Bab 32 - Ruang Komputer

2044 Kata
Rasanya Krystal ingin menarik Lais keluar dari kamarnya sekarang juga. Pasalnya gadis itu hari ini pulang lebih awal dan langsung ke rumah Krystal. Sedangkan Krystal dua jam lebih lama kelasnya baru selesai. Saat sampai, dia menemukan Lais rebahan di ranjangnya sambil memainkan laptop Krystal. Jika sudah begini, Krystal baru menyesali tidak menggunakan password. "Laptopmu membosankan," kata Lais saat Krystal menarik laptopnya dan menyimpannya di tempat semula. "Kurasa dulu kau tak semenyebalkan ini," kesal Krystal. "Kau tidak pernah seenaknya masuk ke kamarku dan memainkan barangku tanpa izin, tapi sekarang kau seenaknya melakukan hal semaumu." Krystal mengusap wajahnya menahan kekesalan. Lais mengedikkan bahu tak peduli. "Keluarlah, Lais," ucap Krystal dengan nada lemah. Tak ada gunanya berbicara menggunakan urat pada Lais yang masa bodoh. "Kemarin kau bertemu dengan ayahmu kan." Krystal bergeming dengan tangan mengepal. "Kalian bertengkar lagi ya? Ralat, maksudku kau—" "Bukan urusanmu." Krystal menoleh sambil menatap Lais dengan pandangan datar. "Urus urusanmu sendiri. Jangan membuatku membocorkan semua kelakuan burukmu di sekolah pada ibu dan nenek." "Kau kira ibumu dan nenek akan percaya?" Lais memutar bola mata malas. "Tak akan ada yang percaya, Krystal. Aissshh, kenapa sih kamu sensi sekali? Aku hanya menumpang tidur sebentar kok," kata Krystal sambil menghentakkan kakinya. "Kau kesepian, 'kan?" tanya Krystal. Lais berhenti melangkah seraya mengepalkan tangannya di sisi tubuh. ******** Seorang laki-laki tengah duduk di samping jendela seraya menggoyang-goyangkan gelas berisi cairan berwarna bening. Di luar sedang gerimis. Kepalanya perlahan bergerak bersandar pada kaca jendela tanpa melepas tatapannya dari luar. Dia tidak bermaksud melow atau hiperbola, hanya saja suasana sekarang ini mengingatkannya dengan seseorang. Seseorang yang tak lagi bisa dia lihat senyum tulusnya dan air mata kesakitannya. Semua kenangan pahit dan indah yang pernah mereka lalui seolah kaset rusak yang berputar di kepala Jaehan. Andai saja waktu itu dia tidak hilang akal dan mementingkan egonya. Pasti dia tak akan berada di sini dengan segala hukuman yang menyebalkan. "Sedang memikirkan apa?" tanya Edgar seraya menarik satu kursi dan menaruhnya di depan Jaehan kemudian duduk di sana seraya bersidekap. "Memikirkan kenapa aku berakhir di sini," kata Jaehan santai. Edgar terkekeh geli mendengarnya. Dulu dia pun bertanya-tanya kenapa berakhir di sini, tapi setelah cukup lama, akhirnya Edgar menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman dan menerima keadaan. Walaupun dia hidup di dunia manusia, setidaknya para Manusia memperlakukannya dengan baik dalam artian memanusiakannya meski dia bukan bagian itu. "Jadi sekarang kau sudah tau alasan Orlan mendekati Krystal?" tanya Edgar. "Dia tidak hanya mendekatinya, tapi juga mengincarnya," ralat Jaehan. "Kau sudah terlalu jauh ikut campur dalam hidupnya," timpal Kaezn ikut bergabung di samping Edgar. "Semua karena rasa penasaranku," kata Jaehan seolah membenarkan ucapan Kaezn. "Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Edgar. Jika seandainya Jaehan dapat menghapus ingatan Krystal, maka sejak dahulu dia melakukannya dan membuat dirinya dan Krystal tak pernah saling mengenal. Bila semisalnya untuk sekarang, Jaehan pun akan melakukan hal serupa. Biarlah hanya dia saja yang mengenal dan mengingat kebersamaannya dengan Krystal. Setidaknya hal itu memudahkannya untuk mengawasi Krystal dan mengatasi Gumiho yang mengincarnya. "Ngomong-ngomong, sepupu Krystal itu cukup menyebalkan. Kau tidak berniat menghapus ingatannya tentang kita? Kalau kau keberatan, biar aku yang melakukannya." Jaehan menggeleng. Krystal pasti akan semakin curiga jika hal itu terjadi. ******** Pagi ini hujan turun dengan derasnya. Mengingatkan Krystal dengan kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia kehujanan dan berlari demi mencapai pintu masuk MSS, hanya saja dia terpeleset dan hampir menabrak seorang laki-laki. Krystal memegang tali tasnya seraya mendongak, melihat awan gelap, seolah mewakili perasaannya yang sedih tanpa sebab. Sedikit aneh. Krystal pun tidak tau alasannya, karena saat bangun tiba-tiba rasa sedih mendalam menyergapnya. Perasaan itu semakin kentara saat menginjakkan kaki di halaman MSS. "Cuacanya tidak menarik sama sekali," ucap seseorang yang teramat dekat dengan Krystal. Gadis itu langsung menoleh dan terkejut saat sebuah tangan melingkar di bahunya dan menariknya agar kembali melangkah. "Biasakan membawa payung dari rumah," kata Jaehan lagi. Satu tangannya merangkul bahu Krystal, sedang satunya bersembunyi di dalam saku celana. "Lepaskan tanganmu," kata Krystal sambil menatap lurus. "Kita sedang menjadi pusat perhatian," lanjutnya dengan nada datar. Jaehan menoleh, lalu melambaikan tangan ke arah gadis-gadis yang menatap mereka dengan pandangan beraneka ragam. Namun, hal itu langsung berubah saat Jaehan tersenyum dan kemudian terdengar suara petir. Beberapa detik kemudian turun hujan dengan derasnya. Semua siswa-siswi langsung berhamburan dan lari terbirit-b***t. "Astaga ... ayo cepat. Nanti kita basah," panik Krystal sambil mendekap tasnya. Jaehan menarik Krystal dan bergabung dengan payung yang baru saja dia rentangkan. "Di mana kau mendapatkan payung?" tanya Krystal terkejut. Jaehan tersenyum sambil mengedikkan bahu. Dia kembali merangkul Krystal dan membawanya agar lebih dekat dengan tubuhnya. "Di mana aku mendapatkan payung itu tidaklah penting," katanya santai. Mendapatkan payung bukanlah hal sulit baginya. Dia yang meminta hujan turun, bukan berarti Jaehan akan rela tubuhnya basah di saat dirinya di luar ruangan. "Badanmu hangat," celetuk Krystal saat kulit lengannya bersentuhan dengan lengan Jaehan. Jaehan memegang lengannya kemudian menatap Krystal. Lalu tangannya berpindah ke pipi Krystal merasakan suhu tubuh gadis itu yang dingin. "Badanmu dingin," kata Jaehan dengan nada rendah. Dia mengerjap beberapa saat, lalu menarik tangannya sambil mengalihkan pandangannya, begitu pun dengan Krystal yang berdeham pelan sambil melanjutkan langkah, diikuti Jaehan di sampingnya. Krystal mengibas-ngibaskan roknya yang terkena cipratan air. Jaehan menyimpan payung di tempat penyimpanan payung yang tak jauh dari pintu masuk. "Kau masih kedinginan?" tanya Jaehan. Efek turunnya hujan disertai angin yang berembus kencang memang cukup dingin, apa lagi bagi mereka yang hanya mengenakan rok di atas lutut dengan atasan lengan pendek "Sedikit," jawab Krystal. Jaehan mengangguk, kemudian ingin pergi ke suatu tempat untuk mengambil jaket. Akan tetapi, sebuah mantel berwarna abu-abu telah melingkar di tubuh Krystal. Gadis itu terkejut sambil menatap pelakunya dengan mata melotot. Jaehan menghela napas berat. Bahkan dia terang-terangan menunjukkan diri. Orlan, orang yang memakaikan mantel ke tubuh Krystal itu menatap Jaehan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Aku hanya meminjamkan mantel," kata Orlan tanpa melepas tatapannya. "Jangan lupa mengembalikannya langsung padaku," lanjutnya, beralih ke Krystal yang kebingungan. Sepeninggal Orlan, Krystal langsung menoleh ke arah Jaehan. "Akhir-akhir ini dia selalu mengirimkan barang untukku," aku Krystal. Jaehan menoleh. "Kau menerimanya?" "Tidak," jawab Krystal. "Krystal." "Ya?" "Jika aku memintamu agar menjauhinya." Jaehan menatap Krystal dengan raut penuh kesungguhan. "Dapatkah kau menepatinya?" ************ "Sesuatu terjadi di belakang sekolah," ucap Kaezn mengingatkan Jaehan. Tanpa mendengar lebih lanjut, Jaehan langsung melesat ke sana dan menemukan seorang siswi yang telah dikerumuni oleh murid-murid. Tidak lama kemudian pertugas membawa siswi itu menggunakan tandu. Guru maupun petugas keamanan meminta agar mereka tetap tenang dan kembali ke kelas masing-masing. Setelah semuanya kembali, Jaehan langsung melangkah ke suatu titik, tempat yang menjadi pusat perhatiannya sedari tadi. "Kenapa kau melakukannya?" tanya Jaehan sambil duduk di samping makhluk itu. "Untuk menarik perhatianmu," katanya. Dia menggunakan seragam sekolah lengkap dengan kondisi tubuh yang pucat. Dalam kondisi normal pun dia terlihat mengerikan. "Sekarang kau berhasil," kata Jaehan dengan nada rendah. Makhluk itu seorang gadis, dari seragamnya terlihat bagian dari siswi MSS. "Aku memohon bantuanmu." Wajahnya basah akan air mata. Bibirnya bergetar sambil menggenggam tangan Jaehan dan memohon pertolongan. "Kau mengakhiri hidupmu sendiri," kata Jaehan sambil melepas pegangan makhluk itu di tangannya. Tangisan makhluk itu pecah. Dia meraung seraya menjambak rambutnya sendiri. Terlihat penuh rasa sakit dan keputusasaan. "Aku tak bisa pergi dengan tenang sebelum kebohongan itu terungkap," ujar makhluk itu sambil berdiri dan menatap Jaehan penuh kesungguhan. "Dia bisa hidup bebas, tenang, seolah tak pernah melakukan kesalahan besar. Sedang aku?" Makhluk itu mengerang sambil menjambak rambutnya. "Aku harus berakhir seperti ini!" Jaehan mengangguk saja. Sudah paham dengan tingkah laku makhluk yang biasanya dia hadapi. "Setelah semuanya terungkap, kau mau apa?" Makhluk itu berhenti mengerang. Dia langsung berlutut di hadapan Jaehan sambil mengatupkan tangannya di depan d**a. "Pergi ke tempat yang seharusnya dan menghilang dari sini," ucapnya penuh kesungguhan. Jaehan berdiri sambil menghela napas. "Ikut denganku." Makhluk itu menahan tangan Jaehan lalu menggeleng lemah. "Aku tak bisa melakukannya sendiri ... aku butuh seseorang yang bisa mewakiliku untuk melakukannya." Lantas Jaehan langsung menatap Kaezn yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki itu langsung mengerutkan dahi, lalu menunjuk dirinya sendiri seolah tidak percaya dengan rencana Jaehan. "Kenapa harus aku? Kau bisa melakukannya dengan makhluk lain, manusia misal," kata Jaehan dengan nada malas. Makhluk itu menggeleng dengan raut muram. "Aku tak ingin mencelakai orang lain. Dengan memperalatnya tanpa seizin pemilik tubuh," ucapnya. Sekarang mereka telah tiba di ruang komputer. Jaehan masuk lebih dahulu diikuti makhluk itu dan Kaezn yang tampak enggan menuruti perintah Jaehan kali ini. "Semua yang akan kau lakukan hari ini akan berdampak panjang dengan dia.  Kau tak bisa menarik atau mengubah hal yang telah terjadi. Pikirkanlah dengan baik sebelum kau kembali menyesalinya," kata Jaehan mengingatkan makhluk itu. Akan tetapi, raut kesungguhan masih melekat di wajah makhluk itu. Tekadnya terlalu kuat untuk mundur begitu saja. Menurutnya orang yang menyebabkannya menjadi seperti sekarang ini harus menerima ganjarannya. Kaezn duduk di sebuah kursi, di hadapannya terdapat sebuah komputer yang siap digunakan. Jaehan melirik arlojinya, lalu mengangguk. Perlahan makhluk itu masuk ke tubuh Kaezn. Sudut mata Kaezn menitikkan air mata, merasakan emosi yang kuat dari makhluk itu. "Kau yakin tidak ada yang tau kita di sini?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Jaehan. Tangannya perlahan menari di atas keyboard, mengetikkan sesuatu yang selama ini dia pendam sendirian tanpa seorang pun yang tau selain dirinya yang harus berakhir seperti ini. Satu jam berlalu, Kaezn—yang dikendalikan oleh makhluk itu—berhenti mengetik dengan ekspresi kosong. Dia menatap layar komputer dengan sorot hampa. Tinggal memencet ikon upload maka tulisan yang ditujukan pada seseorang itu akan terkirim di semua ponsel anak MSS. Namun, bukannya meng-upload seperti yang dia harapkan selama ini, dia malah menscroll tulisannya dan membacanya ulang dengan air mata menitik. Haruskah dia melakukan ini? ********* "Masalahnya flashdiskku ada di sana," rengek Giiz sambil menggoyang-goyangkan lengan Krystal yang enggan menemaninya. "Kau bisa pergi sendirian, Giiz," kata Krystal. Dia enggan kemana-mana, memilih mendekam di bangkunya dan menikmati nikmat bulanan. Nyeri perut. "Ruang komputer jauh di sudut Krys. Aku takut. Kau tau sendiri banyak rumor-rumor mengerikan di sana," kata Giiz dengan wajah memerah, menahan tangis. Tadi dia pergi ke ruang komputer bersama Krystal untuk mengeprint tugas. Sekarang hampir masuk pelajaran ke dua dan jadwal Giiz mempresentasikan materinya, sialnya power poinnya ada di flashdisk itu. Krystal melirik Giiz melalui sudut matanya. Gadis itu hampir menangis, tak seperti biasanya yang selalu heboh dan berisik. Maka Krystal memaksakan dirinya untuk menemani gadis itu. Tanpa berkata-kata, Krystal langsung merangkul Giiz ke ruang Komputer yang terletak di lantai empat gedung ini, sedangkan kelas mereka ada di lantai dua. "You're my bestie," pekik Giiz sambil melingkarkan tangannya di leher Krystal yang langsung menahan bibir Giiz yang siap mengecup pipinya. Mereka pun menyusuri koridor menuju ruang komputer. Tidak terlalu ramai karena tampaknya setiap kelas sudah melanjutkan pelajaran selanjutnya. "Kita harus cepat, Krys. Nanti kita terlambat," kata Giiz sambil menarik Krystal berlari bersamanya. Sesampainya di sana Krystal langsung mendorong pintu itu dan mendapati dua orang yang langsung menatap mereka. "Kalian sedang apa di sini?" tanya Krystal. Jaehan dan Kaezn yang dalam kendali makhluk itu saling pandang lalu menatap Krystal dengan raut terkejut. "Nyatanya ada yang tau kita di sini," geram Kaezn sambil menyorot Jaehan dengan tatapan membunuh. Sedangkan Jaehan menghela napas berat. Selain tak bisa menghapus ingatan Krystal, gadis itu pun sulit disarankan auranya. Jaehan melirik Krystal, lalu menatap tautan tangannya dengan Giiz. Pantas saja dia tak merasakan aura kehadiran Giiz meski gadis itu manusia biasa. "Dasar pengganggu," teriak Kaezn sambil berlari mencekik Krystal yang tak mampu mengelak karena terlalu terkejut. Giiz melotot melihat itu semua, bahkan gadis itu terjatuh dengan tubuh melemas. Tak tau harus melakukan apa. "Kau pengganggu," teriaknya lagi. Krystal menahan tangan Kaezn dan berusaha mendorongnya. Tubuh Krystal semakin tergerak  ke belakang, wajahnya memerah karena pasokan oksigen yang semakin menipis. Di sisi lain ada Jaehan yang melangkah menarik tangan Kaezn dan mendorong laki-laki itu hingga terlempar di atas meja tempat komputer tadi. "Akhhh," ringis Kaezn. Tanpa dia sadari, tangannya tak sengaja menyentuh tombol kirim di komputer. Sehingga tulisan yang telah dia tulis itu terkirim di laman MSS. "Dia kenapa?" tanya Krystal sambil terbatuk-batuk. Jaehan melirik Kaezn yang masih dalam pengaruh makhluk itu. Dia menghampiri laki-laki itu seraya menyadarkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Kau tidak apa-apa?" tanya Krystal sambil membantu Giiz duduk di sebuah bangku. "Keluar dari sana," kata Jaehan penuh penekanan. Kaezn berdiri sambil melirik komputer, sedetik kemudian dia meraung sambil menjambak rambutnya sendiri. Jaehan hanya melihat itu semua dengan ekspresi tumpul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN