Berkecamuk

1096 Kata
Sial, Roni malah mengajaknya ke tempat seperti ini. Kali pertama untuk Brian dan dia tidak yakin akan meneguk minuman yang diberikan oleh temannya yang lain. Brian memang sering bertemu teman lama, akan tetapi ia tidak tahu kalau temannya berkelakuan seperti ini. Bahkan mereka terlalu memaksa Brian untuk minum minuman keras itu. "Kalo lo gak sanggup, sini biar gue yang minum." Roni mengambil gelas itu dari tangan Brian. Namun, Brian kembali mengambilnya lagi. "Apa minuman ini bisa meredakan sakit kepala?" tanya Brian. Ya, Brian memang belum pernah mencobanya. Tapi setahu dia minuman itu memang cocok untuk obat sakit kepala. Ya kalau minumnya sedikit, kalau banyak? Bahkan Brian ragu akan hal itu. "Lo minum segelas aja udah, daripada lo mabuk nantinya," jawab Roni. Begitu-begitu juga Roni mengerti, sebetulnya ia juga tidak ingin Brian menyentuh minuman itu, bahkan sampai meminumnya. Tapi, ini keinginan Brian sendiri, Roni tidak bisa mencegahnya. Lagipula Brian kan memang sudah dewasa. Roni yakin kalau Brian akan baik-baik saja. "Hmm ..." Brian meneguk minuman itu dengan satu kali tegukan. Semua bersorak, karena mereka pun baru melihatnya melakukan itu. "Wah, lo hebat Bro. Ayo tambah lagi." Teman yang lain menuangkan lagi. Kali ini Roni tidak akan membiarkan Brian meminumnya. Ia merebut gelas itu lagi. "Sudah cukup. Jangan sampai Brian mabuk. Kalian juga, jangan kasih minuman sembarangan, dia tidak seperti kita," tegas Roni kepada temannya yang lain. "Lo gak asik, Ron. Sebaiknya kita pindah tempat saja!" semua memutuskan untuk pindah tempat. Sementara Roni kembali duduk di samping Brian. "Sebaiknya kita pulang saja. Gue antar lo pulang ya, Bri!" Roni membujuk Brian. Namun, Brian sudah memegang kepalanya. Ia merasakan sensasi yang berbeda dalam minuman itu. Brian tersenyum, menyuruh Roni untuk kembali menuangkan minuman itu lagi. "Satu kali lagi," pinta Brian. "Tapi, Bri. Lo ..." "Gapapa, satu kali lagi." Brian meminta kembali. Dengan ragu, Roni menuangkan lagi dan langsung diminum oleh Brian. "Sekali lagi," pinta Brian lagi. Ia sudah merasa ketagihan. "Bri, ini tidak benar, lo ..." "Jangan mencegahku, Ron. Sini, biar aku saja." Lantas Brian menuangnya sendiri. Karena sedikit, Brian langsung meminumnya dari botol itu hingga tandas. Brian tertawa dengan gila di sana. Sementara Roni, pria itu menunggu Brian sampai ia puas. Roni tidak mau terjadi sesuatu terhadap temannya itu, ia memutuskan untuk menemani Brian. "Bri, sudah cukup. Lo udah ngabisin banyak malam ini." Haha Brian malah tertawa, pria itu sudah meracau. "Kamu tahu, Ron? Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Ingin rasanya aku bunuh diri saja dan lari dari kenyataan ini." "Bri udah cukup, lo terlalu mabuk!" Roni mencoba untuk memapah Brian mengantarnya pulang. Namun, Brian malah menghempaskan tangan Roni dengan kasar. "Gue gak mabuk. Gue bisa nyetir sendiri." Brian masuk ke dalam mobil dengan keadaan mabuk berat. Roni menghalangi Brian tapi sepertinya Brian sudah menginjak pedal gas itu. Hampir saja Roni kena tabrak. "Ya ampun, Bri. Gue harus apa? Gue gak bawa mobil tadi!!" Roni menarik rambutnya frustasi. "Serah lo deh, Bri. Cewek banyak kenapa lo malah milih Alisya terus sih!!! Arrgghh, bikin stres aja." Roni kembali masuk, tapi setelah itu ia kembali keluar lagi. Dia merasa tidak tenang untuk diam di tempat. "Ah elah, apa Brian gak apa-apa dia nyetir sendiri? Ya Tuhan, tolong lindungi temanku yang bodoh itu." *** BRAK Pintu dibuka nya keras. Brian berjalan sempoyongan, tapi dia masih sadar jika dirinya sudah ada di rumah. "Minggir, jangan menyentuhku." Brian tahu Alisya ada di sana, wanita itu mencoba membantu Brian namun Brian malah menghempaskan tangannya sendiri. Alisya mencium bau alkohol dari tubuh Brian, ia sangat yakin Brian sudah minum banyak malam ini. Karena cemas, Alisya mengikuti Brian yang terus mengoceh tak jelas dari tadi. Sampai pada di sebuah kamar, Brian nampak sudah melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Pria itu terlelap dalam keadaan mabuk. Hati Alisya semakin teriris saat tahu lelaki yang ia cintai begitu terlihat pilu. Wanita itu masuk dalam diam, membantu melepas sepatu yang masih Brian kenakan dengan air mata yang memang tidak bisa tertahan lagi. Untung saja Brian tidak merasa kalau Alisya berada di dalam kamarnya. Mungkin itu semua karena Brian masih terpengaruh minuman keras. "Nyoya ..." Alisya langsung menghapus air matanya setelah ada seseorang yang mengetahuinya ada di dalam kamar itu. Alisya menoleh, rupanya itu bi Min. Dengan cepat, Alisya menghampiri bi Min. Ia tidak mau bi Min tahu kalau dirinya habis menangis. "Den Brian kenapa? Gak biasanya pulang malam," kata bi Min. Untung saja saat itu Alisya sedang tidak melakukan apa-apa. Bi min juga tidak melihatnya saat membuka sepatu Brian. Bi Min sendiri terbangun karena mendengar suara pintu tadi. Itu semua ulah Brian sendiri. Alisya membawa bi Min keluar dari kamar itu. Ia tidak mau bi Min tahu kalau Brian mabuk. Bisa-bisa bi Min akan mengadu sama mami dan papinya. Alisya hanya tidak mau mereka khawatir. Alisya menutup pintu kamar Brian, ia menggeleng. "Tidak apa-apa bi, sepertinya Brian kerja lembur malam ini." "Oh, begitu. Apa Nyonya habis menangis? Kok mata Nyonya keliatan sembab?" Mati. Rupanya bi Min sadar jika Alisya habis menangis tadi. Apa yang harus dia katakan sekarang? Alisya menggeleng. "Nggak kok bi, mungkin aku terlalu banyak tidur tadi." Alisya mencoba meyakinkan bi Min supaya tidak curiga. "Oh, gitu ya Nya, Nyonya emang harus banyak istirahat sih. Tapi Nya, bibi besok pagi harus pulang. Anak bibi pulang dari kota dan mereka mau bibi ada di rumah. Gak lama kok, cuma seminggu. Gak apa kan Nyonya di sini sendiri? Ada Den Brian juga kan? Oh, atau bibi kasih tau Nyonya sama Tuan buat temani Nyonya Alisya gimana?" Alisya menggelengkan kepalanya lagi. "Jangan bi, aku bisa kok sendiri. Lagian ada Brian juga kok. Bibi jangan kasih tau mami, takutnya mami cemas. Dan lagi mami sama papi juga lagi sibuk-sibuknya sekarang. Aku cuma gak mau ganggu mereka bi." "Yakin Nyonya bisa sendiri? Terus nanti gimana kalo Nyonya ..." "Aku bisa telpon Brian kalo ada apa-apa. Aku juga udah sembuh kok, bibi gak usah pikirin aku," jawab Alisya lagi. Bi Min mengangguk. "Baiklah kalo gitu. Sebaiknya Nyonya langsung istirahat lagi, ini sudah malam, gak baik juga buat kesehatan Nyonya. Bibi mau siap-siap beresin barang dulu buat besok pagi, tadi gak sempet soalnya." Mempunyai majikan seperti Alisya, bagi bu Min itu seperti seorang anak. Alisya memang tak pernah menuntut apapun terutama soal pekerjaannya. Itu terserah bi Min saja asal bi Min mampu mengerjakannya. "Iya, bi. Kalo gitu aku juga mau tidur lagi. Masih ngantuk ini. Bibi jangan terlalu maksain diri, jangan bawa banyak barang juga. Nanti takutnya bibi malah kerepotan di jalan." "Iya, Nya. Bibi mengerti." Alisya kembali masuk ke dalam kamar. Bagaimanapun pikirannya masih berkecamuk. Ia mencoba untuk menutup mata, namun tetap tidak bisa. Ia masih teringat akan Brian di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN