Sepulang dari sekolah, Krystal dan Giiz langsung pulang ke rumah alias Giiz ikut pulang ke rumah Krystal. Gadis itu terlalu bersemangat untuk ke rumah Jaehan.
"Kau yakin ingin ke sana, Giiz?" tanya Krystal sambil menyeringai rambutnya.
Giiz tengah membaca buku di ranjang Krystal sambil menikmati camilan.
"Ck, jangan makan di ranjangku, kau tidak tau seberapa banyak semut yang bisa datang," decak Krystal, Giiz terkekeh geli, lalu membuang bungkus camilannya di tong sampah mini yang memang disediakan di kamar Krystal.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan," kata Giiz sambil duduk bersila. Krystal ikut duduk di hadapannya dengan raut bertanya-tanya.
"Tapi aku tidak yakin," kata Giiz lagi sambil menggaruk rambutnya yang memang gatal.
"Maksudnya?"
Giiz mencondongkan tubuhnya dan menatap Krystal dengan raut serius.
"Minggu lalu aku makan malam di sebuah restoran. Tapi setelahnya aku tak langsung pulang, aku pergi ke suatu tempat dulu yang tak jauh dari sana ...." Giiz mengerjap sambil menelan ludah. "Aku melihat Jaehan tengah bersandar di sebuah pilar sambil bersidekap d**a, pakaiannya terlihat sangat berbeda. Dia mengenakan pakaian serba hitam, begitu pun dengan topinya. Dia terlihat tidak seperti anak sekolah menengah atas, Krys. Dia tetap terlihat tampan muda, tapi auranya lebih dewasa dan menakutkan," kata Giiz.
Krystal langsung mengembuskan napas panjang. Yang ditemui Giiz sudah beberapa kali disaksikan langsung oleh Krystal. Saat pertama kali melihatnya pun dia berpikir jika Jaehan bukan anak sekolahan, melainkans seorang pekerja kantoran. Hanya saja, dari segi wajah, Jaehan tetap bisa dikatakan anak sekolah, meski gaya rambutnya saat di sekolah dan di luar sekolah sangat berbeda. Jika dalam sekolah terkesan teratur, maka berbanding terbalik saat di luar sekolah, gaya rambut Jaehan terlihat berantakan dan acak-acakan. Meski begitu aura dewasa semakin terpancar di tubuhnya.
"Selama ini dia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya kan padamu?" tanya Giiz khawatir.
Krystal menggeleng. "Bagaimana denganmu?"
Giiz mengangkat tangannya membentuk oke. "Tidak sama sekali. Cuman beberapa kali aku melihatnya berjalan-jalan di sekitar MSS dengan raut datar dan dingin, berbeda saat dia berbicara dengan kita."
"Kurasa itu hal normal," kata Krystal. Karena dia pun seperti itu.
Giiz menggigit ujung jarinya. Usia melihat kejadian di ruang laboratorium tadi entah kenapa dia langsung menaruh curiga pada Jaehan dan Kaezn. Entahlah, dia merasa jika mereka memiliki sesuatu yang disembunyikan. Terlebih mengenai berita yang beredar di MSS, sebuah postingan di lama sekolah yang menggemparkan. Waktu pengirimannya sama dengan terjadinya kejadian di ruang komputer itu.
"Kalian mau ke mana?" tanya Lais tiba-tiba masuk sambil duduk di kursi belajar Krystal.
"Yang jelas bukan urusanmu," jawab Giiz seraya menyunggingkan senyum manis yang dibuat-buat.
Lais mendecih sinis. "Aku kan hanya bertanya. Apa salahnya dijawab jujur, ups kecuali kalian merencanakan sesuatu yang berbahaya," katanya dengan nada menyebalkan.
"Ups, lagi pula kami tak akan mengajakmu," kata Giiz lagi semakin memancing kekesalan Lais.
"Temanmu tidak sopan," kata Lais, mengadu pada Krystal yang tengah menggunakan krim wajah.
"Aku tidak ingin ikut campur," kata Krystal, netral.
"Kalian mau pergi di diskotik ya?" tebak Lais dengan volume yang sengaja dibesar-besarkan. Berharap Ibu Krystal mendengarnya, beliau pulang sebentar untuk mengambil sesuatu dan akan kembali setelahnya.
"Sepertinya hidupmu kurang menyenangkan ya kalau tidak merocoki sepupumu," tegur Giiz. Pusing melihat tingkah Lais dan Krystal yang mirip dengan Tom dan Jerry.
"Dan kau sepertinya tidak bisa diam saja, tidak usah ikut campur, cukup menonton dan nikmati pertunjukan kami. Menyebalkan," desis Lais.
Giiz mendengkus lalu membalikkan tubuhnya, enggan berhadapan dengan Lais.
"Ibumu menyurumu mengantar kue kan?" tanya Lais.
Krystal mengangguk. Jujur lebih baik bukan?Meski dia dapat menebak apa ucapan Lais selanjutnya.
"Alamatnya sama dengan alamat tempat tinggal Jaehan." Gadis itu tersenyum cerah sambil menyelipkan sejumput rambutnya.
"Aku ikut," katanya tanpa bantahan lalu melenggang keluar.
"Apa-apaan itu? Bahkan si centil itu pernah ke rumah Jaehan? Ya ampun, aku tidak menyangka. Hubungan kalian dengan Jaehan terlihat seperti kakak-adik yang saling jenguk," sarkas Giiz.
Krystal pun baru tau jika Jaehan beberapa kali mengantar Krystal pulang. Krystal yang memberitahunya saat di perjalanan pulang. Menurut Krystal tidak ada salahnya berbagi cerita dengan Giiz meski sahabatnya ini banyak bicara dan cerewet.
*******
Di tempat lain, seorang laki-laki tengah sibuk berkutat di dapur seraya memasak berbagai macam hidangan dengan bantuan sebuah aplikasi memasak. Mereka memasak sambil menonton layar iPad demi tidak terjadi lagi pembuangan makanan karena berakhir seperti racun.
"Kau yakin dia tidak alergi daging bebek?" tanya Edgar. "Beberapa mantan pacarku alergi daging bebek," lanjutnya.
Jaehan mengedikkan bahu.
"Aku alergi bebek," aku Kaezn tanpa ekspresi. Tangan kanannya sibuk mengaduk masakan yang dibuat Edgar, entah apa namanya. Bahan bakunya menggunakan santan dan buah ... entahlah, Kaezn tidak tau itu buah apa.
"Kau yakin mereka akan datang?" tanya Edgar memperjelas. Tidak lucu rasanya mereka berpeluh di dapur hanya untuk membuat hidangan untuk orang yang kedatangannya pun tidak bisa dipastikan.
Jaehan mengangguk. Lagi-lagi itu bertugas sebagai pengatur tampilan makanan agar terlihat lebih cantik dan menarik. Tak jarang dia jadikan penyicip.
"Dia telah mencurigau kita," celetuk Jaehan tak disangka-sangka.
"Tinggal menunggu waktunya dia mengenalimu dengan orang yang berbeda," kata Edgar santai. Seolah yang mereka bicarakan bukan sesuatu yang patut dihindari.
"Jika waktunya tiba dan semuanya telah kembali normal, maka Pak Tua itu akan menghapus ingatan semuanya." Kaezn ikut menimpali sambil terus mengaduk. "begitu pun dengan ingatan Jaehan."
Edgar mengerjap. Merasakan nyeri yang di dadanya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan berakhir berpisah. Masing-masing dari mereka akan memulai semuanya dari awal dan hidup sendiri-sendiri.
"Kuharap kau tak menaruh perasaan padanya," kata Edgar. Pasalnya akan sulit jika Jaehan menaruh perasaan pada calon korban yang tengah dia lindungi.
Karena pada dasarnya jika pekerja sudah menyangkut perasaan antar hati, maka tidak bisa dipungkiri akan ada kerumitan yang menyertainya.
Jaehan tersenyum tipis. Dia selalu membatasi perasaannya dengan mengingat masa lalunya yang menyedihkan.
"Semuanya akan baik-baik saja," kata Kaezn dengan nada yakin.
*********
Di sisi lain, di sebuah kamar, dua orang gadis tengah bersitegang hanya karena outer.
"Aku lebih dulu mendapatkannya," tegas Lais. Dia tadi iseng mengecek isi lemari Krystal usai mendapat izin dari pemiliknya.
Karena dia dan Giiz kebingungan untuk mengenakan pakaian apa.
Sedangkan Krystal sejak tadi telah selesai. Gadis itu mengenakan celana Levis dengan atasan sweater biru muda yang digulung hingga siku dengan kancing depan yang dibuka dua tingkat dari atas.
"Warnanya tidak cocok dengan celananya. Outer ini lebih cocok jika dipadukan dengan celanaku," kata Giiz sambil merebut outer itu.
"Kau gunakan pakaian yang lain saja. Aishhhh, kau kenapa sih, hei lepaskan. Kau tidak cocok dengan pakaian seperti ini," kesal Lais.
Tanpa banyak basa-basi, Krystal beranjak ke lemari satunya dan mengeluarkan outer sebanyak enam buah dan menaruhnya di hadapan dua orang yang bersitegang itu.
"Terbaik," puji Giiz.
"Ngomong-ngomong, apakah kalian tidak membaca postingan di laman sekolah kitam?" tanya Lais.
Giiz menoleh, lalu mengedikkan bahu tak peduli.
"Eh tunggu," kata Giiz teringat akan sesuatu.
"Apakah di antara kita tak ada yang menghubungi Jaehan? Bagaimana jika dia sedang tak di rumah?"
"Artinya kita tak perlu mampir di rumahnya," ucap Krystal santai dan dibalas lirikan sinis oleh Lais.
**********
Usai mengantar kue di villa teman ibu, Krystal pun langsung ke villa Jaehan. Saat menginjakkan kaki di lokasi itu, Giiz tak hentinya mengucapkan kalimat-kalimat penuh takjub, bahkan mempertanyakan harga atau biaya produksi villa Jaehan.
Cukup sekali saja mereka memencet bell. Salah satu pemilik rumah langsung membukakan pintu seraya menyilakan masuk.
"Selama datang Krystal, Lais ...." Ucapan Edgar terjeda saat tatapannya mengarah pada Giiz yang memang belum pernah ke mari.
"Giiz," ucap Giiz memperkenalkan diri.
Kala masuk di villa Jaehan, Giiz maupun Lais mendadak lupa cara berbicara banyak atau berteriak seperti yang mereka lakukan sedari tadi.
Setelahnya memastikan tamunya duduk di ruang tamu, Edgar pun melangkah masuk untuk mengambil sesuatu.
""Yang tadi itu siapa?" bisik Giiz sambil mencomot manisan di atas meja.
"Namanya Edgar. Teman serumah Jaehan."
"Jadi rumah ... maksudku villa ini ditempati tiga laki-laki?" tanya Giiz hiperbola.
Krystal mengangguk.
"Di mana Jaehan?" tanya Lais saat Kaezn melewati mereka. Laki-laki itu tampak membawa kunci mobil.
"Dia ada urusan sebentar," kata Kaezn menjawab seadanya.
"Aku tidak menyangka di villa sebesar ini hanya ditempati tiga orang saja, itu pun laki-laki semuanya," bisik Giiz lagi.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, bermaksud tengah mencari-cari sesuatu. Dia tak lagi bisa menantap Jaehan dan Kaezn layaknya manusia normal. Ada kecurigaan dan kesimpulan-kesimpulan kecil yang tersusun rapi di kepalanya mengenai eksistensi Jaehan dan teman-temannya itu.
"Jadi sekarang kita mau apa?" tanya Krystal sangsi ke arah Giiz dan Lais yang tampak menikmati camilan yang dihidangkan Edgar.
"Mengulik kehidupan seorang Jaehan," gurau
Lais.
Alih-alih tertawa, Krystal malah menatap sahabatnya dengan raut serius.
"Memangnya kau tak curiga?" tanya Giiz menyadari arti tatapan Krystal.
Krystal mengalihkan pandangannya sambil meremas tangannya di atas paha.
Krystal selalu curiga.