Bab 13 - Nona Pencuri

1634 Kata
Kritik dan sarannya jangan lupa ya. Karena pada dasarnya di sini aku pun masih dalam proses belajar juga, tidak luput dari kesalahan. Aku tidak menutup mata dari kritik/saran untuk novel-novelku, tentunya menggunakan bahasa yg sopan, ya. Trimakasih. **** Atmosfer di ruangan itu berubah hening. Empat orang di sana sama-sama bungkam, tak membuka suara saat Jaehan melangkah mendekat Krystal lalu duduk di sampingnya. Laki-laki itu juga menuangkan wine untuk Krystal, mengabaikan wajah panik Edgar, serta raut terganggu Kaezn. Sedangkan Krystal menatap wine itu dengan mata berbinar. Sudah lama dia ingin merasakannya cairan beralkohol itu, namun selalu ditahan dan dilarang oleh ibunya dengan alasan usia Krystal belum mencukupi. Kurang cukup apa? Pikir Krystal. Usianya sudah memasuki delapan belas tahun. Di usia remaja yang berproses menjadi dewasa itu membuat Krystal ingin mencoba hal-hal baru, banyak hal yang membuatnya penasaran dan ingin mencobanya, salah satunya minuman alkohol. "Selamat datang di rumahku." Jaehan tersenyum tipis sambil menaruh tangannya di sandaran sofa seraya melipat kakinya usai menuangkan wine. Di sudut lain, ada Kaezn dan Edgar saling pandang, kemudian menatap Krystal dan Jaehan bergantian. "Kakakmu?" tanya Krystal sambil menunjuk Kaezn dan Edgar. Jaehan sontak tertawa mendengarnya, setelahnya diganti senyum miring dan mengejek. "Mereka temanku." Krystal mengangguk saja. Pasalnya dia pun tidak pernah menyangka jika pemilik rumah ini Jaehan. Untuk bertemu dengan laki-laki itu pun tak pernah terlintas di kepala Krystal usai memikirkan segala kemungkinan mengenai tindakan Jaehan yang mencurigakan. "Ada yang ingin aku tanyakan," kata Krystal sambil memainkan pinggir gelas berisi wine itu. "Katakan." "Sebenarnya Lais tidak diculik, kan?"  Jaehan menatap gadis itu sambil meneguk winenya. "Maksudmu?" tanyanya. Krystal mengedikkan bahu. "Sebelum Lais hilang dan tak bisa dihubungi, dia sering bercerita tentang seseorang yang katanya kekasihnya dan menyebutkan alamat rumah laki-laki itu." Krystal memberi jeda, menimbang-nimbang ucapan selanjutnya. Krystal masih ingat saat Lais datang ke rumahnya dan bercerita tentang segala sesuatu tentang kekasihnya yang penuh kesempurnaan, Lais juga menyebutkan alamat rumah mewah, kata Lais itu rumah kekasihnya.  "Lalu?" timpal Jaehan. "Aku mencoba mencari tau pemilik rumah itu, tapi informasi yang kudapat bertentangan dengan jawaban Lais sebelum hilang." Krystal melanjutkan. Jaehan mendengarkan dengan baik. "Rumah itu sudah kosong selama setahun dikarenakan pemiliknya meninggal. Hingga saat ini tidak ada yang menempatinya." Sudut bibir Jaehan berkedut samar. Dia telah mengetahui hal ini, tapi dia tidak menyangka jika Krystal akan berpikir untuk mencari tau lebih jauh. "Hanya itu?" tantang Jaehan dengan nada rendah. Krystal menggeleng. "Lais tidak ingat apa pun tentang laki-laki itu. Dia hanya mengingat jika dirinya berakhir buruk di rumah itu, selain itu tidak ada." "Kesimpulannya kau mencurigaiku," dengkus Jaehan sambil meneguk winenya hingga kandas.  Krystal mengangguk mantap. "Kau patut dicurigai karena berada di sana dan tengah menggendong Lais."  "Tuduhanmu kurang kuat." "Jika aku tidak cepat sampai, kurasa sepupuku tinggal nama," lanjutnya tanpa nada keraguan. Jaehan terkekeh kecil, tangannya bergerak menyisir rambutnya yang acak-acakan. Tidak terlalu peduli dengan praduga Krystal. "Ada lagi?" Krystal mengedikkan bahu, tangannya terulur mengangkat gelas berisi wine itu sambil menggoyang-goyangkannya.  "Tidak menutup kemungkinan wine ini pun beracun." Jaehan kembali terkekeh geli untuk ke dua kalinya. Tanpa banyak bicara, dia merebut gelas itu dan meneguk isinya sampai tak tersisa sambil menatap Krystal dengan pandangan dalam. Krystal berdeham pelan saat menyadari tatapan Jaehan. Alih-alih menanggapi, dia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Edgar dan Kaezn. "Mereka ada di belakang," kata Jaehan sambil memejamkan mata dengan punggung bersandar. "Serius kau hanya tinggal bertiga di villa sebesar ini?" tanya Krystal. Jaehan mengangguk. "Iya, tapi setiap malam kami membawa seorang wanita." Krystal langsung menoleh sambil mengernyit aneh. "Kurasa kau tak perlu mengatakannya." Jaehan membuka mata sambil menoleh ke arah Krystal. Senyum tipis terbit di bibirnya. "Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sedang kau pikirkan." Krystal menghela napas panjang, tanpa meminta izin, dia melangkah ke arah belakang meninggalkan Jaehan yang menatap punggungnya dengan raut serius. Krystal berdecak kagum saat melihat sebuah kolam renang di belakang villa ini. Cahaya rembulan terpantul jelas di airnya yang jernih. Di sisi lain ada taman kecil yang lagi-lagi dipenuhi mawar hitam. Kaki Krystal tergerak untuk melangkah ke arah taman itu, namun secara tiba-tiba angin berembus kencang disusul petir, tidak lama kemudian hujan deras mengguyur. "Sebenarnya aku sedang apa di tempat ini?" gumam Krystal sambil duduk di sebuah kursi kayu. Pandangannya tertuju pada bunga-bunga mawar hitam itu, ada keinginan di hatinya untuk menyentuh mawar tersebut. Ketika berdiam diri beberapa saat, Krystal teringat akan sesuatu. Bukankah ini saatnya dia mencari tau mengenai Jaehan? Barangkali ada petunjuk yang dapat menjawab kecurigaan Krystal tentangnya. "Dia memang pantas dicurigai," gumam Krystal sambil masuk ke dalam. Bersamaan dengan redanya hujan. Krystal masuk ke sebuah ruangan yang pantas disebut ruang kerja sekaligus perpustakaan. Ada banyak lemari kayu, semuanya dipenuhi buku yang tersusun rapi. Di sudut kanan dekat jendela, terdapat satu meja dan satu kursi, di atasnya terdapat laptop. Tanpa membuang-buang waktu, Krystal langsung mengecek laci meja itu dan membuka berkas-berkas. Sepuluh menit terlewati, Krystal tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Gadis itu lantas memegang dahinya yang berkeringat sambil mengedarkan pandangannya.  Hingga tatapannya tertuju pada kotak hitam berbahan kayu yang terletak di lantai. Krystal mendekati kotak itu, tangannya terulur untuk menyentuh penutupnya. Namun sebelum dia berhasil, sebuah tangan menarik bahunya dari belakang, lalu mendorong tubuhnya ke lemari. Bola mata Krystal membola sempurna, terlebih saat ke dua tangannya ditahan di atas kepala. "Kau ....!" "Menemukan yang kau cari?" tanya Jaehan, orang yang mengunci tangan Krystal dan mengurung tubuhnya. Krystal memejamkan mata sejenak sambil mengatur napasnya. Kemudian membalas tatapan Jaehan yang secara tak langsung mengatakan 'kena kau'.  "Kau terlalu dekat," kata Krystal sambil menatap tubuhnya yang hampir menempel dengan da*da Jaehan. "Bukankah ini posisi yang menyenangkan?" ucap Jaehan sambil menyeringai lebar, lalu terkekeh saat Krystal menggeram kesal. Jaehan mengangguk mengerti sambil melepas kungkungannya. Di depannya, tanpa sadar Krystal mengembuskan napas lega dan duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Sedangkan Jaehan melangkah kecil sambil menatap setiap sudut ruangan itu dengan ke dua tangan masuk ke saku celana. "Terakhir kali aku masuk di ruangan ini setahun yang lalu," ucapnya. Lalu menoleh ke arah Krystal yang diam saja. "Kau tidak akan menemukan sesuatu yang berharga di ruangan ini, selain buku. Lain kali kau harus masuk ke kamarku, ada banyak barang berharga di sana," ucapnya dengan mata menyipit sambil tersenyum simpul. "Aku bukan pencuri!" geram Krystal. Jaehan ber-oh saja. "Jadi membongkar setiap laci di rumah orang itu sebuah usaha menunaikan kebaikan, ya?" sarkasnya. "Satu hal yang perlu kau tau, aku tidak bermaksud mencuri," kata Krystal dengan mata terpejam, menahan kesal bercampur malu. Jaehan mengangguk dengan ekspresi santai.  "Laptop di meja itu bernilai cukup mah—" "Harus berapa kali aku bilang kalau aku bukan pencuri!" pekik Krystal, rasa kesal dan malunya terasa membakar dirinya sendiri.  "Aku tidak bermaksud menyebutmu pencuri," balas Jaehan. "Kecuali kau merasa demikian," lanjutnya dan kembali memutari ruangan itu. "Aku minta maaf," ucap Krystal dengan kepala tertunduk. Jaehan menoleh, mengerjap beberapa saat. Lalu menghela napas pelan. Langkahnya membawanya ke hadapan Krystal. "Sekarang kita impas." Krystal mendongak. "Permintaan maafmu diterima ...." Jaehan memberi jeda sambil mengulum senyum, yang langsung membuat Krystal berpikir yang tidak-tidak. " .... Nona Pencuri," lanjut Jaehan dengan senyum merekah. Sedangkan Krystal melemas di tempatnya. Inikah karma? ****** Hari ini Krystal berangkat lebih awal. Saat dia menginjakkan kaki di MSS pun baru beberapa siswa yang datang, itu pun mereka langsung ke kantin terlebih dahulu. Berbeda dengannya yang memiliki jadwal piket pagi ini. Mengenai kejadian semalam di rumah Jaehan, akhirnya Krystal memutuskan untuk menghindari laki-laki itu. Entahlah. Meskipun Jaehan yang mengantarnya pulang, tapi tetap saja Krystal masih kesal dan malu. Lebih tepatnya kesal dengan dirinya sendiri meski Krystal telah berlaku biasa, begitu pun dengan Jaehan. "Krystal!" Tanpa menoleh pun, Krystal tau pemilik suara itu. "Aku ada berita baru," kata Giiz sambil merangkul Krystal. "Sekarang tentang apa lagi?" "Ini tidak ada kaitannya dengan sekolah kita, sih." "Oke, jadi intinya tidak penting." Krystal melirik arlojinya. "Aku ke kelas duluan." "Kau yakin tidak mau tau?" pancing Giiz sambil tersenyum culas. Krystal berdecak pelan sambil menggaruk pipinya. "Berita apa?" Giiz tersenyum penuh kemenangan, sedetik kemudian raut wajahnya berubah serius. "Kau kenal kakakku yang kerja di kantor kepolisian, kan?" Krystal mengangguk. "Akhir-akhir ini banyak pelaku kriminal yang datang ke kantor—" "Bukannya itu hal biasa ya?" potong Krystal. Giiz menggeleng sambil berdecak. "Dengarkan dulu, Krys. Jadi para pelaku kriminal itu secara sukarela menyerahkan diri mereka dan melaporkan semua kejahatan yang mereka lakukan." Krystal mengangguk mengerti. "Bagus dong." Giiz kembali berdecak dan memukul lengan sahabatnya. "Ayolah Krys. Jaman sekarang tidak ada kriminal yang secara sukarela mengantar diri mereka ke dalam penjara." "Kau ada benarnya." Krystal mengetuk-ngetuk dagunya, tampak tengah memikirkan sesuatu. "Tapi bisa saja, kan, mereka telah diancam? Atau bisa saja ini perbuatan orang-orang yang ingin lari dari kesalahan, kamu pasti paham maksudku." Giiz kembali menggeleng. "Kasus yang mereka sebutkan itu sesuai, Krys. Bahkan ada beberapa orang yang tengah menjadi buronan, lalu menyerahkan diri dan menceritakan tindakan kriminal mereka tanpa diminta." "Kalau begitu, bisa saja mereka lelah bersembunyi atau barangkali hukuman mereka diberi keringanan jika mengaku secara sukarela." Giiz meringis. "Ada benarnya, sih." Krystal mengulum senyum melihat temannya tengah menggaruk kepala, jelas bingung dengan berita yang dia dapat. "Tapi Krys, saat ditanya alasan kenapa mereka rela menyerahkan diri, rata-rata alasan mereka sama." Giiz mengerutkan kening dengan ekspresi hiperbola. "Ingin menembus dosa," lanjut Giiz, menirukan ucapan kakaknya. "Kurasa itu hal bagus," timpal Krystal. "Sekarang aku harus ke kelas," lanjutnya. Saat melangkah menuju kelasnya di lantai dua, lagi-lagi Krystal merasa ada yang mengamatinya. Namun saat dia menoleh dan mencari pelakunya, Krystal tak menemukan hal mencurigakan. Hanya ada beberapa siswa-siswi yang melintas, itu pun terlihat tidak peduli dengan keberadaan Krystal. "Aurora." Krystal langsung menoleh ke sumber suara. Tapi sesuatu yang keras menariknya dan mendekapnya. Belum sempat Krystal menyadari apa yang sedang terjadi, dia kembali dikejutkan dengan suara pecahan. Tubuh Krystal melemas dengan tangan gemetaran. Untungnya—yang entah siapa— memegang tubuh Krystal dan menggenggam tangannya, sedang punggungnya ditepuk lembut. "Tidak apa-apa," ucap orang itu, membuat Krystal langsung mendongak. "Jaehan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN