Bab 15 - Pancingan

1019 Kata
Usai menutup pintu ruangan Zei, Jaehan langsung melenggang ke kelasnya, sudut bibirnya berkedut tipis menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya sambil bersembunyi di belakang tumbuhan palsu. Sangat mudah bagi Jaehan untuk menghapus ingatannya. Namun, biarlah. Setidaknya dia sedikit berguna untuk menyebar berita-berita tentang diri Jaehan, baik atau tidaknya pasti akan berdampak pada penyamaran Jaehan, tidak masalah, malah Jaehan pikir itu satu dari sekian kesenangan. Tidaka lama kemudian ada Giiz yang berlari bak dikejar satpam sekolah. Gadis itu menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya demi menghampiri sahabatnya. "KRYSTAL!" Krystal yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas tas itu hanya mengangkat tangannya tanpa melihat Giiz. "Jadi gini ah—" "Minum dulu dan atur napasmu," potong Krystal sambil menyodorkan botol minum. Giiz menerimanya dengan senang hati. Beberapa saat dia menarik napas panjang, lalu mengembuskanya perlahan. Setelah dirasa normal, dia pun mengguncang bahu Krystal agar bangun dan menatapnya yang tengah membawa berita penting. "Aku ngantuk," decak Krystal sambil menepis tangan Giiz di kepalanya—memaksa Krystal agar menghadap ke arahnya. "Oke, listen ... barusan aku mau ke ruangan Bu Zei. Tapi tau apa yang aku temukan?" Giiz memulai ceritanya dengan nada menggebu-gebu. "Tidak," jawab Krystal seadanya. "Aku melihat Jaehan di dalam ruangannya Giiz." Krystal langsung menoleh ke arah Giiz tanpa mengangkat kepalanya. Bukan tatapan penasaran yang dia layangkan, melainkan raut malas tanpa minat. "Sudahi saja, ya, Giiz. Simpan bahan gosipmu itu di kepala, cukup untukmu saja." Krystal menguap lebar. "Aku tidak minat," lanjutnya dan kembali memejamkan mata. Karena bukan hal biasa lagi bagi Krystal. Dia pernah melihat hal yang sulit dijelaskan di ruangan gurunya—Bu Zei tengah bersama Jaehan dengan posisi intim. Entahlah, semakin sering dia berurusan dengan Jaehan, maka semakin banyak pula tanda tanya dan kecurigaan yang terlintas di kepala Krystal.  "Kau yakin tidak mau mendengarnya? Yang terjadi di ruangan itu—" "Apa yang terjadi?" potong Krystal sambil menegakkan tubuhnya dan menatap Giiz dengan serius. Dia langsung teringat dengan adegan di ruangan Bu Zei. Takutnya hal itu terulang kembali dan Giiz korban mata selanjutnya. Giiz tersenyum lebar, senang karena gosipnya direspon oleh Krystal. "Mereka membicarakan ...." Giiz sengaja menggantung ucapannya untuk memancing Krystal. "Apa Giiz?" "Mereka membahas masa lalu," lanjut Giiz. Krystal menatap sahabatnya beberapa saat, lalu menghela napas lega, kemudian menelungkupkan kepalanya lagi sambil memejamkan mata. "Oh ayolah Krystal. Ini pembahasan yang sangat menarik," rengek Giiz sambil mengguncang tubuh Krystal. "Aku tidak menemukan hal menarik dari ceritamu, Giiz," kata Krystal lemah, karena kantuk benar-benar menyerangnya. "Oke, akan aku simpulkan ... kau tidak tidur, kan?"  "Heem." "Pertama, Jaehan terdengar berbicara santai dengan Bu Zei. Bahkan dia melempar dokumennya. Kedua, mereka mulai membicarakan sesuatu ... entahlah, aku tidak mendengarnya dengan jelas. Puncaknya itu saat Bu Zei membahas masa lalu, tidak lama kemudian Jaehan keluar dan membanting pintu Bu Zei." Krystal mengerjap pelan. Apakah laki-laki itu memiliki hubungan spesial dengan gurunya?  "Bayangkan Krys. Seorang murid berkencan dengan gurunya sendiri," lanjut Giiz. "Bukan hal biasa lagi Giiz. Tidak jarang ada murid yang berkencan bahkan berpacaran dengan gurunya," ujar Krystal dengan nada lemah, karena fokusnya terbagi dua antara Giiz dan rasa kantuk. "Iya sih." Wajah Giiz sontak berubah murung.  Teringat sesuatu, senyumnya langsung terbit sambil mencolek pipi Krystal yang tengah memejamkan mata. "Tapi yang dia lakukan tadi pagi itu manis banget loh," godanya. Krystal berdecak. Perihal dirinya yang dilindungi Jaehan dari pot jatuh itu kembali menjadi topik hangat alias santapan penghuni MSS.  Kenapa mereka lebih fokus pada tindakan Jaehan dibanding keselamatan diri Krystal serta cara menghindari kejadian serupa? Pikirnya. Namun, tampaknya Krystal semakin sulit untuk menjadi gadis bayangan. Setiap langkahnya terasa diikuti oleh mata-mata tajam yang siap melontarkan komentar. Lalu, apa jadinya jika penghuni MSS tau kalau laki-laki yang mereka puja itu ternyata memiliki hubungan dengan Zei? "Manis dari mananya?" keluh Krystal. "Dia membuatku terus mendapatkan masalah," lanjut Krystal teringat saat ke kantin ada segerombolan siswi menatapnya sinis. Giiz mengedikkan bahu. "Terlepas dia tampan atau tidaknya, kurasa dia baik dan perhatian." Krystal mendengkus. "Ya kau tau sendiri, jika dia memiliki tabiat brengggsek, mau setampan apa pun, bagiku tetap saja brengggsekk." Giiz mendelik. "Lalu bagaimana jika orang yang kau puja itu ternyata brengseekk?" tanya Krystal. Giiz mengangkat bahu. "Namanya akan aku coret dari daftar hidupku." Kantuk yang sedari tadi menyerang Krystal, kini hilang sudah karena mendengar ocehan Giiz.  "Kuharap kau tidak memuja orang yang salah Giiz," ujar Krystal sambil menepuk pundak sahabatnya, kemudian melenggang keluar. ******* "Kau yakin korban-korbannya melupakan semuanya?" tanya Jaehan sambil menikmati cake yang diberi oleh siswi yang sejak tadi bergantian menghampirinya. Kaezn mengangguk sambil menatap tumpukan cake di atas meja. "Makan saja kalau mau," ujar Jaehan. Kaezn menggeleng. Dia tidak menyukai cake karena terganggu dengan rasa manisnya. "Kau yakin?" Kaezn mengerjap. "Iya. Kau tau itu, aku tidak suka makanan manis." Jaehan menggeleng sambil menahap satu potongan besar. "Kau yakin mereka benar-benar lupa dengan interaksinya bersama Yunan?" Kaezn mengangguk yakin. "Yunan bergerak cerdas. Dia tidak sembarang mendekati target, begitu pun saat selesai menghisap energinya, dia langsung menghapus ingatan korbannya dan tak pernah meninggalkan jejak." Jaehan mengangguk pertanda mengerti. Setidaknya buruannya yang satu itu tidak merepotkan. "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," kata Kaezn dengan ekspresi kaku khasnya. "Langsung saja," ujar Jaehan seraya membuka satu bungkus cake lagi. "Perlakuanmu pada Krystal tadi pagi menimbulkan huru-hara. Gadis itu terkucilkan, banyak yang menjauhinya dan menganggapnya ancaman." Jaehan mendengkus samar. "Salahkah aku memiliki wajah tampan?" Kaezn menatap Jaehan, lalu menggeleng tak tau. Menurutnya bukan di sana letak salahnya. "Meski dianggap sebagai ancaman, Krystal tetap yang menjadi korban dan keselamatannya terancam. Di sini, kau tidak bisa melindungi dia terus-menerus, maka kusarankan kau menjaga jarak dengannya," terang Kaezn panjang lebar. Kekehan meluncur di bibir Jaehan. "Bagaimana aku bisa menjaga jarak dengannya jika dia itu pancingan?" Kaezn mengerjap tak mengerti. "Gumiho aura gelap itu mengincar Krystal, hampir setiap saat dia mengamatinya." Jaehan menaruh sendok, kemudian menatap Kaezn dengan serius. "Gumiho itu target utamaku di sini. Secara tak langsung Krystal yang akan membawaku untuk bertemu dengan Gumiho itu dari persembunyiannya." "Apakah aman untukmu?" tanya Kaezn. "Tentu. Tapi tidak berlaku untuk Krystal. Nyawanya dipertaruhkan," sahut Jaehan santai sambil mengunyah. "Bagaimana jika dia terluka? Bukankah masa hukumanmu bisa ditambah bahkan diperpanjang?" "Akan kupastikan dia baik-baik saja." Jaehan menggenggam sendoknya erat. "Bagaimana pun caranya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN