Bukan muhrim

1222 Kata
Brian membuka mata dan merasakan kepalanya begitu pening. Ia melihat sekeliling yang memang sudah berada di dalam kamarnya. Syukurlah. Dia pulang dalam keadaan baik-baik saja. "Uuhh ..." Brian terbangun, berjalan sambil memegang kepalanya. Penglihatannya masih belum baik. Tapi dia berusaha untuk turun dari kamarnya dan mencari sesuatu untuk meredakan sakitnya. "Bi ... bi Min ..." Brian berteriak di sana mencari bi Min. Namun, bi Min rupanya tidak menjawab. "Kemana sih bi Min, bi ..." teriak Brian lagi. Tapi kali ini Alisya lah yang datang. Brian sudah duduk di kursi tempat makan sambil terus memegang kepalanya. Apalagi di sana ia melihat kehadiran Alisya. Sepertinya Brian enggan melihatnya. "Dimana bi Min?" tanya Brian menundukkan kepala. "Bi Min pulang dulu, katanya mau ketemu sama anaknya di sana. Apa kamu mau sarapan Brian? Biar aku siapkan!" Alisya lantas mengambil nasi itu untuk Brian dan mulai menggorengnya. Akan tetapi Brian malah berdiri, bersiap untuk pergi. "Gak usah. Aku sarapan di luar aja!" serunya. Brian keluar tanpa menoleh Alisya. Ia berjalan masih sempoyongan di sana. Namun, Alisya tidak dapat membantu, ia hanya bisa melihat adik iparnya dari jauh. Percuma. Kalaupun Alisya membantu Brian, pria itu pasti menolaknya. Brian mengemudikan mobil untuk mencari sarapan pagi. Penglihatannya masih belum normal dan dia menjalankan mobil itu tidak beraturan. Tapi untunglah jalanan sepi, jadi dia bisa sampai ke warung makan dengan selamat. "Pak 1 porsi makan sini." Brian memesan. Roni mengemudikan mobilnya pelan. Tidak seperti biasanya, pria itu ingin sarapan di warung nasi terdekat. Namun, matanya teralihkan oleh mobil Brian yang terparkir di sana. Karena khawatir dengan keadaan Brian semalam juga, Roni memutuskan untuk turun. Takutnya Brian malah berada di sana semalaman. "Bri, sejak kapan lo di sini?" Brian menoleh, rupanya itu temannya yang mengesalkan. Gara-gara dia kepalanya terus pening sampai sekarang. Eh, bukannya ini kemauan Brian sendiri? "Elo, Ron. Baru aja, gue laper mau makan," jawab Brian. Roni bernapas lega sebab semalam Brian tidak tidur di sana. "Oh, syukurlah kalau begitu. Gimana? Lo baek kan?" tanya Roni memastikan. Brian menggeleng. "Pala gue masih pusing, Ron. Gue minjem Apartemen lo ya. Bibi pulang, gue juga gak bisa balik ke rumah Kak Zain karena gak ada siapa-siapa juga. Soal kantor, gue percayakan sama lo sama Hani juga. Hari ini gue cuti dulu." "Ah elah, lo mah kebiasaan deh. Terus, gimana sama Alisya? Dia sendirian?" "Alisya di rumah sendiri, lah masa gue berdua di sana sama dia? Bukan muhrim juga kali." Roni merogoh saku celananya dan memberikan kunci Apartemen itu sama Brian. Kali ini ia memberikan apa yang Brian mau. Lagipula benar kata Brian. Masa iya dia berdua sama kakak iparnya? Gak baik kan? Apa kata orang? "Nih, kali ini doang gue kasih lo Apartemen gue. Ini juga yang terakhir lo cuti ya, Bri. Jangan sampe keseringan, gue udah bosen gantiin kerjaan lo." Roni mencondongkan badannya dan berbisik. "Ada bonus kan?" Brian berdecak. "Ck, iya iya, nanti gue kasih bonus." "Yes, kalo gitu selamat beristirahat kawan." "Pak bungkus aja." Brian meminta kepada pemilik warung itu supaya pesanannya dibawa pulang. "Gak sekalian, Bos?" sindir Roni. Brian berdecak lagi. "Ck, udah minta bonus minta makan pula." Brian menggerutu. "Kali ini aja Bro, lagian ini kan mau lo sendiri." "Bungkus dua pak!!" Brian memesan lagi. *** Tring, tring. Alisya mendengar suara ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dan rupanya itu dari Zain. Kemana saja? Bahkan baru kali ini Zain menghubunginya. "Halo, Kak?" "Alisya, kamu gak apa-apa, Sayang? Aku dapat kabar dari mami kalo kamu pingsan kemarin. Maafin aku ya, Sayang. Udah beberapa hari ini aku sibuk ngurus kantor papi, gak sempet nyalain hp. Tapi kamu gak papa kan? Gimana sama kepala kamu? Apa masih pusing?" tanya Zain berkali-kali. Mendengar Zain begitu mencemaskan dirinya, Alisya terkekeh. Ia merasa senang mendapat perhatian dari suaminya sendiri. "Iya, Kak. Aku baik kok, Kakak gak usah cemas ya, aku udah gapapa. Tadi udah minum obat juga, kepalaku udah gak pusing lagi kok." Zain terdengar seperti menarik napasnya panjang. Pria itu merasa bersalah karena sudah meninggalkan Alisya. "Syukurlah. Aku udah minta sama papi buat pulang. Kira-kira dua hari lagi aku pulang ke rumah. Kamu tunggu ya, Sayang. Aku janji gak bakal ninggalin kamu jauh lagi." "Hmm, iya Kak. Aku nunggu Kakak di sini." "Oh, iya. Gimana sama Brian? Apa dia menjagamu dengan baik?" tanya Zain. Zain belum sempat menghubungi adiknya. "Iya, Brian adik ipar yang baik," jawab Alisya. Wanita cantik itu tidak mau suaminya cemas. Zain tertawa. "Syukurlah. Kalau begitu nanti aku hubungi lagi ya, Sayang. Aku harus kembali bekerja. Jaga diri baik-baik di sana dan jangan lupa minum obatnya dengan teratur ya, aku tutup gapapa kan?" "Iya, Kak." Alisya menutup sambungan telpon itu dan masih menatap ke arah layar ponselnya. Zain sudah mengganti foto profilnya dengan foto saat mereka menikah. Namun, Alisya belum menggantinya sama sekali. Hatinya belum bisa menerima jika ia sudah menikah dengan Zain. Akan tetapi, Zain ialah pria baik. Dia begitu perhatian kepadanya. Apa mungkin Alisya akan terus seperti ini? Buliran bening itu tiba-tiba lolos begitu saja. Tidak. Ini tidak benar. Alisya harus melupakan semua tentang pria yang bukan jodohnya. Lantas, gadis itu menggeser layar ponselnya kembali dan mencari sebuah foto berdua bersama Zain. Namun, gadis itu menghapus air matanya dan ia merasa begitu terkejut saat ia melihat sesuatu dari masa kuliahnya. Di layar ponsel itu nampak Brian tengah berdiri membawa buku yang pernah gadis itu berikan sebagai ucapan terimakasih waktu lalu. Mengapa harus foto itu yang ia temukan? "Astaghfirullah, kenapa aku masih menyimpannya?" Alisya lantas menekan jarinya dan menggeser foto itu ke arah tong sampah. Tidak seharusnya ia menyimpan masa lalunya dengan Brian. Apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang istri. Ia juga takut kalau Zain melihatnya. Alisya bisa bernapas lega walaupun hatinya begitu berat, tapi inilah yang terbaik. Alisya hanya ingin menjadi istri yang baik untuk Zain. *** "Hani, tolong kerjakan ini. Kita bakal lembur lagi, Brian cuti hari ini dia sakit." Hani mengangguk. "Iya, aku kerjakan sekarang. Roni menatap Hani begitu serius. Pria itu malah tersenyum gak jelas dan sepertinya dia begitu memperhatikan apapun yang Hani lakukan saat ini. Hani menyadari itu semua, gadis itu menoleh, menatap Roni sebal. "Udah deh, sebaiknya kamu balik lagi sana. Kerjaan kita double hari ini. Jangan mengganggu dan cepatlah bekerja," protes Hani memberi peringatan. Namun, pria itu malah terkekeh dan masih memperhatikan gadis di depannya. "Kamu ini ya, kalo lagi marah keliatan manisnya." "Udah deh, Ron. Kamu itu gak ada bosen nya ya godain tiap cewek di sini!" ketusnya. "Kenapa sih Han, lo balik lagi ke awal? Kenapa gak anget lagi kayak kemaren? Kenapa dingin lagi sama gue? Kenapa ..." "Udah Roni. Aku gak mau becanda ya, hari ini kerjaan banyak. Ditambah kerjaan Pak Brian. Sebaiknya kamu kembali atau kita bakal lembur sampai malam nanti. Mau?" "Mau dong!!" Karena kesal, Hani memukul Roni dengan berkas di tangannya. Ia memekik, "Roni ..." Sementara Roni, pria itu malah terkekeh. "Iya iya gue balik kerja. Judes amat sih." Di luar sana, nampaknya ada seorang perempuan yang mendengar semua pembicaraan mereka. Perempuan itu terlihat seperti mencurigakan. 'Brian sakit? Apa yang sudah terjadi sama dia? Bukanya dia baik-baik aja semalam? Tapi ...' "Eh, ada karyawan baru. Lagi apa sis? Apa kamu sedang menungguku?" kata Roni dengan tingkahnya yang selalu menggoda wanita. Wanita itu nampak tak peduli, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Roni. "Cewek di sini kok pada judes ya, apa mereka lagi dapet semua?" "Istirahat nanti aku ada urusan, kamu istirahat aja duluan ya." "Baik Bu Kinan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN