"Brian ..." Alisya memekik dengan nada tinggi. "Astaghfirulloh." Brian mengusap d**a. "Brian ... kamu bener-bener ya!! Kamu itu udah bikin aku malu tau. Apa maksud kamu bicara sama semua orang kantor kalo kamu itu calon suami aku?" Alisya dengan nada tinggi terdengar sangat emosi karena ulah Brian. Namun, Brian hanya menanggapinya dengan senyuman. Baginya emosi Alisya tidak ada apa-apanya, bahkan ia sangat menyukai sikap Alisya seperti itu. "Gak ada maksud apa-apa kok, Sya. Besok kamu siap-siap, aku bakal melamar mu. Dengan begitu, kau tidak akan malu sama teman kantor kamu, Sya." Sejenak Alisya membeku. Ia bahkan tidak bisa menjawab apa-apa. Mulutnya seakan bergetar. "Sya ... Alisya ..." Brian memanggilnya lagi. "Euh, ya?" Alisya tersadar. "Kamu kenapa? Kok diem?" "E-eng

