gadis pemberani itu. Ah, atau mungkin ... Memiliki kenekatan di atas rata-rata? Karena sudah mengusik seorang Elard yang tengah menikmati waktu 'bermainnya'?
"Tunggu gue," bisik Elard dengan senyuman misterius. Suaranya tenggelam dengan gelak tawa dan rentetan u*****n dari teman-temannya.