Dara terdiam sembari memainkan busa di permukaan air, jemarinya menciptakan lingkaran kecil yang langsung menghilang begitu saja. Pikirannya melayang, bukan pada hal yang seharusnya, tapi pada sesuatu yang lebih absurd. Ia ingat semalam. Ingat betul. Setiap sentuhan, setiap gerakan, bahkan setiap suara yang lolos dari bibirnya sendiri. Dia menikmati semuanya. Setelah sekian lama tidak bertemu si perkasa itu, malam tadi menjadi bukti nyata bahwa—sialnya—dia masih bisa dibuat takluk di bawah kendali pria itu. Saat bangun pagi tadi, Dara tidak terkejut. Justru Jedidah yang tampak lebih canggung, bahkan mengucapkan maaf berulang kali. "Makin gede dari sebelumnya... uratnya makin kerasa..." mulutnya bergerak tanpa sadar, suara lirih seperti orang t***l. "Dia minum obat pembesar 'kah?" Dara

