Tangisan Para Pendosa

1464 Kata

Tapi Dara canggung, aneh melihat semua perubahan Jedidah. Dulu, ia terbiasa mengejar. Kini, justru dikejar. Dulu, ia dianggap tidak lebih dari bayangan. Kini, ia menjadi prioritas. Ada perasaan hangat yang menyusup dalam hatinya, namun juga ada getir yang sulit ia abaikan. Di depan matanya, di dapur yang luas dan hangat, Jedidah sedang menyiapkan makan malam dengan dua bocah kecil yang terus mengganggunya. Noah, dengan pipi gembul dan langkahnya yang masih goyah, berkali-kali menarik kaki ayahnya. Tidak puas dengan itu, bocah itu memutuskan untuk menggigit betis Jedidah dengan giginya yang masih kecil namun cukup tajam. "Noah, jangan begitu. Ayo menonton TV saja dengan Bubu." Tapi Noah malah semakin mencengkeram kaki Jedidah. "Ndaaa... mo yayah, Bu..." rengeknya. "Noah, ayahmu sedang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN