3. Mengais Keberanian

1555 Kata
Gavin memaki dirinya sendiri. Meratapi ketidakberdayaan menghadapi mereka yang selalu mengusiknya. Meski enggan, ia tak bisa mengelak dengan ucapan pedas Elard yang dilayangkan untuknya. Jika tanpa Raka dan Ben, maka Gavin tak ubahnya pecundang. Selama ini, ia tak pernah ambil hati, ketika dibalik punggung, ada banyak yang mencemoohnya, menjadikannya lelucon, hingga mengerjai saat tak ada Raka atau pun Ben di sisinya. Tapi tidak kali ini, terlebih, melibatkan seorang gadis yang tiba-tiba datang membelanya. Itu benar-benar menyedihkan. Bahkan gadis yang sebenarnya tak asing, karena Gavin tau, jika dia adalah salah satu teman dekat dari sosok yang disukainya dalam diam. Andai saja Gavin tak mendatangi tempat ini. Mungkin para pembuat onar di sekolah tak akan mengganggunya. Awalnya, Gavin yang sedang melihat pertandingan futsal dua sahabatnya, memilih untuk menyingkir sejenak dari kerumunan siswa yang juga tengah menyaksikan. Berniat membeli camilan dan minuman sebagai teman nonton. Dia memang mudah lapar dan selalu ingin makan. Sayangnya, alih-alih kembali ke bangku penonton. Gavin justru mendudukkan diri di kursi belakang sekolah yang jarang di datangi siswa lain karena memiliki cerita horor di tengah para siswa. Niat hati ingin menyendiri sejenak, siapa yang sangka, jika tak lama setelahnya, ia justru dikepung oleh komplotan Elard. Siswa yang ditakuti karena sikapnya yang suka membuat onar. "Jadi, lo mau ikut dalam pesta kecil-kecilan ini, atau hanya ingin menjadi nyamuk pengganggu manis?" Suara serak Elard berhasil mengembalikan Gavin yang sempat terhanyut dalam lamunan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia berusaha melepaskan diri dari dua teman Elard yang mencengkram erat lengan kanan dan kirinya hingga terasa sakit. Sementara itu, Anin yang tengah berhadap-hadapan dengan Elard, berusaha untuk mengendapkan rasa takut dan gugup. Sudah terlanjur, maka Anin bertekat untuk mengahadapi Elard dan komplotannya. Meski tak bisa dipungkiri, rasa cemas tak bisa ia endapkan dalam hati. Terlebih, saat desas-desus seorang Elard dan genknya bergentayangan di kepalanya. Salah satunya, mereka tak akan segan melayangkan pukulan pada siapa pun yang dianggap sebagai pengganggu. Tak peduli, lawan yang dihadapi berjenis kelamin laki-laki, atau pun perempuan. Meski belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri, saat Elard melayangkan tangan pada perempuan. Anin tetap merasa was-was. Mencengkram rok abu-abu, berusaha menjadikannya sebagai pegangan agar tak goyah dan memutar langkah. Anin mengangkat tinggi dagunya, menatap sosok Elard yang tengah bersedekap tangan sembari menaikan satu alis mata. Seringai mengejek yang menghiasi wajah blasteran itu, membuat Anin gatal ingin menimpuknya dengan salah satu sepatu yang kini dikenakannya. Meski ... Ya, Anin tak bisa mengelak, jika Elard tampak menawan dengan aura bad boy yang menjadi daya tarik siswi di sekolahnya. Sayangnya, tak ada yang berani untuk mencari peruntungan agar bisa menjadi kekasih Elard. Karena merasa takut dengan tatapan tajam tak bersahabat yang seringkali cowok itu berikan. "L—lepaskan dia, atau aku bakal laporin kamu dan yang lainnya." Alih-alih takut mendengar ancaman yang berhasil Anin layangkan. Elard justru terbahak, diikuti tawa teman-temannya yang lain. Seolah, apa yang baru saja Anin katakan adalah lelucon paling lucu yang berhasil meledakan tawa mereka. "Apanya yang lucu? Aku serius!" Kesal Anin yang tak terima ucapannya dianggap bak lelucon. "Gue sama yang lain udah kebal sama hukuman. Lagipula, boleh juga. Udah dua hari nggak mengunjungi ruang BP. Jadi kangen sama Pak Re, yang suka ngomel sambil putar-putar kumis." Kembali tertawa bersama teman-temannya, Elard Tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi serius. Tak ada lagi jejak geli yang terpampang di wajahnya yang kini berubah dingin. "Karena lo udah mengganggu kesenangan gue, jadi bakal ada hukuman buat lo." Meneguk ludah kelu, Anin refleks mundur beberapa langkah saat Elard berderap kearahnya. "J—jangan mendekat! Kamu mau apa?!" Seru Anin keras dan nyaris berlari melarikan diri, tapi terlambat. Lengan kanannya berhasil diraih oleh Elard. Dengan tenaga besar yang tentu saja sulit Anin imbangi. Cowok itu kemudian membawanya untuk mendekat kearah Gavin yang menatap nyalang. "Gue punya satu penawaran menarik buat lo cupu." Terkekeh, Elard mengedikkan dagu pada salah satu temannya yang berslayer kuning. "Ck! Gara-gara lo, stok rokok gue jadi terbuang sia-sia," kesalnya sembari menundukkan kepala. Melihat dua puntung rokok yang masih utuh tergeletak di bawah kakinya. "Jadi, ayo kita bermain dengan hal lain!" Seru Elard penuh semangat. "Pegangin dulu nih, cewek!" Titahnya pada cowok berslayer kuning, yang dengan sigap menahan kedua lengan Anin. Sedikit kepayahan karena gadis itu terus berusaha memberontak. "Yang bener pegangnya, ah, elah! Masa sama tenaga cewek lo kalah?!" Dengkus Elard yang melihat temannya kerepotan menahan Anin. "Nggak bisa diam dia Bos, kaya ikan pengen nyemplung ke air." "Lo aja yang payah! Nggak usah sok imut! Jangan malu-maluin pasukan gue, lo!" Kesal Elard dengan mata memelotot kesal, saat temannya yang berslayer kuning mencebikkan bibir seperti seorang gadis yang tengah merajuk. Tawa geli terdengar dari dua temannya yang masih memegangi lengan Gavin. Tapi seketika bungkam, saat pelototan milik Elard kini dilayangkan pada mereka. Salah satunya berpura-pura batuk untuk menyamarkan tawa. Sementara yang lainnya hanya bisa meringis. Elard merogoh saku celananya, lalu, dengan senyuman yang membuat teman-temannya merinding, mengacungkan sebuah tube yang membuat semua orang memicingkan mata. Untuk melihat lebih jelas, apa yang ada di tangannya. "Apaan itu Bos?" Tak bisa menahan rasa penasaran, cowok berslayer merah mengajukan tanya. "Wasabi," jawab Elard yang kemudian merogoh saku celananya yang lain. Memperlihatkan benda yang membuat teman-temannya melongo tak percaya. "Astaga ... Lo bawa begituan ke sekolah, Bos?" Tanya cowok berslayer hijau. "Terlalu rajin apa gimana nih?" "Ck! Nggak usah bawel. Ini gue siapin buat yang tiba-tiba rese cari masalah sama gue!" Mengedikkan bahu tak acuh, Elard membuka sikat gigi lipat yang baru saja dibelinya. Sementara teman-temannya hanya bisa saling memandang dan menggelengkan kepala secara samar, tak habis pikir dengan Elard yang memang suka melakukan hal-hal tak terduga. Ada saja ide gila yang cowok itu lakukan untuk 'bersenang-senang' dengan orang yang tengah sial karena harus berurusan dengannya. Mungkin, hal ini juga yang membuat banyak siswa tak berani mengusik, apalagi mencari masalah dengan Elard. "Kalian pasti abis makan siang kan?" Tanya Elard dengan senyuman yang membuat teman-temannya merasa ngeri. Sangat tau, jika bosnya sudah mulai beraksi. "Kalau abis makan, itu harus gosok gigi, biar kuman-kuman dalam mulut lari ketakutan." Ucapnya terdengar bijak, bak seorang ibu yang tengah menasehati anaknya yang belum mengetahui seberapa pentingnya menyikat gigi setelah makan. Tube berisi wasabi itu sudah Elard buka, lalu mengoleskannya pada sikat gigi yang dipegang ditangannya yang lain. Cukup banyak, hingga teman-temannya meringis takut. Bos mereka selalu memiliki ide tak biasa untuk menaklukkan lawannya. Tak hanya dengan pukulan, tapi hal-hal seperti ini yang kadang jauh lebih ditakuti. Memasukkan kembali tube berisi wasabi ke dalam saku celana. Elard mendekati posisi Gavin yang menatapnya penuh waspada. "Lo pilih, siapa yang lebih dulu? Lo? Atau cewek itu?" Tanyanya sembari mengedikkan dagu kearah Anin yang masih terus berusaha berontak hingga beberapa helai rambut menutupi wajahnya yang berkeringat. Terkena terik matahari yang kian menyengat. Rencananya yang hendak menyendiri di bawah pohon yang rindang gagal total. Dan semua itu gara-gara Elard beserta kelompoknya. "Apa mempermalukan dan mengerjai orang lain bisa membuat kalian merasa puas? Bukankah itu tindakan pengecut?!" Suara lantang Anin yang tak lagi merasa gentar menghentikan pergerakan Elard dan membuatnya terkekeh geli. Salut akan keberanian gadis itu. Alih-alih menangis dan memohon untuk dilepaskan seperti korbannya yang lain. Anin justru memberikan tatapan menantang. Seolah bisa mencabik wajah menjengkelkan yang kini Elard perlihatkan. Entahlah, kemana perginya semua rasa takut yang sempat merongrongnya? Yang tersisa sekarang, hanya gebukan amarah yang menghantam dadanya. Anin benci dengan tindakan semena-mena yang Elard dan teman-temannya lakukan. Menjadikan penderitaan orang lain sebagai lelucon. "Lo terlalu banyak bicara." Dengkus Elard, "jadi mungkin, sebaiknya lo dulu yang gue kasih pelajaran. Karena setelah ini, gue jamin lo nggak akan bisa memberi makian." Mencengkram rahang Anin, Elard tersenyum miring. Merasa salut dengan keberanian gadis asing yang tiba-tiba datang dan menggangu kesenangannya. "Mana giginya? Coba Papa lihat gigi cantiknya, Sayang." Anin memberontak. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan cukup puas karena berhasil membuat Elard kepayahan. "Lo yang bener dong, pegangnya!" Kesal Elard karena Anin terus melawan. "Udah bener ini Bos. Dianya aja yang nggak bisa diam kaya belut listrik." "Ck! Kita nggak punya banyak waktu, sebelum bel berakhirnya istirahat bunyi." Dengan gerakan cepat dan keras. Elard menahan wajah Anin dengan mencengkram pipi gadis itu. Mendekatkan sikat gigi yang sudah terolesi wasabi. "Jangan!" Teriakan Gavin membuat Elard berdecak kesal, karena lagi-lagi kesenangannya terganggu. "G—gue aja, El. J—jangan ganggu dia." Mohonnya, tak mau jika teman dekat Fany itu mendapat masalah karena mencoba menolongnya. "Nggak usah berisik! Lo juga bakal dapat bagian, tapi setelah dia!" Ucap Elard dengan seringai puas. "Kasihan juga kalau pakai sikat gigi bekas lo! Jadi, biar cewek ini yang duluan. Baru, setelahnya gue bakal urusin lo, tenang aja." Elard bersiap kembali, mencoba membuka mulut Anin yang terkatup rapat. Berusaha agar ide gilanya bisa berjalan sesuai rencana. Menggosokkan gigi Anin dengan wasabi yang sudah dioleskan pada sikat gigi. Sialnya! Belum sempat usaha Elard berhasil. Anin sudah lebih dulu melakukan p*********n secara tiba-tiba. Gadis itu berjinjit, sebelum kemudian membenturkan keningnya dengan hidung mancung Elard begitu keras. Membuat semua orang terkesiap dan menganga tak percaya. "Akh! Sialan!" Teriak Elard murka, segera memundurkan langkah sembari memegangi hidungnya yang berdenyut menyakitkan. "b******k! Darah!" Matanya membelalak saat melihat noda darah yang tertinggal di telapak tangannya. Sikat gigi yang diolesi wasabi sudah terjatuh mengenaskan saat Anin menyerangnya. Keadaan yang tiba menjadi kacau, segera dimanfaatkan oleh Gavin. Menyadari jika pegangan kedua anak buah Elard merenggang. Ia segera mengentakkan kedua tangannya secara keras. Mendorong mereka sepenuh tenaga hingga tersungkur. Anin yang berusaha menghilangkan rasa sakit dan pusing dikepalanya. Segera menginjak kaki cowok yang sedari tadi menahan tangannya. Dibantu Gavin yang mendorong keras hingga anak buah Elard dengan slayer kuning dikepalanya itu terjerembap. "Ayo pergi!" Seru Gavin sembari meraih tangan kanan Anin, menggenggamnya erat sebelum kemudian berlari menjauhi Elard yang tengah berteriak murka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN