Bab 31 - Fox Rain

1977 Kata
Krystal tidak pernah secanggung ini bila bertemu Ibunya saat telat pulang. Namun kali ini rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya di bawah selimut seolah kejadian sekarang ini tak pernah terjadi. Sebenarnya tidak ada masalah jika saja Jaehan tak memaksa untuk mengantarnya sampai rumah. Jarum jam baru menunjukkan angka sepuluh, malam. Bukan hal biasa lagi, hanya saja kali ini Krystal tengah bersama seorang laki-laki. Tepat saat dia turun dari mobil Jaehan, saat itu pula pintu utama terbuka menampakkan ibu yang melangkah ke arah mereka berdua. Krystal kira hari ini ibunya lembut seperti hari-hari sebelumnya. Raut wajah Ibu tak terbaca, entah apa yang tengah dipikirkan wanita paruh baya itu. Sedangkan Jaehan di sampingnya hanya berlaku biasa saja meski ada kekhawatiran di benaknya. Bagaimana pun juga dia tak terbiasa berhadapan dengan ibu dari gadis yang dia antar pulang. Selama ini Jaehan tak pernah mengantar seorang gadis hingga depan pintunya apa lagi bertemu dengan ibunya. "Teman Krystal?" tanya Ibu langsung ke arah Jaehan. "Iya, Tante. Perkenalkan nama saya Jaehan, saya dan Krystal satu sekolah." Jaehan membungkuk sopan seraya mengulas senyum sopan. Ibu menatap Jaehan beberapa saat, lalu mengangguk. Kemudian beralih ke arah Krystal yang berdiri canggung. "Sudah berapa lama kalian berteman?" tanya Ibu sambil menatap Krystal dan Jaehan secara bergantian. "Belum lama." "Tiga bulan." Jaehan dan Krystal saling pandang, lalu menatap Ibu yang melihat mereka dengan satu alis terangkat. Krystal tanpa sadar meremas tangannya. Takut jika ibu berpikir yang macam-macam tentangnya. "Kami memang belum lama berteman, Tante. Kebetulan saya anak baru di MSS," terang Jaehan. "Anak baru?" ulang Ibu. Kemudian menatap Krystal. "Setelah sekian lama, ya, Krys," lanjut Ibu entah apa maksudnya. Jaehan ikut menatap Krystal yang meliriknya lalu menggeleng, mengenyangkan pikiran-pikiran buruknya mengenai respon ibu yang sulit ditebak.  "Sudah larut, Bu." Krystal beralih ke laki-laki itu. "Jaehan kau harus pulang kan?" ucap Krystal dengan ekspresi seolah berkata 'pekalah Jaehan, sana pulang'. Mengerti dengan maksud Krystal, akhirnya Jaehan mengangguk mengerti sambil beralih ke arah Ibu seraya memohon izin undur diri.  "Hati-hati," kata Ibu. Sepeninggal Jaehan, Krystal langsung masuk dan menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ibu mengikutinya sambil menarik satu kursi kemudian melipat tangannya di atas meja seraya menatap Krystal yang tampak menghindari tatapannya. "Jaehan ... hm, sepertinya nama itu tidak asing. Dia teman laki-lakimu yang dimaksud Lais bukan?" tanya Ibu. Raut wajahnya terlihat biasa saja. Krystal mengangguk. "Tampan, ya," celetuk Ibu dengan senyum tipis di bibirnya. Krystal hampir saja memuncratkan air di mulutnya. "Jadi laki-laki itu temanmu dan teman Lais juga?" Krystal mengangguk. "Kalau Lais Ibu tidak heran lagi. Dia hampir memang memiliki banyak teman laki-laki, jadi tidak heran kalau kamus dekat dengan laki-laki, lalu Lais mengenalnya. Ck ck, anak itu memang mudah bergaul ...." "Dia bukan teman dekatku, Bu. Hanya teman ... ya teman satu sekolah begitu, ibu pasti paham maksudku. Tentang tadi itu hanya kebetulan. Dia memberiku tumpangan saat hujan," terang Krystal tidak ingin ibunya berpikir yang tidak-tidak. Ibu mengangguk maklum. "Ibu lihat dia cukup baik, sopan, bonusnya tampan." Ibu kembali tersenyum sambil mengerling ke arah Krystal. "Yakin cuman teman?" Dan Krystal tidak tau harus berkata apa lagi. Dia kira ibunya akan mengomelinya atau melarangnya ini itu. Tapi, lihatlah respon Ibu. Krystal tidak pernah menyangka sebelumnya. *********** Semilir angin berembus kencang disertai kilat petir di langit gelap yang tak menampakkan keberadaan bintang maupun bulan. Seorang laki-laki melangkah santai di jalan lengang sebuah perumahan usai menuntaskan buruannya—seorang makhluk penghisap mimpi yang selalu mendatangi manusia-manusia yang terlelap dan merusak alam bawah sadar mereka. Makhluk itu sudah lama tak terlihat usai diasingkan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini mereka kembali dan meresahkan Jaehan yang diberikan perintah untuk menangkapnya. Tidak begitu sulit, tapi cukup melelahkan. Walaupun lelah, Jaehan tak serta merta langsung pulang. Dia melangkah dan menyusuri setiap jalan di perumahan itu serta masuk di blok satu dan seterusnya.  Jarum jam sudah menunjukkan angka dua pagi. Namun Jaehan tetap tak berniat pulang meski esok pagi dia harus berangkat sekolah dan mengawasi gadis itu. Sesaat langkahnya terhenti saat merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya. Bukan manusia. Sudut bibir Jaehan berkedut tipis dan kembali melangkah seraya menaruh sebatang rokok di bibirnya dan menyesapnya penuh nikmat. Sorot yang mengamatinya itu kian terasa. Namun Jaehan tak tau di mana letak jelas makhluk itu.  Makhluk itu memiliki energi yang besar. Tapi tak cukup kuat untuk menghabisi Jaehan. Sejenak, Jaehan memutar tubuhnya ke arah rumah. Di salah satu jendelanya terlihat seorang gadis kecil kisaran tujuh tahun tengah mengerjakan sesuatu di meja belajarnya. Lampu belajar sebagai alat penerangannya.  Jaehan menggerakkan tangannya hingga sebuah bunga melayang di dekat jendela gadis kecil itu. Sejenak dia terlihat terkejut dan melihat kanan-kiri, setelahnya pandangannya mengarah ke depan yang tertuju langsung pada Jaehan. Dia mengangkat tangannya ragu saat Jaehan melambaikan tangan. Perlahan gadis itu membuka jendela kamarnya dan menemukan bunga cantik di sana. Dia mengambilnya lalu tersenyum lebar saat menemukan secarik kertas bertuliskan 'kenapa belum tidur?' "Aku terbangun karena mimpi buruk," kata Gadis itu tanpa suara. Jaehan tersenyum lalu berkata, " Tidurlah. Semuanya akan baik-baik saja. Mimpi indah sedang menantimu." Gadis kecil itu langsung mengangguk sambil melambaikan tangan. Setelahnya dia menutup jendela kamarnya dan mematikan lampu meja belajar.  Jaehan tak lagi melihat aktivitas gadis itu. Sepertinya dia sudah terlelap. "Kenapa baru sekarang kau baru berani mengikutiku secara terang-terangan?" tanya Jaehan dengan nada malas. Dia tau persis jika di belakangnya ada laki-laki yang mengawasinya. Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. "Kau menjengkelkan." Jaehan menoleh. "Aku menjengkelkan? Kenapa bisa?" Laki-laki itu melangkah melewati Jaehan sambil menatap jendela kamar gadis kecil tadi, tangannya bergerak di udara mengantarkan dorongan untuk mendobrak jendela itu. Jaehan berdecak. "Jangan ganggu dia. Bocah itu sedang bermimpi indah." Orlan, laki-laki yang hari ini mengawasi dan mengikuti Jaehan itu menoleh. Raut laki-laki itu datar tanpa ekspresi. Sorot matanya tajam tapi terkesan layu.  "Apa kita saling kenal?" tanya Jaehan. "Hentikan drama busukmu itu. Kau jelas mengenalku." Jaehan mengangguk sambil melangkah kecil seraya memasukkan ke dua tangannya di saku celana. "Jadi apa tujuanmu menghampiriku? Apakah kita memiliki masalah yang belum diselesaikan?" tanya Jaehan sekadar memancing. "Jangan rusak rencanaku." "Bahkan aku tidak tau persis rencanamu," balas Jaehan tenang. "Kau menjaganya setiap saat." Orlan menoleh sekilas dengan nol ekspresi. "Memang tugasku seperti itu. Mau bagaimana lagi?" "Kalau begitu kau harus menjaganya dengan baik." Orlan menghampiri Jaehan sambil menepuk pundaknya. "Karena aku siap untuk membawanya pergi, kapan pun." Setelahnya dia melangkah pergi. "Terakhir kali aku ingin menjadi manusia, aku kehilangan sosok yang aku cinta." Jaehan berujar sambil menatap punggung Orlan yang mulai menjauh. Seperti dugaannya, Orlan menghentikan langkahnya. "Kita sama." Laki-laki itu tersenyum miris. "Bedanya aku tak keberatan untuk kehilangan lagi demi tujuanku." Jaehan berdiri dengan sorot datar. Orlan melesat cepat usai terang-terangan menampakkan jati dirinya. Dia benar-benar pengganggu ketenangan. ****** "Semalam kau diantar Jaehan, 'kan?" sentak Lais l, tiba-tiba masuk ke kamar Krystal yang memang terbuka. Gadis itu tengah membersihkan kamarnya. "Iya." Krystal menjawab seadanya. Lais menggeram. "Krystal, aku tau dia temanmu, tapi bisa tidak kau menjaga perasaanku sebagai sepupumu. Coba kau di posisiku jika menyukai seseorang tapi orang itu malah pulang-pergi bersamaku, sakit kan?" Krystal menghela napas. "Aku tidak menyukainya. Tenang saja." "Aku yakin itu bullshit. Jika tidak suka, lalu kenapa kalian selalu bersama-sama?" Krystal mengedikkan bahu. "Seharusnya kau tanyakan pada Jaehan, karena dia yang selalu menawarkan diri." Krystal mengacungkan jarinya saat Lais ingin maju sedangkan lantai masih lembab. "Kau tidak perlu cemburu." "Perebut," ketus Lais. "Krystal langsung menengadah seraya berkacak pinggang. Ucapan Lais terasa menggelitik indra pendengarannya. Sungguh menggelikan. "Kalau kau merasa pertemananku dengannya membuatmu tak nyaman, maka berusahalah untuk mendapatkan hatinya. Bukan merecokiku!" rutuk Krystal. "Tapi dia selalu menghindariku." "Itu urusanmu. Artinya kau harus lebih bekerja keras. Lagi pula Lais ... serius kau menyukainya? Maksudku, kau tak akan menyesalinya?" Lais menggeleng yakin.  "Kalau begitu keluarlah." Bukannya keluar, Lais malah melangkah santai di lantai lembab usai di pel lalu merebahkan tubuhnya di ranjang Krystal. "Keluar sekarang atau aku menyeretmu," ancam Krystal dan dibalas dengkusan oleh Lais. Tak urung dia pun keluar sambil menghentakkan kakinya. Tidak berselang lama, terdengar suara Giiz yang memanggil Krystal dengan suara melengking. Krystal yang baru selesai membersihkan diri pun langsung membuka pintu kamarnya dan menemukan Giiz di sana dengan dua kantong makanan. "Wow seprei baru," ucap Giiz sambil merebahkan tubuhnya. Sedangkan makanan yang dibawa Giiz itu disusun Krystal di meja bundar miliknya.  "Krystal," panggil Lais dengan wajah suntuk. "Aku lupa memberikan ini," lanjutnya seraya menyodorkan totebag mini. Krystal menerimanya dengan kening mengerut dalam. "Dari siapa?" "Hm, Orlan." Krystal dan Giiz langsung saling bertukar pandang. Dia lagi, dia lagi. "Kapan dia memberikan ini?" tanya Giiz. "Tadi pagi. Ck, udah ya. Aku mau melanjutkan tontonanku," katanya sambil mengambil satu box roti dan membawanya pergi, tak peduli meski Giiz memelototinya. Giiz membuka totebag itu dan menemukan sebuah ikat rambut berwarna biru langit.  "Sepertinya dia memang menyukaimu,", celetuk Lais.  "Tidak mungkin." "Iya sih. Apa lagi dia dua kali memanggilmu Aurora, sepertinya dia gagal move on atau menjadikanmu pelampiasan dari cintanya yang kemungkinan kandas." Lais mulai memberikan spekulasi. "Haruskah aku mengembalikannya lagi?" tanya Krystal meminta pendapat sahabatnya. Lais mengedikkan bahu. "Terserah kau saja." ********* Jaehan menatap laki-laki di depannya dengan raut malas. Rasanya dia ingin pergi seolah tidak mengenali laki-laki yang tersenyum ramah ke arahnya itu. "Aku menjalankan hukumanku dengan baik." Jaehan berdecak. "Jangan coba-coba memberiku hukuman macam-macam lagi," katanya. Laki-laki itu ialah roh leluhurnya. Seorang Gumiho yang memiliki posisi tertinggi. Jaehan memanggilnya Pak Tua meski laki-laki itu masih terlihat muda dan tampan. Namun usianya tak lagi disebut muda, bahkan dua kali lipat usia Jaehan yang hampir menyentuh seratus abad. "Jangan mengulangi kesalahan masa lalu," kata Pak Tua seraya duduk di kursi kebesaran Jaehan seraya mengambil satu buku yang tak jauh dari tempatnya. "Kau sendiri yang memintaku untuk menjaga manusia dari makhluk-makhluk pengaruh iblis," kata Jaehan ikut duduk di salah satu sofa single. "Gadis itu tidak istimewa seperti yang kalian gadang-gadangkan." Jaehan langsung menoleh. "Jadi turunnya hujan saat dia sedih itu hanya kebetulan?" Pak Tua tersenyum.  Jaehan mengernyit heran. "Menjaganya merupakan keputusan yang sudah tepat. Hanya saja kau harus membuat batasan wajar seperti yang kau lakukan dengan manusia-manusia lainnya." Jaehan diam, mencerna ucapan Pak Tua. "Jika kejadian itu terulang lagi, aku tak bisa mengampunimu lagi." Pak Tua menoleh, senyum tak luntur dari bibirnya. "Ada masanya aku akan melepas keterkaitan kalian." "Apa maksudmu?" "Gadis itu memiliki Fox Rain. Hari kelahirannya bertepatan dengan lahirnya seorang Gumiho. Hingga garis takdirnya bersinggungan dengan Gumiho." Pak Tua menghela napas. "Dia bisa mati di tangan Gumiho." Jaehan bergeming. "Kau harus menjaganya sampai Orlan menyadari kesia-siaan yang dia lakukan." "Setelahnya?"  "Aku akan memutus garis takdir itu," ucap Pak Tua seraya membuka lembaran buku. "Haruskah? Selama ini aku tak pernah membuat kesalahan. Biarkan aku yang memutus garis itu sendiri," tegas Jaehan. Pak Tua menggeleng pelan. "Jika hanya dia yang lupa segalanya tentangmu, itu tidak adil. Kau tak memiliki kemampuan cukup untuk menahan keinginanmu untuk mendekatinya." Jaehan mengepalkan ke dua tangannya erat. "Selesaikan urusan kalian bertiga secepatnya," kata Pak Tua. Kemudian melebur bersama angin yang berhembus kencang. Buku yang tadi dipegang Pak Tua itu jatuh begitu saja. Menyisakan Jaehan yang tercenung di tempatnya. Waktunya memang tak lama lagi. Hanya saja haruskah Pak Tua itu ikut campur sejauh ini?  "Aku siap membantumu meski kesempatan hidupku dipertaruhkan," ucap Edgar yang sedari tadi menyimak dari kejauhan. Kaezn mengangguk. Setuju dengan Edgar. Jaehan berdecak. Ini hukumannya dan dia tak sekejam itu untuk mempertaruhkan nyawa orang-orang terdekatnya yang telah membantunya selama ini. "Nyawa kalian bergantung padaku." Jaehan menghela napas panjang. "Jadi cukup awasi dari kejauhan, jangan ikut campur lebih jauh." Kaezn dan Edgar saling pandang, lalu melangkah meninggalkan Jaehan yang tengah terpaku dengan pikirannya sendiri. Jika semuanya telah selesai, maka ingatan Krystal maupun ingatannya mengenai mereka berdua akan dihapus oleh Pak Tua itu. Dia tak akan memberikan Jaehan celah untuk mengulang kesalahan masa lalu meski Jaehan mustahil akan melakukannya lagi. Hanya Fox rain, bukan fix orb yang dicari oleh Orlan.  "Dia mirip dengan wanita masa lalu Orlan," gumam Jaehan sambil mengusap dagunya. Mulai menerka-nerka masa lalu laki-laki itu.  "Apakah dia sepertiku?" tanya Jaehan dengan ekspresi kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN