Bab 39 - Tamu tak diundang

2024 Kata
Krystal menatap ponselnya beberapa kali seraya mengemas barang-barang yang ingin dia bawa ke dalam totebagnya. Setengah jam yang lalu dia mengirim pesan ke Giiz, tapi gadis itu tak kunjung membaca pesannya. Krystal berniat mengajak Giiz pergi ke pinggir sungai pinggir kota. Di sepanjang jalan itu selain ada bagian toko-toko berjejer rapi, ada pula mini lapangan yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon rimbun yang menyejukkan. Krystal suka duduk di bawahnya seraya menggelar tikar. Namun, hingga Krystal masuk ke taksi, Giiz belum juga membaca pesannya. Akhirnya Krystal memutuskan menyimpan ponselnya dan berharap bertemu Giiz di sana. Semoga saja Giiz masih di toko bunga yang kerap dia kunjungi setiap hari Minggu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Krystal sampai di sungai pinggir kota itu. Krystal melangkah menuju toko bunga sambil menenteng totebagnya yang berisi satu buah novel, satu botol air, iPad, serta tikar. Langkah Krystal memelan kala melihat seseorang keluar dari pintu toko bunga itu disusul Giiz, lalu Kaezn di belakangnya. Raut wajah Giiz tampak kusut sambil menenteng slim bagnya. Gadis itu menatap ke depan dan langsung melihat keberadaan Krystal yang siap membalikkan tubuhnya. "KRYSTAL!" Krystal menghela napas berat. Gagal sudah dia kabur. Mau tidak mau Krystal menoleh sambil membalas lambaian Giiz yang langsung tersenyum cerah dan berlari menghampirinya. "Kukira kau tidak mau ke sini," kata Giiz sambil melingkarkan tangannya di lengan Krystal. "Aku bosan di rumah." Krystal mengedikkan bahu lalu mulai melangkah diikuti Giiz di sampingnya. "Mana bunga yang kau beli?" Wajah Giiz langsung berubah sebal seraya mencebikkan bibir. "Aku meminta jasa kurir toko itu untuk mengantarnya ke rumah." Perihal kejadian di toko beberapa waktu lalu, Giiz masih kesal setiap mengingatnya. Kaezn tak melakukan pencurian, tapi bunga mawar hitam itu tetap jadi miliknya. Karena saat Krystal melapor sehingga florist dan para pengaman berdatangan, sang pemilik toko malah melerai semuanya dan tersenyum hangat ke Kaezn sambil memeluk singkat laki-laki itu, mereka terlihat seperti teman. Tidak lama kemudian Jaehan datang dan pemilik toko itu menyambutnya penuh senyum hangat dan melayani mereka dengan senang hati, bahkan menawarkan beberapa bunga terkenal di toko itu untuk mereka bawa. Giiz masih tak habis pikir. "Terjadi sesuatu?" tanya Krystal. Giiz menggeleng, lalu mengangguk. "Pokoknya aku tak menyukai dia." "Dia?" Krystal menoleh ke belakang, Jaehan dan Kaezn berjalan bersisian tampak tengah berbicara santai. "Kaezn. Si kulkas berjalan." "Dia melakukan sesuatu padamu?" Tangan Giiz terangkat menggaruk rambutnya. "Krystal, kau kan sudah kenal dengan Jaehan—maksudku, kalian itu sudah dekat, apakah kau tau seluk-beluk Kaezn? Apakah dia benar-benar miskin?" Krystal mengangkat bahu tak peduli. Pandangan aneh dia layangkan ke Giiz. "Kau tidak seharusnya mengulik latar belakang ekonomi seseorang. Itu bukan urusanmu," kata Krystal, berbelok ke jalan kanan tempat pohon yang kerap dia jadikan tuk berteduh sambil menggelar tikar di bawahnya. "Kalau kau tau kejadian yang sebenarnya, pasti kau tidak akan mengatakan itu." Giiz berdecak sambil membantu Krystal merapikan tikarnya. "Belum tentu." "Dia." Giiz menunjuk Jaehan yang tengah berbincang dengan salah satu penjual gulali. "Terlihat jelas seorang anak yang kaya raya, pasti orang tuanya memiliki bisnis yang luar biasa. Lalu dia—" Tangan Giiz mengarah ke Kaezn yang berdiri seraya memasukkan ke dua tangannya ke saku jaket. "Dia sekolah dia sangat culun, tapi lihat gayanya sekarang? Dia seperti laki-laki pada umumnya, dia juga membawa mobil mewah, tapi serius itu miliknya?" "Jadi kesimpulannya apa?" tanya Krystal seraya membuka bookmark novelnya dan mulai melahap kata demi kata yang berjejer rapi dan indah. "Dia berniat mencuri bunga di toko tadi," kata Giiz dengan nada geram. Krystal mengangkat kepalanya, menatap Giiz dengan sorot menuduh. "Tak heran, kau punya dendam pribadi kan dengannya?" Giiz berdecak sambil merebut novel Krystal. "Dia bilang sendiri, dia berniat mencuri bunga itu karena pemilik toko tak menjualnya." "Memangnya bunga apa?" tanya Krystal tanpa minat seraya mengambil novelnya kembali. "Bunga mawar hitam." Gerakan Krystal membuka lembaran baru langsung terjeda. Mawar hitam? Terdengar tidak asing baginya. Suara petir menggelegar saling bersahutan membelah hening. Rintik hujan kecil perlahan deras membanjiri bumi yang kering kerontang akibat paparan sinar matahari di siang hari. Suara binatang amfibi terdengar nyaring merasuki sela-sela rumah dan sedikit mengganggu fokus seorang gadis yang masih bergelut dengan novel-novelnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas. Tapi dia belum berniat tidur, ingin menyelesaikan bacaannya yang tinggal seratus halaman lebih. Sesaat dia tersentak terkejut saat jendela kamarnya tertarik lalu terhempas menyisakan suara derik yang ngilu. Kain penutup jendela terhempas akan angin. Krystal melangkah untuk mengeratkan talinya. Dia mendekatkan wajahnya di jendela dan melihat suasana di luar sana. Pohon-pohon meliuk-liuk seperti ingin rebah menimpa atap rumah orang. Krystal terpejam dengan bibir membentuk garis lurus saat cahaya petir tampak menerangi sudut kota beberapa detik, lalu disusul suara guntur yang menggelegar. Krystal bergeming beberapa saat usai membuka mata. Dia tak sengaja menatap atap rumah tetangganya yang menampakkan seseorang tengah berdiri di atasnya seraya menatap ke jendela kamar Krystal. Kilat kembali menyambar dan sosok itu tak lagi terlihat. Krystal yakin dia melihat seorang laki-laki berdiri di sana sambil melihatnya. Krystal langsung menutup tirai dan mengunci jendelanya serapat mungkin. Setelahnya dia kembali ke kasur dan menarik selimut, berusaha melenyapkan penglihatannya yang mungkin saja salah lihat. Masalahnya ibu sedang lembur di kantor. Biasanya jika sedang badai, maka ibu akan menginap di sana dan pulang keesokan paginya. Krystal hanya bertiga dengan asisten rumah tangga dan tukang kebun, beliau ada di lantai satu. Krystal tak mungkin mengusik sepasang suami istri itu yang tengah beristirahat. Krystal sudah biasa sendiri di rumah saat hujan sedang melanda. Tapi, berbeda untuk kali ini, pasalnya dia melihat sosok lain di atap rumah tetangganya. Berharap itu hanya sekadar imajinasinya. Dua puluh menit berlalu, hujan masih mengguyur. Untungnya Krystal telah mampu menguasai rasa takutnya. Teringat dia belum makan malam, maka dia pun melangkah menuruni tangga. Sebelum ke meja makan, Krystal masih sempat mengintip di jendela luar, melihat tak ada tanda-tanda kehidupan, dia pun berbalik. Suara mobil berhenti membuat Krystal kembali mengintip di jendela, berpikir itu ibunya yang pulang. Akan tetapi warna mobil itu tidak terlihat seperti milik ibu. "Sedang apa kau?" teriak Krystal agar suaranya tak teredam oleh suara hujan yang jatuh menimpa genteng. Dia langsung membuka pintu saat melihat seseorang keluar dari mobil itu. Jaehan melepas mantelnya lalu memiringkan kepalanya untuk melihat ke dalam rumah. "Gelap sekali. Kau sendirian?" tanyanya sambil melangkah masuk. Krystal menatap keluar sejenak, lalu menutup pintu sambil mengikuti Jaehan yang menyampirkan mantelnya, lalu menghadap Krystal. "Kau baik-baik saja?" tanya Jaehan sambil meneliti Krystal yang melipat tangannya di depan d**a. Krystal mengangguk. "Sekarang sudah jam satu malam." Jaehan mengangguk. "Yap, betul sekali. Sudah waktunya tidur 'kan?" Krystal menggaruk dahinya sambil membasahi bibir bawahnya. Situasi ini membingungkannya. "Dalam etika bertamu, disebutkan bahwa tidak sopan bertamu di jam-jam tidur, persis yang kau lakukan sekarang." "Oh, ya? Maaf kalau begitu. Tapi aku akan menginap di sini," balas Jaehan santai lalu melangkah ke dapur layaknya rumah sendiri. Dia membuka lemari es lalu mengambil sebotol cola, tangannya yang lain membuka lemari lain dan memilih camilan yang disusun rapi di sana. "Kau mau?" tawarnya ke arah Krystal yang bersandar di tembok seraya bersidekap d**a. Krystal menggeleng. "Jadi apa yang membawamu ke sini?" Jaehan tak langsung menjawab. Dia menatap roti di depannya, lalu mengambil beberapa bungkus dan menjawab, "Hujan. Mungkin?" Sorot mata Krystal menusuk, dia membalikkan badan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Terlihat jika dia kesal dengan Jaehan yang bertele-tele. "Bagaimana kalau aku bilang ibumu yang memintaku ke sini?" Krystal menoleh. "Kau berbohong." Anggukan menjawabnya. "Memang." "Kurang ajar!" umpat Krystal, sedang Jaehan terkekeh geli. Pada dasarnya Jaehan sejak tiga jam yang lalu berkeliaran di sekitar rumah Krystal. Mengawasi gadis itu dari luar rumah meski hujan deras dan guntur menggelegar. Sekali lagi, Jaehan bisa menurunkan hujan jika dia mau, tapi dia tak mampu mencegahnya jika hujan itu turun jika memang harus. Karena bosan dan lapar, jadi Jaehan memutuskan untuk memarkir mobilnya di depan rumah Krystal. Tadinya dia mengira jika gadis itu sudah tidur, nyatanya belum karena dia mengintip di jendela dan langsung membuka pintu begitu melihat keberadaan Jaehan. Kedati demikian Jaehan bersyukur, sebab dia bisa masuk tanpa harus mengendap-endap layaknya pencuri. Namun, sekarang bagaimana dia menjelaskan pada gadis ini tentang kedatangannya ini? Siapa pun pasti akan berpikir aneh dan mencurigakan. Sedangkan di luar sana ada Orlan yang mengintai Krystal di tengah kegelapan. Laki-laki bisa bertindak gegabah demi obsesinya. Krystal kembali entah dari mana dan  membawa tongkat bisbol dan mengarahkannya ke Jaehan. "Karena di luar sedang hujan, jadi aku memaklumimu agar tetap di dalam rumah. Tapi jangan dekat-dekat atau aku melayangkan tongkat ini ke arahmu," katanya penuh kesungguhan sambil mengetuk-ngetuk bahu Jaehan menggunakannya ujung tongkat bisbol itu. Jaehan menyeringai, merasa tertantang. Meski begitu dia mengangguk mengiyakan. "Kau sendirian?" tanya Jaehan basa-basi meski sudah mengetahui jawabannya. Krystal menggeleng. "Tidak. Jadi jangan macam-macam!" ancamnya. "Tidurlah. Tenang saja aku tidak akan macam-macam. Nanti aku akan pulang setelah hujan reda," kata Jaehan seraya menyalakan televisi dan memilih series Netflix. Pilihannya jatuh pada series drama tentang zombie di sekolahan. "Kau sudah menontonnya?" Krystal melirik tv, lalu menggeleng. Dia akan menontonnya bersama Giiz. "Aku tidak mempercayaimu," kata Krystal. Bisa saja kan Jaehan berniat buruk padanya? Lagi pula baru kali ini dia ada kenalan yang berani berkunjung ke rumah saat tengah malam dan berlaku layaknya rumah sendiri. Aneh, bukan? Jarum jam sudah menunjukkan angka tiga pagi. Jaehan masih terjaga dan masih menikmati series zombie itu. Sedangkan di sofa single lainnya ada Krystal yang tengah memeluk guling yang dia ambil dari kamarnya. Gadis itu sesekali terantuk dan kembali sadar seraya menguap lebar. Jaehan berdecak pelan, gemas melihat posisi tidur Krystal.  Jaehan menyingkirkan bantal sofa dari pangkuannya, lalu memelankan volume televisi. Dia bergerak mengambil bantal sofa dan menjadikannya sebagai alas kepala Krystal. Selimut yang dibawa Krystal dia rentangkan ke tubuh gadis itu hingga sebatas dagu. Sudut bibir Jaehan berkedut tipis saat melihat selimut lain di sana, ternyata gadis itu juga menyiapkan untuk dirinya. Pelan-pelan Jaehan memperbaiki posisi Krystal agar berbaring dan menarik kaki gadis itu pelan agar posisinya lurus sehingga saat bangun nanti tak menyebabkan keram. Sulit bagi Jaehan untuk mengalihkan pandangannya dari wajah polos Krystal yang tengah tertidur. Sesekali gadis itu melenguh pelan dan kembali lelap setelahnya. Di sepanjang hukuman yang dia jalani, baru kali ini Jaehan menikmati hukumannya, dia hanya perlu mengamatinya dan memastikannya baik-baik saja dan terhindar dari Orlan. Meski dia tau, nanti ada masanya akan berbanding terbalik, cepat atau lambat pasti akan terjadi, dan Jaehan harus siap untuk itu. Tidak ada yang bisa menjamin, dia akan hidup di dunia manusia setelah semuanya berakhir atau masa hidupnya sampai di sini saja. "Bisakah?" gumam Jaehan. Tersadar, Jaehan langsung mengusap wajahnya secara kasar. Dia mengambil mantelnya dan memakainya seraya melihat ke jendela. Hujan mulai reda, menyisakan gerimis. Sebentar lagi pagi dan Jaehan harus pergi sebelum Krystal bangun. Saat terbangun dari tidurnya, Krystal langsung mencari keberadaan tongkat bisbolnya yang bersandar di sofa. Setelah menemukannya, Krystal langsung mengedarkan pandangan—mencari keberadaan Jaehan. Krystal menggaruk pipinya yang gatal sambil celingak-celinguk. Alasan Jaehan berkunjung pun masih menjadi misteri bagi Krystal. Meski takut dan was-was, Krystal tak munafik jika kedatangan Jaehan membuatnya sedikit tenang dari rasa takutnya. 'kau jelek saat tidur' Kelopak mata Krystal menurun dengan raut datar saat membaca notes yang ditaruh di atas meja sofa. Krystal cepat-cepat mengambil ponselnya dan mengaktifkan kamera untuk mengecek penampilannya. "Menyedihkan." Hari Senin, hari yang dibenci oleh anak-anak sekolahan, tidak semua tapi rata-rata mengatakan iya. Meski hari Senin kerap dibenci, bukan berarti para pelajar menghindari hari itu. Mereka tetap ke sekolah walaupun raut mengantuk dan malas terpantri dari wajah-wajah mereka. Tidak berbeda jauh dengan Giiz. Dia begadang semalaman karena menonton drama. Karena berjalan sambil menguap, dia tidak sadar jika di depannya ada mobil yang tengah terparkir. Saat pintu depan terbuka, Giiz menabraknya sambil memekik keras. "Kalau memarkir mobil yang benar dong!" sungut Giiz. Pemilik mobil itu keluar seraya menutup pintu mobil. Pintu di kursi penumpang tidak lama kemudian pun menampakkan sosok seseorang, dia melayangkan senyum ramah ke Giiz lalu melangkah duluan. "Heh tunggu!" cegah Giiz sambil menghadang Kaezn. Laki-laki itu menatap Jaehan yang telah masuk lebih dulu. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Giiz yang mendongak. "Kenapa?" "Ayo minta maaf!" "Untuk?" "Karena pintu mobilmu mengenaiku." Kaezn menatap pintu mobilnya. "Kau yang salah." "Heh—" "Kau berjalan tanpa melihat jalan," timpal Kaezn. "Seharusnya sebelum keluar kau harus melihat kaca spionmu! Bayangkan jika yang lewat itu pengendara," balas Giiz. "Jadi ...." Kaezn membasahi bibirnya. "Kau tidak apa-apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN