Bab 35 - Dia Bukan gadis masa lalumu

2017 Kata
Setelah libur selama seminggu, akhirnya siswa-siswi MSS kembali ke rutinitas seperti biasa. Alasan diliburkannya pun mengenai berita yang beredar di laman MSS, mengenai tulisan panjang berisi pengakuan terhadap insiden kematian seorang murid beberapa tahun yang lalu, sebab-akibat insiden itu pun masih simpang siur, belum ada kejelasan pasti, tentunya sempat menciptakan kehebohan sesaat karena pihak sekolah cepat mengambil tindakan. Namun, tampaknya sebab-akibat insiden itu sudah tak dipertanyakan lagi semenjak tulisan itu di-posting dan beredar di semua khayalak MSS. Usai turun dari mobil, Krystal memegang ke dua tali tasnya sambil menatap halaman MSS dengan helaan napas lega. Setidaknya rumor yang menghantui mereka selama bertahun-tahun, kini sudah menemukan titik terangnya. Bahkan, laporan di kepolisian pun sudah dicabut oleh pihak keluarga korban dan telah menerimanya dengan lapang d**a, meski rasa sakit dan sedih itu masih membekas sempurna.  Dengan tekad kuat, Krystal melangkah yakin menunju MSS. Tapi, bagaikan kaset yang memutar ulang kejadian beberapa waktu lalu, Krystal merasa Dejavu dengan suasana saat ini. Angin berembus kencang tampak akan turun hujan, bahkan di sekelilingnya rata-rata sedang berlarian, begitu pun Krystal siap untuk berlari sebelum hujan turun deras. Namun, sebuah payung biru muda terentang di atas kepala Krystal, kemudian disusul pemiliknya yang berdiri di samping Krystal sambil memegang gagang payung itu, satu tangannya dia masukkan ke saku celana. Krystal mendongak, lalu menatap Jaehan yang menatap lurus dengan raut santai. Hujan turun dengan deras, beruntungnya Krystal tak merasakan basah sedikit pun.  Jalan menuju gedung MSS terasa sangat jauh, entah karena situasinya sedang hujan atau langkah mereka yang melambat. Tapi, Krystal merasa langkah mereka tampak normal, mungkin karena suasana yang melingkupi mereka ini hanya diisi suara hujan dan petir yang sesekali menggelegar. Tak ada yang membuka suara. Baik Krystal maupun Jaehan, dua-duanya bungkam dengan pikiran berkelana. Hingga sampailah saat sepatu mereka menginjak ubin MSS. Di situ, ke duanya tak langsung ke kelas. Jaehan tampak menggoyang-goyangkan payungnya agar tak terlalu basah, lalu menaruhnya di tempat penitipan payung, sedangkan Krystal, dia tidak tau kenapa dia masih di sini, alih-alih ke kelas, dia malah berdiri sambil menatap punggung Jaehan seolah menunggu laki-laki itu selesai menaruh payung. Jaehan menyugar rambutnya lalu memutar tubuhnya dan langsung bersitatap dengan Krystal yang memang tengah mengamatinya. Kepalang tanggung, Krystal tak berniat mengalihkan pandangan atau langsung pergi. "Terima kasih untuk tumpangan payungnya." Krystal berujar santai meski merasakan kecanggungan di antara mereka. Jaehan tak langsung menjawab, dia mengamati Krystal beberapa saat, lalu mengangguk sambil memperbaiki dasinya yang belum terpasang sempurna. "Kau perlu membiasakan membawa payung, kemana pun kau pergi," kata Jaehan sambil melangkah dan diikuti Krystal di sampingnya. Gadis itu mengedikkan bahu. Dulu dia sering membawa payung, tapi acap kali lupa mengambilnya jika selesai dia gunakan dan hilang begitu saja. Kecerobohannya yang membuatnya malas membawa payung. "Kau selalu membawa payung ya?" tanya Krystal. Jaehan menggeleng. "Jika cuaca menunjukkan akan hujan saja." Itu pun tak terang-terangan dia bawa, lagi pula dia memiliki kemampuan untuk menghindari hujan yang turun tanpa keinginannya. Meski begitu dia mampu membuat semesta basah akan rintik air hujan bila dia mau. Setiap langkah ke duanya, masih ada saja mata yang mengikuti dan menyorot mereka dengan pandangan bertanya-tanya. Baik Krystal maupun Jaehan, ke duanya tak peduli. Meski Krystal sempat tak nyaman, tapi sepertinya dia tak bisa membuat orang sepemikiran dengannya—yang tak suka dijadikan objek perhatian, lagi pula ini pun salahnya yang tetap bersisian bersama Jaehan. Memang telah konsekuensinya. "Masih pagi loh," ucap Lais yang tiba-tiba menghampiri mereka dan memposisikan dirinya di tengah-tengah Krystal dan Jaehan. Kemudian beralih pada Jaehan sambil mengulas senyum lebar. "Udah sarapan belum, Jae?" Krystal sontak memberi jarak dan melangkah di belakang Lais dan Jaehan, memberi ruang untuk orang yang ingin lewat. "Belum." Jaehan melirik arlojinya, lalu menatap Lais. "Mau makan bareng? Sepertinya kita masih ada waktu sepuluh menit sebelum bell," ucapnya sambil melirik Krystal yang melangkah santai. Lais mengangguk mantap, kemudian menatap Krystal yang menatap ke duanya dengan pandangan bingung. "Mau ikut makan nggak?"  Krystal langsung menggeleng. Dia sudah sarapan roti. Sepertinya tidur sebentar di kelas tak ada salahnya, dia cukup menyesal begadang demi menyelesaikan novel bacaannya. Dan sekarang dia masih diserang kantuk.  Jaehan dan Lais sudah berbelok menuju gedung kantin. Sedangkan Krystal mulai menapaki anak tangga sambil menguap.  "Krystal."  Gadis itu langsung menoleh saat namanya disebut. Kemudian menormalkan ekspresinya sambil menatap lawan bicaranya dengan tenang. "Iya?" Laki-laki itu Orlan. Sikap tenangnya sedikit mengusik Krystal yang menaruh kehati-hatiannya pada laki-laki ini. "Kau udah tau berita yang beredar itu, kan?" tanya Orlan sambil melangkah di samping Krystal yang mulai manapaki anak tangga. Krystal tak langsung menjawab, dia mencerna pertanyaan Jaehan sejenak, lalu mengangguk seadanya. "Kau tau siapa yang mempostingnya?" tanya Orlan.  Tanpa sadar Krystal menggenggam pembatas tangga dengan erat. Namun, sebisa mungkin dia menormalkan ekspresinya dengan gelengan pelan. "Kau serius?" Ucapan yang ingin dilontarkan terasa tertahan di tenggorokan Krystal. Gadis itu hanya menatap Orlan dengan raut tenang meski banyak pertanyaan-pertanyaan yang berputar di benaknya. Apa alasan Orlan menanyakannya? "Aku hanya penasaran." Orlan memecah hening sambil mengulas senyum tipis. "Karena beberapa waktu lalu aku melihatmu di ruang komputer." Dia lantas mendahului Krystal yang bergeming. Di tempatnya, Krystal menatap punggung Orlan yang semakin menjauh hingga tenggelam di antara siswa-siswi yang bergerombolan. Sempat terlintas dipikiran Krystal bahwa hari-harinya di MSS semakin terasa aneh. "Semuanya akan baik-baik aja," ucap Giiz yang baru datang, lebih tepatnya menyimak Krystal dan Orlan dari kejauhan. Tersadar, Krystal menatap Giiz. "Dari tadi?" Giiz mengedikkan bahu. "Baru aja, sih, tapi Kaezn melarangku menghampiri kalian berdua," ucap Giiz sambil menatap Kaezn yang tampak tengah menelepon di dekat pilar koridor. "Dia nggak memberimu barang-barang lagi kan?" Krystal menggeleng. Giiz menghela napas lega. "Kalau begitu, nggak usah dipikirkan, Krys. Mending kita ke kelas, lima menit lagi bell," ucapnya sambil merangkul Krystal yang masih diselimuti tanda tanya. "Giiz." "Ya?" Krystal menaruh tasnya, lalu menatap Giiz yang tengah mengutak-atik laptopnya. "Dia menanyakan perihal dibalik berita yang diposting di laman MSS." Giiz mengangkat pandangannya dengan kening berkerut. "Maksudmu orang yang mempostingnya?" Krystal mengangguk. "Kau tau?" Krystal menggeleng. Hanya saja dia merasa ada yang janggal. Orlan menyebut ruang komputer, apakah ini ada kaitannya dengan Jaehan dan Kaezn waktu itu? Tapi kalau diingat-ingat, waktu kejadian di ruang komputer itu sama dengan waktu dipostingnya berita itu. Sedetik kemudian, Krystal dan Giiz langsung saling pandang dengan wajah tegang. "Jangan-jangan ...." Giiz mengerjap, lalu mengibaskan tangannya di udara. "Nah kan, rasa curiga berlebihanmu menular padaku," decaknya lalu mendahului Krystal yang bergeming dengan pikirannya sendiri. Selepas mata pelajaran pertama selesai, tentu para siswa-siswi berhamburan keluar. Namun, tidak berlaku bagi Krystal yang memilih untuk tidur, dia benar-benar mengantuk dan lelah karena begadang sampai jam lima pagi. Kebiasaan buruk yang tidak boleh ditiru oleh siapa pun. Bahkan Krystal benci dengan kebiasaan maniaknya membaca novel hingga lupa waktu. Maka demi tak mengorok di waktu jam pelajaran ke dua, Krystal memilih mengambil jatah istirahatnya dengan tidur alih-alih ke kantin mengisi perut. Tak ada ruginya dia mencomot roti buatan Ibunya tadi pagi. "Mau nitip sesuatu?" tanya Giiz sambil merogoh tasnya tuk mengambil dompet. Krystal menggumam sambil menggeleng pelan. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Posisi ini jelas tak menyenangkan, tapi jika sudah mengantuk, apa boleh buat? Bahkan jika boleh, Krystal rasa-rasanya ingin menggelar tikar di lantai lalu melanjutkan tidur.  Krystal benar-benar telah dikendalikan oleh dunia mimpi bahkan tak menyadari kehadiran seseorang yang menarik kursi di sampingnya, lalu menempatinya. Dia mengedarkan pandangan, menelisik ruang kelas itu yang sepi, lalu beralih ke gadis yang tengah tertidur pulas itu. Bahkan terdengar dengkuran halus menandakan jika dia benar-benar lelap.  "Dasar ceroboh." Laki-laki itu berdecak sambil merentangkan jaketnya di punggung gadis itu. Cuaca hari ini sangat dingin, bahkan di luar masih turun hujan.  Alih-alih meninggalkannya, Jaehan malah ikut menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan dengan kepala miring ke samping kanan, tepat ke arah Krystal yang melakukan serupa, kini wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Sudut bibir Jaehan berkedut samar, menyadari tindakan anehnya ini. Jika dipikir-pikir, sudah lama Jaehan tak melakukan hal menggelikan seperti ini pada seorang gadis. Suara dorongan keras langsung menyentak Jaehan ke sumber suara dengan helaan napas kasar. Dasar pengganggu! "Sedang apa kau di sini?" tanya Jaehan sambil menegakkan tubuhnya seraya bersidekap d**a.  Laki-laki itu menatap Jaehan dengan raut tak ramah. Raut ramah dan bersahabat yang kerap dia tampilkan di depan Krystal, kini tak tampak sedikit pun. Tampaknya dia telah melepas topengnya. "Minggir," geram Orlan. Jaehan mengedikkan bahu, tangannya terulur mengelus rambut Krystal agar gadis itu tetap terlelap dan tak terjaga dengan situasi memanas di sekitarnya.  Sadar jika situasi ini akan memakan waktu cukup lama, maka Jaehan langsung menyorot pintu hingga tertutup dengan sendirinya, lalu kenopnya memutar kemudian terkunci dengan sendirinya. Jaehan tersenyum tipis. Aman. "Kau takut jati dirimu diketahui orang-orang ternyata," gumam Orlan. Jaehan lagi-lagi mengangkat bahunya dengan tampang tak peduli. "Sama sepertimu," sahutnya. Orlan tak menggubris, tatapannya menyorot tajam ke arah Krystal yang terlelap. Maka secepat kilat dia bergerak dan berniat menyentuh pelipis Krystal, namun secepat itu pula Jaehan menahan tangan Orlan lalu mendorongnya. "Aku harus mengecek sesuatu," kata Orlan. Jaehan menggeleng, melarang Orlan melakukannya. "Mengeceknya dengan cara seperti itu sama saja kau menyerap energinya. Kau mau dia mati?" Orlan menggeram. "Dia tidak selemah itu. Jika dia lemah, dia sudah mati sejak lama. Kau pikir dia ini manusia biasa? Naif sekali." "Kenyataannya dia memang manusia," kata Jaehan dengan nada tenang. "Ada sesuatu di dalam tubuh gadis ini," ujar Orlan penuh keyakinan. Jaehan mengangguk membenarkan. "Hanya saja itu bukan yang kau cari." "Kau tidak tau apa-apa," desis Orlan dan kembali mengulurkannya tangannya di pelipis Krystal. Gadis itu tak akan bangun sebelum Jaehan kembali mengelus kepalanya. Dia akan terus tertidur hingga situasi di sekitarnya kembali normal. Hanya saja keningnya sudah mengerut dalam saat tangan Orlan semakin dekat dengan kulitnya. "Kau menyakitinya," ujar Jaehan penuh penekanan. Berusaha menahan keras keinginannya untuk melempar Orlan ke jendela. Seolah tuli, Orlan semakin mendekatkan tangannya dan merasakan aura berbeda dari tubuh Krystal yang semakin kentara. Nyatanya Krystal memang manusia, tapi tak dapat dipungkiri ada Fox orb di tubuhnya yang tengah dicari Orlan. Tak tahan melihat kening Krystal yang semakin mengerut dengan ekspresi menahan sakit, bibir gadis itu mendesis menahan sakit dengan ke dua tangan mencengkeram kemejanya sendiri, maka Jaehan menahan tangan Orlan sambil menatapnya penuh peringatan. "Kau akan membunuhnya." "Aku tak peduli." Orlan menepis tangan Jaehan dan langsung ingin menyentuh kulit pelipis Krystal. Untungnya Jaehan menahan secepat kilat sambil mendorong Orlan ke tembok. "Dia bukan gadis masa lalumu," geram Jaehan. Emosi Orlan tersulut sempurna. Dia lantas menepis tangan Jaehan sambil mendorong laki-laki itu dengan ekspresi bengis. "Jangan ikut campur!" "Tingkahmu di dunia manusia mengharuskanku ikut campur," balas Jaehan. Orlan menoleh menatap Krystal yang kembali tenang dalam tidurnya. Gadis itu tak akan membuka mata sebelum Jaehan membiarkannya, banyak tidaknya tentu menguntungkan Orlan. Hanya saja, kenapa setiap kali melihat wajahnya Orlan selalu teringat dia, dia yang telah tiada dan tak akan pernah bisa dia temui. Semesta mempermainkannya, dia hadir lagi, dengan rupa yang sangat mirip, tapi tidak dengan sikapnya. Apakah mereka orang yang berbeda? Orlan tak yakin, ada aura tarikan di tubuh Krystal yang terasa sama di tubuh gadis masa lalunya. Sesuatu yang membuatnya terjebak di sini. Orlan membencinya, tapi di lain sisi dia tak munafik bahwa dia merindukannya terlebih kala melihat Krystal. Mereka sangat mirip. Tersadar, Orlan menyentak tangan Jaehan di bahunya. Sekali lagi dia menelisik wajah Krystal, kemudian memejamkan mata sejenak, lalu melangkah keluar dengan hati tercambuk. Perasaan s****n. Umpatnya dalam hati. Di Sepeninggal Orlan, Jaehan pun merapikan kekacauan di kelas itu, lalu menepuk-nepuk puncak kepala Krystal kemudian meninggalkannya. Tidak lama kemudian Giiz datang membawa dua botol minuman dan dua bungkus roti.  Imi"Krystal, bangun," ujar Giiz sambil mengguncang tubuh sahabatnya. Satu persatu murid-murid di kelas pun berdatangan. Jaehan menggumam asal, kemudian meregangkan otot-ototnya seraya menguap lebar.  "Ngomong-ngomong jaketmu bagus," kata Giiz sambil memegang bahan jaket yang melekat di punggung Krystal. Tersadar, Krystal langsung memegang jaket itu kemudian melepasnya dan menaruhnya ke atas meja. "Dari merk terkenal. Kau serius membelinya hanya untuk ke sekolah?" tanya Giiz hiperbola. Krystal menggaruk kepalanya bingung, "Giiz, masalahnya —." "Hm, aku tidak akan percaya, jadi kenapa jaket secantik ini kau gunakan ke sekolah?" "Giiz, ini jaket laki-laki." Giiz mengangguk membenarkan. "Lalu apa salahnya? Seleramu kan memang begitu, tapi tidak selakik ini sih.". "Itu bukan jaketku." Giiz melotot. "Tinggal mengaku saja apa salahnya, toh ibumu tajir." "Aku serius. Ini bukan jaketku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN