Cukup lama Krystal bergeming di samping tangga sambil menatap punggung laki-laki bernama Orlan itu. Dia undur diri usai Krystal menanyakan alasan kenapa dia menyebut Krystal dengan nama Aurora. Seingat Krystal, dia pun pernah bertemu laki-laki itu tempol lalu, dia lupa di mana tepatnya. Intinya Orlan memanggil Krystal dengan sebutan Aurora juga.
"Dia laki-laki yang memberikan kotak berisi gelang itu, 'kan?" tanya Giiz sambil berdiri di samping Krystal. Dia baru saja datang dari kantin.
Krystal menoleh, "Jadi memang dia yang memberikan hadiah itu?"
Giiz mengangguk. "Saat memberikan gelang itu dia memperkenalkan diri sebagai Orlan."
"Dia memanggilku dengan sebutan Aurora." Krystal menoleh. "Apa kau mengenal seseorang dengan nama Aurora?"
Giiz menggeleng polos. "Jangan-jangan niat dia mendekatimu karena kau mirip dengan mantan pacarnya yang bernama Aurora," goda Giiz sambil mengerling genit.
Krystal tak menanggapi ucapan aneh Giiz. Alih-alih memikirkan hal itu, Krystal malah berpikir alasan laki-laki itu mendekatinya. Rasanya terlalu lucu kalau alasannya karena dia tertarik dengan Krystal dalam artian menaruh perasaan. Karena selama dia bersekolah di MSS, hanya Jaehan yang berani mendekatinya, itu pun notabenenya anak baru. Lalu sekarang ada Orlan yang terang-terangan mengajaknya berkenalan sambil menitipkan hadiah gelang. Krystal tak semudah itu untuk menerima hadiah dari orang yang tidak dikenal. Entahlah, sejak Jaehan mendekatinya, Krystal berpikir untuk lebih berhati-hati.
"Kau memikirkan apa, Krystal?"
"Hah?"
Giiz mencebik sebal. "Kau tidak menanggapiki dari tadi," rajuknya sambil mendahului Krystal.
Di sisi lain, Krystal tengah membaca pesan teks yang baru saja masuk di ponselnya. Pesan yang sudah lama tidak dia dapatkan itu kembali datang, membawa getaran kesal, kecewa, juga marah.
'Kesinilah, di tempat biasa. Aku butuh uangmu.'
Nama pengirimnya masih sama dengan isi serupa setelah sekian lama.
Kerap kali Krystal bertanya-tanya alasan ibu dan ayahnya memutuskan mengakhiri pernikahan mereka saat Krystal duduk di Bangs sekolah menengah pertama. Cukup sulit bagi Krystal yang dekat dengan ke duanya. Namun hingga detik ini, jika Krystal bertanya, jawabannya pun sama. Ayah dan Ibu tak lagi memiliki kecocokan dan memiliki visi-misi hidup yang berbeda. Usai hakim mengetuk palu, maka saat itu pula kehidupan Krystal perlahan berubah.
Eksistensi ibu di rumah semakin jarang. Jika Ibu berangkat di pagi hari, maka saat malam baru mereka bertemu lagi. Begitu seterusnya. Sedangkan ayah, awal perceraian mereka, ayah masih menggeluti pekerjaannya sebagai pemilik dari sebuah toko perhiasan di kota ini. Akan tetapi, setahun setelahnya, entah apa yang terjadi karena toko itu tak lagi beroperasi dan Krystal menemukan ayahnya di tempat yang tidak seharusnya.
Krystal pernah menghampiri ayahnya dan menariknya dari tumpukan-tumpukan botol minuman keras itu. Namun bukannya disapa layaknya ayah dengan putri kecilnya, melainkan perlakuan buruk yang dia dapat. Ayah mendorongnya dan menyorotnya tanpa ekspresi. Tak ada sorot rindu yang didapat Kristen seperti dia yang merindukan ayahnya.
"Krystal!" panggil Giiz sambil menepuk pundak Krystal.
Gadis itu bergeming dengan pandangan mengarah pada layar ponselnya. Giiz berkali-kali memanggilnya yang tak kunjung menjawab.
"Kau memikirkan apa, sih, Krys?" tanya Giiz sambil membawa Krystal menepi dan duduk di sebuah kursi panjang depan mading.
Krystal melihat jam di layar ponselnya, lalu beralih ke arah Giiz.
"Berapa mata pelajaran lagi?"
"Tinggal satu. Kau kenapa? Apa ada yang sakit? Kau terlihat tidak sehat."
Krystal menggeleng. Dia harus menemuinya ayahnya usai mata pelajaran terakhir hari ini berakhir.
********
Krystal sampai di sebuah tempat yang jauh dari pusat kota. Jalan yang dilalui penuh dengan kerikil yang bisa saja melukai telapak kaki jika tak mengenakan alas kaki.
Sekitar sepuluh menit Krystal berjalan kaki dan sampai di tempat itu. Di sana tampak ayah tengah duduk di sebuah pondok bersama dua teman laki-lakinya.
"Permisi," kata Krystal langsung menarik perhatian orang-orang di sana.
Ayah memberinya kode agar ke bawah pohon yang agak jauh dari teman-temannya.
"Mana?"
"Sekarang apa lagi? Membayar hutang judi? Atau untuk membeli minuman-minuman aneh itu?" tanya Krystal dengan nada rendah.
Ayah mengusap wajahnya secara kasar. "Bukan urusanmu Krystal. Ayo mana uangnya."
"Aku tidak membawa uang sepeser pun." Krystal tersenyum tipis, seolah menunjukkan akun tidak akan menuruti keinginan Ayah. "Aku hanya ingin melihat keadaan ayah. Tapi sepertinya ayah cukup sehat untuk mencari uang sendiri," ucap Krystal.
Raut ayahnya sempat mengeras beberapa saat, lalu mengembuskan napas lelah.
"Aku akan pergi dari sini."
"Dalam rangka?"
"Memulai hidup baru." Ayah memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat tadi. "Bukankah aku selalu membebani kalian?"
Krystal bergeming.
"Kau akan meninggalkanku?" tanya Krystal dengan suara serak. Ada sesuatu yang menahan dadanya, terasa berat dan menyesakkan. Krystal membenci ayahnya karena tak mengucapkan apa pun setelah persidangan itu, tapi rasa sayangnya jauh lebih besar, mengalahkan rasa kecewa, kesal, dan marahnya.
Alih-alih mengatakan kalimat yang membuat Krystal memiliki harapan, ayah hanya melewatinya usai keluar dari persidangan dan hanya menatapnya sekilas. Ayah baru menghubunginya saat Krystal masuk di MSS, itu pun karena meminta uang karena harus membayar ganti rugi akibat menabrak mobil yang terparkir.
Setelah itu, intensitas ayah dalam menghubunginya semakin banyak. Namun dengan tujuan yang hampir sama dan berkaitan dengan uang.
"Aku memang sudah meninggalkanmu sejak hari itu." Ayah menoleh sekilas dengan pandangan tak mengarah ke wajah Krystal. Ada rasa segan dalam dirinya untuk menatap putrinya sendiri.
Krystal mengerjap, cairan bening jatuh membasahi pipinya.
"Hidup dengan baik," kata Ayah tanpa emosi berarti. Seolah keputusannya sudah bulat.
"Setidaknya aku sudah melihatmu." Ayah kembali melanjutkan dan duduk di tempat tadi seraya berteduh dari hujan. Tak berniat sedikit pun untuk memanggil putrinya agar duduk bersama.
********
"Sedang apa di sini?" tanya Krystal saat melihat seseorang yang amat dia kenali. Laki-laki itu tengah menendang-nendang kerikil dengan ke satu tangan di saku celana, sedang satunya memegang payung hitam.
Jaehan menoleh, lalu tersenyum. "Menunggumu," katanya memayungi Krystal yang mendongak menatapnya.
"Kau mengikutiku?" kata Krystal dengan nada tak terima.
Jawabannya iya. Namun Jaehan tak ingin menambah kekesalan gadis ini, maka yang dia lakukan ialah diam dan menaruh pegangan payung itu di tangan Krystal. Setelahnya dia membuka seragam sekolahnya dan menyisakan kaus putih.
"Kau mengikutiku kan?" tuntut Krystal.
Jaehan tak menjawab. Dia sibuk memasangkan seragamnya pada Krystal, kemudian mengambil alih payung itu.
"Sekarang hujan suka turun tiba-tiba," kata Jaehan enteng. "Wajahmu basah, karena air hujan huh?"
Krystal memegang wajahnya, lalu mengerjap seraya menggigit bibir bawahnya. Menahan desakan yang lagi-lagi ingin tumpah membasahi pipinya.
Tanpa banyak bicara, Jaehan menarik Krystal dalam pelukannya dan memberikan gadis itu tepukan hangat di punggungnya sebagai bentuk menenangkan.
Jaehan memejamkan mata, menumpukan dagunya di puncak kepala Krystal. Bahu gadis itu bergetar dalam pelukannya dengan ke dua tangan mencengkram kausnya dengan erat.
"Aku di sini untukmu."