Terdistraksi Fatma

1400 Kata

Keheningan terasa beberapa detik di antara mereka, sampai Ivan menyadari sesuatu. "Kenapa kamu menahan napas?" "Hah?!" "Bernapas, Fatma!" "I-iya, Pak. Kalau saya nggak napas, mati dong!" "Jangan mati di sini, saya nggak bisa gotong kamu sendirian!" seru Ivan datar. Fatma mencinbir. "Mentang-mentang saya gendut!" "Nggak boleh menghina diri sendiri. Tapi, sadar diri juga harus." Fatma semakin mendengus, sedikit sebal. Tapi, ia menggenggam erat jas yang disampirkan Ivan ke pundaknya. "Ini kan jas Bapak?" "Jas lama," dusta Ivan, kembali ke kursinya. "Lebih baik kamu fokus pada pekerjaanmu daripada jatuh sakit di sini. Tidak ada yang akan percaya kalau saya membiarkan Office Girl saya masuk angin saat lembur." Fatma kembali terdiam, menatap Ivan dan tangannya yang menggenggam jas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN