Sepertinya kalimat penegasan 'aku tidak akan pergi' hanya ucapan belaka. Karena saat ini Krystal sudah berada di depan rumah laki-laki yang sangat dia hindari untuk saat ini.
Semuanya akan berjalan pada semestinya jika seandainya Lais tak mengadu pada Ibu. Gadis itu mengatakan hal-hal yang berlebihan dan berujung ibu menasehati Krystal agar menemani Lais.
Krystal hanya mengenakan celana Levis model kulot dengan atasan sweater polos. Sedangkan Lais, gadis itu mengenakan rok di atas lutut dengan atasan sweater rajut pola cherry.
"Sekarang kau senang kan?" kata Krystal dengan nada malas.
Lais mengangguk antusias. Senyumnya tak kunjung luntur sejak dari rumah hingga sampai di sini. Gadis itu memencet bell beberapa kali.
Tidak lama kemudian pemilik rumah membukakan pintu. Dia hanya mengenakan jubah mandi berwarna abu-abu. Rambutnya acak-acakan dengan wajah yang terlihat masih mengantuk. Namun begitu melihat siapa yang berkunjung di rumahnya, senyum tak tertahankan terulas di bibir Jaehan.
Sorot mata Jaehan menyiratkan kegelian saat melihat Krystal yang enggan membalas tatapannya. Bahkan gadis itu pura-pura menatap sembarang arah demi tak bersitatap dengannya.
"Boleh kami masuk?" tanya Lais penuh harap. Karena Jaehan hanya tersenyum dengan pandangan yang entah kemana dan tak mengatakan apa pun. Sejujurnya Lais pegal menjinjing totebag berisi kue buatannya.
Jaehan beralih ke arah Lais sambil mengulas senyum. Jaehan membuka pintunya lebar-lebar sambil mempersilahkan tamunya masuk. Lais langsung melangkah cepat, diikuti Krystal di belakangnya dengan langkah malas dan berat hati.
Jaehan mencekal tangan Krystal saat gadis itu melewatinya tanpa sudi menatapnya apa lagi menyapanya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Jaehan.
Krystal menatap cekalan Jaehan, lalu beralih menatap laki-laki itu yang menatapnya dengan kerlingan lucu. Apa-apaan ini?
"Aku tidak paham apa maksudmu," kata Krystal sambil menarik tangannya.
"Kau menghindariku kan?" pancing Jaehan. Sesuai ucapan Zei bahwa Jaehan harus bekerja keras agar Krystal mempercayainya terlebih gadis itu memang belum pernah mempercayainya—yang kemudian interaksi yang susah-susah dibangun oleh Jaehan, malah dirusak Zei akibat emosi sialannya itu.
Krystal mengangguk, tak menampik ucapan Jaehan. "Aku memang menghindarimu," ucapnya tanpa ekspresi berarti.
"Kenapa?" tanya Jaehan. Ini hanya sekadar pancingan, karena dia pikir alasan gadis itu menghindarinya pasti karena Zei.
"Karena kau menyukaiku," kata Krystal enteng, lalu berlalu dari hadapan Jaehan yang bergeming.
Untuk beberapa saat Jaehan tak mampu berkata-kata. Bahunya melemas dengan ekspresi terkejut. Dari banyaknya spekulasi yang dia pikirkan, tapi kenapa kalimat yang tidak dia sangka-sangka itu yang diucapkan Krystal? Apakah semua perlakuannya selama ini seperti tengah mendekati gadis itu dalam artian karena perasaan?
"Kau harus lebih berhati-hati," ucap Kaezn prihatin sambil menepuk pundak Jaehan.
"Apa aku terlihat menyukainya?" tanya Jaehan.
Kaezn menatap Jaehan beberapa saat, lalu mengedikkan bahu tak tau. "Kau selalu berprilaku sama pada perempuan yang menurutmu menarik."
Jaehan langsung menjentikkan jari. Apakah selama ini semua perempuan yang dia dekati itu berpikir seperti Krystal?
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri dan sempat mengganti pakaiannya di kamar, Jaehan pun menyusul ke dua tamunya di ruang makan—pastinya Edgar yang menjamu mereka, di mana itu memang tugas Edgar di rumah ini selain mendekati banyak wanita.
"Aku suka senyummu," kata Edgar ke arah Krystal.
"Aku belum pernah tersenyum sejak tadi," kata Krystal.
Edgar langsung berdeham. Baru kali ini dia merasa kaku menghadapi perempuan.
"Maksud ucapan Edgar ialah dia ingin melihat senyummu," timpal Jaehan sambil tersenyum dan menarik satu kursi di samping Lais.
Edgar langsung mengangguk. Diam-diam dia bersyukur karena Jaehan menyelamatkannya dari rasa malu.
Kening Lais mengernyit saat merasakan kakinya di tendang dari bawah meja. Kemudian dia melirik Lais yang menyorotnya sebal. Alih-alih tersenyum sesuai ucapan Edgar, Krystal malah mempertahankan ekspresinya dan membalas tendangan Lais di bawah meja.
"Awh!"
Krystal langsung menoleh ke arah Jaehan yang mengaduh.
"Kau kenapa?" tanya Edgar.
Jaehan melirik Krystal sesaat, lalu menggeleng. "Seseorang sedang menendang di bawah meja, tapi sepertinya salah sasaran," katanya tanpa dosa sambil menyunggingkan senyum lugu.
Sialan! Umpat Krystal. Harus berapa lama dia berada di suasana canggung ini? Karena bagaimana pun juga dia pun mengutuk setiap ucapan dan tindakannya sejak tadi. Terlebih balasannya di depan pintu beberapa yang lalu.
Sadar jika Krystal yang dimaksud Jaehan, maka Lais langsung tersenyum miring, menertawai sepupunya itu.
"Kau cukup pintar membuat kue," puji Edgar usai menyusun kue buatan Lais di atas meja.
Lais langsung tersenyum malu-malu.
Krystal yang tau perjuangan gadis itu membuat kue hingga membuat dapurnya bak kapal pecah pun hanya tersenyum miris. Lais dengan segala ambisinya untuk mendapatkan sesuatu yang tak jarang berujung sia-sia.
"Jaehan, bagaimana rasanya? Em, apakah terlalu manis? Atau ada sesuatu yang kurang?" tanya Lais penuh harap.
"Rasanya enak, kau sudah membuatnya dengan baik." Jaehan kembali mencomot satu kue. "Manisnya pas," lanjutnya dengan pandangan mengarah pada Krystal.
Edgar berdeham pelan. Memahami situasi yang tengah terjadi. Dia pikir harus memberikan Jaehan dan Lais ruang untuk mereka berdua. Maka yang dilakukannya ialah mengajak Krystal untuk ke tempat lain.
Mendapat ajakan yang tak disangka-sangka, Krystal tentu langsung menyetujuinya. Berada di dekat Jaehan membuatnya selalu bertanya-tanya akan kebenaran ucapan Bu Zei.
Edgar membawa Krystal ke tempat kolam renang, tak jauh dari tanaman bunga mawar hitam yang sempat menarik perhatian Krystal saat pertama kali ke mari.
"Maaf karena sempat membuatmu tak nyaman," ucap Edgar sambil menarik satu bangku untuk Krystal, kemudian menarik bangku lainnya untuk dia tempati.
Hamparan mawar hitam menjadi objek pandangan mereka.
"Kau tidak salah, aku yang terlalu kaku," kekeh Krystal.
Edgar mengerjap melihatnya. Ternyata tak sesulit itu untuk melihat sudut senyum Krystal.
"Kalian hanya tinggal bertiga?" tanya Krystal, mencoba mencairkan suasana.
Edgar mengangguk. "Biasanya begitu. Tapi kadang-kadang ada wanita yang menginap."
Dejavu. Rasanya Krystal juga pernah mendengar kalimat serupa dari bibir Jaehan. Sebebas itukah kehidupan tiga laki-laki tampan ini?
"Aku hanya bercanda," ralat Edgar saat melihat perubahan ekspresi Krystal.
Lagi pula dia tak seberani itu lagi membawa perempuan lain dan menginap di mari, dia masih ingat kemurkaan Jaehan karena kecerobohannya membawa kekasihnya yang mabuk.
"Kalian bertiga bersaudara?" tanya Krystal mengalihkan pembicaraan.
Edgar menggeleng. "Kami hanya rekan, maksudku kami ini teman rasa saudara."
Krystal mengangguk mengerti. "Lalu di mana orang tua Jaehan?"
Hening beberapa saat.
"Jaehan tak memiliki orang tua." Edgar menjawab seadanya. Mungkin tidak ada salahnya mengungkap sisi lain Jaehan, begitulah pikirnya.
*********
Usai berbincang-bincang cukup lama bersama Edgar, Krystal pikir kini sudah waktunya mereka pulang. Maka dia pun menuju ke tempat tadi bersama Edgar.
Krystal pilot tidak seburuk itu mengobrol dengan Edgar. Dia tipe yang mendengarkan dan menjawab pertanyaan dengan baik tanpa berusaha mencari celah atau pengalihan.
Sesampainya di meja makan, tampaknya Lais pun sudah bersiap-siap pulang. Dia terlihat tengah membicarakan sesuatu dengan Jaehan.
Jaehan terlihat terkekeh, dan tak disangka-sangka Lais memajukan tubuhnya dan mengecup pipi Jaehan.
Krystal dan Edgar langsung bungkam melihat itu.
"Auh, itu cukup mengejutkan," kata Jaehan. Dia melirik Krystal, lalu berdeham pelan. "Mau aku bantu tutup matamu?" tanyanya.
Krystal menoleh lalu tertawa kecil. "Terlambat," candanya.
Kemudian mereka tertawa bersama. Menertawakan ekspresi masing-masing seolah baru pertama kali melihat adegan seperti itu.
Di depannya, Lais berdiri malu-malu usai mengecup pipi Jaehan. Sedang laki-laki itu berprilaku biasa saja meski sempat melotot saat Lais tiba-tiba menempelkan bibirnya di pipinya.
Sangat berani. Andai dia bukan salah satu pancingan Jaehan, mungkin dia sudah memberi gadis itu pelajaran.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Jaehan basa-basi ke arah Krystal.
Krystal mengangguk, kemudian beralih ke Edgar. "Terima kasih sudah menjadi teman mengobrolku," katanya sambil tersenyum.
Edgar mengangguk canggung sambil melirik Jaehan. "Sama-sama, Krystal. Kau teman mengobrol yang baik," kata Edgar sambil memeluk Krystal singkat.
Sangat singkat, tapi cukup membuat orang di sana melongo tak percaya. Kaezn yang jarang menampakkan ekspresi pun sempat melotot dan hampir menjatuhkan buku di tangannya.
Tidak sampai di situ, Edgar sempat mengelus rambut Krystal.
Mendapat perlakuan seperti itu pun membuat Krystal mengerjap bingung. Baru kali ini dia bertemu laki-laki yang berani memperlakukannya seperti ini.
"Hati-hati di jalan," ucap Edgar sambil merangkul Krystal menuju pintu utama.
"Maaf untuk tadi, aku hanya berniat memancing Jaehan," bisik Edgar dengan nada jahil.
********
"Kau menyukai Edgar ya?" tanya Lais sesampainya mereka di rumah.
"Kau pikir itu urusanmu?"
"Loh, kenapa marah? Aku hanya bertanya, kau sendiri yang mau-mau saja dipeluk dengan dia," sewot Lais.
"Sebelum mengomentariku, cobalah lihat dirimu sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Kau mencium laki-laki yang bukan siapa-siapamu," balas Krystal. Tidak terima jika Lais menyudutkannya hanya karena pelukan singkat Edgar. Lagi pula yang tadi itu tidak bisa dikatakan pelukan, karena hanya bahu mereka yang bersentuhan tipis, Edgar terlihat jelas membatasi dan hanya memajukan tubuhnya dan menaruh tangannya di punggung Krystal, itu pun tak sampai menyentuhnya.
Bahkan saat Edgar merangkulnya, laki-laki itu tak menempelkan telapak tangannya di kulit lengan Krystal. Seolah dia sengaja mengepalkan tangannya.
Lais bergeming mendengar kalimat Krystal yang menyudutkannya. Tapi apa salahnya dia melakukan itu? Sejak di sana Jaehan selalu mendengar dan menanggapi obrolan mereka dengan baik, sesekali dia bertanya perihal Krystal yang menurut Lais itu bentuk keingintahuan Jaehan terhadapnya yang selalu mengajak Krystal kemana-mana sesuai topik pembicaraannya tadi.
"Jaehan tidak terganggu sama sekali," bela Lais.
"Bagus kalau begitu. Tapi kusarankan kau jangan melakukan hal serupa pada laki-laki lain, kau tau, itu cukup berbahaya." Krystal mengingatkan. Inilah alasan Lais mudah ditipu seperti kejadian tempo lalu.
"Terserah kau saja!" sungut Lais sambil berlalu pergi.
Krystal memijit pelipisnya. Kenapa Lais akhir-akhir ini selalu merepotkannya?
**********
Keesokan harinya, Krystal kembali pada rutinitasnya seperti biasa. Datang ke sekolah sebelum bell berbunyi dan menyempatkan singgah membeli makanan saat perjalanan ke sekolah karena dia tak sempat sarapan di rumah. Pilihan untuk sarapan di kantin sekolah bukan pilihan yang tepat, mengingat dirinya harus berada di kelas sebelum jam pelajaran masuk, sedangkan Krystal tak jarang hampir ketinggalan masuk gerbang MSS.
Sesampainya di kelas, Krystal langsung disambut oleh sapaan Giiz disertai teriakan khas gadis itu.
"Krystal! Aku ada sesuatu untukmu," teriak Giiz, tentunya dengan suara yang melengking.
Krystal menggantung tasnya di kursi lalu duduk di samping Giiz. "Apa?"
"You know Orlan?" Bola mata Giiz berbinar.
Krystal berpikir sejenak. Entahlah, rasanya dia pernah mendengar nama itu. Tapi bukan berarti dia mengenalnya.
"Lalu?" timpal Krystal. Hapal dengan kebiasaan Giiz. Pasti tidak jauh dengan gosip atau sesuatu yang membuat heboh MSS.
"Dia menitipkan ini untukmu." Giiz mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dari dalam tasnya. Benda yang dia jaga sepenuh hati kala laki-laki bernama Orlan itu memanggilnya di gerbang. Tak banyak yang mereka bicarakan, Orlan hanya memperkenalkan diri singkat lalu meminta Giiz agar memberikan kotak itu pada Krystal.
"Sepertinya dia salah satu secret admirermu," ucap Giiz sambil mencolek pipi Krystal.
Krystal membuka kotak itu dengan hati bertanya-tanya. Giiz terpekik tertahan saat melihat isinya.
"Gelang?" pekik Giiz penuh takjub.
Gelang berwarna putih yang memiliki anak gantungan berbentuk Krystal salju. Sangat cantik untuk ukuran gelang simpel.
"Kau tak mengada-ada kan?" tanya Krystal memperjelas sambil menutup kotak itu kembali.
Giiz mengangguk sungguh-sungguh. "Ck, ayo pakai Krys. Ya ampun, gelangnya cantik sekali."
"Kalau begitu untukmu saja," kata Krystal. Dia menghargai pemberian laki-laki itu, tapi untuk menggunakannya, sepertinya Krystal harus mengenal dan mengetahui alasan diberikannya gelang itu. Terlebih mereka tak saling mengenal. Entahlah, Krystal rasa dia tak harus menerima gelang itu.
"Tidak sopan," decak Giiz. "Gelang itu milikmu."
Krystal menggeleng. "Aku tak bisa menerimanya."
"Krystal, Krystal, sekarang karena overthinking lagi?" gemas Giiz.
Krystal menggeleng lagi. "Menurutmu apa aku pernah berinteraksi atau mengenal laki-laki itu?"
Giiz menggaruk poninya sambil menggeleng. "Mungkin cuman perasaanku saja, tapi rasanya baru kali ini aku melihatnya di MSS."
"Kalau begitu kita harus mengembalikan gelang ini."
"Tidak sopan," kata Giiz.
"Aku tidak akan menggunakannya kalau begitu. Giiz, memangnya tak aneh kalau ada laki-laki yang tiba-tiba memberikan hadiah sedangkan kau tak mengenalnya?"
"Tidak." Giiz menjawab mantap. "Namanya juga secret admirer. Kau tak pernah tau kan kalau selama ini ada laki-laki yang sering mengamatimu karena dia tertarik denganmu?" jelas Giiz. "Aku sering tuh menemukan hadiah atau surat yang terselip dan menggantung di lokerku," lanjutnya dengan nada senang.
Embusan napas panjang keluar dari bibir Krystal. Sebenarnya siapa laki-laki itu?
"Sudahlah, Krys. Kurasa dia laki-laki yang baik," kata Giiz sambil merebut kota itu dan mengambil gelang di dalamnya, bermaksud ingin memasangkannya di tangan Krystal.
"Bagaimana jika sebaliknya?" sungut Krystal sambil menepis tangan Giiz yang ingin memasangkan gelang itu.
"Kau tinggal membuangnya," ucap Giiz santai.
Akhirnya Krystal merebut gelang beserta kotaknya itu dan menyimpannya di laci meja.
"Jika terus begini, aku tidak yakin kau bisa memiliki pacar," ucap Giiz sambil berdecak pelan.
"Aku tidak peduli," kata Krystal terlampau santai.
"Tapi Krys ...."
"Hmm."
"Aku juga tidak yakin dengan laki-laki bernama Orlan itu."
Krystal menoleh heran. "Maksudmu?"
"Dia mirip seseorang, tapi aku lupa siapa."
Dan keputusan Krystal untuk mengembalikan gelang itu semakin bulat.