Tapi Dara canggung, aneh melihat semua perubahan Jedidah. Dulu, ia terbiasa mengejar. Kini, justru dikejar. Dulu, ia dianggap tidak lebih dari bayangan. Kini, ia menjadi prioritas. Ada perasaan hangat yang menyusup dalam hatinya, namun juga ada getir yang sulit ia abaikan. Di depan matanya, di dapur yang luas dan hangat, Jedidah sedang menyiapkan makan malam dengan dua bocah kecil yang terus mengganggunya. Noah, dengan pipi gembul dan langkahnya yang masih goyah, berkali-kali menarik kaki ayahnya. Tidak puas dengan itu, bocah itu memutuskan untuk menggigit betis Jedidah dengan giginya yang masih kecil namun cukup tajam. "Noah, jangan begitu. Ayo menonton TV saja dengan Bubu." Tapi Noah malah semakin mencengkeram kaki Jedidah. "Ndaaa... mo yayah, Bu..." rengeknya. "Noah, ayahmu sedang

