Sayangnya semua surat itu sama sekali tak menjawab sejauh apa hubungan Permaisuri Joanna dengan King Solomon. Karena rasa ingin tahunya yang berlebihan, Joanna menyaut jubah berwarna gelap dari dalam lemari lalu memakainya. Ia menyusup keluar melalui jendela dan naik ke atas kuda hitam yang diambilnya dari istal tak jauh dari Paviliun.
Deg! Darah mengalir cepat keujung kepalanya. Pertemuan diam-diam yang mendebarkan. Mengingatkan akan kencan rahasianya dengan Marco, kekasih sexy nya yang merupakan atlit sepak bola kenamaan Amerika. ‘Sial! Aku jadi merindukannya,’ gumam Joanna
Gadis itu sedikit terkejut akan kemampuan berkuda yang tidak pernah dipelajarinya. Bahkan dengan mudah ia menemukan jalan menuju ke pusat kota. Dalam ingatannya, Joanna kecil yang masih berumur empat belas tahun belajar berkuda karena ingin lebih dekat dengan suaminya. Gadis itu sengaja melakukannya karena tau Oberon sangat suka berburu.
“Gadis bodoh!” cerca Joanna
Setelah berputar beberapa kali sampailah ia disebuah hotel tua yang hampir roboh. Bangunan itu terbuat dari kayu yang sudah terkikis dan lapuk. Dari luar ia dapat mendengar pasangan yang tengah bercinta dengan ganas di dalam sana.
“Kenapa dia mengajakku bertemu ditempat seperti ini? Tidak heran Permaisuri Joanna lebih memilih Oberon. King Solomon benar-benar tidak pandai memilih tempat kencan,” ucap Joanna saat mendapati tangga kayu yang berdecit saat diinjaknya.
‘Lantai dua kamar nomor tujuh belas,” batin Joanna mengulangi apa yang di ucapkan King Solomon
Saat Joanna akan mengetuk pintu seseorang dengan cepat menariknya masuk ke dalam kamar dibelakangnya. Namun dengan kemampuan taekwondo yang dimilikinya, gadis itu berhasil membanting orang yang membekap mulutnya itu ke lantai.
“AHHH,…! Aku lupa kau pandai bela diri,” suara tak asing keluar dari mulut orang yang hampir diinjaknya
Diluar kamar tiga orang pemuda menyeringai mendengar desahan lelaki dari kamar yang mereka lewati, ‘Pasti sangat panas di dalam sana,” ucap salah seorang pemuda dibarengi tawa
“Astaga Oberon,…. Apa yang kau lakukan disini?” tanya Joanna setelah mendapati wajah suaminya dibalik tudung gelap itu. Tangannya menarik lengan Oberon dan membantunya berdiri
“Bukankah itu yang harusnya kutanyakan padamu?” racau Oberon membuat alis Joanna bertaut kebingungan.
“Aa-aku hanya ingin mengatakan kalau aku sudah tak memiliki perasaan apapun padanya. Aku tau kau tak peduli, tapi aku tidak pernah berselingkuh di belakangmu.” Joanna membuang mukanya merutuk dalam hati, ‘Kenapa aku menjelaskan ini padanya sih? kenapa aku takut kalau Oberon akan salah paham?”
“Ya, aku tau,” ketus Oberon
“Kenapa kau kesini?” tanya Joanna yang mulai melupakan rasa penasarannya akan hubungan pemilik asli tubuhnya dengan King Solomon
Oberon menatap dengan pandangan tidak suka, “Menurutmu, apa yang akan dikatakan orang jika mereka melihat seorang Permaisuri berada di dalam sebuah penginapan dengan lelaki yang bukan suaminya? Berpikirlah sebelum melakukan sesuatu!” jawab Oberon dengan nafas menderu menahan amarah
Joanna mengangguk dan menatap tajam lantai kayu dibawahnya yang sudah lapuk dimakan rayap.
Sedang tiga pemuda di luar kamar mencoba menempelkan telinga mereka ke pintu kayu yang sudah reot itu. “Apa mereka sudah selesai? Padahal aku ingin sekali mendengar desahan gadis didalam,” ucap salah satu pemuda dengan kecewa.
“Lelaki di dalam sana pasti sudah tua dan lemah. Makanya cepat sekali selesai. Kita pergi saja melihat karnaval dan cari gadis cantik disana,” ajak pemuda lain diiringi gelak tawa dua pemuda dibelakangnya.
Alis Oberon bertaut. “Apa mereka membicarakanku?” hardik pria itu kesal. Matanya nyalang menatap pintu kayu di depannya. bersiap merobohkan dan memenggal kepala ketiga pemuda tadi
“Sudahlah. Mereka hanya anak-anak yang tengah beranjak dewasa. Kita tonton karnaval saja sebelum kembali ke Istana. Mau?” tanya Joanna sembari merapikan jubah gelap Oberon
“Ya,” jawab lelaki itu singkat. Wajahnya memerah
Setelah menitipkan kuda, mereka keluar dan menelusuri kota dengan berjalan kaki. Meninggalkan King Solomon di dalam kamar penginapan dengan kerinduannya yang mendalam pada gadis pujaannya. Dari balik jendela, pria itu melihat Joanna dan Oberon yang tengah menikmati pesta karnaval. “Tunggu sampai aku kembali mengambil milikku Oberon,” gumamnya menahan amarah
Kecintaan rakyat pada Marie tak luntur walau wanita itu sudah tak lagi pemimpin Mighal. Karnaval dan pesta besar masih dirayakan saat ulang tahunnya
Joanna melihat sekeliling dengan takjub. Pasar malam dengan lampion warna warni memenuhi alun-alun kota. Tidak lebih meriah dari perayaan tahun baru di Amerika namun cukup meriah dan berhasil memberinya sebuah kenangan yang manis.
Gadis itu memegang erat lengan Oberon saat iringan karnaval memasuki alun-alun kota. Begitu ramai dengan kerumunan orang yang berpesta dengan bahagia. Dibenaknya, ia tengah memegang lengan berotot milik Marco ditengah riuhnya jalanan New York City.
Deg! Rasa panas menjalar dari sentuhan jari Joanna ke sekujur tubuh Oberon. ‘Kenapa dia memegangku? Apa dia mencoba merayuku?’ tanya lelaki itu dalam hati sambil menatap gadis yang melihat takjub lampu lampion dengan mata berbinar. Tanpa ia sadari miliknya terbangun diantara kerumunan orang yang tengah menari hanya karena sentuhan jari Joanna dilengannya.
Gadis itu menarik Oberon menuju stand permainan tembak harimau, “Mainkan!, Menangkan! Aku menginginkan singa itu,” bisiknya. Tangannya menunjuk boneka singa yang tergantung disamping papan tembak
‘Aku bukan orang gampangan! Berani sekali dia menyuruhku,’ ucap Oberon dalam hati
“Apa kau akan memainkan permainan ini Tuan?” tanya penjaga stand berusia setengah abad di depannya
“YA!” jawabnya cepat. ‘Yasudah kuturuti saja sekali,’ batin Oberon
Beberapa orang disekitar stand melihatnya. Oberon memang sangat menarik, bahkan saat wajahnya tertutup jubah tubuh tinggi tegapnya sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian orang.
Dor…! Dor…! Dor…!
Tiga tembakan berturut turut berhasil menjatuhkan semua patung harimau yang terus berputar dan bergerak keatas kebawah dengan cepat. Semua orang terkesima karena belum ada satupun dari orang disana yang berhasil menjatuhkan seekorpun dan perlahan tepuk tangan terdengar.
“Selamat tuan,” ujar penjaga stand dengan wajah masam
“Terimakasih,” ucap Joanna saat menyaut boneka singa dari tangan Oberon. “Mirip denganmu,” gadis itu membulatkan matanya saat menempatkan boneka singa itu disamping kepala Oberon. “Benar-benar mirip denganmu,” tambahnya
Oberon menatap dengan tidak suka tapi membiarkannya
“Aku juga akan memberimu hadiah. Kau mau apa?” lanjutnya sambil menunjukkan kepingan koin dikantong jubahnya
Oberon memandang bibir ranum semerah cherry milik Joanna, ‘Sejak kapan dia memakai pewarna bibir? Cantik!’ batinnya
Joanna balik memandang Oberon ujung bibirnya terangkat keatas, “Kau ingin ciumanku ya?” tanyanya
“Apa kau sudah gila?” Oberon balik bertanya untuk menyembunyikan keterkejutannya. ‘YA!’ Aku menginginkan ciumanmu,’ ucapnya dalam hati
Alis Joanna bertaut menandakan kekecewaannya, “Padahal kau bisa mendapatkannya jika menjawab ‘ya’,” jari jemari gadis itu mengusap lembut bibir Oberon membangkitkan kembali miliknya yang hampir tertidur
Joanna melihat sekeliling, menarik tangan Oberon dan memimpin jalan menuju kesebuah stand yang menjual berbagai macam aksesoris
Joanna berhenti di depan stand yang menjual berbagai macam gelang dengan beragam warna, jari jemari yang tadi ia gunakan untuk mengusap bibir Oberon kini menelik menyelusuri gelang satu persatu
“Anda mencari gelang yang seperti apa nona?” tanya seorang gadis muda dari belakang meja pajangan. “Ini gelang model terbaru yang kami miliki,” tawarnya sambil memperlihatkan sebuah gelang berbahan marmer mengkilat yang terlihat mahal. Gadis-gadis bangsawan pasti menyukainya
“Yang tidak berlebihan. Berbahan perak lebih baik,” jawab Joanna yang langsung mengalihkan pandangannya pada gadis muda di depannya
Gadis itu membulatkan matanya, mengangguk dan mengambil sesuatu dari dalam meja. “Lucky Bracelet, ini adalah gelang keberuntungan. Tapi gelang ini cukup mahal, nona mau?” katanya sembari menunjukkan gelang perak dengan ukiran sebuah kalimat yang ditulis dengan bahasa Yunani Kuno yang berarti 'Dewa Menjagamu'
Joanna mengangguk, “Aku mau dua, untukku dan Obe,… untukku dan suamiku.” gadis itu dengan cepat mengoreksi kalimatnya
Wajah Oberon memerah mendengar Joanna memanggilnya ‘Suami’ dan langsung memandang langit lepas untuk menyembunyikan senyumnya membuat hidungnya mengembang tanpa alasan
Muka si pedagang berubah sumringah. Senyum terpancar di wajahnya, ‘Bangsawan kelas atas!’ batinnya. “Ini nona,” ucap pedagang itu sambil menerima puluhan koin dari tangan Joanna
Gadis itu keluar dari stand aksesoris dengan dua buah gelang ditangannya
“Sudah?” tanya Oberon yang mengekorinya
Joanna mengangguk. “Jangan melepasnya tanpa seijinku,” ujar Joanna sambil memakaikan gelang itu pada pergelangan tangan Oberon. “Ini barang couple pertama kita,” ucapnya lirih
Sentuhan lembut Joanna ditangan pria itu membuatnya bergidik, ‘Kuharap kau membelikanku kalung saja,’ desis Oberon
Joanna menyeringai, “Bungkukkan tubuhmu!” suara gadis itu membuat pria tinggi besar itu membungkukkan tubuhnya sejajar dengan Joanna. Menampilkan sosok dengan raut tegas luar biasa tampan
Gadis itu menarik leher tebal Oberon membuat jarak mereka begitu dekat. Saking dekatnya sampai lelaki itu bisa mencium aroma vanilla lembut memanjakan indra penciumannya
‘Cups,….!’
Joanna mendaratkan ciuman lembut di bibir Oberon. Pembuluh darah pria itu bekerja lebih cepat karena serangan tak terduga dari gadis di depannya dan satu titik di tubuhnya memanas
Hembusan napas Joanna dipipinya membuatnya gemetar. Jujur saja sekarang tangannya tengah memegang miliknya yang mengeras dan mencoba menenangkannya, jantungnya pun berdetak kencang
Gadis itu melepaskan cengkraman tangannya dari leher tebal Oberon membuat pria itu terhuyung.
“Mau melakukan yang lebih dari ini? Kau hanya perlu mengatakan ‘ya’ dan kau akan mendapatkannya,” bisik Joanna di daun telinga Oberon.
Gadis itu berjalan menuju segerombolan orang yang tengah menari meninggalkan Oberon yang masih sangat terkejut. Joanna turut menarikan tarian khas Mighal dengan berputar dan menyanyikan lagu dengan penuh keceriaan.
‘Berada disini tak terlalu buruk untukku. Aku hanya perlu membuat Oberon jatuh ke dalam pelukanku dan membuat Angelina menderita hingga ia meminta Tuhan untuk mengganti wajahnya,’ batin Joanna
Ia menarik nafas dalam-dalam sembari menatap langit malam.“Akan kucari orang yang telah membunuhmu. Ini adalah caraku berterimakasih karena kau sudah membiarkanku hidup dalam tubuhmu ini Permaisuri,” lirih Joanna
Pesta kembang api membangunkan Oberon dari keterkejutannya. Pria itu segera menghampiri Joanna yang mulai dikerumuni banyak pemuda. Walau hanya kedua matanya yang terlihat, tapi itu bisa menggambarkan kecantikan paras Joanna dibalik cadar tipisnya
Oberon menarik gadis itu kesamping air mancur dan mengungkungnya, letupan kembang api membuat semua orang menengadahkan kepala mereka secara otomatis melihat kesumber suara. Diatas langit malam bukan hanya dihiasi ribuan bintang saja, tapi kelap kelip dari kembang api menambah kemeriahan malam itu
“Aku tak pernah melihat bintang sebanyak ini dilangit Amerika,” ucap Joanna dengan takjub
Semua orang kembali berpesta hingga larut malam tak terkecuali Oberon dan Joanna. Sentuhan demi sentuhan malam itu berubah menjadi hasrat yang terpendam bagi Oberon, membuat miliknya berkali-kali terbangun. Apalagi saat ia mengingat apa yang dikatakan gadis di depannya terakhir kali
Pesta malam itu berakhir dengan meriah. “Mau mencari penginapan atau kembali ke Istana?” tanya Joanna. “Tapi sepertinya kau tak ingin menginap. Kita kembali saja ke Istana,” kata gadis itu lagi
Oberon menghembuskan napas kesal, wajahnya masam dan rahang pria itu mengeras. “Mulutku ini,… kenapa begitu sulit mengatakan ‘ya’ sih,” desis Oberon sembari memukul ranting pohon yang hampir mengenai wajahnya