Bab 14 - Melindungi

1547 Kata
Jaehan melangkah santai usai memarkir mobilnya. Selama sekolah alias menyamar di MSS, baru kali ini Jaehan datang lebih pagi. Saking paginya, dia bahkan belum memasang dasinya yang hanya menggantung di leher. Alasannya hanya satu, Jaehan tau jika Gumiho—yang belum dia ketahui asal-usulnya—tengah mengincar seseorang lagi.  Benar saja, baru saja dia melangkah di koridor sekolah yang menuju kelasnya, Jaehan sudah merasakan aura keberadaan Gumiho itu. Auranya sangat gelap, ada emosi dan amarah yang meluap. "Kenapa dia sangat mengincar gadis itu?" keluh Jaehan sambil berkacak pinggang dengan mata tertuju pada lantai. Jaehan menatap sekeliling, murid-murid mulai berdatangan meski belum ramai. Namun jika dia melesat bak angin, tidak menutup kemungkinan dia akan ketahuan. Maka Jaehan berpura-pura berjongkok sambil memperbaiki tali sepatunya, dirasa aman, dia lantas menyentuh lantai menggunakan telapak kanannya sambil mengatur napasnya yang menggebu saat aura gelap itu semakin terasa. Sedetik kemudian semua benda maupun manusia berhenti begitu saja seperti halnya patung. Jaehan langsung melesat ke tempat Krystal berada. Gadis itu tengah berdiri bak patung, sedangkan sebuah pot bunga berbahan semen sudah melayang tepat di atas kepalanya. Jika saja Jaehan tak menghentikan waktu, pasti pot itu telah menimpa kepala Krystal. Tangan Jaehan langsung menarik tubuh Krystal menepi sambil membawa gadis itu ke pelukannya. Sedangkan di lantai atas tepatnya di pembatas koridor, ada seorang laki-laki yang menatap semua itu dengan raut datar, lalu melesat pergi bersamaan dengan normalnya keadaan. Jaehan dapat merasakan tubuh Krystal yang melemas di pelukannya, tangan perempuan itu mencengkeram kemeja Jaehan dengan kepala tertunduk di depan da*da Jaehan. "Tidak apa-apa," bisik Jaehan sambil menepuk-nepuk punggung Krystal. Matanya tertuju ke pembatas lantai dua, tempat pot bunga itu disusun di pinggirannya, yang kini hancur tak tersisa di dekat kaki Jaehan. Gadis di dekapan Jaehan itu mendongak, lalu menatap Jaehan dengan raut terkejut. "Jaehan?" Merasa namanya disebut, Jaehan pun menurunkan pandangannya yang langsung bertemu dengan iris bening Krystal. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis, lalu berujar, "Hai, Nona Pencuri." "Siapa, sih, yang menjatuhkan pot bunga di atas?" geram Krystal sambil mendorong tubuh Jaehan. Mengabaikan sapaan Jaehan yang mengingatkannya dengan insiden di rumah laki-laki itu. Krystal mendongak, di mana banyak siswa-siswi yang menyimak kejadian barusan. Ada yang terkejut sekaligus lega karena potnya tak mengenai Krystal, ada pula yang berprilaku tidak peduli dan menyalahkan Krystal yang menurutnya tidak berhati-hati. Di sisi lain, kata sanjungan semakin dilayangkan untuk Jaehan. Menurut mereka tindakan Jaehan sangatlah seksi dan gentleman.  "Sejak kapan pembatas itu ditempati pot-pot bunga?" tanya Krystal sambil menatap Jaehan. Sedangkan yang ditatap mengedikkan bahu tak tau. "Aku akan menyarankan agar pot-pot bunga itu dipindahkan," kata Jaehan. Lalu melangkah ke arah siswi yang tak jauh dari mereka. Namun laki-laki itu kembali menemui Krystal sambil memegang bahu gadis itu. Krystal mengerjap bingung sambil menatap tangan Jaehan di bahunya, lalu beralih menatap laki-laki itu. "Sepulang sekolah jangan kemana-mana. Tunggu aku." Meski bingung, Krystal tetap mengangguk. Menciptakan senyum simpul di bibir Jaehan. "Jangan pergi ke tempat sepi sendirian, apa lagi di belakang sekolah." Krystal kembali mengangguk meski ada keraguan.  "Sekarang langsung ke kelas," ucap Jaehan. Tangannya terangkat menepuk-nepuk puncak kepala Krystal. Bagaikan dihipnotis, Krystal kembali mengangguk dengan raut bingung yang kental. "Good girl," kata Jaehan sambil tersenyum. Kemudian meninggalkan Krystal dengan segala keheranannya. "Dia kenapa?" gumam Krystal sambil memegang kepalanya yang ditepuk-tepuk Jaehan. "Hah, bodoh amatlah." Krystal mengedikkan bahu tak peduli lalu memutar tubuhnya menuju kelas. Namun langkahnya langsung terhenti saat sekumpulan gadis tengah bergeming menatapnya, bahkan ada yang terang-terangan menatapnya terkejut dengan bibir terbuka. Tampaknya Krystal dalam masalah dan itu gara-gara tingkah aneh Jaehan. ****** Jaehan melepas dua kancing teratas bajunya  sambil menggulung dasinya dan membuangnya begitu saja. Dia berbelok di samping tangga yang mengarah ke belakang sekolah. Sesuai aura yang dirasakan Jaehan, memang ada yang salah di belakang sekolah saat dia menemukan seorang gadis tak berdaya bersandar di dinding. Jaehan memegang lengan gadis itu, kemudian menghela napas panjang. Energinya terhisap habis yang dipastikan karena dihisap oleh seseorang. "Keluar!" titah Jaehan dengan ekspresi menajam. Tak ada jawaban. Hanya semilir angin dan sayup-sayup suara murid di dalam sekolah. "Keluar atau aku yang menarikmu paksa," peringat Jaehan sambil duduk di sebuah kursi bekas. Masih tak ad jawaban. "Sejak kapan kau mencari mangsa di sekolah ini?" tanya Jaehan sambil menghidupkan rokok di sela bibirnya, lalu menghisapnya penuh nikmat. "Belum lama ini," cicit seseorang yang bersembunyi di antara tumpukan kursi bekas. "Sejak kapan?" ulang Jaehan dengan nada rendah. Namun sarat akan penekanan. "Sejak beberapa bulan yang lalu... ya, em, sekitar dua bulan," ujar laki-laki itu seraya menunduk dengan ke dua tangan saling bertaut, kentara tengah menahan takut. Jaehan mengangguk mengerti. "Duduk!" titah Jaehan sambil menarik satu kursi kosong di depannya. Laki-laki yang berperawakan tinggi itu menatap Jaehan dengan raut gugup, melihat keseriusan di wajah Jaehan, lantas membuatnya langsung tergesa-gesa duduk di sana sambil menatap sepatunya. "Sudah berapa lama kau berkeliaran di dunia manusia?" Jaehan berkata sambil memajukan tubuh, tangannya terulur menyentuh bahu laki-laki itu lalu meremasnya. "Aku lupa ... rasanya sudah lama sekali," jawab laki-laki itu sambil meringis menahan rasa nyeri dan panas di bahunya. Jaehan kembali mengangguk sambil menginjak rokoknya tak tersisa. "Sejak mencari mangsa di sini, sudah berapa banyak Gumiho berkeliaran di sekolah ini?" tanya Jaehan sambil menatap name tag laki-laki itu sekilas. Yunan, namanya. Laki-laki bernama Yunan itu tampak berpikir dan melirik Jaehan takut-takut. "Beberapa. Guru bernama Zei salah satunya." "Selain itu?" Yunan menggeleng. "Aku tidak tau. Aku dapat merasakan energi dan aura mereka, tapi aku tidak pernah bertemu langsung atau sekadar melihatnya." Yunan menggaruk kepalanya. "Energinya terlalu kuat, sama sepertimu. Aku kesulitan untuk menemukannya di antara manusia, kecuali jika energinya sudah melemah sepert Zei." Jaehan menyandarkan tubuhnya dengan kening mengerut. Bukan Yunan pelaku jatuhnya pot bunga tadi. Ada Gumiho lain berkeliaran di sini, yang pastinya bukan Gumiho tingkatan biasa. "Kau yang dikabarkan tengah dekat dengan gadis hujan itu, kan?" celetuk Yunan. Wajahnya tak sepanik tadi. "Gadis hujan?" Yunan mengangguk. "Aku beberapa kali melihatnya tengah bersamamu. Sejak awal kedatanganmu di sekolah ini aku memang sudah merasakan energi tak biasa darimu ...." Yunan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. "Tapi aku tidak menyangka akan bertemu Gumiho Hunter. Maafkan aku," lanjutnya sambil menunduk. "Apa maksudmu dengan Gadis Hujan?" tanya Jaehan. Mengabaikan ucapan Yunan yang menurutnya tidak penting. "Krystal. Dia gadis hujan." Yunan menerawang jauh, teringat saat dia berencana untuk mendekati Krystal karena merasakan energi besar di dalam tubuhnya. Akan tetapi urung saat Yunan menemukan Krystal di sebuah taman, gadis itu mengomel-ngomel, lalu menangis tersedu-sedu, disusul hujan menyertainya. "Ekhem ... hujan langsung turun jika dia menangis. Aku bicara begini tentu dengan bukti. Lebih dari dua kali aku memergokinya menangis, bersamaan dengan turunnya hujan." Yunan menjelaskan. Jaehan terhenyak dengan praduga yang semakin kuat. Dia sudah menyadari hal ini saat melihat Krystal menangis usai bertemu dengan ayah dan preman-preman yang mengancamnya beberapa waktu lalu. Tidak hanya itu, Jaehan beberapa kali mencoba menghapus ingatan gadi itu dan hasilnya selalu sama. Nihil. "Ingatannya juga tak bisa dihapus," lanjut Yunan. Jaehan langsung menatap Yunan. "Kurasa kau tau konsekuensinya jika berani mendekati dan menyerap energinya," kata Jaehan mengingatkan. Yunan langsung mengangguk cepat. "Tentu. Aku berjanji." Jaehan berdeham, lalu berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Berjanji pulalah untuk menjalani hukuman dengan baik." "Apa maksudmu?" Jaehan menunjuk ke arah belakang. Yunan langsung menoleh ke belakang, di sana ada Kaezn yang berdiri dengan tenang sambil memberi kode lewat anggukan pada Jaehan. "Kenapa kau melakukan ini?" teriak Yunan. "Bukankah kita sama? Sama-sama penuh muslihat, sama-sama memiliki dahaga dan mereka adalah sumbernya!"  Jaehan melenggang begitu saja sambil menghidupkan rokok lagi.  Jaehan tau pasti akan hal itu. Bahkan dia sama dengan buruannya. Sama-sama pendosa. ****** "Kau mengejutkanku!" sembur Zei saat Jaehan tiba-tiba duduk di depannya sambil menaruh kakinya ke atas meja. Jaehan tak menjawab. Satu tangannya sibuk membuka dokumen-dokumen di atas meja Zei hingga tak beraturan membuat pemiliknya memijit pelipis. "Keluar Jaehan! Jika kedatanganmu hanya untuk mengacak-acak pekerjaanku!" Jaehan menatap Zei dengan senyum tertahan, lalu melempar satu dokumen secara asal hingga empunya mengumpat kesal. "Ajukan sesuatu untukku." Zei langsung mengalihkan fokusnya dari laptop. "Sesuatu? Apa maksudmu?" "Pinta kepada pihak berwenang sekolah ini agar memasang cctv di belakang sekolah." Zei terkekeh mengejek. "Tidak ada gunanya." "Banyak kejahatan terjadi di sana," ujar Jaehan. "Apa urusannya denganku? Tugasku di sini hanya untuk bersenang-senang. Oh ayolah Jaehan, kau lebih mampu melakukannya. Kau pasti bisa memasangnya sendiri." "Aku tidak sudi membuang waktu berhargaku hanya untuk mengawasi sekolah ini ... dan apa katamu? memasang cctv? Yang benar saja!"  "Dan kau pun tau, cctv tidak berguna sama sekali untuk makhluk seperti kita." Zei menarik napas panjang sejenak. "Sangat mudah untuk menghanguskan benda seperti itu, Jaehan." "Targetnya bukan mereka." Mata Zei menyipit, menatap Jaehan curiga. "Kecuali kau melakukan ini untuk seseorang," ucapnya sinis. Jaehan bergeming. "Sangat tidak penting," decak Zei. "Penting bagiku," ujar Jaehan. Zei langsung menatapnya dengan raut tak percaya. "Dia manusia biasa. Dia tidak istimewa. Jika itu yang ingin kau ketahui," tegas Zei. Jaehan mengedikkan bahu. Kemudian mendorong kursi tempatnya duduk, lalu melangkah menuju pintu. "Aku harap kau tidak mengulang kesalahanmu di masa lalu, Jaehan," kata Zei sembari menatap punggung Jaehan. Pegangan Jaehan di knop pintu mengerat, emosi yang sudah lama dia tahan-tahan, naik begitu saja. Jika tidak menahannya lebih kuat, dia bisa saja menghanguskan ruangan ini.  Kenapa seseorang kerap kali mengungkit masa lalu? Apakah ungkapan belajar dari dari masa lalu belum cukup? Sehingga yang merasakannya harus terus-menerus dihantui oleh kenangan itu? "Tetap di batas wajarmu, Zei!" kata Jaehan dengan nada dingin, lalu membanting pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN