Bab 33 - Bukan Manusia?

1504 Kata
Setelah kejadian di ruang komputer tadi—sekitar tiga puluh menit yang lalu, kini mereka tengah duduk di roof top sekolah, masing-masing memegang sebotol air mineral. Makhluk yang tadi mengendalikan Kaezn telah keluar dan kembali ke tempat yang seharusnya. Meski sempat ada keraguan dan rasa bersalah, tapi akhirnya makhluk itu bisa kembali dengan tenang. Permasalahan yang dia hadapi pun cukup rumit. Mengenai kesalahan pahaman tentang dirinya dan juga temannya yang masih hidup selama ini. Setidaknya kesalahpahaman yang berlarut-larut dalam jangka waktu setahun itu kini sudah mencapai titik terang. Semuanya telah terungkap. Bahwa kematiannya bukan karena suicide seperti yang diketahui orang-orang selama ini, melainkan karena insiden ketidaksengajaan yang membuatnya terdorong dari jendela lantai tiga. Terlepas dari itu semua, keempat orang di roof top sekolah itu belum ada yang membuka suara. Tadi hanya Jaehan yang pergi sejenak lalu kembali membawa beberapa botol air, paham jika dua gadis itu masih shock. Kaezn meneguk airnya dengan pandangan lurus ke depan. Dia pun cukup terkejut dengan peristiwa beberapa saat yang lalu, meski bukan dia yang mencekik Krystal, tapi secara tidak langsung dia lah yang melakukannya. Bahkan Krystal terlihat enggan menatapnya, begitu pun dengan Giiz yang hanya mencuri-curi pandang dan bersembunyi di samping Krystal tanpa melepas genggamannya di lengan gadis itu. Untungnya Krystal tidak menolak saat Jaehan membimbing mereka ke roof top, berpikir jika ke duanya butuh udara segar untuk menjernihkan pikiran dan emosi. "Krystal," panggil Kaezn dengan nada datar khasnya. Krystal menoleh tanpa menunjukkan raut takut atau sejenisnya. Tapi Kaezn sadar jika gadis itu masih was-was. "Yang tadi itu aku tidak bermaksud melakukannya." Kaezn mengerutkan keningnya, berusaha menyusun kalimat yang pas untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya tanpa membuat mereka salah paham dan takut.  Krystal mengangguk, mencoba untuk mengerti. Karena beberapa saat setelah Kaezn melepas cekikannya, saat itu dia tampak frustasi melihat layar komputer yang entah menampilkan apa, lalu tidak lama kemudian tubuh Kaezn tergeletak begitu saja. Saat itu Krystal melihat bayangan yang keluar dari tubuh Kaezn, terlepas Krystal tengah berhalusinasi atau tidak.  "Kau tidak bermaksud membunuh Krystal 'kan?" Giiz memiringkan kepalanya dan menatap Kaezn takut-takut. "Jujur saja, kau tidak memiliki maksud atau dendam tertentu kan dengan dia?" tanyanya sambil menatap Krystal, lalu menatap Kaezn. Kaezn berdeham. Baru kali ini dia dicurigai oleh seorang gadis. "Aku tidak memiliki maksud apa pun, aku berani bersumpah. Yang terjadi bukan atas kehendakku," kata Kaezn sambil mengangkat satu tangannya. Ekspresi datarnya perlahan menunjukkan raut panik juga cemas. Jaehan menahan senyum melihat itu semua. Demi menjernihkan suasana tegang ini, Jaehan pun menengahi. "Kalian tidak ke kelas?" tanyanya. Bahu Giiz langsung merosot dengan raut murung. "Sepertinya nilaiku akan dipertanyakan," adunya. Krystal merogoh kantong roknya, memeriksa sesuatu dan berniat untuk menghubungi ketua kelas, setidaknya memberikan alasan ketidakhadiran mereka, terutama Giiz. Namun, sederet pesan di grup kelas cukup menarik sudut bibir Krystal. "Pak Guru tidak masuk." Giiz langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Krystal dengan ekspresi terkejut. "SERIUSSSSS?" Krystal mengangguk. Kemudian dia berusaha melepas kungkungan Giiz yang mencekik. "Bagaimana dengan kalian?" tanya Krystal sambil menatap Jaehan dan Kaezn bergantian. Dua laki-laki tampan itu saling lirik. Kaezn membuang muka, seolah tak peduli. Sedangkan Jaehan mengedikkan bahu santai. "Sesekali tak ada salahnya bolos," ucapnya dan disambut decakan oleh Krystal dan Giiz meski ke duanya pernah melakukan hal serupa. ********* "Tadi aku ke kelasmu, tapi kau tidak ada." Ucapan pertama yang didengar Krystal usai kembali dari roof top. Saat ini dia sedang di kelas untuk mengambil tasnya, sedang kelas sudah berakhir sejak sejam yang lalu. "Kau dari mana saja?" lanjutnya sambil menatap Krystal dan Giiz bergantian, menyorot mereka dengan pandangan curiga. "Kau bolos lagi?" kejutnya sambil berdecak seraya menggeleng pelan dengan pandangan hiperbola. Giiz berdecak pelan. "Kami baru selesai melakukan double date di roof top sekolah sambil menikmati pemandangan indah, makanan manis, minuman segar, dan perasaan penuh cinta. Iri kan, iri kan? Sudah-sudah, sana minggir. Aku dan Krystal harus pulang untuk menerima telepon pacar kami, iyakan Krys?" tanya Giiz sambil tersenyum lebar. Semua ucapannya itu membuat Krystal tanpa sadar bergidik ngeri. Alih-alih menikmati pemandangan indah, Krystal malah merasa tertekan. Namun, demi lancarnya akal bulus Giiz, maka Krystal membalasnya dengan senyum merekah. "Intinya kami baru selesai bersenang-senang, La." Lais menatap Giiz dengan pandangan aneh, lalu beralih ke arah Krystal. "Kau pacaran?" "Loh, baru tau?" sambar Giiz. "Diam kau." "Cih!" "Jadi kau bolos karena berpacaran?" Giiz berkacak pinggang sambil berdecak pelan. "Aku akan memberitahu Ibumu." "Silakan," sambar Giiz lagi. "Kau kenapa sih? Aku bicara dengan Krystal." Giiz beralih ke Krystal yang diam saja seraya memijit pelipis. "Krys, kau beneran pacaran, sekarang?" "Iya atau tidak itu tidaklah penting. Kalau pun benar, menurutmu apa enaknya ngedate di room top sekolah?" decak Krystal.  Lais terdiam, lalu melengos. Sedangkan Giiz mendengkus karena Krystal tak menuruti akal bulusnya hingga selesai. "Kau tidak ada acara kan nanti sore?" tanya Lais, menyuarakan inti kedatangannya menyambangi kelas Krystal. "Ada," tegas Krystal. "Aku harus mengantar kue ke villa teman ibu," lanjut Krystal teringat dengan pesan ibu sebelum berangkat sekolah. Kue yang dimaksud merupakan hadiah ulang tahun karena ibu tak sempat hadir dikarenakan jadwalnya yang padat. Lais mendengkus lalu melenggang pergi. "Aku akan menemanimu," kata Giiz sambil menggandeng tangan Krystal. "Tidak perlu. Kau butuh istirahat," katanya. Teringat dengan kondisi Giiz yang sempat shock berat. Sadar jika Krystal tengah mengkhawatirkannya, Giiz pun menusuk pipi Krystal menggunakan telunjuknya. "Aku baik-baik saja Krys kalau itu yang kau cemaskan. Ya walaupun aku sedikit takut dan penasaran," ucapnya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Menurutmu mereka sedang apa?" tanya Krystal. Lais mengedikkan bahu dengan ekspresi polos. "Apakah mereka sedang menonton film p**n?" bisik Giiz sambil melirik kanan-kiri yang memang telah sepi. Krystal mendorong Giiz sambil menyorot sahabatnya dengan ekspresi lempeng. "Tapi terlalu berlebihan jika itu alasannya," ucap Krystal. Masih terasa. cengkraman Kaezn di lehernya.  "Serius kau tidak tau? Tanpa diberitahu pun aku tau kau akhir-akhir ini sedang dekat dengan Jaehan," ucapnya sambil mencolek dagu Krystal. Krystal tercenung dengan pikiran berkecamuk. Dia teringat dengan kejadian di villa beberapa waktu lalu saat Giiz mengajaknya. Tepatnya di pagar tanaman itu yang dibalikin terjadi persiteruan yang menegangkan. Semuanya terlihat tidak masuk akal dan janggal.  "Ngomong-ngomong, aku salut dengan Jaehan." Krystal menoleh. "Tadi kejadian di ruangan laboratorium itu Jaehan terlihat santai dan tenang, seolah yang terjadi itu bukan hal serius," kata Giiz menyuarakan keheranannya. "Dia seperti bukan manusia," celetuk Giiz asal. "Jangan-jangan dia memang bukan manusia," timpal Krystal dengan raut bercanda. Giiz berdecak sambil mengusap lengannya seraya bergidik ngeri. "Baru memikirkannya saja sudah membuatku merinding." "Ya sudah ayo pulang." "Kau membawa mantel?" tanya Giiz sambil menatap mantel abu-abu yang dipegang Krystal. Pandangan gadis itu turun di tangannya, lalu menggeleng. "Milik Orlan." "Orlan?" pekik Giiz. Krystal mengangguk seadanya. "Akhir-akhir ini sudah dua laki-laki yang terang-terangan mendekatimu, Krys." Giiz menggeleng hiperbola. Alih-alih merasa senang atau malu-malu kucing, Krystal malah mendengkus sambil berdecak.  "Menyebalkan dan beban," balas Krystal sambil melangkah keluar dari kelas diikuti Giiz yang terus menggoda. "Tapi Krys, apa kau tidak merasa aneh dengan Orlan?" Krystal menoleh, lalu mengerjap. Dia pun merasakan hal itu. "Namun, apa pun keputusanmu, aku akan terus mendukungmu," kata Giiz sambil menepuk pundak Krystal. Mendadak melow saat teringat kejadian tadi. Giiz melihat temannya dicekik di saat dia tak mampu melakukan apa pun bahkan untuk berteriak. Bohong jika Giiz tidak trauma melihat wajah Kaezn. "Hai." Giiz menoleh, kemudian berjingkat kaget sambil menarik Krystal dan menenggelamkan wajahnya di punggung gadis itu.  Jaehan tertawa kecil. Sedangkan Kaezn langsung menatap Giiz dengan dahi mengerut dalam. Dia tidak menyangka jika efeknya akan sebesar ini. "Kau yakin dia baik-baik saja?" tanya Giiz pada Jaehan sambil melirik Kaezn di sampingnya. Jaehan mengangguk menenangkan seraya merangkul Kaezn.  "Bukankah aku pernah mengundang kalian ke rumahku sebagai ganti gagalnya liburan menyenangkan waktu itu," kata Jaehan. "Bagaimana jika nanti kalian ke rumahku, anggap saja sebagai ganti liburan kalian." "Oh ten—" "Terimakasih tawarannya. Tapi, kami akan mempertimbangkannya lebih dahulu," kata Krystal dengan nada ramah. Giiz mendelik tak terima karena ucapannya dipotong. "Kalau begitu kami izin pulang dahulu," lanjut Krystal sambil menarik Giiz yang masih sempat melambaikan tangan ke Jaehan, lalu langsung menciut saat bersitatap dengan Kaezn. "Kenapa kau tak menerimanya langsung? Bayangkan, kapan lagi kita bisa ke rumah Jaehan," decak Giiz. "Dia serumah dengan Kaezn." Giiz langsung menoleh, matanya membulat sempurna. "Serius? Kau tau dari mana?" "Aku pernah ke rumahnya," aku Krystal tak bermaksud menutup-nutupinya. "SERIUS? Wah-wah aku tidak menyangka hubungan kalian sudah sejauh ini. Jadi, bisa ceritakan semuanya?" ucap Giiz sambil menghalangi langkah Krystal. Krystal menepi dan melewati Giiz begitu saja. "Krystal! Ayo, ceritakan. Kenapa kau bisa ke rumah Jaehan." "Gara-gara membantu saudaranya yang terluka ...." Lalu mengalirkan pembicaraan itu tanpa dipotong oleh Giiz. Gadis itu mendengarkan dengan seksama, kemudian berdecak takjub usai Krystal menyelesaikan ceritanya. "Kalau begitu ayo ke rumah Jaehan," ucap Giiz bersemangat. Krystal menatap sahabatnya beberapa saat, lalu mengerjap. "Kau tidak tergila-gila dengannya seperti Lais kan?" tanya Krystal. Giiz langsung mencubit Krystal sambil memajukan bibirnya. "Untuk apa aku menyukai laki-laki yang telah menyukai wanita lain? Aku tidak akan menyakiti diriku sendiri hanya karena perasaan," kata Giiz santai. Krystal menghela napas lelah atas ucapan Giiz. "Lalu bagaimana dengan mantel itu?" Krystal menggeleng tak tau. Dia tak tau letak kelas Orlan dan seharian ini dia tak melihat keberadaan Jaehan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN