Hening. Semua siswa bungkam dengan pandangan yang terarah lurus pada lembaran soal yang membuat sebagian besar dari mereka ingin berteriak frustasi. Jangankan mengisi untuk memberikan jawaban. Melihat deretan angka saja suah membuat kepala berdenyut-denyut.
Jika sebagian lagi sibuk meratapi lembaran soal matematika di atas meja. Sebagian lagi sibuk melirik kanan dan kiri. Mencoba untuk mencari peruntungan agar bisa mendapat jawaban dari teman sekelasnya yang mungkin sudi membantu mencari jawaban. Sayangnya, sebagian besar memberikan gelengan kepala. Entah karena sama-sama tak tau dan frustasinya. Atau enggan memberikan cuma-cuma hasil yang sudah susah payah dia kerjakan.
Di tempatnya duduk, Fany justru tampak santai. Gadis itu diam-diam mendengarkan musik melalui earpods yang tertutupi rambut panjangnya yang tergerai.
"Sttt!" Menyenggol lengan Anin hingga nyaris membuat gadis itu mencoret lembar jawaban yang tengah dikerjakannya. Fany menggeser pelan sobekan kertas kearah Anin.
'Sudah belum? Bosen gue!'
Mencuri pandang ke arah depan, di mana ada sosok Bu Barbara tampak sibuk dengan cermin. Sembari sesekali membenahi letak kacamata yang nyaris melorot dari hidungnya. Anin kembali meletakkan atensi pada Fany yang meliriknya dengan wajah masam.
Ulangan matematika dadakan yang Bu Barbara berikan membuat seisi kelas kelimpungan. Tak terkecuali dengan Anin, bukan karena tak bisa mengerjakan soal. Tapi harus menyelesaikan dua kali lipat. Terlebih, sepuluh soal yang kini tersuguh di depan matanya cukup sulit. Untuk menjawab satu soal saja, dia membutuhkan waktu yang cukup lama dari biasanya. Dan sekarang, konsentrasinya terpecah karena Fany yang tak sabaran ingin maju ke depan dan memberikan kertas ulangan pada Bu Barbara yang kali ini tengah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kelas. Membuat semua siswa kian menundukkan kepala dalam-dalam.
Anin tersentak saat lagi-lagi, Fany bersikap tak sabaran. Kali ini bukan lengannya yang disenggol. Tapi kakinya yang ditendang pelan.
Melirik kearah Fany yang mengedikkan dagu pada lembar jawaban yang tengah Anin kerjakan, gadis itu menggerakkan bibir, mengucap 'berapa lagi?' tanpa suara.
Anin mengacungkan jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingkingnya. Memberitahukan pada Fany, jika ada empat soal lagi yang belum terselesaikan olehnya.
Mendengkus pelan, Fany yang tampak sebal karena Anin lebih lama dari biasanya. Memilih untuk kembali mendengarkan musik. Sesekali kepalanya bergerak mengikuti irama lagu yang tengah didengarkan, dan bersenandung menggumamkan liriknya. Mungkin, karena suasana kelas yang senyap, suaranya yang pelan pun terdengar dan berhasil tertangkap pendengaran seseorang. Membuat Fany tak menyadari, jika Bu Barbara tengah memicingkan mata dan meletakan atensi padanya.
"Fany!" Serunya di tengah kesunyian ruang kelas. Membuat beberapa siswa yang sebelumnya sibuk menggerutu karena soal yang tak juga selesai dikerjakan, mengangkat wajah dan serempak menoleh kearah Fany yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. Berbeda dengan Anin yang memucat sembari meneguk ludah kelu. Tak ingin Fany mendapat masalah, ia menyenggol-nyenggol pelan lengan gadis itu, hingga akhirnya Fany berdecak sebal, mungkin merasa terganggu.
"Apa sih?" Bisik Fany dengan nada kesal. Satu alis matanya terangkat saat Anin menggeser sobekan kertas kearahnya. Menunduk, Fany membaca tulisan rapi yang tertera di sana.
'Dipanggil Bu Barbara', menegak ludah kelu, Fany mengangkat wajah dengan senyuman manis yang susah payah diciptakannya. "Y—ya, Bu?" Tanyanya dengan gebukan rasa gugup yang kini merongrong.
"Sudah selesai? Saya lihat, sejak tadi kamu sibuk angguk-angguk kepala sambil bersenandung. Sementara teman-teman kamu yang lain fokus sama soal-soal yang saya berikan."
Menggeleng kaku, Fany tertawa kering, "b—belum Bu, sebentar lagi," ucapnya gugup sembari mencuri pandang kearah Anin yang memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengah. Memberi tau, jika tinggal dua soal lagi yang belum terselesaikan.
"Kalau begitu, cepat kerjakan." Tegas Bu Barbara yang segera diangguki Fany.
Mengelap peluh yang meluncur turun dari pelipisnya menggunakan punggung tangan, Anin bernapas lega, karena akhirnya berhasil menjawab semua soal. Setelah sedari tadi berkutat dengan kertas kosong yang kini penuh dengan coretan hasil dari penghitungannya.
Mencuri pandang kearah Bu Barbara, Anin segera menukar kertas ulangan miliknya yang sudah terisi semua, dengan milik Fany yang masih kosong melompong. Saat Bu Barbara membungkukkan tubuh, untuk mengambil pulpen yang jatuh.
Wajah Fany yang sebelumnya masam, kini bak mentari yang kembali bersinar, setelah tertutup awan hitam. Dengan semangat, gadis itu menuliskan namanya dengan hati-hati. Tak memedulikan Anin yang tengah menyalin jawaban dari kertas coretan. Mengingat, Fany tak akan mau meminjamkan lembar jawaban yang sudah ditulis nama gadis itu. Meski semua jawaban dikertas ulangan Fany adalah hasil kerja kerasnya.
Tak hanya pelipis, kini lehernya pun di basahi keringat. Belum lagi rambutnya yang terkuncir mulai berantakan karena sudah renggang ikatannya. Mencuri waktu untuk memperbaiki kunciran saja Anin tak bisa. Ia sibuk menjawab satu demi satu soal agar bisa selesai secepatnya.
Suara bel penanda istirahat berteriak lantang. Membuat beberapa siswa bernapas lega, sementara yang lain justru menggerutu karena belum mengisi semua lembar jawaban.
Dengan percaya diri, Fany bangkit dari duduknya. Mengibaskan rambut dan tersenyum manis. Gadis itu melenggang santai menuju Bu Barbara yang tengah memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot.
"Sudah selesai?" Tanyanya pada Fany yang mengangguk penuh semangat.
"Sudah dong Bu ..., Jadi boleh istirahat."
"Hm, ya, silakan istirahat."
"Terima kasih Bu," ucap Fany sebelum kemudian berjalan keluar kelas.
Anin berusaha fokus, meski sesekali perhatiannya teralihkan pada teman-temannya yang sudah mulai meninggalkan bangku masing-masing dan mengumpulkan lembar jawaban pada Bu Barbara.
Menelan rasa resah, saat menyadari jika penghuni kelas kian berkurang, bahkan sekarang tinggal terisi tiga orang. Dirinya, teman satu kelasnya yang duduk tepat di kursi berada di depannya, dan juga Bu Barbara yang terus mengawasi meski sesekali mencuri pandang kearah penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya.
Anin kian dibuat ketar-ketir saat satu-satunya siswa lain selain dirinya yang masih berjuang menyelesaikan soal, kini bangkit dari duduknya. Berjalan menuju meja guru dan menyerahkan lembar jawaban pada Bu Barbara.
Suasana kelas kembali senyap. Kali ini, karena deretan kursi sudah kosong di tinggal para pemiliknya. Menyisakan Anin yang berusaha mengais ketenangan untuk menyelesaikan soal terakhir.
"Anin?" Panggil Bu Barbara yang membuat gadis malang itu tersentak di tempat duduknya.
"Y—ya, Bu?" Jawabnya terbata karena tak bisa menyembunyikan rasa gugup yang kini tengah merongrong.
"Masih lama?"
"S—sudah selesai Bu, tinggal kasih nama." Jawab Anin yang mendapat anggukan kepala dari Bu Barbara.
Setelah berhasil menuliskan namanya. Anin bangkit dari duduknya. Nyaris terjerembab karena tersandung kaki meja. Beruntung, masih bisa mencari pegangan dan kembali menyeimbangkan tubuh.
"Tenang Anin. Saya tidak akan kabur. Lagipula kamu tau di mana letak kantor guru. Jadi tak perlu sepanik itu." Canda Bu Barbara dan membuat Anin meringis sungkan. "Bisa bantu saya, bawa tumpukan kertas ulangan teman-teman kamu ke meja saya?"
"B—baik Bu," dengan sigap, Anin membawa tumpukan kertas ulangan milik teman-teman sekelasnya. Sebelum kemudian mengekor di belakang Bu Barbara keluar kelas.
Sembari mendekap tumpukan lembar ulangan di dadanya. Langkah Anin yang mengekori Bu Barbara sesekali terhenti. Saat beberapa siswa menyapa dan menyalami Bu Barbara.
Sesampainya di kantor guru, Anin meletakkan tumpukan kertas ulangan tersebut di atas meja tempat Bu Barbara.
"Terima kasih banyak ya, Anin."
"Sama-sama Bu, kalau begitu, saya permisi." Anin pamit undur diri dan berjalan keluar dari kantor guru saat mendapat anggukan kepala dari Bu Barbara.
Menyusuri lorong kelas, Anin mengayunkan langkahnya menuju kantin. Bukan untuk menyantap makan siang, karena perutnya masih terasa kenyang. Yang dibutuhkannya saat ini adalah air minum, untuk mengusir rasa haus yang sedari tadi mengusiknya.
Suasana kantin di jam istirahat memang selalu terisi penuh oleh para siswa. Bahkan, untuk mencari tempat duduk pun cukup sulit. Di salah satu sudut kantin, Anin menemukan keberadaan Fany yang tengah duduk bersama teman-temannya. Tapi bukan hanya sekumpulan gadis yang selalu menjadi pusat perhatian para siswa lainnya. Ada sosok lain yang duduk berdempetan dengan Fany yang tengah berbicara sembari tersenyum malu-malu.
"Enak ye, yang good looking mah, semua cogan merapat dengan sendirinya." Ucapan bernada sinis itu tertangkap pendengaran Anin.
Semburan tawa dari dua gadis lainnya ikut menjadi perhatian Anin yang diam-diam memperhatikan. Posisinya yang berada dibelakang ketiga gadis itu, membuatnya leluasa untuk mencuri dengar. Anin meringis, sejak kapan dia jadi penguping dan suka mendengarkan ghibah berjamaah seperti ini? Tapi mendengar nama anak majikannya yang menjadi topik utama perbincangan para gadis itu membuat Anin penasaran.
"Sadar diri aja deh, remahan mie instan kaya kita bisa apa?"
"Si Fany menang cantik karena perawatan aja itu. Coba deh, lo pada perhatikan baik-baik, sebenarnya B aja dia. Cantikan juga kita-kita. Tapi ya harus dipoles sana-sini biar seimbang sama si Fany."
"Gue dengar, Fany minta putus sama Kak Haikal karena nggak bisa nemenin dia ke salon. Soalnya Kak Haikal harus ke Bandara jemput ortunya yang baru balik dari luar kota."
"Serius lo? Dapat info dari mana?"
"Kan Abang sepupu gue temennya Kak Haikal. Dia nggak sengaja keceplosan gitu pas gue pancing soal gosip panas putusnya Fany sama Kak Haikal." Kikiknya sembari memainkan sedotan di dalam gelas.
"Kalau beneran itu informasinya. Makin nggak suka gue sama Fany. Di pikir Kak Haikal pesuruhnya apa?"
"Tau, belagu banget. Kita aja bisa deket sama Kak Haikal sebatas diangan doang. Di dunia nyata, curi-curi pandang aja udah jedag-jedug jantung gue."
"Apalagi gue, meskipun punya Abang sepupu yang jadi salah satu temennya Kak Haikal, tapi nggak pernah berani minta dicomblangi."
"Tapi ya, menurut gue, ketimbang si Fany. Masih lebih cantik temennya."
"Siapa? Sela apa Mona?"
"Bukan mereka berdua. Satu lagi, yang suka dikuncir rambutnya. Tapi dia jarang ngumpul sih, sama Fany cs."
Mengerjap-ngerjapkan mata, Anin jadi gelisah di tempatnya berdiri. Mengelus belakang leher, dia memilih untuk beranjak pergi. Tak ingin melanjutkan kegiatannya yang sedari tadi mencuri dengar obrolan ketiga gadis yang tak menyadari kehadirannya sama sekali.
Meski tak ingin besar kepala. Entah kenapa, Anin menduga, jika sosok gadis yang tadi sempat disebutkan salah satu dari mereka adalah dirinya. Tapi, masa iya dibilang lebih cantik dari Fany?
Astaga, yang benar saja? Mungkin karena sebal dan iri. Kecantikan yang Fany miliki pun tak bisa mereka lihat. Bisa-bisanya menganggap ia lebih cantik dari anak majikannya itu.
Setelah membeli minuman dingin. Anin memilih untuk pergi dari kantin. Di tengah suasana yang masih ramai oleh para siswa, membuatnya kesulitan mencari tempat duduk. Anin nyaris mengayunkan langkah menuju kelas. Tapi kemudian urung saat tiba-tiba saja merasa bosan jika harus menghabiskan waktu di dalam kelas sendirian. Mengingat, ia tak memiliki banyak teman, selain Fany. Jadi, gadis itu membelokkan langkah, sampai akhirnya terhenti di belakang sekolah. Dekat dengan gudang yang berisi beberapa barang-barang yang rusak atau pun tak lagi terpakai.
Kadang, Anin suka mendatangi tempat ini untuk menyendiri. Meski pada awalnya sempat ragu dan takut. Terlebih, ada banyak cerita seram yang diembuskan beberapa siswa. Mengatakan jika di belakang sekolah, terutama gudang, merupakan tempat angker. Termasuk, pohon besar dan rindang yang menaungi kursi panjang yang biasa Anin duduki untuk bersantai sekaligus berteduh.
"Buruan! Gitu aja nggak becus, lo!"
Makian seseorang membuat langkah Anin melamban. Menyembunyikan diri, gadis itu menatap sekumpulan siswa yang terdiri dari lima orang. Empat di antaranya tengah mengepung sosok yang sangat Anin kenali. Tangannya meremas botol minuman, menahan geram saat satu cowok dengan seragam yang berantakan dan slayer hitam terikat di atas kepalanya tengah berkacak pinggang. Sesekali menoyor kepala siswa bertubuh tambun dengan kacamata yang nyaris melorot jatuh dari hidungnya.
"Buruan!" Teriak siswa yang Anin kenali sebagai Elard, pembuat onar di sekolah mereka. "Ah! Lama!" Kesalnya yang kemudian memberikan perintah pada dua temannya dengan mengedikkan dagu. Seolah sudah paham dengan apa yang ketua mereka inginkan. Dua siswa tersebut memegang lengan kanan dan kiri siswa berkacamata yang berusaha memberontak.
Anin sendiri kian dibuat ketar-ketir di balik persembunyiannya. Kepayahan menenangkan degup jantung yang berdetak cepat dengan tubuh yang penuh antisipasi. Bersiap, sembari mengira-ngira, apa yang akan Elard lakukan pada Gavin?
"Lo harus berterima kasih sama gue. Karena bakal gue kasih les khusus, biar nggak cupu lagi dan menyedihkan. Nggak malu apa lo, kalah keren sama dua teman lo itu?!" Terkekeh puas, dan diikuti oleh ketiga temannya yang lain. Elard menepuk pundak temannya yang berdiri tepat di sebelahnya. "Bagi lagi, sini. Tadi jatuh karena ini curut nggak bisa diem."
Mengangguk patuh, pria bertubuh kurus dan tinggi, dengan slayer biru dikepalanya merogoh kantung seragamnya. Memperlihatkan satu batang rokok dan korek api yang terbungkus plastik agar seragamnya tak berbau rokok.
"Nyalain," perintah Elard yang menyeringai puas melihat wajah pucat Gavin. Kening cowok itu bahkan sudah basah oleh keringat, yang kemudian meluruh jatuh melalui pelipis.
"J—jangan El, gue nggak mau!"
"Ck! Nggak usah bawel."
Setelah rokok berhasil dinyalakan, siswa berslayer biru itu memberikan pada Elard, yang segera mendekatkan rokok tersebut kearah Gavin yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua siswa berslayer kuning dan merah yang terkekeh geli. Melihat perlawanan Gavin yang terus berontak dan menjauhkan wajahnya dari jangkauan Elard yang akan menjejalkan rokok ke mulut Gavin.
"Buruan! Biar lo nggak cupu lag—"
Buk!
"Aduh!" Rokok ditangan Elard terjatuh ke tanah. Menggeram marah, dengan tatapan nyalang, Elard melihat botol minuman yang isinya masih utuh, menggelinding di dekat kakinya, setelah sebelumnya menghantam kepalanya. "Sialan! Siapa yang berani main-main sama gue?! Keluar lo b******k! Jangan jadi pengecut!"
Seharusnya, Anin tak melempar botol minuman dalam genggamannya.
Seharusnya, Anin tak perlu ikut campur ke dalam masalah yang bukan urusannya.
Seharusnya, Anin tetap diam di tempat persembunyiannya.
Oh, tidak. Seharusnya, sejak awal, Anin tak mendatangi belakang sekolah. Dan tak akan terlibat dengan sekumpulan siswa yang terkenal sebagai pembuat onar di sekolah mereka.
Sialnya, Anin memilih untuk menelan semua pengandaian yang sempat bercokol di kepala. Mengais keberanian yang hanya segenggam tangan. Anin mengayunkan langkah, keluar dari tempat persembunyiannya hingga netra hitamnya bersirobok dengan tatapan bengis milik Elard.
"Ah, ada tamu yang ingin bergabung bersama kita untuk bersenang-senang rupanya. Bukan begitu, manis?" Tanya Elard dengan senyuman miring yang berhasil membuat bulu kuduk Anin meremang.