Bab 26 - Kesalahpahaman

2012 Kata
"Jangan sampai kejadian tadi diketahui oleh nenek dan ibumu!" ancam Lais sambil menggerakkan tangannya di depan bibir mengisyaratkan tutup mulut. "Aishhh! Nenek-nenek lampir itu berani sekali merundungku!" geram Lais sambil meninggalkan Krystal yang tengah bersidekap d**a dan menatap kepergiannya dengan keinginan besar untuk mengadukan kejadian tadi. Entah sudah berapa lama Krystal meninggalkan kelasnya karena mengurus Lais. Sejenak dia melirik arlojinya sambil menghela napas lelah. Sepertinya dia sudah telat hampir satu jam. Hal ini membuat Krystal berpikir untuk meninggalkan mata pelajaran yang sekarang sedang berlangsung dan menunggu kelas selanjutnya saja. Krystal bukan tipikal siswi yang gemar bolos karena dia pun tau hal itu sama sekali tidak baik. Hanya saja ada kalanya di waktu tertentu yang mau tidak mau membuatnya harus meninggalkan kelas, seperti saat ini. Mengingat jika belakang sekolah bukan pilihan yang tepat karena keberadaan cctv, Krystal pun melangkah ke tangga darurat yang menuju lantai paling atas, yaitu roof top sekolah. Saat telah sampai, Krystal tersenyum tipis saat cuaca tampak mendung, nyaris dingin karena embusan angin yang cukup kencang menandakan akan turun hujan. Akan tetapi, baru saja Krystal ingin pergi ke pinggir roof top, dia melihat keberadaan seorang perempuan di sana. Dia tengah duduk dengan alas kardus seadanya. Asap rokok terlihat mengepul di sekitar perempuan itu. Krystal mengerjap beberapa saat. Perempuan itu mirip dengan seseorang. Bu Zei. Dia memang Bu Zei. Akhirnya Krystal ingin mengurungkan niatnya. Dia ingin melangkah turun dan mencari tempat tenang lainnya. "Krystal ...." Krystal langsung menoleh mendengar namanya disebut. "Ibu memanggil saya?" Bu Zei menoleh sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. Mengisyaratkan agar Krystal duduk di sana. Terasa aneh dan canggung. Karena Krystal bukan tipe siswi yang dekat dan mudah akrab dengan gurunya sendiri. Apa lagi dia pernah memergoki gurunya ini tengah bersama Jaehan dengan posisi yang intim. Meski sedikit ragu-ragu, Krystal tetap duduk di samping Bu Zei. Sebelumnya dia melepas sepatunya terlebih dahulu dan duduk dengan kaki menyilang. Di antara jari tengah dan telunjuk gurunya ini terselip sebuah rokok. Sesekali dia menghisapnya dan mengembuskanya perlahan. "Mau mencoba?" tawar Bu Zei sambil menyodorkan sebungkus rokoknya. Krystal menatap bungkusan itu lamat-lamat, lalu menggeleng. Tak disangka-sangka Bu Zei terkekeh. "Kenapa?" "Tidak tertarik, Bu." "Tidak ingin mencobanya?" Krystal kembali menggeleng. "Jika masih bisa menolak, saya akan terus menolak rokok dalam hidup saya, Bu." Bu Zei menatap Krystal beberapa saat, lalu mengangguk mengerti. "Saya suka prinsip kamu. Lagi pula saya tidak sekejam itu menawarkan rokok pada siswi saya sendiri, apa lagi kau ini masih di bawah umur." Jadi yang tadi itu hanya basa-basi? Pikir Krystal. "Sekali kau merasakannya, kau akan terus ingin mengecapnya," kata Bu Zei sambil mematahkan rokok yang masih tinggal setengah itu. Sadar jika Krystal terganggu dengan asap rokoknya. "Kenapa Ibu merokok?" Bu Zei mengedikkan bahu. "Hanya ingin." Hening menyelimuti mereka. Krystal pun tak berniat mencari topik pembicaraan. Karena duduknya dia di sini pun sudah cukup aneh. Mengingat jika dirinya dan Zei hanya sebatas siswi dan guru. Mereka tidak pernah berinteraksi di luar sekolah. Namun, bagaimana pun juga, Krystal mengunjung tinggi rasa sopannya dengan sang guru. Tidak lucu rasanya jika dia tak menerima tawaran Bu Zei agar duduk di sampingnya. "Jaehan tidak sebaik itu." Krystal langsung menoleh. Krystal akui jika Bu Zei sangat cantik. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi dengan bentuk tubuh yang diidam-idamkan banyak wanita. Namun terlepas dari itu semua, kenapa gurunya ini tiba-tiba membahas Jaehan? "Kami sudah lama saling kenal. Aku tau semua sisi gelap-terang anak itu." Cukup lucu rasanya saat Zei menganalogikan Jaehan dengan kata anak. Karena bagaimana pun juga, Jaehan jauh lebih tua darinya. Dia hanya Gumiho kecil bagi Jaehan. "Kami hanya berteman. Kami tidak sedekat itu Bu," kata Krystal. Berpikir jika ucapan Zei merujuk pada kejadian di ruangannya tempo lalu saat Krystal memergoki mereka. "Kuharap di sini kau melihatku sebagai teman wanitamu, bukan sebagai guru," kata Zei. Krystal bergeming. "Jangan terlalu dekat dengannya, Krys. Aku tidak bermaksud menjelekkan dia ... di sini kita berbicara tentang kau, aku, dan dia, bukan sebagai guru dan murid. Jaehan menyukaimu, tapi dia bukan laki-laki yang cukup baik untukmu," jelas Bu Zei. Bohong jika Krystal tidak terkejut mendengarnya. Jaehan menyukainya? Yang benar saja. Mereka jarang bertemu bahkan berinteraksi. Kalau pun bertemu, interaksi mereka selalu diselingi kesalahan pahaman. Terlebih Krystal masih menaruh curiga pada Jaehan. "Sebenarnya siapa Jaehan?" tanya Krystal. Bu Zei mengerjap, tak menyangka jika pertanyaan ambigu itu keluar dari bibir Krystal. "Dia sebenarnya siapa?" ulang Krystal. Zei mengulas senyum paksa. Pantas saja jika Jaehan terus mengawasi Krystal dan menjadikan Krystal sebagai pancingannya. Gadis ini memiliki banyak tanda tanya di kepalanya, hal ini menarik perhatian Jaehan yang tidak menyukai gadis penurut dan menerima semuanya tanpa tanya. "Terkadang aku berpikir dia bukan manusia." Krystal mengangkat bahu santai. Seolah yang diucapkannya tidak memiliki pengaruh bagi Zei. Krystal menoleh, membalas tatapan Bu Zei dengan raut bersahabat. "Ibu tenang saja. Tidak semudah itu bagiku untuk masuk dalam perangkap laki-laki b******k. Karena sampai detik ini, aku masih berpikir jika dia kriminal." "Jaehan tau kau berpikir seperti itu?" Krystal mengangguk. "Dia tau dengan jelas." Bu Zei terdiam, tengah memikirkan sesuatu. Sudah sejauh mana Jaehan mengenal gadis ini? "Aku selalu penasaran dengan dia ... maksudku, sebenarnya dia siapa?" Krystal menoleh. "Dia penuh dengan teka-teki." Bu Zei tersenyum kecut. Mereka sama saja. Sama-sama saling ingin tau. Tidak taukah Krystal jika Jaehan selalu mengamatinya di setiap kesempatan? Cctv di ruangannya pun menjadi contoh. Secara tak langsung Jaehan menyuruh Zei agar mengawasi Krystal. "Ibu tenang saja. Aku tidak menyukainya atau menaruh rasa khusus untuknya." Ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Krystal. Dia mengulum senyum saat Bu Zei menatapnya seolah Krystal tengah mengatakan 'jangan cemburu Bu'. "Jaehan orang baik ...." Bu Zei memberi jeda, kemudian melanjutkan, "Di luar tujuan hidupnya," katanya dengan pandangan kosong. Rasanya tak adil jika Zei kembali kehilangan sosok sahabat yang dapat menerimanya hanya karena keegoisan Jaehan. Dan sekarang muridnya menjadi sasaran? Bu Zei tak akan tinggal diam. "Ibu secara tidak langsung mengatakan bahwa Jaehan bukan laki-laki baik," ucap Krystal dengan nada bercanda. "Kau tau maksudku Krys." Krystal mengangguk mengerti. Inti dari pembicaraan ini ialah dia harus menghindari Jaehan bukan? Krystal tidak tau jelas titik masalahnya, tapi di sini dia menangkap adanya masalah pribadi yang ikut serta. "Terimakasih sudah mengajakku mengobrol, Bu. Aku akan selalu mengingatnya," ucap Krystal sambil menundukkan kepalanya. Bagaimana pun juga perempuan di sampingnya ini tetaplah gurunya. ******* Bu Zei memukul setirnya saat sebuah mobil tiba-tiba melaju cepat dan menghalangi jalannya. Tidak lama kemudian pemilik mobil itu keluar sambil menyugar rambutnya asal dan mengetuk jendela mobil Zei. Zei berdecak. Namun dia tetap membuka pintu mobilnya dan saat itulah Jaehan menariknya keluar. "Kau tidak bisa seenaknya menarikku, Jaehan!" geram Bu Zei. Jaehan mengembuskan napas kasar. Ke dua tangannya berkacak pinggang sambil menatap Zei yang hanya sebatas lehernya. "Ya. Kau pun tak bisa seenaknya menceritakan tentangku pada orang lain tanpa seizinku." Ada nada tak terima di ucapan Jaehan. Zei sadar, sepertinya Jaehan mengetahuinya. Bahwa dia telah ikut campur. Sedangkan Jaehan, dia langsung melajukan mobilnya untuk mengejar mobil Zei yang baru saja keluar dari kawasan MSS. Hari ini Jaehan memang tidak masuk sekolah karena harus menuntaskan buruannya. Akan tetapi, Kaezn memberitahunya sesuatu yang membuat emosinya tersulut. Zei ikut campur. Perempuan itu bertemu dengan Krystal di roof sekolah. Jaehan tidak mencari tau lebih jauh mengenai pembicaraan mereka, tapi dia dapat menyimpulkan bahwa Zei telah melewati batas. "Kau tidak memiliki hak untuk ikut campur, meskipun aku mengizinkanmu." Raut wajah Jaehan mengeras. "Kau bukan siapa-siapa bagi kami, kau dan aku memang sama, tapi sebenarnya kita sangat berbeda," tegas Jaehan. "Kita memang berbeda. Aku hidup untuk menghabiskan sisa hidupku sedangkan kau hidup untuk menuntaskan hukumanmu," balas Zei, ada ada mengejek dari nada bicaranya. Dia mendongak menatap Jaehan tanpa takut meski laki-laki ini bisa melenyapkannya sekarang juga. "Dari awal aku sudah mengingatkanmu agar tidak melewati batas." Zei mendengkus. "Alih-alih menyuruhku agar tidak melewati batas, lalu bagaimana denganmu? Sadarlah Jaehan, eksistensimu di sekitar manusia itu karena hukuman dan aku tau jelas alasan kau seperti itu!" "Lalu kenapa?" timpal Jaehan. Zei membuang muka, enggan menatap Jaehan yang menyorotnya tajam. "Jangan ikut campur, Zei," ucap Jaehan penuh penekanan. "Tidak ikut campur? Aku tidak yakin bisa melakukannya." Zei menggeleng tak terima. "Kau mengincar gadis itu karena dia berbeda, lalu setelahnya apa? Kau mau membuat nasib dia seperti nasib sahabatku huh? Sadarlah! Naluriah Gumiho kau tetap tersemat di sini," kata Zei sambil menunjuk d**a Jaehan. Jaehan menepis tangan Zei dari dadanya. "Dia diincar gumiho jahat." "Kau orangnya, Jaehan!" geram Zei. "Dengarkan aku, Zei!" bentak Jaehan dengan d**a naik turun, setelahnya dia menarik napas panjang sambil mengembuskanya perlahan. Zei di depannya pun langsung mengalihkan pandangannya sambil mendengkus keras. "Orlan mengincarnya." Jaehan mencoba untuk bersabar. "Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di diri gadis itu." "Apa bedanya denganmu?" timpal Zei sinis. Jaehan memejamkan mata, berusaha meredam emosinya yang kapan pun bisa meledak. "Dia Gumiho yang terobsesi untuk menjadi manusia," jelas Jaehan. Zei langsung menatap Jaehan dengan raut terkejut. "Siapa tadi namanya? Orlan?" Jaehan mengangguk. "Dia salah satu siswa MSS sejak satu tahun terakhir." "Tidak mungkin. Di MSS hanya ada beberapa Gumiho, itu pun aku dapat merasakan semua auranya." Sudut bibir Jaehan membentuk senyum sinis. "Kau tidak memiliki energi sekuat itu untuk merasakan kehadirannya." "Artinya dia bukan Gumiho biasa?" timpal Zei dengan mata membola saat Jaehan mengangguk. "Dia memiliki aura yang gelap," kata Jaehan. "Lalu kenapa dia mengincar Krystal? Rasanya kurang tepat jika alasannya karena ingatan gadis itu tak bisa dihilangkan." Jaehan mengedikkan bahu. Karena sampai saat ini pun dia masih mencari-cari alasannya, terlebih mengenai tangisan Krystal yang berhubungan dengan turunnya hujan. Ada kalanya Jaehan berpikir jika Krystal memiliki Fox orb, tapi kalau pun benar, lalu kenapa Jaehan tak mampu merasakannya? "Jadi apakah ini alasan kau selalu mengawasinya?" tanya Zei. Jaehan memilih diam, membiarkan pertanyaan Zei mengambang di udara. Sedangkan Zei langsung melemaskan bahunya yang sempat tegang. Apakah keputusannya meminta Krystal agar menjauhi Jaehan sudah benar? Pasalnya, jika Gumiho bernama Orlan itu memang mengincar Krystal, maka gadis itu akan baik-baik saja bila berada dalam jangkauan Jaehan. "Kau melakukan kesalahan besar," kata Jaehan dengan nada rendah.. Zei menggeram pelan. Pasalnya jika niat Orlan mengincar Krystal itu niat buruk—mengingat latar belakang Gumiho itu—maka mengawasi Krystal merupakan keputusan yang tepat. Karena hal itu termasuk tugas Jaehan alias hukuman yang diberikan laki-laki tua alias leluhurnya. Kalau sudah begini, Zei mendadak tidak tau harus melakukan apa. Tidak mungkin dia meminta Krystal agar selalu berada di sekitar Krystal di saat dia baru saja membeberkan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan. Pasti gadis itu akan berpikir aneh tentangnya. "Pasti berkaitan dengan masa lalu," ucap Zei menyimpulkan. Entah kesalahan apa yang telah dilakukan Krystal di masa lalu sehingga laki-laki masa lalu yang masih hidup sampai sekarang itu masih mengincar dirinya meski telah berbeda. Reinkarnasi? Tidak meyakinkan. "Jika Orlan memang mengincar sesuatu yang ada dalam tubuh Krystal, maka nyawa gadis itu dipertaruhkan," ucap Jaehan dengan nada rendah. Mengingatkannya dengan masa lalunya yang membuatnya enggan menaruh hati pada manusia usai kejadian itu. Karena pada dasarnya ada jiwa binatang di dalam tubuh mereka. "Kalau begitu kau harus bekerja keras, buat Krystal agar mempercayaimu," kata Zei. Jika dari awal pandangan Krystal pada Jaehan sudah buruk, maka mulai hari ini akan jauh lebih buruk akibat perbuatan Zei yang terbawa emosi. ********** Jaehan tidak akan terkejut lagi saat melihat suasana dapur rumahnya tampak seperti kapal pecah. Hanya dengan melihat sepatu di rak depan pun dia dapat menebak jika Lais sedang dimari. "Aku pulang lebih awal, jadi kurasa tidak ada salahnya membuat kue." Krystal tak menanggapi. Dia mengecek kue kering di atas meja yang telah tersusun rapi. "Jangan dimakan!" teriak Lais saat Krystal mencomot satu keping. Satu alis Krystal menukik. "Kenapa?" "Kue itu spesial untuk Jaehan. Nanti sore aku akan ke rumahnya langsung." Lais tersenyum lebar sambil membuka celemeknya. "Kau mau ikut?" Ingatan Krystal langsung tertuju pada obrolannya dengan Bu Zei di roof tadi siang. "Kenapa kau rela capek-capek seperti ini?" "Untuk mendapatkan hatinya," ucap Lais tanpa beban. "Meski dia telah memiliki pacar?" timpal Krystal. Mencoba menggagalkan keinginan Lais. "Kurasa dia belum memiliki pacar," kata Lais dengan yakin. "Ngomong-ngomong, kau harus ikut denganku nanti sore ke rumahnya." Krystal langsung menggeleng. Dia harus menghindari Jaehan demi kenyamanannya di sekolah. Bagaimana pun juga ucapan Bu Zei tidak ada salahnya dipertimbangkan. "Aku tidak akan pergi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN