Tabrakan di Hari Pertama
Di lantai teratas Hotel Pelangi Samudra, suhu di kantor Ivan Abimana terasa disengaja dinginnya. Ruangan mewah itu adalah gambaran dari diri Ivan, sempurna, mahal, dan steril dari kehangatan emosional. Ivan Abimana, pria berusia dua puluh delapan tahun, salah satu pewaris utama jaringan hotel ini, tapi ia menjalankan perannya dengan ketegasan yang kaku dan aura yang selalu menjaga jarak.
Pagi itu, Ivan berdiri di balik meja kerjanya yang terbuat dari marmer hitam pekat. Meskipun sudah sukses di usia muda, ada beban yang tak terucapkan yang selalu ia pikul, terlihat jelas dari sorot matanya yang seringkali kosong. Para staf hotel tahu bahwa mendekati Ivan di luar urusan pekerjaan adalah risiko besar, ia memancarkan keengganan yang dingin. Sebuah prinsip yang sulit ia jelaskan, dan ia menghabiskan sisa hidupnya untuk pekerjaan, bukan untuk menjalin cinta apalagi berumah tangga.
Pikirannya terganggu oleh panggilan telepon dari rumah.
"Halo, Mama," sapa Ivan, nadanya datar.
"Ivan, kapan kamu luangkan waktu untuk makan malam akhir pekan ini? Ada teman Mama yang ingin bertemu sama kamu—" Suara Widyawati, Ibunya, terdengar lelah tapi penuh desakan, mengacu pada ritual perjodohan mingguan yang kini Ivan hadapi.
"Mama, tolong jangan mulai lagi," potong Ivan, tidak sabar. "Ivan sudah bilang, Ivan nggak mau dijodohkan. Ivan sibuk dengan hotel."
"Sibuk? Kamu hanya sibuk lari dari kenyataan, Ivan! Umurmu sudah dua puluh delapan. Kamu harus punya pendamping. Mama nggak mau kamu terus hidup kayak gini," balas Widyawati.
"Hidup Ivan baik-baik aja, Ma. Ivan nggak butuh penyelamat. Ivan hanya butuh Mama berhenti menekan Ivan." Ivan menjawab tajam, ia benci tekanan ini karena ia tahu ibunya benar. Namun, ada tembok tak terlihat di hatinya yang melarangnya untuk menyerah pada kebahagiaan. "Ivan akan telepon Mama kembali. Ivan ada rapat."
Ivan menutup telepon, menarik napas dalam-dalam. Ia muak dengan desakan itu. Widyawati tidak mengerti, dinding di hatinya dibangun dari rasa bersalah yang nyata. Ia tidak bisa melanggar sumpahnya sendiri untuk tidak mencintai lagi, agar tidak ada lagi yang terluka. Ia hanya bisa memberi sepuluh persen. Dan ia akan mempertahankan batasan itu mati-matian.
***
Jauh di lantai dasar, di koridor back office yang ramai dan penuh aroma deterjen, suasana terasa hidup dan hangat.
Fatma Zahrotunnisa, gadis berusia dua puluh tahun, dengan tubuh berisi dan pipi tembam yang menggemaskan, baru saja selesai melakukan wawancara kerja sebagai Office Girl di Hotel Pelangi Samudra. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan itu berkat ajakan temannya dan kini sedang menunggu instruksi orientasi.
Fatma adalah gadis yang penuh optimisme, tawa renyahnya mudah sekali pecah, menciptakan aura "Si Gemoy" yang menyenangkan di sekitarnya. Namun, keceriaannya adalah perisai. Jauh di lubuk hati, Fatma membawa beban yang berat. Misi utamanya di Jakarta, selain mencari nafkah, adalah untuk mencari makam ayahnya yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan saat ia kecil. Kecemasan akan kebenaran masa lalu dan beban finansial keluarga membuat Fatma harus bekerja keras dan selalu tampil ceria agar ia tidak jatuh terpuruk.
"Fatma, kamu sudah dapat name tag?" tanya seorang staf HRD wanita dengan ramah.
"Sudah, Bu! Tinggal menunggu orientasi besok. Terima kasih banyak ya, Bu," jawab Fatma dengan senyum lebar.
"Baik, sekarang kamu ikut Ibu sebentar. Kita harus pastikan data dirimu lengkap dan kamu harus tandatangani beberapa berkas penting di kantor administrasi."
Fatma segera mengikuti staf itu. Ia membawa map berisi berkas-berkas lamarannya, sebuah map tipis berisi harapan dan beban hidupnya di Jakarta. Koridor back office yang harus mereka lewati adalah labirin yang sibuk, penuh dengan staf berseragam yang tergesa-gesa.
"Oh, ini dia yang kita cari," kata staf HRD itu, menunjuk ke sebuah ruang administrasi. "Masuk, Fatma. Ibu tinggal dulu ya."
Fatma mengangguk, memegang erat map-nya. Ia melangkah menuju pintu yang ditunjuk, pikirannya fokus pada apa yang harus ia tandatangani dan bagaimana ia harus menghemat uang untuk mencari tahu lebih banyak tentang ayahnya.
Tiba-tiba, dari tikungan lorong yang memotong jalur utamanya, muncul bayangan gelap yang bergerak dengan kecepatan dan tujuan yang jelas. Itu adalah Ivan Abimana, yang memutuskan untuk meninggalkan kantornya, berjalan cepat menuju area parkir setelah pertengkaran emosional dengan Mamanya. Ia sedang tenggelam dalam pikirannya yang keruh, berusaha keras mengendalikan amarah dan rasa frustrasi.
Fatma, yang baru saja melongok ke arah pintu administrasi, tidak sempat menghindar.
DUK!
Ivan Abimana yang bergerak cepat, menabrak bahu Fatma dengan keras. Tubuh Fatma yang tidak siap seketika kehilangan keseimbangan. Berkas lamarannya terlepas dari genggaman dan melayang di udara.
BRUK!
Fatma jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin, sementara map berisi harapan dan bebannya mendarat berserakan di kaki Ivan.
Koridor itu seketika hening. Fatma menatap Ivan dengan mata membulat, ketakutan yang mendalam membayangi keceriaannya. Ivan, yang tubuhnya tegang karena sentuhan fisik tak terduga, menatap Fatma.
"Jalan tuh hati-hati! Punya mata, kan?!" Ivan yang sedang kesal seakan menemukan tempat pelampiasannya.
"Loh, sejak kapan jalan pake mata, Pak?"
"Diam!"
Suara bentakan Ivan menggema keras di koridor yang tadinya hanya dipenuhi derap langkah dan suara mesin cuci. Beberapa staf menoleh dengan tatapan ngeri, lalu buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk.
Fatma masih duduk di lantai, bibirnya terkatup rapat. Ujung matanya terasa panas, tapi ia menahan diri sekuat tenaga agar tidak menangis. Ia tahu betul, baru sehari di hotel besar seperti ini, kalau ia buat kesalahan sedikit saja, namanya bisa tercoret sebelum sempat mulai.
Ivan mendengus tajam, menatap map dan berkas yang jatuh. Salah satu kertasnya terselip di sepatu mahal yang ia kenakan. Ia menunduk, memungutnya dengan gerakan tergesa dan menatap sekilas tulisan di pojok kanan atas.
Fatma Zahrotunnisa.
Nama itu asing, tapi entah kenapa, begitu matanya membaca tulisan tangan gadis itu, sesuatu di dalam dadanya terasa aneh. Bukan iba, tapi semacam kekakuan yang tak bisa ia jelaskan.
"Ini tempat kerja, bukan taman bermain," katanya dingin, mengembalikan map itu ke tangan Fatma tanpa benar-benar menyentuhnya. "Belajar untuk tahu posisi."
Fatma buru-buru menerima map itu, menunduk dalam-dalam. "Maaf, Pak. Saya ... saya nggak lihat tadi kalau Bapak lewat. Saya nggak sengaja, sumpah."
Ivan hanya menatapnya sebentar. Sekejap itu cukup untuk membuat Fatma melihat pantulan dirinya di mata pria itu, dingin, hitam, dan kosong. Seolah apa pun yang hangat di dunia ini tidak berhak mendekatinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ivan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan hawa tegang yang menggantung di udara.
Fatma perlahan berdiri, membersihkan debu dari roknya sambil menahan napas panjang. Dalam hati, ia mengomel pelan.
"Ya Allah, baru juga sehari kerja, udah ditabrak sama orang es," gumamnya, lirih tapi kesal.
Salah satu staf housekeeping yang kebetulan lewat menepuk bahunya pelan. Dia, Dita. Temannya Fatma yang mengajaknya untuk melamar di hotel itu.
"Hati-hati ya, Fat. Itu Pak Ivan, pemilik sekaligus malaikat pencabut nyawa buat karyawan baru."
Fatma melongo. "Pemilik?!"
Dita hanya mengangguk. "Cepetan selesaikan administrasi kamu. Jangan coba-coba buat dekat apalagi ketemu sama Pak Ivan. Dia itu nyerimin, cuma ramah sama Nyonya Widyawati dan Non Dheandra."
"Siapa mereka?" tanya Fatma.
"Nyonya Widyawati itu, mamanya Pak Ivan. Lalu Non Dheandra, itu kakak iparnya. Kalau bukan sama dua wanita itu, sikapnya dingin dan keras."
Fatma menatap temannya, mengembuskan napas panjang. "Pantas aja dinginnya ngalahin freezer hotel."
"Udah nggak usah gosip, keciduk malah jadi masalah nanti. Jam makan siang, kamu tunggu aku di pantry khusus OB. Kita pulang dulu ke kosanku," ujar Dita.
"Oke!" sahut Fatma.
Dita pun pergi, melanjutkan pekerjaannya.
"Ya Allah, tolong hambamu yang baik dan gemoy ini. Jangan sampe aku ketemu lagi sama bos yang kayak freezer hotel itu!"