Bab 38 - Kukira kau mayat hidup

2014 Kata
"Alasan kita bertemu malam ini bukan untuk membahas hal seperti itu." Krystal yang bergeming beberapa saat pun membuka suara sambil menatap Orlan penuh kesungguhan. Satu alis Orlan menukik ke atas. "Kami tidak ada hubungan apa pun." Krystal menatap Giiz dan Jaehan secara bergantian. "Orlan, aku menganggapmu teman, sebagaimana mestinya. Tidak lebih. Maaf jika kata-kataku terkesan kasar, tapi itulah yang sebenarnya." Orlan mengeratkan kepalannya di bawah meja dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Seolah-olah semuanya baik-baik saja. Rencananya mencapai puncak kegagalan. "Aku ke toilet dulu," kata Krystal akhirnya. Dia melangkah cepat menuju toilet, kemudian mengunci pintu dan menatap pantulannya di kaca. Jantungnya bertalu tak normal akibat kesimpulan sepihak Orlan. Dia berdebar-debar bukan karena terpukau atau merasa senang, Krystal malah takut dan ingin pulang saat itu juga. Krystal membasuh wajahnya lalu mengelapnya menggunakan tisu. Setelah menenangkan diri beberapa saat, dia pun melangkah ke luar. Berharap semuanya baik-baik saja meski terdengar mustahil. "Kau baik-baik saja?" Krystal terlonjak kaget. Seseorang bersandar di samping pintu dan langsung melayangkan pertanyaan saat Krystal melangkah keluar. "Kau sedang apa di sini ... di toilet perempuan." "Memastikan jika kau baik-baik saja," kata Orlan sambil mengamati Krystal. "Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat," kata Krystal dengan nada setenang mungkin. Meredam debar jantungnya yang bertalu. Kenapa Orlan selalu membuatnya terkejut huh? "Mengenai tadi—" Krystal mengangkat tangannya, menandakan agar Orlan tidak melanjutkan ucapannya. "Aku minta maaf sebesar-besarnya padamu. Tapi, apa pun yang kamu katakan, hal itu tidak akan mengubah keputusanku. Aku bisa menjadi temanmu, aku akan menganggapmu temanku seperti Giiz dan Jaehan. Aku hanya meminta agar kau tidak mengharapkan lebih dari itu." Kening Orlan mengerut dalam mendengar nama Jaehan disebut-sebut. "Kau menyukainya?" Giliran kening Krystal yang mengerut. "Siapa yang kau maksud?" "Jaehan." Krystal menghela napas lelah. Sebenarnya ada apa dengan Jaehan dan Orlan? Kenapa interaksi dua laki-laki ini terlihat tidak biasa? "Orlan, di mana letak kalimatku yang menyiratkan kalau aku menyukainya?" Karena Orlan tak kunjung menjawab, maka Krystal melangkah meninggalkannya. Namun, baru dua langkah, Orlan kembali berbicara membuat langkah Krystal terjeda. "Jaehan bukan orang yang baik." Krystal menoleh tanpa memutar tubuhnya. "Sejauh ini dia tidak pernah melukaiku." Sudut bibir Orlan berkedut tipis. "Belum. Belum waktunya," ucapnya lalu melewati Krystal sambil mengelus puncak kepalanya, mengantarkan energi aneh ke dalam tubuh Orlan, membuatnya mengumpat pelan. Sekembalinya Krystal dan Orlan ke meja mereka, Giiz dan Jaehan tampak sibuk menikmati kue yang tampaknya baru saja mereka pesan. Sedangkan di sekeliling mulai ramai pengunjung, membuat Krystal sedikit heran. Kenapa sejak tadi begitu sepi seolah-olah kedai ini hanya diperuntukkan untuk dirinya. "Aku tidak suka matcha," celetuk Jaehan sambil menyodorkan kue yang didominasi warna hijau itu ke arah Giiz. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Krystal menatap kue itu dan Jaehan bergantian. Dia pun tak menyukaiku matcha. Rasanya aneh. "Mau aku pesankan?" tanya Jaehan ke arah Orlan yang bungkam seribu bahasa usai balik dari toilet. Laki-laki itu terus diam, emosinya semakin dipermainkan saat kedai ini semakin ramai. Jaehan menggagalkan rencananya. Orlan mendengkus, lalu memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan. Lagi. "Bagaimana kalian bisa bersama ke sini?" tanya Krystal ke Giiz yang sejak tadi sibuk mengunyah. Padahal dia yang datang-datang mengomel. "Jaehan yang menjemputku." Giiz tersenyum malu. Sedangkan Jaehan berdeham, menyayangkan sikap Giiz yang terlalu jujur. "Dalam rangka apa?" tanya Krystal sambil menatap Jaehan. "Tidak ada." Jaehan menjawab cepat sambil mengulas senyum. "Tidak ada salahnya mengajak teman makan kue, 'kan?" ucapnya sambil menatap Krystal, Giiz, dan melirik Orlan, seolah tengah menertawakan laki-laki itu. Meski bingung, Giiz tetap mengangguk. Ngomong-ngomong dia lupa membawa uang. "Kau mengikutiku?" tuduh Krystal dengan mata menyipit, melayangkan tatapan mengintimidasi ke Giiz yang tertawa kecil, jelas dibuat-buat. "Aku hanya memastikan kalau kau baik-baik saja kok," kilah Giiz sambil menepuk lengan Orlan, membuat laki-laki itu menatapnya heran. "Syukurnya Orlan memperlakukanmu dengan baik," lanjutnya seraya mengulas senyum dan langsung menarik tangannya dari lengan Orlan. Auranya terasa dingin dan kaku. Hingga tibalah waktunya di mana mereka harus berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Orlan terlihat jelas enggan dan berat hati untuk menjauh dari sekitar Krystal. "Aku akan mengantarmu pulang," tegas Orlan. "Aku harus bertanggung jawab dan memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat," lanjutnya. Giiz menatap Krystal dan Orlan bergantian. Lalu berdiri di tengah-tengah mereka. "Begini, kenapa tidak ada yang mengajakku pulang?" "Aku akan pulang dengan Giiz. Orlan, maaf ya," kata Krystal dengan raut berat hati. Di sisi lain, Jaehan tengah menyimak mereka seraya bersandar di mobilnya. Sebatang rokok dia sesap seraya mengembuskanya perlahan. "Sampai kapan aku harus menyimak drama kehidupan manusia?" tanyanya pada diri sendiri. Lelah dengan hukumannya yang harus mengamati, mengintai, dan menghukum makhluk-makhluk berhati iblis, tak terkecuali manusia. Ponselnya di saku celana menarik perhatian Jaehan. Benda persegi itu terus bergetar sejak tadi, membuat empunya berdecak dan tetap menerimanya meski enggan—sudah paham alasan panggilan itu. "Kau belum melakukan apa pun hari ini," kata Kaezn di seberang sana. Jaehan menghela napas bosan. "Aku sedang bekerja alias mengintai." Hening beberapa saat. Waktu itu digunakan Jaehan untuk melihat posisi Krystal yang masih terpaku pada Orlan dan Giiz. "Kau bersama Krystal?" "Hem. Dan teman cerewetnya." "Haruskah aku ke sana?" "Tidak perlu. Di sini aku hanya menyimak mereka mendebatkan rasa kue." Jaehan menghela napas lelah, teringat di meja tadi Giiz dan Krystal sibuk mendebatkan rasa kue mana yang paling enak. "Baiklah." Jeda beberapa saat. "Temannya temanmu itu alergi minuman pemberian." Kemudian Kaezn menutup telepon sepihak, menyisakan Jaehan yang mengerutkan dahi heran. "Sedang bicara dengan pacar ya?" tanya Giiz. Nada bicaranya lebih terdengar santai, tak sekaku biasanya. Jaehan tersenyum, tidak menggeleng atau pun mengangguk. "Bisa kita pulang sekarang?" tanyanya, melihat Orlan yang masuk ke mobilnya sendiri lalu melaju begitu saja. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Krystal. Paham jika dirinya mengganggu, maka Giiz undur diri dan masuk lebih dulu. Jaehan mengangguk dan membawa Krystal di kursi kayu panjang yang tak jauh dari kedai tadi, lalu duduk di sana. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Krystal menatap Jaehan beberapa saat, lalu pandangannya turun menyusuri wajah, leher, kemudian d**a laki-laki itu. Jaehan mengikuti arah pandang Krystal, kemudian mengerjap pelan. "Aku ingin mengecek sesuatu," kata Krystal seiring dengan terulurnya tangannya tuk menyentuh letak jantung Jaehan berada. Tangan Krystal sedikit gemetar dan terasa kaku saat permukaan telapak tangannya sudah menyentuh atasan Jaehan. Sekali lagi dia memastikan jika Jaehan tidak akan memberontak. "Menemukan yang kau cari?" Jaehan mengulum senyum sambil menyentuh tangan Krystal di dadanya, lalu menangkup tangan itu dan menekannya. "Bagaimana?" Krystal buru-buru menarik tangannya. "Kukira kau mayat hidup," katanya tanpa ekspresi berarti, lalu melangkah ke tempat mobil berada, meninggalkan Jaehan yang menyeringai lebar. Hari libur yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seperti hari libur biasanya, Giiz pasti selalu diminta untuk membeli bunga di toko bunga yang terletak di pinggir sungai di pinggir kota. Sungai yang dimaksud itu ialah sungai buatan, terlihat seperti kolam yang memanjang. Di pinggir sungai buatan itu selain menjadi tempat untuk bersantai, liburan, atau jogging, tempat itu pun dijadikan pusat perbelanjaan tradisional. Toko-toko yang berjejer di sana tampak memiliki ukuran sedang dengan keunikan masing-masing. Maka sebelum jarum jam menunjuk angka sembilan Giiz harus sampai di sana jika ingin kebagian bunga. Dia langsung bergegas ke sana usai membersihkan diri dan sarapan. Tak jarang Giiz mengajak Krystal, tapi temannya itu sedang tidak enak badan. Giiz tau itu hanya akal-akalan Krystal yang ingin bergelut dengan novel-novel kesayangannya. Sesampainya di sana, Giiz sedikit terkejut melihat ada beberapa mobil yang terparkir di depannya. Tampak orang-orang berjas tengah berdiri di setiap sudut toko, sedangkan di sisi lain ada laki-laki tampan tinggi tengah menggandeng seorang perempuan seraya memilih bunga, diikuti Florist di belakangnya yang cekatan menulis setiap pesanan pengunjungnya. "Giiz." Lusi, salah satu Florist kedai ini menegur Giiz. Gadis itu memang sudah mengenal salah satu pelanggan tetapnya ini. Giiz mengedikkan dagu ke arah pasangan itu. "Kau kedatangan pelanggan istimewa, ya." Lusi mengibaskan tangannya di udara sambil menggeleng pelan. "Semua pelanggan di sini istimewa. Kami tidak membeda-bedakannya," ucap Lusi dengan gerakan anggun. Giiz mendecih sinis. "Tidak istimewa heh? Lalu itu ada lima Florist yang mengikutinya." Giiz menoleh, mengamati pria berjas yang berdiri tegap. "Ada banyak pengawal. Masih mau bilang kalau kalian tidak mengistimewakan beberapa golongan pelanggan hem?" sarkas Giiz seraya memilih bunga Lily. Lusi tersenyum canggung. "Dia salah satu putra orang penting di kota ini. Jadi, ya begitulah. Harusnya kau paham," terang Lusi. Giiz mengangguk beberapa kali. Dia sangat paham akan hal itu. Di sisi lain tidak peduli. Setelah memesan bunga yang dia inginkan, Giiz tak langsung pulang. Dia berkeliling di sekitar kedai demi melihat-lihat bunga dan sesekali berhenti hanya untuk menghirup harum baunya. Meski pelanggan dibebaskan untuk mencium harum bunga, tapi pihak kedai tetap memisahkan antara bunga yang boleh disentuh atau bahan percobaan pelanggan dengan bunga yang khusus untuk pesanan. Giiz masuk lebih dalam, ada bulatan besar di tengah-tengah yang terbuat dari kayu. Lingkaran itu diperuntukkan sebagai pintu dengan bentuk yang tidak biasa. Di ruangan itu khusus untuk bunga peliharaan. Ada banyak bibit dan bunga yang siap tanam. Di sudut ada berjejer tanaman yang disusun di lemari yang menyerupai tangga. Di depannya ada seorang laki-laki yang tengah mengamati bunga mawar berwarna hitam. Dari banyaknya bunga, hanya bunga itu yang tampak sendiri dan terasingkan. Giiz melangkah lebih dekat, berniat melihat mawar itu lebih dekat. Tangannya terulur untuk menyentuh kelopaknya, tapi belum sempat Giiz melakukannya, tangan laki-laki itu bergerak cepat menahan tangan Giiz. Dingin. Hal yang dirasakan Giiz saat tangan laki-laki itu menyentuh kulitnya. "Tanganmu kotor," katanya dengan suara rendah. Kemudian melepas tangan Giiz begitu saja. Giiz melongo dengan ekspresi tak percaya. "Kau ... kau sedang apa di sini?" pekik Giiz, terkejut. Laki-laki itu menoleh dengan ekspresi tak tertarik. "Menurutmu?" "Membeli bunga?" tebak Giiz tidak yakin. Kaezn kembali menatap mawar hitam itu dengan raut tak terbaca. Tak menggubris Giiz yang menyorotnya dengan raut bertanya-tanya. "Kau mau memberikan ini pada kekasihmu?" tanya Giiz, kemudian berdecak pelan. "Tidak cocok. Lebih baik mawar merah," kata Giiz sambil menunjuk pot di sudut lain. Hening. Kaezn tetap tak menanggapi Giiz. "Dia hampir mati," kata Kaezn memecah hening. Giiz melirik kanan kiri, beruntungnya para Florist sibuk dengan pelanggan istimewa mereka sehingga hanya melirik sesekali ke arah Giiz dan Kaezn. Pasalnya gerak-gerik Kaezn terlihat mencurigakan di mata Giiz. Dia berdiri mematung di depan pot bunga tanpa melakukan apa pun selain memandangnya dengan sorot datar khasnya. "Aku akan mencurinya," kata Kaezn tanpa beban. Seolah yang dia katakan hal biasa. Berbeda dengan Giiz yang menganga dengan mata melotot. "Kau gila, ya?" umpatnya. Kaezn menatap Giiz, lalu menggeleng yakin. "Aku harus membawanya pergi dari sini." Giiz terpukau beberapa saat dengan kalimat panjang Kaezn. Tapi, yang benar saja? Laki-laki ini dari fashionnya saja terlihat seperti laki-laki old money. Meski tampilannya di sekolah dan luar sekolah sangat jauh berbeda. "Kau ...." Giiz membekap mulutnya hiperbola. "Pencuri." Kaezn langsung menatap Giiz dengan raut tak terima. "Aku belum melakukannya." "Jadi kau ini laki-laki yang ingin memiliki bunga, tapi sangat miskin ya?" sinis Giiz. Mendadak sebal mengingat perlakuan Kaezn saat di sekolah beberapa waktu lalu. "Jaehan bisa membelikan toko ini beserta isinya untukku." "Jadi kesimpulannya kau miskin?" Kening Kaezn berkedut tipis, melayangkan raut keberatan dengan kesimpulan Giiz. Jika gadis ini melihat aset yang Kaezn punya, apakah dia akan tetap merendahkannya? "Ya." Giiz berdecak. "Sudah kuduga. Mari aku bayarkan untukmu," kata Giiz berbaik hati. "Mereka tidak menjualnya." Giliran Giiz yang mengerutkan kening. "Lalu apa gunanya bunga ini ada di sini?" Kaezn tak menanggapi pertanyaan Giiz. Dia pun heran atas kehadiran Giiz di sini. Tapi, yang terpenting Kaezn harus membawa bunga ini ke tempat awalnya. Di sini dia terlihat menyedihkan dan hampir mati kekeringan. Kaezn tak habis pikir atas tindakan manusia yang mengambil bunga yang bukan haknya kemudian menjadikannya aset. Sangat mudah Kaezn membawa bunga ini pergi tanpa sepengetahuan siapa pun. Pasalnya gadis anta berantah ini merusak rencana yang sudah dia siapkan sejak tadi. Maka demi kebaikan bunga ini, Kaezn memilih untuk menghapus memori Giiz sejak melihatnya di sini sampai detik ini dan membuatnya tak sadarkan diri. "Lusi," panggil Giiz. "Dia berniat mencuri bunga itu," adu Giiz cepat sambil menunjuk Kaezn yang siap menjalankan aksi. Karena tindakan Giiz, Kaezn bergeming beberapa saat. Menatap Giiz yang tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Florist itu langsung melapor sehingga tampak satpam dan beberapa Florist menghampiri mereka. Kaezn memejamkan mata sejenak. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan dongkol, jengkel, dan tidak suka ini. Apakah ini yang disebut kesal?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN