Bab 28 - Orlan

1000 Kata
"Kau benar-benar merusak rencanaku," kata Jaehan sambil duduk di samping Zei seraya menyesap rokok di antara jarinya. Zei melakukan hal serupa. Mereka tengah duduk di atap sebuah gedung dengan jumlah puluhan lantai. Menikmati cuaca sore dengan polusi di mana-mana. "Kenapa kau mengajakku bertemu?" tanya Zei. "Kudengar ada kegiatan yang akan diadakan oleh sekolah untuk siswa akhir semester." Jaehan menoleh sambil menunjukkan senyum miring. "Ini kesempatanmu untuk dekat membangun kepercayaan dengannya. Terlepas dia siapa, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa waktumu tak lagi banyak, Jaehan." Embusan napas panjang keluar dari bibir Jaehan. Laki-laki itu mematikan rokoknya, kemudian merebahkan tubuhnya dan ke dua tangannya sebagai alas kepala. "Jika waktu itu tiba aku akan merindukan masa-masa ini," kata Jaehan. Mendapat hukuman akibat perbuatannya di masa lalu memberikannya banyak pelajaran hidup meski hari-hari yang dia lalui harus mendengar semua rintihan manusia.  Bahkan untuk memikirkan dirinya pun tak ada. Katakanlah dia hidup karena orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. "Sebelum semuanya terlambat, jujurlah pada Krystal mengenai siapa dirimu yang sebenarnya," kata Zei. Jaehan tertawa kecil. "Tidak semudah itu. Pantang bagiku meninggalkan kenangan di pikiran manusia." "Menyedihkan sekali." "Aku lebih baik dikenang sebagai orang b******k hingga hari itu tiba dibanding ada seseorang yang menganggapku berarti dalam hidupnya," kata Jaehan sambil menatap langit kemerahan. Zei menoleh. "Kenapa begitu?" Jaehan menatap punggung Zei, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak akan rela meninggalkannya." "Kalau begitu kau harus pintar menjaga sikap." Setelah mengatakan hal itu, Zei berdiri dan pergi meninggalkan Jaehan dengan segala pikiran rumitnya. ******** Menyimak dari kejauhan memang caranya dalam menargetkan seseorang. Begitu pas dia akan menyergapnya dan mendapatkan apa yang dia mau. Tidak begitu sulit untuk ukuran Gumiho sepertinya. Semua keinginannya berjalan pada semestinya selain yang satu ini. Hidup dalam jangka waktu lama tak membuatnya serta merta dapat memahami semua tabiat dan kebiasaan manusia. Hidup berdampingan bersama mereka pun cukup menyulitkan. Tak ayal keinginan untuk menjadi sepertinya tak kunjung hilang.  Dia membutuhkan syarat itu. Cukup sudah dia mengabdi dalam kebaikan yang menurutnya tak memberikan apa yang dia mau. Dia hanya mau Fox orbnya kembali tanpa kurang sedikit pun.  Semuanya perlahan menunjukkan harapan saat melihat gadis itu. Potongan-potongan putus asa yang selalu dia lalui tiap hari kini menampakkan harapan-harapan. Jika lelah menjadi dirinya yang sekarang, maka dia akan mencoba menjadi versi orang lain meski di masa lalu pernah gagal.  Gagal sekali dan berkali-kali pun baginya tak masalah terpenting targetnya masih bernapas dan dapat dia taklukan. Emosi yang dia pendam selama ini kembali naik kala matanya bersitatap dengan iris bening gadis itu. Emosi, marah, dan rindu beradu menjadi satu. Entah itu memang dia atau hanya mirip belaka, dia tak mau tau. Dia harus mencobanya. Gadis itu memiliki sesuatu berharga di dalam tubuhnya. Namun, lebih jelasnya pun masih menjadi tanda tanya.  Orlan, Gumiho dengan masa lalu gelap dan hidup dengan harapan memperbaiki kesalahan masa lalunya demi keuntungan pribadi semata, kini bertekad akan melakukan apa pun demi keinginan tahuannya terjawab. Sama sepertinya yang hidup karena masa lalu, laki-laki yang selalu mengawasi gadis itu selain dirinya pun memiliki latar belakang yang serupa. Tujuan mereka pun hampir sama yaitu mencari tau keterkaitan gadis itu dengan tangisan dan turunnya hujan. Bedanya Orlan menaruh harapan pada gadis itu berharap jika dia adalah Aurora dari masa lalu yang kini menjadi Krystal. Mereka terlalu mirip. Maka saat melihat gadis itu terdorong di tangga karena ulah laki-laki bodoh yang saling dorong, Orlan langsung melesat cepat dan menahannya. Jadilah wajah gadis itu tak jadi mencium lantai, melainkan menubruk dadanya. Raut terkejut tersirat jelas di wajahnya. Gadis itu langsung membungkuk sopan seraya mengucapkan terima kasih dan kata maaf beberapa kali.  Orlan akui dari segi sifat antara dia dan Aurora sangat berbeda. Gadis di depannya ini cenderung dingin dan kaku, berbanding dengan Auroranya yang ceria, banyak bicara dan selalu tersenyum. "Kau tidak mengenakan gelang pemberianku, ya?" tanya Orlan ramah sambil menatap tangan Krystal secara terang-terangan. "Gelang?" tanya Krystal. Ingatannya langsung tertuju pada kotak hadiah yang dititipkan pada Giiz. Pemiliknya laki-laki di depannya ini? Krystal mengerjap, dia seperti pernah bertemu dengan laki-laki ini. "Aku Orlan," ucap Orlan seraya menyodorkan tangannya. Krystal menatap tangan itu lalu beralih ke arah wajah Orlan. Meneliti ekspresinya yang sama sekali tak nampak mencurigakan. Laki-laki itu tersenyum lebar dan manis, terlihat ramah dan bersahabat. Maka meski ragu-ragu, Krystal membalas jabatan tangannya. Orlan tersenyum lebar dibuatnya. Waktu sentuhan tangan mereka hanya beberapa detik, maka waktu sesingkat-singkat itu pula dia gunakan untuk mengecek sesuatu yang dia kira ada dalam tubuh gadis ini. Akan tetapi, hingga terlepasnya jabatan tangan mereka, Orlan tak menemukan apa pun selain energi yang lebih besar. "Kau mengenalku?" tanya Krystal sambil melangkah di samping Orlan.  Cepat-cepat dia menepis keheranannya dengan mengulas senyum manis. "Tidak juga. Aku hanya mengenal Krystal dari nama saja. Dan menyimak dari kejauhan." "Kenapa?" tanya Krystal. Tidak salahkan dia menyuarakan keheranannya? "Karena kau menarik." Untuk pertama kalinya selama hidup, baru kali ini ada seorang laki-laki yang secara gamblang mengatakan kalimat itu pada Krystal. "Menarik?" Orlan mengangguk sambil menatap Krystal tepat di bola matanya. Tangannya bergerak untuk menggenggam pergelangan Krystal, merasakan denyut kehidupan gadis itu. Akan tetapi, Krystal lebih dulu menarik tangannya dan membuka ranselnya. "Terimakasih sudah berkenan memberikanku hadiah secantik ini. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya," kata Krystal sambil mengembalikan kotak itu. Perbedaan antara Aurora dan Krystal semakin kentara. Jika Auroranya menyukai hadiah-hadiah indah meski dari orang asing, maka berbeda dengan Krystal yang cenderung curiga dan khawatir.  "Baik. Tidak apa-apa. Maaf jika gelang ini memberatkanmu Aurora." Kening Krystal langsung mengerut dalam. "Aurora?" Senyum Orlan langsung surut seketika. Tergantikan wajah datar tanpa ekspresi dengan sorot kosong. Ekspresi itu hanya bertahan beberapa detik. "Sepertinya kita pernah bertemu." ******* Jaehan meneguk minuman sodanya sambil mengamati Krystal dari kejauhan. Di sampingnya ada Kaezn yang menyorot objek serupa. "Dia tak lagi bersembunyi," kata Kaezn. "Dia secara terang-terangan menunjukkan dirinya dan ketertarikannya dengan Krystal," gumam Jaehan  "Dia lelah bersembunyi dan mengintai," kata Kaezn menyimpulkan. "Dia hampir menjadi manusia." Kaezn menoleh dengan ekspresi terkejut. Ekspresi yang jarang dia tampakkan. "Sama sepertimu?" Jaehan berdeham. Merasa malas karena hal itu dihubungkan dengannya. "Dia masih mencari-cari fox orbnya. Mengenai Aurora ...." Jaehan mengerjap.  "Aurora?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN