Bab 36 - Perihal Jaket

2025 Kata
Krystal dan Giiz saling pandang. "Pas tidur kau tidak sadar sesuatu gitu? Barangkali ada anak kelas kita yang mengenakan jaket ini ke punggungmu saat tidur," pendapat Giiz. Krystal mengedikkan bahu. Tak terlalu ambil pusing. Jika tau pemiliknya, maka Krystal akan mengucapkan terima kasih dan akan mengembalikannya usai dicuci. Diam-diam Giiz mengambil gambar jaket itu lalu mengirimnya ke grup kelas. Lagi pula suasana kelas belum terlalu ramai, akan baiknya menanyakannya via chat saja, karena mereka akan cepat tanggap dibanding bertanya langsung, pasti akan banyak ini-itu yang menyebalkan. Tak lama kemudian grup ramai oleh tanggapan-tanggapan penghuninya. Rata-rata mengatakan bukan miliknya dan tak melihat seseorang masuk saat Krystal tertidur di kelas. Salah seorang menyebut jika itu jaket dari penggemar Krystal dengan embel-embel emot menggoda dan menyayangkan sikap dingin Krystal, pun menganggap itu diberikan diam-diam oleh seorang laki-laki. Giiz menghela napas lelah. Menyimpan ponselnya ke kantong roknya sambil menatap Krystal yang menguap lebar. Bahkan Giiz sadar jika sahabatnya kerap mengalami sesuatu yang aneh akhir-akhir ini.  Apakah ini ada kaitannya dengan laki-laki bernama Orlan? Giiz tersentak, menganggap jika jaket itu dari Orlan. "Mau kemana?" tanya Krystal saat melihat Giiz beranjak. Giiz menoleh, lalu meringis. "Ke toilet," katanya. Kemudian beranjak meninggalkan Krystal yang lagi-lagi menguap, kemudian tatapannya jatuh pada jaket itu. Apakah akhir-akhir ini orang-orang mendadak baik padanya hingga rela meminjamkan jaketnya tanpa diminta? Krystal menghela napas panjang. "Mencariku?" tegur seseorang saat Giiz mengintip. Giiz terlonjak sambil mengusap dadanya. Kemudian mengode Orlan agar mengikutinya agar menepi dari hiruk-pikuk koridor sekolah. "Kenapa kau terus mengikuti temanku?" tanya Giiz langsung tanpa basa-basi. Lama-lama dia resah melihat Orlan yang kerap menitipkan atau memberikan barang pada Krystal. "Mengikuti?" Satu alis Orlan menukik ke atas. Benaknya mulai menerka, tak mungkin rasanya ada manusia yang sadar. "Maksudku, kau selalu menitipkan barang-barang atau memberinya barang. Aku sangat menghargai tindakan gentelman kamu itu. Hanya saja, aku sangat paham dengan watak Krystal, dia tidak mudah luluh dengan hal seperti itu. Kau akan lelah melakukannya, cobalah untuk bersikap biasa saja tanpa membuatnya tak nyaman," ucap Giiz. Sejujurnya dia takut dengan aura Orlan, namun tekatnya sudah bulat.  "Begitukah?" Orlan menyunggingkan senyum tipis yang menyerupai seringaian. "Ya. Memakaikan jaket saat dia tidur misal," kata Giiz. "Jaket?" ulang Orlan memperjelas. Melihat Giiz mengangguk, senyumnya pun merekah.  "Tidurnya sangat lelap tanpa mengenakan pakaian hangat." Orlan beralih menatap suasana di luar. "Cuacanya sangat dingin, sekarang masih hujan. Setidaknya jaket itu membantunya kan?" Giiz diam beberapa saat. "Kau sangat menyukainya, ya?" Pertanyaan Giiz lebih mengarah tak yakin. Dia tidak meragukan pesona sahabatnya, tapi benarkah Orlan melakukan itu semua karena rasa suka? Tapi kenapa? Sejauh ini—sebagai orang yang selalu menjadi perantara—Giiz hanya menerima surat atau kalimat belaka yang perlu disampaikan ke Krystal. Bahkan saat didekati oleh ketua ekskul basket pun Giiz tak pernah melihat orang senekat Orlan. Sampai Giiz dan ketua ekskul itu putus, dia tak pernah diberi apa pun. Bukan berharap, hanya sekadar membandingkan, dan itu tidak baik. Di tempat lain, ada Krystal yang menyimak semua obrolan Giiz dan Orlan. Tadi dia juga berniat ke toilet dan mengikuti Giiz, tapi sahabatnya itu malah tak menuju toilet, membuat Krystal penasaran hingga berakhirlah dia di sini. Sepulang sekolah, Krystal berdiri di dekat gerbang seraya mengamati setiap siswa-siswi yang berlalu lalang dengan jaket di tangannya. Tak lama kemudian dia melihat keberadaan Orlan yang tengah berjalan ke parkiran tempat mobilnya berada. Maka Krystal langsung menghampirinya dan berdiri tempat di depannya, sempat membuat Orlan mundur beberapa langkah, terkejut. "Aku mengagetkanmu?" Orlan berdeham sambil menyentuh pangkal hidungnya seraya menelisik Krystal dari atas hingga ke bawah, lalu menggeleng sambil menyunggingkan senyum tipis. Krystal mengerjap. Orlan memang tampan ternyata. "Mau pulang bersama?" tawar Orlan sambil menunjuk mobilnya. Krystal menggeleng. "Aku akan mengembalikan jaketmu jika sudah kucuci." Perihal jaket ternyata. Pikir Orlan. Maka Orlan mengangguk saja.  "Terima kasih atas niat baikmu. Tapi ...." Krystal mendongak, menatap Orlan yang jauh lebih tinggi darinya. "Kau tidak perlu melakukannya." "Kau terganggu?" Krystal mengangguk tanpa rasa segan sedikit pun. Ini haknya untuk menyikapi perlakuan orang lain padanya.  Orlan tersenyum tipis. Jaehan bodoh, ejeknya. "Maafkan aku. Tapi aku tidak berjanji untuk tidak melakukannya lagi," kata Orlan. "Setidaknya kau sudah tau jika hal itu membuatku tak nyaman." Orlan mengangguk. "Aku minta maaf." Jeda sejenak, dia menatap Krystal, kemudian melanjutkan, "Sebagai bentuk permintaan maafku, aku mengundangmu untuk makan malam." "Tiba-tiba?" cetus Krystal tanpa pikir panjang.  "Kau bebas memilih tempat makannya. Aku mengikut saja," kata Orlan.  Krystal semakin dibuat bingung. Alasannya mengatakan tak nyaman dengan perlakuan Orlan pun agar laki-laki ini sadar diri. Tapi, lihatlah apa yang terjadi. "Bagaimana kalau aku menolak?" "Aku akan mengajakmu lain kali." Krystal menggigit bibir bawahnya bingung. Orlan tersenyum tipis, merasa jika targetnya semakin dekat dijangkau. "Baiklah. Jadi, kapan?" tanya Krystal. Kenapa jadi ribet begini? "Besok malam." "Malam?" "Ada yang salah?" Krystal menggeleng. "Mari bertemu di kedai roti," kata Krystal seraya menyebut alamat kedai yang dia maksud. Kedai itu selalu ramai pengunjung. Di tempat lain, tepatnya di dekat jendela lantai dua yang mengarah ke parkiran dan halaman MSS, ada dua orang yang mengamati interaksi Krystal dan Orlan. "Kenapa diam saja?" tanya Zei, menoleh sekilas ke Jaehan yang duduk di sofa dan melipat satu kakinya. Tangannya sibuk membuka halaman buku. "Tidak penting." Jaehan menjawab tak acuh. "Kau tidak khawatir?" Pertanyaan Zei berhasil membuat Jaehan menatapnya. "Untuk apa?" "Serius kau berbicara seperti itu?" Zei tertawa dibuat-buat sambil bertepuk tangan. "Lalu apa yang mau kau dengar?" Zei melangkah dan duduk di kursi kosong satunya. Tangannya bergerak mengambil minuman yang tersedia di meja. Di tempat lain ada pemilik ruangan ini yang tertidur pulas hasil perbuatan Jaehan. "Bahkan dia mengembalikan jaketku pada orang yang salah," kata Jaehan dengan nada datar. Zei tertawa mengejek. "Salah kau sendiri yang memakaikannya saat dia tertidur." Jaehan mendengkus dan kembali membuka lembaran buku. "Kau kesal karena dia salah paham atau karena Orlan yang tengah bersama Krystal?" pancing Zei. "Tidak dua-duanya." Jaehan menegakkan tubuhnya dan melempar buku itu ke meja. "Lalu?" "Jaketku." Jaehan berkata frustasi. "Itu jaket kesayanganku." Zei mendecih. "Harganya sangat mahal." "Kau bisa membeli pabriknya jika mau," kata Zei enteng seraya menyandarkan tubuhnya, meregangkan ke dua tangannya ke sandaran sofa. "Aku mau pulang," kata Jaehan. "Ngomong-ngomong, sudah waktunya aku pulang juga dan aku tak bawa mobil," kata Zei seraya mengemas meja agar tak mencurigakan pemilik ruangan. "Aku tak bertanya." Zei memutar bola mata malas. "b*****h kau." Jaehan mengedikkan bahu tak peduli, lalu melangkah keluar sambil mengangkat kunci mobilnya angkuh.  Sesampainya di rumah, Krystal terkejut bukan main saat menemukan seseorang yang duduk tenang di ruang tamu seraya menikmati roti. Di sampingnya ada Lais yang tersenyum senang sambil memegang segelas jeruk peras.  "Kau telat pulang, ya," kata Lais. "Baru selesai berkencan ya?" lanjutnya teringat perdebatannya dengan Giiz beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa Giiz dan Krystal sedang double date di roof top sekolah. "Non, dipanggil sama Ibu," ucap asisten Ibu ke arah Lais. Gadis itu mendengkus sebal, tapi tetap menurut dengan langkah berat hati. "Kau mau meninggalkan tamumu sendirian di sini?" tanya Jaehan saat melihat Krystal yang melangkah melewatinya. "Kau sendiri sedang apa di sinim?" Bukannya menjawab pertanyaan Jaehan, Krystal malah melayangkan pertanyaan. "Seperti yang kau lihat ...." Satu roti masuk ke mulut Jaehan. "Menikmati camilan enak ini." Krystal memilih diam. "Aku ingin memberikan ini." Jaehan mengeluarkan sebuah kertas bergaya klasik dengan tampilan elegan.  Krystal menerimanya dengan kening mengerut. Setelah membaca isinya, dia langsung menghela napas lelah. "Ngedate, huh?" ejek Krystal. Jaehan langsung mengibaskan tangannya di udara. "Itu undangan makan malam yang diberikan oleh pemilik restoran. Berhubung ada dua, apa salahnya aku mengundang seseorang. Kau misal, barangkali belum pernah mengecap suasana restoran itu." Krystal menarik napas panjang kemudian mengembuskanya perlahan. Tangannya bergerak memijit kepalanya yang pusing. Dia tidak peduli dengan alasan Jaehan atau apa pun itu. Hanya saja, haruskah dia melakukan itu?  "Terima kasih. Aku hargai kesan baikmu ini yang mengundangku makan malam. Tapi maaf, aku sudah memiliki janji dengan orang lain." "Apakah sangat spesial? Maksudku, apakah orang yang mengajakmu itu sangat penting sehingga kau harus pergi bersamanya?" pancing Jaehan sambil menyimpan kertas undangan itu ke saku celananya. "Bukan perihal penting atau tidaknya. Tapi dia yang lebih awal mengajakku dan aku sudah menyetujuinya." Krystal menatap Jaehan dengan sorot tak habis pikir. "Aku tidak akan membatalkan janjiku dengan dia ... dan apakah itu penting? Ya." "Kenapa dia ketus sekali?" tanya Jaehan pada dirinya sendiri.  "Aku masih bisa mendengarnya, ya," pelotot Krystal sambil mengangkat garpu. Dia hendak memakan kue yang tersedia di meja. Jaehan tak membuka suara lagi. Melihat Krystal mengunyah jauh lebih menarik. "Kau ...." Krystal menoleh ke Jaehan sambil mengarahkan garpunya. "Tak menyukaiku, 'kan?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.  Jaehan menganga beberapa saat, lalu berdeham sambil memajukan tubuhnya dan saling mengaitkan tangannya. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, huh?" "Mau terus menatapku." Krystal mengedikkan bahu santai, kembali memasukkan satu potongan kue ke mulutnya. "Biasanya laki-laki yang tertarik dengan seorang gadis akan sering mencuri-curi pandang, contohnya kau." Seolah kalah telak akan ucapan Krystal yang tidak mendasar itu, Jaehan pun kembali menyandarkan tubuhnya sambil menggeleng pelan. "Kalau pun itu benar, lalu bagaimana tanggapanmu?" pancingnya. "Seperti yang kau lihat sekarang ini." Krystal merentangkan tangannya. "Tak akan merubah apa pun, kecuali aku yang menyukaimu," ucapnya tanpa beban. Sedangkan Jaehan bergeming dengan pikiran berkelana. Haruskah dia menaklukkan gadis ini hingga waktunya tiba? Di tempat lain, ada Giiz yang berdecak kesal karena temannya menitipkan tas mereka padanya. Hingga saat ini, teman-temannya tak datang dan masih sibuk menyoraki tim basket sekolah mereka. Lagi pula apa salahnya membawa tas di kursi penonton? Menyebalkan. Rasanya Giiz ingin membuang tas-tas mereka ini. Dia sekarang duduk di kursi kayu di bawah pohon tepatnya halaman MSS dengan lima tas di dekatnya. Besar keinginan Giiz ingin meninggalkannya saja, tapi jika hilang atau terjadi sesuatu, pasti dia yang akan terkena masalah. Alih-alih pulang secepatnya, Giiz malah menghentakkan kakinya kesal sambil mengusap wajahnya frustasi. Teman s****n, umpatnya. Di tengah kekesalannya, ada sebotol minuman dingin terulur di depan wajahnya. Giiz langsung mendongak dan mendapati seorang laki-laki raut dingin tengah berdiri di hadapannya. Satu tangan laki-laki itu di saku celana, sedang satunya mengulurkan botol minuman yang belum disambut Giiz hingga detik ini. Dia terlalu terkejut dan tidak menyangka. "Ambil," ucapnya dengan nada datar. Tersadar, Giiz langsung buru-buru mengambilnya dan membukanya. "Manis," ucapnya usai meneguk isinya. Kaezn duduk di samping Giiz sambil menatap lurus ke depan. Menyimak siswa-siswi yang berlalu lalang—rata-rata murid yang aktif di organisasi, yang biasanya jam segini masih berkeliaran di sekolah mengurus segala macam kegiatan. "Kenapa belum pulang?" Giiz tergagap. Ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan teman serumah Jaehan, tapi dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan menyambanginya di sini. Terlebih Giiz masih ingat saat Kaezn menyerang Krystal tempo lalu. Rasa takut dan was-was itu jelas ada. "Aku tidak makan manusia," kata Kaezn lagi dengan nada rendah khasnya. Menebak apa yang tengah Giiz pikirkan. "Bukan begitu ... gini ... er, kau sendiri kenapa belum pulang?" Kaezn menoleh, membuat Giiz melotot jika tidak cepat menormalkan ekspresinya. Terkejut karena Kaezn menoleh di saat dirinya tengah menatap laki-laki itu dari samping. "Malas." "Malas?" ulang Giiz.  Kaezn tak menanggapi. "Gini loh, semua anak sekolah itu rata-rata menantikan jam pulang sekolah, tapi kenapa kau malah malas?" cerocos Giiz. "Entah." Giiz mengernyit heran. Selain singkat, jawabannya juga membingungkan. "Ngomong-ngomong terima kasih minumannya," ucap Giiz sambil menyunggingkan senyum ramah. "Itu bukan punyaku." "Hah?" Kaezn menunjuk seorang gadis yang baru saja masuk ke mobil. "Dia yang memberikan minuman itu padaku." Senyum Giiz sontak surut tergantikan ekspresi melongo. "Lalu kenapa kau memberikannya padaku?" kesal Giiz. Seolah lupa dengan ketakutan dan rasa canggungnya. "Kau tidak suka?" Kaezn mengerjap. Kemudian mengambil minuman itu dari genggaman Giiz, lalu melemparnya ke tempat sampah. Giiz semakin dibuat tak mampu berkata-kata. Mungkin saat ini dia tampak seperti orang bodoh. "Kau ...." "Kenapa?" tanya Kaezn, nol ekspresi. Giiz tak mampu menerka-nerka entah apa yang dipikirkan atau dirasakan Kaezn melalui ekspresi yang dia tampilkan. Dia terlalu tenang dan dingin di saat bersamaan. "Kenapa membuangnya?" kesal Giiz. "Kau ...." Kaezn menggantung ucapannya, dia menatap Giiz dengan raut tak terbaca. "Banyak bicara," ucapnya kemudian meninggalkan Giiz yang melongo tak percaya. Kaezn melangkah santai seraya memasukkan ke dua tangannya ke saku celana. Seolah tak melakukan apa-apa, berbanding dengan Giiz yang hampir saja melempar sepatunya ke kepala Kaezn. Kurang ajar! Umpat Giiz. Padahal hampir saja dia terpesona dengan sikap baiknya yang memberikan air di saat Giiz memang kehausan dan kepanasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN