"Brian? Kamu ..."
Kinan masuk ke ruangan Brian dengan sebuah berkas di tangannya. Awalnya Kinan hanya ingin menyimpan berkas itu di meja Brian. Namun, ia kaget setelah melihat Brian sudah ada di dalam. Padahal sebelumnya ia tidak melihat kedatangan Brian.
Sementara pria itu hanya sibuk dengan laptopnya. Pekerjaannya memang banyak, apalagi selama sebulan ini ia hanya mengandalkan Hani yang hanya seorang karyawan.
Entah mengapa, tapi sepertinya Brian begitu mempercayai Hani. Tidak. Dia tidak menyukainya.
"Kinan, ada laporan apa hari ini?" tanya Brian dengan masih fokus dengan layar itu.
Kinan berdecak. Tak bisakah Brian melihat ke arahnya sebentar? Atau mengetahui kedatangannya?
"Kamu ini selalu saja begitu, Bri. Jangan terlalu fokus gitu dong. Kita kan bisa kerjain semua sama-sama."
Kali ini Brian menghentikan aktivitasnya. Pria itu menoleh, melihat dengan tatapan kesal. "Bukan begitu, Kinan. Pekerjaan kantor memang banyak dan aku tidak bisa menunda-nundanya lagi. Sebaiknya kamu katakan saja, laporan apa yang kamu bawa itu?"
Kinan mendekat, memberikan laporan itu. "PT. Santosa mau temui kamu di ..."
Brian kembali menatap Kinan dan kali ini tatapannya begitu tajam, sampai-sampai Kinan tidak meneruskan kata-katanya.
"Ini kantor. Sebaiknya kamu bersikap dengan sopan," tegas Brian. Ia hanya ingin Kinan mematuhi peraturan kantor.
Setiap kali Brian menegaskan Kinan, gadis itu merasa terkejut sekaligus heran. Akhir-akhir ini Brian terlalu sensitif padanya.
Kinan mencoba untuk mengerti. Lagipula apa yang dikatakan Brian tadi benar. Ini kawasan kantor. Sudah seharusnya Kinan menjaga sikap dan tidak memanggil atasan seperti itu.
Di sana, Kinan mengangguk merasa sedikit bersalah. "B-baik, Pak. Saya minta maaf," ucap Kinan kembali mengulang.
"Lanjutkan," seru Brian.
"PT. Santosa ingin menemui Anda malam ini di cafe Anggur. Beliau ingin mengajak Anda meeting sebelum pukul 7 malam nanti." Kinan kembali menjelaskan.
Brian berpikir sejenak. "Hmm, baiklah. Kamu urus jadwalnya," jawab Brian sudah memutuskan.
Kinan mengangguk, "Baik, Pak."
Lantas gadis itu keluar dan kembali ke ruangannya. Tak lama setelah itu, datang seorang lelaki dengan sikapnya yang khas. Kali ini Brian tidak memperdulikannya sebab ia sudah tahu tujuan dia apa. Pasti mau mengejek atau hal yang menyebalkan lainnya. Dialah Roni. Teman Brian yang baru saja menemuinya setelah Brian kembali. Teman macam apa dia ini? Bahkan ia tidak menyambut kedatangan Brian dari kemarin.
"Halo, Bro, apa kabar?" Sapa Roni sedikit berteriak.
Brian hanya berdecak, "Apa sih, ganggu orang aja."
"Ketus amat sih, sorry ya bro gue baru bisa temuin lo. Gue gak tau kalo lo udah balik ke sini, lagian kerjaan gue numpuk banget. Eh, lo tau gak Hani hampir lembur tiap hari buat handle kerjaan lo. Dan lo tau? Gue yang nemenin dia lembur sampe mata gue bintitan. Tega bener ya lo ninggalin kantor sebulan lebih!!" Roni terus menggerutu.
"Sorry, aku gak tahu kalo kalian kerja lembur sampe segitunya. Lain kali aku gak bakal repotin kalian lagi."
Roni terkekeh, sifat Brian memng tidak pernah berubah. Dia gampang kesindir.
"Lo ini, kenapa sih lo selalu begitu? Lagian gue juga seneng kali tiap hari kerja lembur. Apalagi sama Hani my Honney. Harusnya gue terimakasih sama lo, berkat lo Hani jadi lebih hangat gak judes lagi," kata Roni.
Brian menanggapinya hanya sekadar senyum doang. Pikirannya terlalu pusing buat mikirin hubungan mereka.
"Eh, jadi gimana? Lo jadi kan lamar Alisya? Kapan lo lamar dia? Jangan sampe nunda-nunda lagi, bro. Takutnya Alisya digait orang."
Perkataan Roni berhasil membuat Brian semakin terlihat putus asa. Pria itu lantas berdiri, meninggalkan pekerjaannya. Ia menatap ke suatu jendela kaca yang tepat mengarah ke gedung-gedung yang lain di luar sana. Brian memangkalkan kedua tangan di atas pinggang lalu menghembuskan napasnya panjang.
Sepertinya Roni belum tahu kalau Alisya sudah menikah dengan kakaknya sendiri. Wajar saja, pernikahan mereka hanya disaksikan oleh keluarga dua belah pihak dan beberapa orang saja.
Hati Briam begitu sesak saat harus mengingat pernikahan mereka yang tanpa setahu dirinya. Bahkan sampai sekarang pun Brian masih tidak menyangka kalau wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi milik Zain, kakak kandungnya sendiri.
"Lo kenapa, Bri? Kayak gak semangat gitu?"
Brian kembali menarik napasnya dalam sebelum ia berbicara akan kenyataan yang sebenarnya. "Ron, ucapan kamu emang nyata. Alisya memang sudah menjadi milik orang lain dan dia adalah kakak kandungku sendiri."
"Apa? Ah lo mah, jangan becanda deh!"
Brian berbalik, menoleh ke arah Roni dengan rasa sesak yang sudah tak tertahan lagi. Ingin rasanya dia meluapkan semua ini, akan tetapi ia terlalu malu melakukannya. Masa iya seorang cowok nangis? Apalagi dia itu seorang atasn. Memalukan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Roni memperhatikan wajah Brian yang memang sangat tertekan. Dari dulu Brian memang tidak pernah berbohong. Dan kali ini, Brian memang sudah berkata yang sebenarnya.
"Bri, sorry, gue gak tau. Lain kali gue gak bakal bahas soal dia lagi," setidaknya sebagai seorang sahabat, Roni bisa merasakan apa yang Brian rasakan saat ini.
Brian menepuk pundak Roni beberapa kali. "Tak apa, aku juga sudah terima kenyataan pahit ini. Walaupun berat, tapi aku sudah melepas Alisya untuk Kak Zain." Brian kembali ke tempatnya.
"Bri, gimana kalo kita keluar malam ini. Ada restoran baru dan makanan di tempat mereka itu benar-benar lezat." Roni sengaja ingin mengajak Brian malam ini. Sebab ia ingin Brian tidak memikirkan masalahnya. Setidaknya Brian sedikit lupa dengan Alisya.
Namun, Brian menolak. Ia berkata, "Lain kali aja, malam ini aku ada perlu dengan klien. Mereka ingin bertemu malam ini sebelum jam 7 malam."
"Oh, begitu. Tapi Bri, kalo lo berubah pikiran lo bisa hubungi gue. Kebetulan nanti malam gue juga mau ke restoran itu buat kumpul sama teman lama kita," jelas Roni lagi.
Kali ini Brian mengangguk. "Oke," jawabnya singkat.
"Oke, gue balik dulu kalo gitu. Semangat ya, Bri. Jangan sampai lo terus kepikiran. Ntar lo sakit berabe urusannya. Gue gak mau ya gantiin lo terus. Kasian Hani juga harus terus lembur."
Teman macam apaan dia ini? Nyemngatin sih nyemangatin, tapi bukan seperti ini caranya. Kayak gak ikhlas aja.
"Iya, iya, udah sono balik lagi. Kerja yang bener, bukan cuma cewek doang yang ada di otakmu, Roni."
Roni terkekeh, "Tau aja lo, tapi seenggaknya gue gak kayak lo ya, dikhianati sama cewek idaman sendiri."
"Sialan lo, Ron. Mau mati, huh?" Brian sudah siap mengejarnya tapi Roni sudah bergerak cepat untuk kabur dari ruangan itu.
"Haha, sorry Bro," teriak Roni.
Dasar teman tak tahu diri. Percuma dia bekerja di sini kalau bisanya cuma bikin kesel doang.
Ya, Roni memang mengesalkan. Dan bukan cuma itu saja. Pria bertubuh tinggi itu begitu menyukai wanita. Ya ... enggak keterlaluan juga sih. Cuma sering usil.
Keluar dari ruangan Brian. Roni bersiul saat melihat karyawan baru yang sudah berjalan di depannya. Ia sangat menyukai perempuan cantik terutama dengan penampilannya yang seksi, seperti perempuan yang dia lihat sekarang ini.
"Hai cantik, kamu baru ya di sini?"
Bukannya menjawab, tapi perempuan itu malah terus berjalan. Sepertinya dia tidak suka dengan Roni.
"Ih, judes amat sih. Cantik-cantik kok judes."
Tiba di suatu ruangan. Kinan kesal karena bertemu dengan pria tadi di luar. Dia terua menggerutu sendiri. "Apaan sih tuh cowok, ngeselin banget. Coba yang gitu itu Brian. Oh, mungkin aku bakal menyukainya. Tapi sayang, Brian selalu acuh sama aku. Kenapa ya? Apa dia sudah punya kekasih? Selama ini dia terlalu menutupi masalah pribadinya, beda sama Brian yang dulu."
Kinan menghembuskan napas panjang. "Kamu itu kenapa sih Bri, aku capek tau terus-terusan kamu acukan."
***
Di sinilah Brian dan Kinan berada. Di sebuah cafe dan sepertinya mereka sangat lelah hari ini.
"Akhirnya selesai juga. Oh, iya Bri, kamu mau kan anterin aku pulang sampai Apartemen? Aku gak berani pulang sendiri. Lagian ini juga udah malem, aku takut Bri kalo pulang sendiri."
Brian masih sibuk dengan ponselnya. Tapi dapat dipastikan kalau Brian mendengar apa yang dikatakan Kinan.
"Kamu pulang sendiri aja, aku ada perlu dengan teman." Brian sudab memutuskan.
Kinan nampak cemberut. Gadis itu menghentakkan kaki sambil memegang tangan Brian.
"Ayolah, Bri. Malam ini aja kok!!" Rengeknya.
Namun Brian sudah menghempaskan tangan itu. Ia tidak mau tersentuh oleh Kinan. "Jaga sikapmu Kinan. Bukankah aku sudah sering memperingatkanmu?"
Kinan tersentak. Bahkan Brian sudah kasar padanya. "Bri, kok kamu jadi kayak gini sih? Aku ..."
"Jangan kelewatan ya, Kinan. Kau tau? Aku menyesal karena sudah menerimamu di perusahaan papi dan aku juga sangat menyesal menempatkanmu sebagai sekretarisku. Bukan cuma kerjaan kamu aja yang gak bener, tapi kelakuanmu juga. Kalau kamu masih mau bekerja denganku, tolong jaga sikapmu. Kalau tidak, bersiaplah untuk kembali ke Negeri asalmu."
Brian nampak sekali dengan ketegasannya sampai-sampai Kinan tidak bisa berkutik lagi. Gadis itu menghentakkan kaki kesal lalu pergi dari sana. Ia tak terima akan perlakuan Brian tadi.
Brian menghubungi seseorang saat sedang dalam perjalanan. Malam ini belum terlalu malam juga. Ia ingin menyempatkan diri untuk bisa mencari hiburan.
"Roni, kamu di mana? Kirim lokasimu, sekarang juga aku ke sana."
"Oke, Bro."
Brian menutup ponsel itu kembali fokus dengan jalanan.
'Aku terlalu pusing mikirin kamu, Sya. Maaf kalau aku pulang larut.'