Dara mengerjap perlahan, masih setengah terlelap dalam kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Matanya terasa berat, kepalanya bersandar di d**a seseorang, dan suara hujan yang mengguyur deras di luar sana terdengar samar di telinganya. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya sepenuhnya kembali. Lalu, jantungnya mencelos. Dara membeku di tempat. Ia baru menyadari bahwa dirinya ada dalam pelukan Jedidah. Napas pria itu berembus pelan di atas kepalanya, tangannya masih melingkar di bahunya, hangat dan kuat, seperti dulu—seperti di malam-malam ketika mereka masih bersama. Dara menatap wajahnya yang tertidur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa melihat Jedidah dalam keadaan benar-benar lepas dari semua topeng yang biasa ia pakai. Wajahnya lebih tenang, tapi masih menyisaka

