Bab 40 - Kalian pacaran?

2088 Kata
"Jadi ...." Kaezn membasahi bibirnya. "Kau tidak apa-apa?" Giiz mengerjap beberapa saat. "Y-ya, seperti yang kau lihat," kata Giiz dengan wajah memerah. "Lalu kenapa masih di sini?" Gadis itu melongo seperkian detik, kemudian mendengkus sinis sambil mengibaskan rambutnya. Dia melangkah pergi sambil mengomel. Di belakang ada Krystal yang melihat itu semua dengan kening mengerut dalam. Ada apa dengan Giiz dan Kaezn? Dua orang itu tampak memiliki hubungan yang buruk. "Tidurmu nyenyak?" tanya Jaehan. Laki-laki itu berdiri di depan tangga seperti tengah menunggu Krystal. Setelahnya dia berjalan mensejajarkan dirinya dan Krystal. Krystal memicing mata, menyorot Jaehan dengan pandangan penuh peringatan. "Jangan pura-pura tak tau," kesalnya. Jaehan terkekeh geli, sekotak minuman coklat dia taruh di telapak tangan Krystal, lalu mendahului gadis itu seraya balik menyapa beberapa siswi yang menegurnya. Saat perjalanan menuju kelas, Krystal melihat sosok Zei yang tengah mengobrol dengan Jaehan. Dari kejauhan mereka terlihat layaknya guru dan seorang siswa. Namun, mengingat obrolan Zei dan Krystal beberapa waktu lalu dan interaksi Jaehan dan dirinya di ruang guru dulu, kini Krystal tak bisa melihat mereka layaknya guru dan siswa. "Kau baik-baik saja?" Krystal tersentak, mengalihkan eksistensinya ke arah laki-laki yang baru menyapanya. "Baik." Krystal mengembuskan napas pelan. "Kenapa?" "Jaehan bilang kau ketakutan saat badai hujan tadi malam." Kaezn menoleh, menatap Krystal. "Ada yang mengganggumu?" Waktu terus berjalan dan koridor sekolah semakin ramai dijajaki siswa-siswi. Harum parfum berbagai macam jenis menyeruak, menciptakan kesan yang menusuk dan pusing. Krystal menggosok hidungnya, sebelum menjawab. "Tidak. Memangnya aku kenapa?" Krystal menggosok hidungnya lagi. "Coba kau tanyakan pada Jaehan, kenapa dia bertamu ke rumahku di saat jam tidur? Kurasa itu tak cukup sopan." Kaezn membuka bibir, siap mengatakan sesuatu. Tapi merasakan hawa tusukan pandangan tajam Jaehan di kejauhan. Dia pun merapatkan bibirnya kembali. Berdirinya Kaezn di samping Krystal pun atas permintaan Jaehan. Laki-laki itu sadar jika Krystal masih menaruh curigai padanya dan siap melayangkan pertanyaan-pertanyaan. Maka demi menghindari itu semua tanpa lepas dari pengawasannya, kini Kaezn lah yang menggantikannya. "Mau duduk di sana?" tawar Krystal, menunjuk sebuah meja bundar terbuat dari kayu dengan bangku berbentuk bulat persis seperti potongan kayu. Kaezn mengangguk mengiyakan. Lagi pula masih ada waktu sepuluh menit sebelum bell berbunyi. Krystal menyedot minuman coklat yang diberikan Jaehan tadi. Dia duduk sambil menaruh ke dua tangannya di atas meja, diikuti Kaezn di hadapannya. "Kemarin kau dari membeli bunga mawar hitam 'kan?" Kaezn menyimak dengan tenang. "Saat ke rumah kalian dulu, aku melihat banyak bunga mawar hitam di tanam samping kolam yang terletak di bagian belakang," Krystal sedikit tidak yakin dengan posisinya, mengingat ukuran villa itu sangat besar. "Kau membelinya untuk Jaehan 'kan?" Laki-laki berparas dingin itu menggeleng. "Aku tidak membelinya. Pihak toko yang memberinya dengan suka rela." Sada jika pemilihan katanya kurang tepat, Krystal pun mencoba untuk meralatnya. "Begini, intinya bunga itu untuk Jaehan 'kan?" "Aku tidak tau." Pantang bagi Kaezn untuk membuka lembaran hidup Jaehan pada seorang manusia, terlebih jika menyangkut dengan hubungan di masa lalu. "Aku penasaran dengan itu." Krystal menopang dagu. "Padahal itu tanaman langka." "Kau menyukainya?" "Hem?" "Kau suka mawar hitam?" Krystal menggeleng. "Aku tidak tertarik dengan segala macam bunga." Harusnya dari awal Jaehan memang menghindari gadis ini alih-alih mengenalnya sehingga membuatnya harus mengamatinya dan memastikannya baik-baik saja. Hukuman tetaplah hukuman, tapi Kaezn meragukan gadis ini jika mengetahui alasan mereka terus mendekatinya. Apakah dia akan baik-baik saja setelah tau latar belakang Jaehan? Kaezn berdecak pelan, rasanya terlalu mustahil. Sebagaimana dia mengabdikan hidupnya pada Jaehan yang telah menerima dan menolongnya selama ini, maka Kaezn tak akan diam saja jika eksistensi Jaehan terancam hanya karena seorang gadis. "Kaezn." "Ya?" "Waktu itu ...." Krystal memainkan kemasan minumannya. "Kenapa kau mencekikku?" Bertepatan saat itu bell berbunyi nyaring. Kaezn langsung berdiri, Krystal mendongak menatapnya menunggu jawaban. "Aku tidak berniat melakukannya." Krystal masih mendongak sambil meremas kemasan minuman itu. "Lalu kenapa kau mencekikku? Aku tau saat itu kau tidak baik-baik saja." "Krystal ...." Kaezn menatap sembarang arah sejenak, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Krystal. "Aku ... ada masanya kau akan tau sendiri," ucapnya. Krystal mengangguk mengerti, dia lantas berdiri. "Biar aku yang membuangnya," kata Kaezn mengambil kemasan itu lalu melemparnya ke tong sampah. Setelahnya hening menyelimuti mereka di sepanjang jalan menuju kelas. Sampai mereka berpisah di koridor pun tak ada obrolan yang memecah hening di antara mereka berdua. "Heh, kenapa kau bisa bersama kulkas berjalan?" tanya Giiz sambil berkacak pinggang. "Tidak sengaja bertemu di jalan," jawab Krystal santai. "Ngomong-ngomong, kenapa kau terlihat sangat membencinya?" Krystal menaruh tasnya. "Kau menyukainya, ya?" tanyanya sambil tersenyum miring. Giiz sontak mengibaskan tangannya di udara sambil mendengkus. "Aku? Suka dengan kulkas berjalan? Hahahaha. Jangan bercanda, Krystal!" Krystal mengedikkan bahu santai. "Bisa saja kau menyukainya." "Menyukai siapa?" sambar Lais yang baru saja masuk ke kelas Krystal dan Giiz. "Sana-sana keluar! Sebentar lagi guru masuk!" usir Giiz sambil mendorong Lais. Gadis itu menghempas tangan Giiz dengan raut dongkol. "Apaan, sih!" Giiz melengos sinis. "Kau bermalam di rumah Krystal tanpa membereskan selimut di sofa, 'kan? Dasar jorok!" tuduh Lais. Giiz langsung menatap Lais dengan raut tak terima. "Heh, aku selalu membereskan selimut kalau bermalam di rumah Krystal. Lagi pula kami tak pernah tidur di sofa. Jangan mengada-ngada, ya. Lagi pula aku tadi malam tak bermalam di rumah Krystal." Lais langsung menatap Krystal yang mengerjap pelan. Sudut bibir Lais menyunggingkan senyum miring. "Kena kau, Krys. Tadi aku mampir ke rumahmu dan melihat bibi membereskan dua selimut di sofa." "Siapa pun bisa menggunakan selimut di sofa," kata Krystal dengan nada santai. "Bibi bilang itu bukan miliknya maupun suaminya. Lagi pula tadi malam kalian hanya bertiga di rumah, ya sampai bibi dan suaminya tidur, sih." Lais bersidekap d**a dengan dagu terangkat. "Kau membawa laki-laki ke rumah, ya?" Hampir semua pasang mata di kelas itu menatap mereka, terutama ke arah Krystal karena volume suara Lais yang lumayan kencang. "Heh, jangan asal bicara!" tegur Giiz. "Kau masih membela sahabatmu huh? Tidak heran, sih. Tapi asal kau tau, ada bau parfum laki-laki di sofa." Lais semakin merasa di atas angin. Krystal menutup bukunya dengan hentakan kasar. "Apa pedulimu?" "Tidak ada." Lais tersenyum simpul. "Sepertinya kau tidak sepolos yang aku kira," ucapnya lalu meninggalkan kelas, bersamaan dengan masuknya guru yang akan mengajar pagi ini. "Sebenarnya ada apa?" tanya Giiz langsung usai pelajaran pertama berakhir. "Tak apa kalau kau tidak ingin menceritakannya. Tapi kuharap kau tidak memendam rasa setiap mengalami sesuatu yang berat." "Yang dikatakan Lais itu benar." Giiz melotot tak percaya. "Kau sungguh tidur dengan laki-laki di rumahmu?" Krystal membekap mulut Giiz sambil berdecak pelan. "Tadi malam Jaehan bertamu." Krystal menggaruk pipinya, bingung cara menjelaskannya agar tak menimbulkan spekulasi lain. "Saat hujan badai?" Krystal mengangguk kikuk. "Oh Gosh, Krystal! Ibumu di rumah?" Krystal menggeleng pelan. "JADI KALIAN HANYA BERDUA?" Krystal menggeleng dan mencubit Giiz gemas. "Ada bibi dan paman." "Tapi mereka sudah tidur?" Krystal tak menjawab, pandangannya lurus ke bukunya. Terlihat tengah memikirkan sesuatu. "Oh ayolah, Krys! Kau membuatku penasaran." "Saat itu aku sedang ketakutan. Mungkin karena efek terkejut di saat badai, jadi aku seperti sedang berhalusinasi saat melihat ke luar jendela. Aku turun ke lantai satu untuk mengambil sesuatu, tapi aku mendengar suara mobil berhenti. Kukira ibu, ternyata dia." "Jadi dia mengetuk pintu rumahmu?" tanya Giiz sambil menatap Krystal penuh kesungguhan. Antara takjub dan tak menyangka mendengar cerita Krystal. Krystal menggeleng. "Aku yang keluar lebih dulu dan menegurnya." Giiz menjentikkan jarinya sambil berdecak. "Sekarang aku mulai mencurigai sesuatu. Sebentar, jam berapa dia datang?" "Sekitar jam satu." Gadis manis itu menggeleng dengan raut prihatin sambil menepuk pundak Krystal melankolis. "Aku bersyukur kau baik-baik saja." "Apa maksudmu?" "Memangnya kau tidak merasa curiga? Dia datang saat hujan deras dan di waktu-waktu tidur. Andai kita tak mengenalnya, dia sangat pas disebut pencuri." Tangan Krystal saling bertaut gelisah di atas meja. Dia pun merasa begitu, hanya saja saat itu dia sedang takut, maka di sisi lain Krystal merasa aman dengan keberadaan Jaehan. Namun, setelah dipikir-pikir, tampaknya memang janggal dan mengherankan. "Giiz, tolong katakan jika kesimpulanku ini salah." Krystal menatap sahabatnya dengan raut khawatir. "Kau membuatkan ngeri. Sepertinya apa yang kau pikirkan sama dengan yang kupikirkan." Giiz menepuk-nepuk punggung tangan Krystal dengan ritme pelan. "Dia seperti sudah lama mematai-mataimu. Seperti sudah mengenal situasi dan kondisi rumahmu, Krys," terang Giiz hiperbolis. "Dari awal aku sudah memperingatimu, bukan?" ucap ibu Zei sambil mengambil ponselnya yang tertinggal di meja guru. Memang dia yang mengajar mata pelajaran pagi ini. "Bu ...." Giiz menatap Bu Zei dan Krystal bergantian. "Hai, Giiz. Terima kasih sudah perhatian dan selalu menjaga Krystal," ucapnya lalu melangkah keluar. "Ta-tadi Ibu Zei menanggapi obrolan kita atau gimana? Maksud omongannya barusan apa?" Krystal memijit pelipisnya. "Bu Zei memiliki hubungan dengan Jaehan," ucap Krystal memilih jujur. "APA?" "Bukan hubungan ... ck, mereka layaknya keluarga, ya seperti itulah," kata Krystal. Giiz menghela napas lega. "Huh, kukira mereka berpacaran." Karena kelas mulai ramai, rata-rata usai dari kantin. Baik Krystal maupun Giiz, dua-duanya langsung merapatkan bibir. "Krystal!" Merasa terpanggil, gadis itu pun melihat ke sumber suara. "Ya?" "Aku tak pernah lagi melihatmu ke belakang sekolah. Kenapa? Padahal dulu aku juga suka ke sana kalau jam kosong untuk tidur," keluh salah satu teman kelas Krystal. Namanya Yer, siswa laki-laki yang lumayan unggul di kelas. "Ada cctv," jawab Krystal seadanya. Krystal benar-benar tidak menyangka jika Lais berniat mengadukannya pada Ibu. Karena sepulang sekolah, Lais sudah tiba lebih awal di rumah, tampaknya gadis itu sengaja tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Sedangkan Krystal pulang lebih lambat karena menemani Giiz ke dokter gigi. Lais tidak sendirian di ruang tamu, ada Ibu yang duduk tenang sambil menonton acara memasak salah satu artis yang tengah digandrungi khayalak umum. "Krystal," panggil Ibu. Gadis itu langsung mendekat sambil menenteng tasnya. "Kalau sudah selesai mandi dan makan, nanti kita bicara sebentar ya," kata Ibu dengan nada biasa saja. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang manis. Meski tak ada tanda-tanda raut mengkhawatirkan, Krystal yakin jika Ibu akan membicarakan hal serius padanya. Lais yang duduk di kursi lainnya tersenyum mengejek ke arah Krystal. Sesampainya di kamar, Krystal langsung menaruh tasnya pada tempatnya. Melepas kaos kaki dan menaruhnya ke keranjang begitu pun dengan seragamnya. Tanpa melakukan hal lain, Krystal langsung membersihkan diri di bawah shower. Setelahnya dia mengenakan piyama berbahan satin dengan motif strawberry dipadukan boneka beruang coklat. "Makan, Krys," tegur Ibu saat Krystal menuruni tangga. "Ibu udah makan?" Ibu mengangguk. "Ibu diet, jadi cuman makan buah dan roti," ucapnya sambil mengerling jenaka. Krystal terkekeh. Umur boleh tua, tapi wajah dan proporsi tubuh Ibu tidak kalah dengan anak muda jaman sekarang. Terkadang jika berbelanja berdua atau sekadar menemani ibu bertemu kolega, Krystal tak jarang dikira adik ibunya sendiri. "Ibu mau membicarakan apa?" tanya Krystal sambil menyendok nasi ke piringnya. Ibu berdiri di samping meja sambil menata buah-buahan yang sudah dia kupas ke hadapan Krystal. "Jangan lupa dihabiskan." "Bu—" "Kamu makan dulu," tegur Ibu sambil berdecak pelan. "Lais, nggak ikut makan dengan Krystal?" "Aku udah makan, Tante," jawab Lais dari depan tv. Dia asik mengunyah camilan. "Ganti baju dulu, La," kata Ibu. Gadis itu langsung menurut dan melangkah menaiki tangga. "Krys, aku pinjam bajumu." Krystal tak menjawab. Tak ada gunanya. Dia menolak sekali pun tak akan berarti bagi Lais yang menyebalkan. Lima menit berlalu dan Krystal sudah menyelesaikan makannya. "Aku udah selesai, jadi apa, Bu?" tanyanya usai menaruh piring di wastafel. Ibu mendongak, lalu menggeleng. "Makan dulu buahnya." "Kita ngobrol sambil makan ini, ya, Bu," kata Krystal sambil membawa piring ke ruang tengah, diikuti Ibu di belakangnya. "Masalah selimut?" tebak Krystal sambil duduk di kursi baca Ibu. Ibu bersandar di dinding sambil bersidekap d**a. Tangannya bergerak menggaruk pelipisnya kikuk. "Sebenarnya ibu nggak masalah temanmu bermalam di sini, tapi tidak saat ibu sedang tidak di rumah." "I know." "Jadi benar ada teman laki-lakimu yang bermalam di sini?" Krystal menggigit bibir bawahnya, mengerjap beberapa kali, mencoba menyusun kalimat yang tepat agar tak menimbulkan kecurigaan atau spekulasi lain. "Ibu percaya sama kamu," kata Ibu penuh kesungguhan. "Krystal nggak bakal bohong kali, Bu," decak Krystal, lalu mereka tertawa kecil. "So?" "Dia Jaehan." "Hm, lalu?" "Posisinya pas hujan badai, sekitar jam satu. Aku tidak mengundangnya, Bu. Serius!" Krystal mengangkat tangannya dan membentuk huruf V. "Dia tiba-tiba datang, dan yah dia masuk, ambil minuman di kulkas dan beberapa camilan, lalu duduk di ruang tamu sambil nonton drama zombie. Ya, cuman itu, Bu. Kami juga ngobrol sebentar, sebelum aku tidur. Pas dia pulang pun aku nggak tau, Bu," terang Krystal. "Lais bilang kalian tidur berdua." "WHAT THE HELL?" "Please control, Krys." "Okay, maaf, Bu. Tapi serius, aku nggak tidur sama dia, Bu. Oke mungkin aku yang salah tanggap, kami memang ada di satu ruangan dan posisinya aku tidur, sedangkan dia? Aku nggak tau. Mungkin dia terjaga semalaman, i don't know." "Kalian pacaran?" tanya Ibu akhirnya, membuat Krystal menganga beberapa saat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN