Bab 16 - Jadi, Siapa Pelakunya?

2002 Kata
Jaehan bersandar di pilar utama menuju pintu keluar MSS, pandangannya tertuju pada satu objek yang tengah mengutak-atik ponselnya. Ke dua tangannya dia lipat depan da*da dengan kaki menyilang. Banyak siswi yang menyapanya saat lewat, dibalas Jaehan dengan raut tak peduli. Objek pandangannya jauh lebih menarik. "Gadis hujan?" gumam Jaehan. "Tapi auranya manusia penuh." Di pinggir parkiran, Krystal tengah berdiri sambil mengecek lokasi kendaraan online yang dia pesan. Seperti biasa, ibunya berhalangan lagi menjemputnya meski telah berjanji. Tapi itu bukan masalah bagi Krystal, karena dia bebas dari pertanyaan-pertanyaan seputar sekolah. Krystal kembali mengecek ponselnya. Dia merasa tidak nyaman berdiri karena banyak mata yang terasa menusuk punggungnya. Sekarang dia menyesal tidak menerima tawaran Giiz pulang bersama. "Eehhh," pekik Krystal saat sebuah tangan besar menarik lengannya dengan enteng dan menggenggamnya. "Tidak ada sebrangan," sarkas Krystal. Posisi mereka sekarang ini terlihat ingin menyebrang jalan. Pelakunya—Jaehan tak membuka suara, dia memegang tepat di urat nadi Krystal, sedang tatapannya menjurus di bole mata Krystal. "Apa, sih," decak Krystal semakin tak nyaman saat siswa-siswi membicarakan posisi mereka. Bukannya melepaskan, Jaehan malah mengeratkan pegangannya. "Jangan menghindari tatapanku, Krystal." "Kau sedang apa, sih?" "Tidak terasa apa-apa," gumam Jaehan dengan kening mengerut. "Jaehan!" "Apa kau sedang sedih?" tanya Jaehan. Krystal menggeleng dengan raut bingung. Jaehan menghela napas berat. "Aku ingin melihatmu menangis." "Sosiopat si*alan!" umpat Krystal sambil menarik tangannya secara paksa, Jaehan pun tak menahannya lagi. "Terimakasih sudah menungguku." Jaehan berujar sambil mensejajarkan langkahnya dengan Krystal. Gadis itu menoleh, lalu mendengkus. "Aku tidak menunggumu ... ah, sia*l! Kenapa dia menggagalkan pesananku begitu saja," rutuk Krystal sambil mengutak-atik ponselnya. "Pulang denganku," ujar Jaehan tanpa bantahan sambil merebut ponsel Krystal, lalu menggenggam tangan gadis itu menuju mobilnya. "Kembalikan ponselku." Krystal menengadahkan telapak tangannya. "Dan aku tidak mau pulang denganmu." Jaehan menatap Krystal lamat-lamat, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Baiklah. Setidaknya kau gadis pertama yang menolak ajakanku," ucapnya sambil menyodorkan ponsel Krystal yang langsung disambut gadis itu secepat kilat. Tanpa banyak bicara, Krystal langsung memutar tubuhnya, bertepatan dengan turunnya hujan secara tiba-tiba. Siswa-siswi yang masih di sekitar MSS sontak saja lari terbirit-b***t. Di belakang ada Jaehan tersenyum simpul, kemudian senyumnya semakin lebar saat Krystal menoleh ke arahnya dengan ekspresi serba salah. Sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka suara. Baik Krystal atau pun Jaehan, ke duanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Krystal sejak masuk ke mobil Jaehan, dia terus memandang ke luar jendela—memperhatikan kaca mobil yang berembun, hujan di luar sana pun sudah mulai reda, tidak lama setelah mobil yang ditumpanginya ini keluar dari kawasan MSS. Ingin turun pun rasanya sia-sia, Krystal tak memiliki energi banyak untuk berdebat dengan Jaehan. "Kau terlihat tidak nyaman pulang bersamaku," kata Jaehan memecah hening. Krystal mengembuskan napas panjang, lalu menegakkan kepalanya dan menatap ke depan. "Kita tidak sedekat itu. Kau memberikan tumpangan padaku pun terasa aneh dan mencurigakan," aku Krystal. Jaehan menatap Krystal sekilas. "Bukan Nona Pencuri kalau tidak curigaan," ucapnya diakhiri tawa kecil. Jika dilihat-lihat posisi ini, Krystal mengakui jika Jaehan satu dari sekian laki-laki tampan yang pernah dia lihat. Dia memiliki kulit putih bersih dengan proporsi tubuh sempurna. Tangannya yang bermain di setir mobil terlihat sangat menawan. Pandangan Krystal naik ke wajahnya, Jaehan memiliki hidung yang mancung, bibir terukir cantik, bulu mata lentik, serta alis yang tercetak sempurna. Dia memang tampan. "Tinggi badanku seratus delapan puluh centi meter." Jaehan berucap tiba-tiba sambil menoleh ke arah Krystal dengan senyum tipis. Sadar jika dia telah ketahuan tengah meneliti tubuh Jaehan, Krystal pun memilih mendengkus, membuat Jaehan terkekeh geli. "Kau jauh lebih cantik kalau jarang mendengkus," celetuk Jaehan sambil menatap Krystal usai memarkirkan mobilnya di depan rumah Krystal. Alih-alih tersanjung atau pun tersipu, Krystal malah memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menempel di jendela mobil, terlebih saat Jaehan sengaja menghadap ke arahnya. "Jangan macam-macam Jaehan," ancam Krystal sambil mengambil sesuatu di saku roknya. "Aku memiliki semprotan bubuk merica," ucapnya sambil menunjukkan benda yang dia ambil. Jaehan menatap benda itu lalu mengedikkan bahu cuek, kemudian semakin memajukan tubuhnya, sedangkan Krystal langsung membuat benteng pertahanan di depan d**a. "Silakan keluar, Krystal," ujar Jaehan santai usai memajukan tubuhnya dan melepas seat belt Krystal. Bahkan Krystal dapat mencium harum parfum laki-laki itu di lehernya. Lain halnya dengan Krystal yang bergeming, Jaehan malah mengernyit saat Krystal tak bergerak dari tempatnya. "Kau mau aku membukakanmu pintu heh?" ledeknya. Tersadar, Krystal langsung terburu-buru membuka pintu mobil tersebut, lalu menutupnya dengan kencang. "Terimakasih sudah mengantarku, lain kali kalau kau mau melakukan sesuatu, harap minta izinlah terlebih dahulu," kata Krystal di dekat jendela, lalu masuk ke rumahnya tanpa mendengar balasan Jaehan. Bukannya langsung pergi, Jaehan malah bersidekap sambil mengamati rumah Krystal. "Bahkan dia mengawasinya sampai sini," gumam Jaehan dengan raut serius. ******* "Wow, kau pulang dengannya, ya," celetuk Lais menyambut kedatangan Krystal sambil menatap mobil Jaehan yang melaju. Krystal menoleh ke belakang, lalu mengedikkan bahu. "Mau apa kau ke sini?" Lais mengangkat tas yang dia jinjing. "Mengambil barangku yang tertinggal, lalu melihatmu diantar oleh laki-laki tampan itu." Krystal tak membalas ucapan Lais. Dia langsung ke dapur sambil menuang air ke gelas dan meneguknya hingga kandas. "Aku tau, kok. Dia Jaehan, laki-laki yang katanya membawaku ke mari." Lais tersenyum, beberapa saat kemudian bibirnya membentuk garis lurus. "Dia juga laki-laki yang katanya sedang dekat dengan kau." "Barangkali kau harus membedakan antara dekat versimu dan dekat versiku, Lais. Kami hanya teman ... ya teman," ujar Krystal. Hanya itu sebutan aman untuknya dan Jaehan, karena pada dasarnya mereka memang tak sedekat itu, jadi jalan amannya ialah teman. "Kalau begitu kau harus membantuku agar bisa dekat dengannya," kata Lais santai sambil menopang dagu di atas meja makan. Krystal mendelik. "Lakukan saja sendiri. Lagi pula, untuk apa kau mendekatinya? Belajar dari masalahmu yang kemarin, jangan asal berhubungan dengan laki-laki." Lais mendengkus sambil bersidekap d**a. "Jadi kau mau bilang kalau Jaehan laki-laki jahat? Kalau jahat, lalu kenapa dia menolongku? Kau pun terlihat beberapa kali bersamanya dan baru saja kau pulang dengannya,  kurasa kau tak sebodoh itu mau diantar pulang dengan dia jikalau Jaehan memang laki-laki jahat!" racau Lais. "Terserah kau saja." "Apa jangan-jangan kau menyukainya?" tantang Lais. Krystal langsung menatap Lais. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" rutuk Krystal. Senyum lebar langsung terukir di bibir Lais. Matanya berbinar dengan raut berseri-seri. "Bantu aku agar bisa dekat dengannya." "Lakukan sendiri." Senyum Lais langsung surut begitu saja. "Aku tidak akan meminta tolong padamu kalau aku belum mencobanya. Tapi kurasa dia tipe laki-laki yang sulit didekati," ujar Lais. Teringat saat dia menghampiri Jaehan di kelasnya. Namun bukannya mendapat sambutan hangat, dia malah diabaikan begitu saja. "Artinya kau harus berusaha keras untuk menarik perhatiannya." Lais mengangguk setuju. "Benar. Kau tau alamat rumahnya, kan? Jadi antar aku ke sana." "Aku tidak tau alamat rumahnya," alibi Krystal. Lais berdecak. "Kalau begitu telpon dia ... ah begini saja, berikan nomor ponselnya padaku." "Aku tak punya." "Baiklah. Biar aku cari sendiri." "Gila," desis Krystal. ******** Krystal benci ini, ketika dia harus melakukan hal yang tidak disukainya, contohnya menuruti rengekan Lais dan mengalah dari ancamannya yang ingin mencari  alamat rumah Jaehan dengan cara apa pun. Krystal menurutinya bukan karena takut Lais akan menemukan alamat laki-laki itu, melainkan Krystal takut jika kejadian serupa kembali menimpa Lais dan ujung-ujungnya dia yang direpotkan. Hanya membutuhkan satu jam, mereka sudah sampai di alamat villa Jaehan. Ekspresi Lais jangan ditanya lagi, gadis itu terus tersenyum sejak tadi, terlebih saat menyadari keindahan tempat tinggal Jaehan. "Sepertinya aku akan meminta nenek untuk membelikanku rumah di kawasan ini," katanya enteng. Di belakangnya ada Krystal yang melangkah malas dengan raut dongkol. Bagaimana dia menghadapi Jaehan nantinya? Di sisi lain, ada Kaezn dan Edgar saling pandang di depan pintu. Edgar menggigit kuku jarinya sambil menunggu persetujuan dari Kaezn, antara membuka pintu atau membiarkannya begitu saja. "Tapi kenapa aku tidak menyesal pernah membawa Krystal ke rumah ini, ya," bisik Edgar. Awalnya dia pikir hanya akal-akalan Jaehan dan Kaezn bahwa ingatan Krystal tidak bisa dihapus, ternyata benar adanya. Setelah membiarkan bell berbunyi lebih dari sepuluh kali, akhirnya Edgar membuka pintu sambil menyambut tamunya dengan senyum tipis. "Ada yang bisa dibantu?" tanya Edgar. Matanya sempat mencari-cari keberadaan Krystal yang tak terlihat. Lais terpaku beberapa saat melihat sosok Edgar. Tersadar, gadis itu langsung tersenyum sambil menggaruk pipinya. "Emm, maaf, apakah ini rumah Jaehan?" tanyanya dengan nada lembut. "Kalau boleh tau, kau siapa?" Lais cepat-cepat mengulurkan tangan. "Perkenalkan, namaku Lais, teman sekelas Jaehan," ucapnya berbohong. "Jaehan tidak di rumah," ucap Kaezn menengahi. Lais menoleh ke sumber suara, bermaksud ingin mengulurkan tangannya, tapi urung kala mendapati raut datar Kaezn serta nada bicaranya yang terkesan kaku dan dingin. "Ahaha, sepertinya aku datang terlalu cepat, ya. Eum, mungkin kalian bisa memberitahuku ke mana dia pergi?" tanya Lais lagi seraya menatap Edgar dan Kaezn bergantian. "Dia pergi kencan," jawab Edgar dan Kaezn bersamaan. Edgar tersenyum tertahan sambil mengacungkan jempol ke arah Kaezn saat Lais menunduk—meremas tangannya. Beginilah cara-cara mereka menghadapi gadis-gadis yang datang untuk menemui Jaehan. "Kalau begitu aku akan menunggunya di dalam," kata Lais sambil tersenyum lebar dan ingin menerobos masuk. Edgar langsung merentangkan tangannya di depan pintu. "Hanya ada kami berdua." "Memangnya kenapa?" tanya Lais. Edgar dan Kaezn saling pandang. "Aku tidak apa-apa menunggu di dalam, aku tidak apa-apa. Kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian," ujar Lais, lalu mendorong Kaezn dan menerobos masuk sambil berdecak kagum. "Haruskah aku melakukannya?" bisik Edgar sambil melirik Lais yang berkeliling di ruang tamu. Kaezn menggeleng. Dia menahan tangan Edgar yang ingin menggunakan sihirnya pada gadis itu. "Kurasa ini bukan urusan kita," ucap Kaezn. Lalu mengikuti Lais yang melangkah masuk lebih dalam. Takut kejadian serupa kembali terulang—saat Krystal masuk ke ruangan bacanya dan mengacaknya. ****** Di tempat lain, tidak jauh dari kediaman Jaehan, ada Krystal yang tengah duduk di bawah pohon tepatnya di atas rerumputan kecil. Sepatunya dia jadikan alas duduk agar bo*kongnya tidak basah karena embun. Entah apa yang tengah dilakukan Lais di dalam sana. Semoga saja gadis itu tidak melakukan hal-hal aneh, pikir Krystal. Gadis itu menekuk lututnya dan menumpu dagunya. Pandangannya mengarah pada kolam kecil yang berjarak lima meter dari tempatnya duduk. Sekeliling kolam itu dihiasi lampu-lampu kecil berwarna keemasan. Cantik. "Dingin," gumam Krystal sambil menggosokkan ke dua telapak tangannya lalu menempelkannya ke pipi. "Kau mau sakit ya?" omel seseorang yang dari belakang sambil memasangkan jasnya ke punggung Krystal. Setelahnya dia duduk di samping Krystal, siku mereka hampir bersentuhan saking dekatnya. "Kau ...." Krystal menoleh ke arah villa, lalu menatapnya. "Kau dari mana?" Laki-laki itu Jaehan. Dia tak langsung menjawab, tangannya terulur memperbaiki jasnya di tubuh Krystal yang hampir melorot. "Jalan-jalan," jawabnya singkat sambil menatap Krystal sejenak. Krystal mengedarkan pandangannya. "Di mana mobilmu? Dari tadi aku tidak mendengar suara mobil." Jaehan berdecak pelan. "Aku kan sudah bilang, aku dari jalan-jalan." Pandangan Krystal langsung mengarah ke jas Jaehan di tubuhnya, lalu memindai laki-laki itu dari atas hingga bawah. "Jalan-jalan dengan jas lengkap?" tanya Krystal sangsi. Jaehan terlihat seperti pekerja kantoran yang baru pulang kerja. Jaehan mengangguk mantap. "Apa salahnya?" Teringat akan tujuannya, Krystal langsung mendorong Jaehan dengan wajah serius. "Cepatlah pulang. Ada Lais menunggumu di sana." Jaehan menggeleng malas sambil menekuk lututnya dan memeluknya. "Segitu bersemangatnya kau ingin menjodohkanku dengan sepupumu?" ejeknya. "Dia hanya ingin mengobrol ... mengucapkan terimakasih, ya seperti itulah." Jaehan menoleh, menatap wajah Krystal dari samping yang hanya diterangi cahaya bulan serta cahaya lampu temaram. "Aku hanya ingin mengobrol dengan gadis yang kusukai," ucapnya santai. Krystal langsung menyipitkan mata sambil menatap Jaehan. "Kau sedang mengungkapkan isi hati, ya?" ucapnya dengan raut geli. Sontak saja Jaehan tertawa geli mendengarnya. "Ternyata kau sangat jeli dengan candaanku, ya." Krystal mendengkus. Tidak lama kemudian dia ikut tertawa kecil sambil melempar batu-batu kecil ke dalam kolam ikan itu. "Krystal ...." "Hm ...." "Apakah akhir-akhir ini kau ada bertemu dengan laki-laki aneh yang mencurigakan?" tanya Jaehan. Krystal mengangguk. "Ada." "Siapa?" Krystal mengulum senyum. "Kau." Jaehan langsung mengumpat, lalu menggeleng dengan senyum tertahan. "Aku sedang serius. Karena ini ada kaitannya dengan pot bunga yang hampir mengenaimu." "Maksudmu, pot bunga itu bukan kecelakaan?" Jaehan mengangguk. "Sebelumnya tidak ada pot bunga di atas pagar itu, tapi hari itu tiba-tiba ada. Menurutmu siapa yang berani menaruh pot bunga di sana? Siapa pun melihatnya pasti berpikir jika itu berbahaya." Krystal memikirkan semua ucapan Jaehan yang sepenuhnya benar. "Jadi, siapa pelakunya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN