Dan yang tidak akan pernah menyangka dia akan ada di titik ketika Noah sakit. Lebih parah dari satu bulan yang lalu, Noah tidak mau bicara, hanya sekedar gumaman ketika ditanya, kenapa, mana yang sakit? Noah mau apa? Anak itu hanya tengkurap dengan wajah yang memerah, air mata mengenang dan juga demam yang tinggi. Bibirnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, Jedainne yang melihatnya itu turut sedih. Dan terus berbaring disamping adiknya. “Dedena mam obat,” ucap Jedainne untuk yang kesekian kalinya. “Ka…..” “Hmmm? Mam bat ya? Bubu na angis, Bubu na sedih.” “Mo Yayah…kaaa…Yayah na?” Dara berdiri di ambang pintu, mendengarkan hal yang tidak pernah diucapkan oleh kedua anaknya. “Dara,” panggil Ibu Sasmita menyadarkannya. “Biar Ibu yang kasih makan Noah, kamu istirahat saja ya.” “Merek

