Bab 37 - Berkencan (?)

2000 Kata
Krystal datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Sebelum pergi ke sana, Lais sempat mengikutinya dan merengek untuk ikut. Untungnya ibu menahan gadis itu dan membiarkan Krystal pergi menggunakan taksi yang dia pesan. Krystal datang satu jam lebih awal. Alasannya pun untuk mengambil tempat karena biasanya kedai ini selalu ramai akan pengunjung. Akan tetapi, setengah jam sudah Krystal duduk di sini, masih belum ada satu pun pengunjung selain dirinya. Sedangkan pemilik kedai tampak sibuk menyusun box pesanan online. "Apakah tidak apa aku duduk di sini menunggu temanku?" tanya Krystal pada pemiliknya. Dia pikir malam ini hanya menerima pesanan online. "Aduh duh, tidak apa-apa. Memang hari ini pesanan online lebih banyak dibanding pembeli yang datang langsung. Tapi bukan berarti kami tak menerima pengunjung. Jadi, selamat menikmati, ya," ucap pemilik kedai itu ramah. Menghalau dingin dan rasa bosan, Krystal pun mengambil iPad dari dalam tas yang dia bawa. Kemudian membuka aplikasi menggambar dan mulai menarikan pennya di layar. Selain gemar membaca buku, Krystal juga suka menggambar, tapi hanya sekadar menghalau rasa bosan. Jika diminta memilih antara membaca dan menggambar, maka Krystal lebih memilih membaca. Karena menurutnya untuk menggambar yang serius dan menghasilkan suatu gambar bagus, Krystal membutuhkan effort yang besar, sedangkan membaca tidak. Meski begitu dua-duanya tentu menyenangkan. Tidak lama kemudian pintu masuk terbuka menampilkan sosok laki-laki tinggi yang mengedarkan pandangannya, kemudian tersenyum saat mendapati Krystal. Langkah tegapnya melangkah pasti tuk bergabung bersama Krystal. "Sudah lama?" tanya Orlan. Krystal mengangguk. Orlan langsung mengecek jamnya, kemudian menatap Krystal. "Telat satu menit. Maaf." "Aku datang satu jam lebih awal." Krystal berujar santai. "Tidak perlu merasa tak enak, karena aku yang datang lebih awal. Oh iya, kau mau pesan apa?" tanyanya sambil membuka buku menu. Sudut bibir Orlan berkedut tipis. Selain tak mampu membaca pikiran Krystal, dia pun tak bisa menebak isi kepala Krystal. Gadis ini penuh dengan kejutan-kejutan kecil yang membuatnya tak habis pikir. Dia mengedarkan pandangannya usai memesan beberapa macam roti. Sesuai dengan harapannya, tak ada pengunjung selain mereka. Pekerjaan mudah yang memang telah dia rencanakan. Bagaimana pun juga rencananya harus berjalan lancar malam ini juga. Mengenai pemilik kedai dan pegawainya, itu bukanlah masalah besar. Hanya dengan menjentikkan jari pun Orlan dapat membuat mereka tak sadarkan diri. Krystal menyimpan ipadnya dan mulai menikmati kue yang telah diantar ke meja mereka. "Enak?" tanya Orlan sambil menyendok satu kue yang bentukannya unik dengan buah-buah segar di atasnya. Krystal mengangguk. "Rasanya manis, asam, mmm segar. Mau mencobanya?" tawar Krystal sambil mendorong piringnya ke tengah saat Orlan mengangguk. "Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Orlan. Krystal menatap Orlan sejenak, kemudian mengangguk. "Kenapa kau selalu menampilkan raut jutek?" "Bukan aku yang mau." Krystal mengunyah pelan. "Tapi memang beginilah bentukan wajahku. Aku tak pandai mengekspresikan perasaanku, jadi entah aku marah atau senang, ya memang beginilah ekspresiku." "Lalu sekarang ini?" "Maksudmu?" "Bagaimana perasaanmu saat ini?" Krystal menatap kue-kue di atas meja sambil mengunyah pelan, lalu menunjuk kue berwarna hijau dengan lelehan keju di atasnya. "Seperti kue ini." Orlan mengikuti arah pandang Krystal, lalu menyendok kue itu kemudian mengecapnya pelan. Perpaduan green tea dan cream cheese itu sedikit aneh dan baru di lidahnya. Lalu apa maksudnya perasaan Krystal sama dengan kue ini? Setelah kejadian di sekolah tadi, Giiz masih belum bisa melupakan kekesalannya pada sosok Kaezn. Rasanya kekesalannya tidak akan reda jika dia tidak melempar sepatunya ke kepala laki-laki itu. Lagi pula kenapa dia mengurungkan niatnya itu? Giiz mengerang frustasi. Bunyi bell membuatnya menarik kepalanya dari bawah bantal. Dia berpikir sejenak, jarum jam baru menunjukkan jam tujuh. Biasanya ayah dan ibunya baru pulang paling cepat jam sepuluh malam. Terlebih mereka biasanya langsung masuk begitu saja tanpa memencet bell. Giiz melepas ponselnya dari charger kemudian mengecek riwayat pesan dan panggilan. Tidak ada nama Krystal. Dia pikir sahabatnya itu yang berkunjung. Maka dengan raut cemas, Giiz melangkah ke depan untuk mengecek siapa gerangan yang datang. Giiz tak langsung membuka pintu, dia mengecek jendela dan melihat seorang laki-laki tengah berdiri di depan pintunya, kemudian di terasnya pun terparkir sebuah mobil mahal yang amat dia kenali. Giiz langsung menyandarkan tubuhnya sambil memegang dadanya yang bertalu tak normal. Dia tak salah lihat kan? "Aku tau kau melihatku," kata orang itu. Dengan perasaan gugup bercampur takut, Giiz pun membuka pintu dan langsung melihat keberadaan Jaehan yang tengah mengenakan pakaian rapi. Apakah laki-laki ini mengajaknya berkencan? Giiz langsung mencubit pipinya sendiri. "Kau sibuk?" tanya Jaehan. Giiz menggeleng. "Ada apa?" "Bisa temani aku ke suatu tempat?" Tanpa berpikir panjang, Giiz langsung menyetujuinya dan langsung berlari ke kamar untuk merapikan penampilannya. Tak membutuhkan waktu lama, Giiz telah siap dan sudah duduk di samping Jaehan. "Kita mau ke mana?" tanya Giiz. "Melihat sahabatmu yang tengah kencan." Jaehan menoleh sekilas sambil menyeringai. "Menarik bukan?" Giiz terperangah. "Maksudmu Krystal?" tanya Giiz memperjelas. Jaehan mengangguk. "Sejak kapan? Oh tidak-tidak, bisa-bisanya dia memiliki pacar tapi tidak memberitahuku. Seharusnya dia harus berbagi kabar bahagia. Apakah dia tidak menganggapku sahabatnya lagi hah?" geram Giiz dengan wajah memerah. Jadi ini alasan Krystal selalu menolak keberadaan Jaehan dan pemberian Orlan? Giiz benar-benar tidak menyangka. "Sahabatmu itu memang payah," timpal Jaehan semakin mematik kekesalan Giiz. "Aku selalu menceritakan semua suka citaku padanya. Tapi, dia sendiri sudah berkencan dan tidak memberitahuku? Wah-wah dia menganggapku apa selama ini!" "Sebentar, dari mana kau tau kalau Krystal tengah berkencan?" tanya Giiz sambil menoleh. "Aku mendengarnya membuat janji temu malam ini." "Dengan siapa?" Jaehan mengedikkan bahu. "Nanti kau juga akan tau." "Bisa lebih cepat tidak?" sentak Giiz membuat Jaehan menatapnya tak percaya. Bahkan kecepatan mereka kalo ini sudah melewati batas normal. "Kau ingin aku menerobos mobil-mobil di depan?" tanya Jaehan santai. Lagi pula bukan sulit baginya melewati mobil-mobil di depannya. Hanya saja dia tidak yakin gadis di sampingnya ini akan baik-baik saja setelahnya. Giiz berdeham, lalu memegang tali seat belt dengan erat. "Tidak perlu, bagaimana pun juga aku belum mau mati." Kemudian perjalanan menuju ke tempat Krystal itu diisi kesunyian. "Bye the way, kenapa kau memberitahuku?" Jaehan menoleh sekilas. "Karena kau temanku." Jaehan menyunggingkan senyum manis, membuat Giiz berdeham salah tingkah. Dasar manusia, batin Jaehan. Di sisi lain Krystal dan Orlan diselimuti keheningan. Baik Orlan maupun Krystal dua-duanya tak membuka suara. Orlan tampak sesekali menatap sekeliling, lalu melirik Krystal yang memainkan sedotan minumannya. "Kau tidak suka?" tanya Orlan memecah hening. "Suka. Kuenya enak." Orlan menggeleng. "Bukan itu maksudku." Orlan menghela napas panjang. "Kau tidak suka bertemu denganku, 'kan?" tanyanya dengan nada menuntut. Krystal tak mengangguk maupun menggeleng. "Kau pun tau, apa pun yang kita lakukan tidak akan merubah sesuatu di antara kita. Orlan, aku bisa menganggapmu teman, tapi tolong berhenti menitipkan barang ke teman-temanku," pinta Krystal penuh harap. "Kau benar-benar berbeda dengannya. Ternyata aku salah menilaimu," ucap Orlan lirih dengan sudut bibir berkedut tipis. "Maksudmu?" Orlan tak menjawab. Dia memainkan sendok di piringnya. "Kau membandingkanku dengan mantanmu huh?" tanya Krystal. "Tidak. Aku tidak melakukan apa pun." Orlan menyunggingkan senyum manis. "Makanlah, setelah ini mari kita pulang." "Kau tinggal di mana?" tanya Krystal mengalihkan pembicaraan. Lagi pula rasanya tak mengenakkan jika suasana di antara mereka terasa kaku dan diselimuti keheningan. Orlan tak langsung menjawab. Tak mungkin dia menjawab jujur bahwa dia tinggal di kawasan paling elit kota ini. Hal itu bisa mencuri perhatian dan kecurigaan. "Kenapa? Kau mau berkunjung?" Krystal langsung mengalihkan pandangannya ke piring, enggan bersitatap dengan Orlan. Sorot mata laki-laki itu kadang terlihat berbinar-binar, kosong, kecewa, dan memendam kesedihan. "Tidak. Lagi pula untuk apa?" Orlan bersidekap d**a sambil menatap Krystal dengan senyum tertahan. "Menurutmu?" Krystal tak menjawab. Senyum di bibir Jaehan perlahan pudar tergantikan raut mengeras dengan ke dua tangan mengepal. Ada yang datang, dia merasakannya. "Hari sudah hampir larut, ada baiknya kita pulang," ucap Orlan berusaha mengulas senyum agar Krystal tak menaruh curiga. Krystal menyadari nada bicara Orlan yang cenderung memaksa dan bergetar. Ada apa dengannya? "Kau baik-baik saja?" tanya Krystal sambil menatap tangan Orlan yang mengepal di atas meja. Tersadar, Orlan langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja sambil tersenyum simpul. "Aku baik-baik saja." Krystal tak langsung percaya. Dia kembali melirik tangan Jaehan yang perlahan mengendur dan terbuka, tapi masih dapat dilihat jika urat-urat tangannya menegang. Keringat dingin membasahi pelipis Jaehan. Bukan karena dia takut atau merasa terancam, dia hanya marah dan kesal dengan Gumiho yang terus mengawasinya sejak memutuskan mendekati Krystal. "Kau berkeringat," ujar Krystal, tanpa pikir panjang dia menarik tisu dan menyapukannya ke pelipis Orlan. Tangannya menyentuh kulit laki-laki itu kemudian tersentak. Orlan bergeming dengan raut kaku. Sorot matanya tak lepas dari wajah Krystal yang berdiri di sampingnya. Terlebih saat gadis itu menyentuh pelipisnya tanpa penghalang apa pun. "Badanmu sangat dingin," kata Krystal, tak menyadari tatapan Orlan yang sarat akan rindu bercampur marah. "Aurora!" desis Orlan. "Apa?" tanya Krystal tak begitu jelas mendengarnya. "Sebentar, apakah kau sakit? Badanmu dingin sekali." Orlan menangkap tangan Krystal yang ingin menyentuh kepalanya lagi. Kemudian menggenggam tangan gadis itu dengan tatapan tak lepas dari wajahnya. "Kenapa kau melakukan ini?" tanya Orlan dengan nada rendah, hampir menggeram. "Apa maksudmu?" "Kenapa kau bertingkah seolah peduli padaku? Kau sangat berbeda dengannya, tapi kenapa kau harus berprilaku seolah aku patut dikasihani?" "Kau bicara apa?" tanya Krystal bingung. Di tempat lain, mobil Jaehan sudah terparkir baik di depan kedai. Giiz buru-buru melepas seat belt kemudian langsung masuk ke kedai dan mencari keberadaan Krystal. Giiz mengedarkan pandangannya dan langsung menemukan Krystal yang tengah berdiri di depan seorang laki-laki yang hanya tampak punggungnya saja di tempat Giiz. "Ternyata mereka sedang berkencan," ujar Giiz melihat laki-laki itu menggenggam tangan Krystal. Jaehan menatap dua orang itu dengan helaan napas lelah. Sudah lama dia tidak melihat adegan aneh seperti itu. "Selamat kencan," ujar Giiz sambil menepuk pundak Orlan sekuat tenaga seraya mengulas senyum ke Krystal dengan raut tersakiti. Giiz mencengkeram bahu Orlan semampunya tanpa mencari tau lebih dulu. Sedangkan Jaehan telah duduk di kursi kosong meja itu seraya menikmati kue yang tersisa. Dia bahkan kembali memesan beberapa macam kue beserta minuman. Seolah tak peduli dengan huru-hara di samping dan hadapannya. Makanan manis ini sedikit membantu ternyata. "Kau sedang apa di sini?" tanya Krystal heran sambil menarik tangannya dari genggaman Orlan. "Melihat kalian kencan." Giiz berdecak pelan sambil menepuk-nepuk pundak Orlan, kemudian merangkulnya dengan santai. "Jadi, siapa gerangan laki-laki yang kau kencani ... Eh AAAA!" pekik Giiz dengan mata melotot saat melihat wajah Orlan yang tengah menyorotnya tajam. "Kau ... kau, berkencan dengan dia?" tanya Giiz sambil bersembunyi di belakang Krystal. "Menurutmu?" kesal Krystal kembali ke kursinya. Moodnya tambah berantakan saat melihat Jaehan yang makan dengan lahap seolah tak melakukan kesalahan. "Idih, kenapa ekspresimu begitu? Jadi benar kau berkencan dengan dia?" ulang Giiz takut-takut. "Kau pikir saja sendiri," decak Krystal. "Pengganggu," desis Orlan ke arah Jaehan yang tersenyum mengejek. "Bagaimana? Kau menikmatinya?" Orlan mendengkus, enggan membalasnya. "Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Krystal ke arah Jaehan. Laki-laki itu mengangkat bahu acuh. "Hanya melihat kemesraan kalian. Ternyata cukup menghibur," katanya. Giiz menatap Jaehan dan Orlan bergantian sambil menggenggam garpu dengan erat. "Jadi benar kau dan Orlan berkencan?" ulang Giiz ke sekian kalinya. "Ti—" "Iya." Orlan memotong ucapan Krystal dengan cepat. Membuat semua pasang mata di meja itu menatapnya dengan air muka berbeda-beda "Mulai malam ini kami resmi berpacaran," lanjut Orlan. Menciptakan pekikan tak terima Krystal. "Kau sendiri menikmatinya, 'kan? Jadi kenapa kita tidak berpacaran saja. Perihal kue tadi, rasanya tak buruk, cenderung unik dan manis. Jadi, kesimpulanku soal perasaanmu tidak salah, 'kan?" Krystal bergeming, tak mampu berkata-kata. Kenyataannya dia tak suka matcha. Jaehan menyimpan garpu dengan gerakan pelan lalu menyandarkan tubuhnya. Pikirannya berkelana jauh. Tampaknya dia kalah cepat memahami situasi. "A-aku tidak salah dengar kan?" Orlan menggeleng, dia menyunggingkan senyum tipis. "Aku dan sahabatmu sudah resmi berpacaran." "Sungguh?" Giiz menyentuh bahu Krystal yang bungkam. "Kuharap tidak ada kesalahpahaman lagi," kata Orlan. "Aku tidak menyangka," gumam Giiz. Dia menatap kuenya tanpa minat. Giiz senang jika Krystal memiliki pacar karena sahabatnya itu sangat jarang berinteraksi dengan laki-laki. Namun, sebagai sahabat yang baik, Giiz tidak ingin Krystal mendapatkan pacar yang b******k atau jauh dari kata aman. Giiz tidak mempercayai Orlan. "Ah iya, ini jaketmu." Krystal mengangkat Tote bag yang dia bawa ke atas meja dan menyodorkannya ke Orlan. Dia baru mengingatnya. Jaehan menatap totebag itu dengan raut tak terbaca. Jaket kesayangannya. "Ah, iya." Orlan melirik Jaehan sambil menyeringai lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN