"Kalian pacaran?"
Krystal bergeming beberapa saat dengan bibir terbuka. Dia langsung meneguk segelas air usai tersadar dari keterkejutannya atas pertanyaan Ibu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ibu sambil menepuk-nepuk punggung Krystal saat gadis itu tersedak.
Krystal mengangguk sambil mengelap bibirnya. Dia menatap Ibu dengan pandangan horor, sedangkan Ibu mempertahankan senyum di wajah tenangnya itu. Membuat Krystal berpikir yang tidak-tidak. Kenapa pula Ibu harus mengumpulkan sejauh itu? Pancaran? Yang benar saja. Dia malah merasa tengah memecah teka-teki jika berada di sekitar Jaehan. Mana mungkin dia bisa menjalin hubungan dengan laki-laki yang membuatnya berpikir keras dan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelum. Contohnya saat Krystal nekat mencari tau sesuatu di villa Jaehan yang berujung ketahuan dan mempermalukan diri sendiri.
Ibu pasti akan terkejut jika mengetahui hal apa saja yang sudah dilakukan dan dilalui putrinya sejak mengenal sosok laki-laki bernama Jaehan itu. Krystal tidak yakin ibu akan memberimu izin berteman dengan Jaehan bila tau Krystal pernah dicekik oleh sahabat Jaehan.
"Wajah kamu memerah." Ibu mengelus pipi Krystal. "Do you like him?"
Krystal langsung menggeleng kuat. "Big no! Ibuuu, aku dan dia cuman teman. Gimana ya, bahkan disebut teman kayak nggak pantes aja."
"Oke, nggak perlu ngegas gitu dong. Ibu kan cuman nanya," ujar Ibu sambil mengulum senyum lalu meninggalkan Krystal yang berusaha menormalkan deru napasnya.
.
.
Embusan angin sore memainkan rambut seorang perempuan yang tengah duduk di bibir pantai seraya menekuk lututnya dan menaruh tangannya di atasnya. Deru ombak dan suara burung-burung bagai nyanyian wisata di sore hari. Jauh di ufuk barat matahari tampak siap bersembunyi di tempatnya.
"Kenapa kau memintaku ke sini?"
Suara berat laki-laki membuatnya menoleh ke belakang lalu menepuk pasis di sampingnya, menyiratkan laki-laki itu agar duduk bersamanya.
Laki-laki itu mendengkus, tak urung dia menuruti ucapan Zei sambil menselunjurkan ke dua kalinya dengan ke dua tangan menopang di belakang tubuh.
"Cantik, ya?" tanya Zei tanpa menjawab pertanyaan Orlan.
Orlan mengikuti arah pandang Zei yang mengarah pada pantai. Dia menggeleng.
"Sama sekali tidak."
Zei mengulum senyum. "Maaf, aku mengingatkanmu dengan dia, ya?"
Orlan menggeram.
Sepulang sekolah tadi Sei menghampiri Orlan saat di parkiran. Tak banyak kata yang mereka ucapkan, terlebih Orlan. Laki-laki itu sempat bingung kala Zei alias gurunya menghampirinya sambil menyodorkan secarik kertas. Orlan tau jika Zei salah satu dari golongan mereka, hanya saja aura wanita itu sudah tak sekuat Gumiho pada umumnya. Terlepas dari itu semua, meski merasa tak berguna, Orlan tetap datang di alamat yang ditulis Zei di kertas itu.
Zei memang sudah menduganya. Sulit bagi sosok Jaehan menolak pancingan meski laki-laki itu enggan sekali pun, karena rasa ingin taunya yang besar telah mengalahkan segalanya.
"Krystal—"
"Jika kau memintaku ke sini karena ingi menasehatiku, lebih baik tutup mulutmu," potong Orlan tanpa menatap lawan bicaranya.
Zei terkekeh geli. Dia menepuk pundak Jaehan dengan sorot lucu. "Kau lucu."
"Aku jauh lebih tua darimu," kata Orlan. Dia menatap Zei dengan sorot mengingatkan.
Wanita cantik itu mengangguk. "Terima kasih sudah mengingatkan. Meski kita memiliki tujuan yang berbeda, bukan berarti aku tidak peduli dengan kau."
"Kita tidak saling mengenal."
"Gumiho yang hidup di masa manusia itu ibarat keluarga yang patut diperjuangkan. Seharusnya kau tau itu."
"Sayangnya aku tidak peduli akan hal itu."
Zei berdecak pelan. "Kenapa aku selalu berurusan dengan Gumiho keras kepala," keluhnya.
"Bodoh."
"Diam!" Zei memukul kepala Orlan membuat laki-laki itu langsung menyorotnya terkejut. "Gini-gini aku tetap gurumu. Dasar!"
"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan? Sebelum kesabaranku habis dan melemparmu."
"Krystal bukan gadis masa lalumu!" ucap Zei penuh penekanan. Dia memandang Orlan penuh peringatan, sedangkan tatapan laki-laki itu mendadak kosong dengan wajah pias.
"Kau ikut campur ternyata," kata Orlan dengan nada rendah.
"Aku hanya menyandarkanmu. Simpan tenagamu baik-baik, tidak ada gunanya mendekati dan mengamati manusia sepertinya. Dia bukanlah apa-apa, yang kau cari pun tidak ada di dirinya."
Sorot Orlan mendadak sendu. Dia memiringkan kepalanya dengan mata mengerjap pelan. "Dia sangat mirip dengan Auroraku."
"Auroraku? Cih."
"Kau!"
"Maaf mengganggu suasana melow ini. Tapi boleh aku bergabung?" ujar Jaehan yang sebenarnya tak memerlukan persetujuan karena dia sudah duduk di samping Orlan yang menatapnya tajam.
"Ini rencanamu?" geram Orlan ke Zei.
Zei langsung menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya pada Jaehan yang menatap lurus ke depan sambil menekuk satu kakinya. "Sedang apa kau ke sini?"
"Numpang lewat," jawab Jaehan pendek.
Orlan hanya mendengkus. Kesal pun tak ada gunanya.
"Waktuku di dunia ini tak lama lagi," kata Jaehan memecah hening yang sempat tercipta di antara mereka.
"Kasian," cibir Orlan yang ditanggapi kekehan oleh Jaehan. Sedetik setelahnya raut wajah Jaehan berubah sendu.
"Jangan mempersulit dirimu." Orlan mengatakannya dengan nada biasa saja. Emosi yang sempat melimpah itu kini teredam, terbawa angin pantai mungkin.
Suasana senja dan langit jingga seolah-olah mewakili nasib ke tiga Gumiho itu. Nyanyian angin sore dan burung-burung seolah tengah mengingatkan mereka bahwa semuanya akan usai dan tak berarti apa-apa.
"Memang sudah takdirku. Sama sepertimu," balas Jaehan.
"Kalian sangat menyedihkan." Zei tertawa getir. Rasanya dia ingin menangis mengingat semua perjalanan hidup yang telah dia lalui. "Di sini kita hanya sekadar singgah, tidak akan bisa menetap. Meski nyatanya sama dari kasat mata, sejatinya kita dan mereka berbeda. Ada tembok yang seharusnya tak pernah kita sentuh, apa lagi meruntuhkannya."
"Aku harus menemukan benda itu," kata Orlan tanpa ekspresi. Tak menanggapi kalimat panjang Zei.
"Benda yang kau cari tidak ada di dirinya." Jaehan berdecak pelan. "Harus berapa kali aku katakan?"
"Kau tau apa?"
"Jika fox orb-mu memang ada pada dirinya. Aku tak yakin gadis itu akan bertahan lebih lama lagi, atau mungkin seharusnya dia telah mati," kata Jaehan enteng.
"Dia persis seperti Auroraku," kata Orlan penuh penekanan.
"Hanya fisiknya." Zei berkata lemah. Lelah dengan perdebatan Jaehan dan Orlan yang masing-masing mementingkan ego.
"Kau akan membunuhnya jika memaksa melakukannya," kata Jaehan.
Orlan mengangguk tanpa beban. "Aku tak peduli."
"Oke, anggaplah kau benar ...."Zei memainkan pasir dengan gerakan pelan. "Maka kau akan membunuhnya untuk ke dua kalinya."
"Zei—"
"Diam, Jaehan."
"Kalian berdua tak ada bedanya." Zei berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang banyak ditempeli pasir. Dia berdiri di depan Jaehan dan Orlan yang menatapnya.
"Sadarlah. Masa lalu kalian sama. Sama-sama merenggut hidup orang lain demi keegoisan kalian semata."
.
.
Di keluarga Krystal, ada tradisi makan malam bersama setiap akhir bulan. Di mana semua anggota keluarga terdekat pasti mengusahakan untuk datang dan berkumpul bersama, menghabiskan malam dengan berbagi cerita, kisah, suka-duka, dan berbagai macam petuah dari kepala keluarga yang hanya tersisa nenek.
Sudah tiga bulan lamanya Krystal tak pernah ikut berkumpul dengan segala alasan yang selalu dia utarakan setiap kali ibu mengajaknya. Namun, seolah sudah paham akan tabiat sang putri yang enggan ke sana, saat Ibu memberikan jadwalnya, Ibu menyertakan peringatan tak ada alasan atau permohonan agar tidak datang ke sana lagi. Krystal hanya mengangguk pasrah. Setidaknya dia harus siap menerima petuah panjang lebar dari nenek yang acap kali menyinggung dan membuatnya sakit hati. Meski demikian tak mengurangi rasa hormat Krystal pada neneknya itu, tapi berbeda dengan cucu-cucu lain di luar sana, Krystal malah tak begitu dekat dengan neneknya. Ada beberapa hal yang membuatnya memilih menjaga jarak dan mengasingkan diri sebagai cucu pertama di keluarga ini. Nenek pun tampak tak mempermasalahkannya, meski setiap pertemuan beliau selalu menanyakan keberadaan Krystal kalau dia tak datang, ibu memberitahu.
Entah karena lahir sebagai cucu pertama atau karena karena alasan lain, Nenek selalu mengatakan tuntutan-tuntutan terselubungnya pada Krystal.
Seperti saat ini, kala hidangan makan malam sudah selesai, semua yang ada di meja itu dilarang untuk angkat kaki langsung. Sedangkan asisten hilir-mudik membawakan makanan penutup sebagai ganti makan malam.
"Akhirnya cucu pertama saya datang setelah bersembunyi beberapa waktu, jelas enggan bertemu dengan saya, kan?" Nenek menatap Krystal terang-terangan. Tante, om, dan semua pasang mata langsung mengarah kepada Krystal yang meringis pelan.
"Maaf, Nek. Sebenarnya—"
"Permintaan maaf diterima," potong wanita tua itu yang tampak elegan dan mewah meski usianya tak lagi muda. "Namun tidak untuk alasannya. Ibumu sudah menjelaskan alasan-alasannya setiap kali kau absen ke mari. Entah itu memang benar, atau hanya karangan Ibumu belaka."
Krystal melirik Ibunya yang tetap tenang. Dia menyunggingkan senyum menenangkan saat menangkap lirikan Krystal.
"Sekarang kau kelas berapa?"
"Dua belas, Nek."
Nenek berdeham pelan, dia meneguk air putih, setiap gerakan dan sentuhannya pada benda tak luput dari titik-titik keanggunan dan kehati-hatian.
"Sebentar lagi kau tamat. Ingin berkuliah di mana?"
Otak Krystal langsung berpikir keras. Untuk itu dia belum memiliki jawaban yang pasti. Meskipun ada beberapa pilihan yang sudah dia siapkan sejak kelas sebelas.
"Di Seo—"
"Di universitas ETH Zuerich? Ibumu alumni sana."
Krystal meneguk ludah susah payah. Sejujurnya Krystal merasa tak bodoh-bodoh sekali, untuk mengikuti ujian yang disediakan kampus demi mendapat satu bangku untuknya Krystal siap akan hal itu. Meski dia selalu membaca novel dan menonton di setiap kesempatan, tapi di sisi lain Krystal memiliki jadwal belajar yang sudah terstruktur, tak jarang dia melakukan kursus privat. Namun bukan berarti dia tak memiliki universitas impiannya sendiri, sejak kecil ibunya selalu mengajarkan Krystal untuk belajar memutuskan sebuah masalah dan menentukan pilihan.
Bukan artinya Krystal tak menerima saran. Hanya saja dia ingin mencoba dan mengusahakan keinginannya terlebih dahulu. Memperjuangkannya dan merasakan setiap napas yang dia keluarkan demi pencapaian serta tujuan hidupnya. Jikalau pun perjuangannya tak sesuai harapan, maka Krystal akan menerimanya dengan legowo dan akan mempertimbangkan saran dari neneknya.
"Biarkan Krystal memilih universitas atas minatnya sendiri, Bu," kata Ibu. Bagai Dewi penyelamat saat Krystal benar-benar buntu untuk merespon ucapan Nenek yang mengarah tanpa bantahan.
"Memangnya bisa?" timpal Ibu.
Krystal langsung menatap Nenek, lalu beralih ke ibunya. Di meja itu ada sepuluh orang termasuk dirinya dan semuanya tampak membisu dengan kegiatan masing-masing, seperti menyuapkan anak mereka roti atau hanya memainkan benda apa saja yang ada di hadapannya demi menghalau suntuk.
Di setiap pertemuan pasti ada satu orang yang mendapat giliran untuk dikulik oleh Nenek. Semua titik kehidupannya dipertanyakan dan disetir oleh nenek sedemikian rupa agar sesuai dengan prinsip yang beliau anut. Sebuah pemikiran yang bertentangan dengan pendapat Krystal.
"Untuk itu aku yang akan mengurusnya, Bu," ujar Ibu dengan nada penuh keyakinan.
Diam-diam Krystal menghela napas lega.
"Setelah kuliah, lalu apa?" tanya Nenek. Dia menatap Krystal dengan wajah tenangnya.
Krystal lagi-lagi dibuat tak berkutik. Setelah kuliah? Entahlah. Krystal memiliki banyak planning yang ingin dia lakukan semasa hidupnya. Namun, kenapa pula nenek harus mempertanyakan itu semua di saat dirinya belum memikirkannya sejauh itu.
"Menikah?" Nenek kembali melayangkan pertanyaan.
Krystal spontan menggeleng.
"Lalu apa?"
"Aku akan memikirkannya, Nek," ucap Krystal.
Nenek mengalihkan pandangannya dan memindai semua orang di meja itu.
"Lais."
Gadis yang tengah asik bermain ponsel itu langsung menengadah kaget seraya menatap neneknya. Cepat-cepat dia menyimpan ponselnya di saku rok sambil mengungkap permintaan maaf.
"Bagaimana kelakuan Krystal di sekolah?" tanya Nenek.
Krystal menghela napas berat. Jika saat ini gilirannya diulik, maka bulan selanjutnya adalah giliran Lais dan dia pun akan dilayangkan pertanyaan serupa.
Senyum puas terbit di bibir Lais. Dia menatap Krystal yang hanya meresponnya dengan pandangan datar.
"Krystal membawa teman laki-lakinya bermalam di rumah. Kemarin," kata Lais dengan satu tarikan napas. Setelahnya dia melayangkan senyum mengejek ke Krystal yang mengepalkan tangannya.
Sedangkan ibu menggeleng tak percaya dan menyayangkan sikap blak-blakan Lais yang ceroboh.
Meja berubah senyap. Nenek mengambil ponselnya. "Kau sudah memeriksa cctv di rumahmu?" tanya nenek ke arah Ibu.
Ibu menggeleng jujur.
Nenek tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tidak lama kemudian dia menyimpan benda pipih itu. "Cctv rumahmu sedang diperiksa. Jika yang dikatakan Lais benar, kau tau sendiri konsekuensinya," kata nenek pada Ibu.
"Tapi bukan itu yang aku pertanyakan." Nenek menatap Lais yang tengah menikmati rasa senang atas aduannya.
Ponsel nenek berdering. Beliau mengangkat panggilan itu dengan tenang, tidak lama kemudian panggilan berakhir.
"Sejak seminggu yang lalu kau selalu lembur, ya. Pantas rumahmu tak pernah kedatangan tamu," ucap Nenek. Meski dia tak mengatakannya secara gamblang, tapi Krystal dapat menangkap maksud tersirat yang dikatakan Nenek.
Kesimpulannya ialah aduan Lais tak ditemukan dalam pemeriksaan cctv itu. Krystal tersenyum puas, sedangkan Lais mengerutkan dahi pertanda tak terima.
Terlepas dari itu semua, cctv di rumah ibu tidak pernah bermasalah maupun diperiksa sebelum ini, mengingat keamanan di kompleks mereka cukup baik. Di setiap sudut rumah terpasang cctv, begitu pun di ruang tamu tempat Jaehan menikmati series malam itu. Orang yang bertugas pada cctv itu tak mungkin berbohong pada nenek.
Lalu, kenapa Jaehan tak terekam cctv?