Jaehan menunggu dengan tenang di sebuah ruangan. Panggilan itu kembali membawanya ke mari dan membuatnya harus menunggu alih-alih mendobrak dan mengacaukan sesuatu di dalam sana. Dia bersandar di dinding seraya bersidekap d**a.
Tidak lama kemudian seseorang keluar dari pintu dengan raut berantakan sambil menggulung kemejanya hingga siku. Dia tak mampu menyembunyikan raut terkejutnya saat melihat Jaehan yang menatapnya dengan raut dingin yang kental.
"Kau sangat menikmatinya, ya." Jaehan menepuk bahu Orlan sambil membuka pintu dan melihat keberadaan seseorang yang tak berdaya di dalam sana. Sedangkan Orlan bergeming saat Jaehan membawa gadis itu di gendongannya.
"Dia hanya pingsan," kata Orlan.
Jaehan mengangguk. "Kau menyerap semua energinya."
Tubuh gadis itu sepucat kapas. Suhu tubuhnya sangat dingin dengan bibir mengering dan hampir membiru. Sedikit telat Jaehan membawanya maka nyawa gadis ini tak akan terselamatkan.
Besar keinginan Jaehan untuk menghabisi Orlan saat ini juga. Laki-laki itu jelas tak mengindahkan peringatan Jaehan tempo lalu. Dia selalu saja menjadikan manusia sebagai target bila energinya melemah. Kini siswi MSS kembali menjadi korban.
Mudah bagi Orlan untuk melakukannya hanya dengan mengikat gadis itu dengan pesonanya atau menghipnosisnya.
"Masa hidupmu akan sia-sia jika terus melakukan hal tak berguna seperti itu," kata Orlan saat Jaehan melangkah keluar dari rumahnya.
"Setidaknya masa hidupku habis dengan menjauhkan manusia tak bersalah dari dahaga sialanmu!" bentaknya, kemudian melangkah bak angin menuju mobilnya dan melajukannya meninggalkan kawasan rumah Orlan.
Entah kerasukan apa saat Jaehan memutar setirnya menuju rumah yang seharusnya tidak menjadi tujuannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat dia tiba di sana dan mengetuk pintu rumah gadis itu sambil membopong gadis korban Orlan.
Karena jika membawanya ke villa tentu akan memakan waktu dua kali lipat karena jaraknya lumayan jauh dari tempat Orlan yang jauh dari pemukiman warga.
Raut terkejut menyambutnya. Di samping Krystal ada Giiz yang melotot sambil membekap bibirnya, kendati demikian dia tetap membantu Jaehan membuka sepatu gadis itu saat telah dibaringkan di sofa.
"Dia kenapa?" tanya Giiz masih diselimuti rasa terkejut.
"Tolong ambilkan selimut dan matikan pendingin ruangan," titah Jaehan dan langsung dilakukan Giiz dan Krystal.
Gadis itu tetap menurut meski banyak tanda tanya yang timbul di kepala mereka.
Krystal berlari dari lantai dua sambil membawa setumpuk selimut. Kemudahan mengenakan selimut itu ditubuh gadis yang pingsan itu.
"Kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Krystal.
Jaehan menggeleng. Selama dia menangani korban Jaehan, hampir semuanya dia lakukan sendiri tanpa perlu bantuan tenaga medis. Meski mudah baginya untuk membawanya ke rumah sakit, tapi Jaehan tak mau ambil resiko yang berkelanjutan.
Tangan Jaehan menggenggam tangan gadis itu yang sedingin es. Energinya dia hantarkan ke tubuh gadis itu yang perlahan mulai menghangat.
"Jangan berisik. Ibuku sedang tidur," kata Krystal mengingatkan. Beruntungnya saat Jaehan ke sini Krystal dan Giiz masih mengerjakan tugas di ruang tamu, sehingga dia langsung membuka pintu begitu tau siapa yang datang.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Giiz.
Jaehan mengangguk. Sebelum gadis itu mendapatkan kesadarannya, Jaehan harus membawanya pulang ke tempat asal gadis itu sebelum fajar menyingsing.
"Yuna." Krystal bergumam. "Dia ketua ekskul Seni di MSS," lanjut Krystal.
Hening menyelimuti mereka. Jaehan tengah bersandar sambil menutup matanya menggunakan lengan.
Bola mata Lais langsung membulat sempurna saat menyadari perubahan di diri Yuna. Gadis itu tampak lebih segar dan tak sepucat tadi. Warna bibirnya pun kembali normal meski masih pucat. Setidaknya tak sebiru tadi.
"Aku akan membawanya pulang," kata Jaehan sambil melepas selimut itu di tubuh Yuna kemudian memasangkan sepatu gadis itu dengan telaten. Semuanya tak luput dari perhatian Krystal yang memeluk dirinya sendiri di sofa.
Tangan Jaehan bergerak menyingkirkan anak-anak rambut yang yang menutupi mata Yuna. Dia merapikan rambutnya dan pakaian Yuna yang kusut. Jaehan menarik tangan Yuna agar melingkar di lehernya, lalu menyelipkan tangannya di bawah lutut gadis itu lalu mengangkatnya. Kepala Yuna bersandar di d**a Jaehan.
"Kau yakin tak mau membawanya ke rumah sakit?" tanya Giiz khawatir. Walaupun dia tak mengenal Yuna, bukan berarti jiwa empatinya tak ada. Begitu pun dengan Krystal, dia menaruh satu selimutnya di atas tubuh Yuna.
"Pakaikan saat di mobil nanti," kata Krystal.
Jaehan mengangguk. Dia menatap Krystal beberapa saat, lalu melangkah ke luar. Suasana di luar sana masih gelap gulita meski jarum jam sudah menunjukan angka setengah lima pagi.
"Aku harap hanya kalian yang tau," ujar Jaehan usai mendudukkan Yuna di kursi penumpang.
Ke dua gadis itu mengangguk mengerti meski masih banyak pertanyaan yang bercokol di kepalanya.
"Lagi ngapain di luar subuh-subuh begini?" tegur Ibu seraya mengusap matanya. Dia menghampiri Krystal dan Giiz yang saling pandang.
"Ibu kayak denger suara mobil deh," lanjutnya.
"Nggak ada apa-apa, Bu." Krystal menggandeng ibunya agar kembali masuk. "Aku sama Giiz berniat pergi jogging, iyakan Giz?"
Untungnya Giiz cepat tanggap. Gadis itu langsungmi mengangguk. "Iya bener banget. Tante mau ikut?"
Ibu menatap Krystal dan Giiz secara bergantian. "Tapi kan kalian sekolah. Memangnya nggak bakal telat?" ucapnya penuh heran.
"Jogging di sekitar kompleks aja, Bu." Krystal menggaruk rambutnya.
Meski heran, Ibu akhirnya mengangguk dan kembali ke kamarnya usai meneguk air putih.
Sepeninggal Ibu, Krystal langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, disusul Giiz di sampingnya yang memeluk bantalan sofa.
"Cubit aku," pinta Giiz.
Krystal melakukannya dengan mata terpejam.
Giiz meringis. "Jaehan datang ke mari membawa seorang gadis dalam keadaan tak sadarkan diri. Menurutmu apa yang terjadi?" tanya Giiz.
Krystal bangun dari tidurannya dan duduk bersila dan memeluk bantal sofa juga.
"Mereka baru selesai berkencan lalu pacarnya tiba-tiba sakit dan jatuh pingsan?" tebak Krystal dengan ekspresi kosong.
Giiz menggeleng. "Kurasa bukan begitu. Tapi dia memungut Yuna di jalan saat dia tak sadarkan diri."
Krystal melengos atas tebakan Giiz.
"Tapi kenapa dia membawanya ke rumahmum?"
Krystal mengedikkan bahu pertanda tak mengerti juga.
"Aku jadi penasaran, sebenarnya Jaehan itu siapa," kata Giiz seraya bertopang dagu.
Krystal tak menimpali. Dia pun penasaran dengan sosok Jaehan jauh sebelum ini. Mengingat kejadian di lorong saat pertama kali mereka bertemu pun masih terekam jelas di memori Krystal. Entah dia yang berhalusinasi atau efek hujan deras yang menghalau penglihatannya. Tapi Krystal yakin apa yang dia lihat malam itu meski selalu dia tepis.
Setelah kejadian itu pun Jaehan masuk ke MSS dan menghampirinya seolah-olah mereka saling kenal.
"Dia bukan orang biasa," gumam Krystal dengan nada tak yakin.
.
.
Setelah mengantar Yuna ke rumahnya, Krystal langsung kembali ke villa. Dia mengetuk pintu rumah gadis itu, sebelum empunya keluar, Jaehan langsung melesat pergi. Setidaknya Yuna tak akan mengingat kejadian hari ini dan semua yang berkaitan dengan Orlan. Hingga detik ini dan seterusnya mereka—terutama Yuna—akan berpikir jika mereka sekadar teman satu sekolah. Tidak lebih. Dia pun akan melihat Orlan dengan cara yang berbeda.
"Kau baik-baik saja?" tanya Edgar. Laki-laki itu mengikat rambut gondrongnya. Dia duduk di depan Jaehan seraya menuangkan segelas s**u hangat.
Saat alis Jaehan menukik ke atas melihat minuman yang dituangkan Edgar. Sedangkan laki-laki rambut gondrong itu mengerling jenaka.
"Anak sekolahan tidak boleh meminum wine," katanya. Lalu tertawa puas melihat raut wajah Jaehan.
Jaehan meneguk s**u hangat itu dengan tenang. Sebentar lagi waktunya berangkat sekolah, sedang dia baru tiba di rumah. Tubuhnya terasa lelah dan butuh istirahat.
"Kau belum siap-siap?" tanya Kaezn yang baru keluar dari kamarnya. Laki-laki itu tengah memasang dasi, lalu meneguk minuman yang dituangkan Edgar untuknya.
"Kenapa kau membawa gadis itu ke rumah Krystal?" Edgar bertanya. Dia menggoyang-goyangkan gelasnya. "Kau membuatnya semakin penasaran padamu," lanjutnya.
Jaehan menghela napas lelah. Tidak ada rahasia di antara mereka, termasuk hal yang dia lakukan malam tadi. Semuanya mengalir begitu saja, dia pikir tak ada salahnya membuat gadis itu melihat sesuatu yang lain dari dirinya. Jadi jika waktunya telah tiba, Krystal tak begitu terkejut. Bagaimana pun juga waktu Jaehan tak lama lagi.
"Gumiho b******k itu sesekali memang harus diberi pelajaran," kata Edgar emosi. Tangannya menggenggam gelas dengan tenaga kuat, membuat urat lehernya menonjol. Bahkan retakan kecil mulai terlihat di sekitar gelas itu.
"Kau akan memecahkannya?" peringat Kaezn dengan wajah datar khasnya.
Tersadar, Edgar langsung menaruh gelas itu kemeja dan mengambil gelas baru. Dia tidak mungkin minum dari gelas yang sedikit sentuhan lagi akan pecah tak tersisa.
"Aku berniat memberi taunya," kata Jaehan pelan.
Edgar dan Kaezn langsung menatap Gumiho itu dengan raut terkejut.
"Memberitahu kalau kau Gumiho?" Edgar terkekeh, Kaezn menatapnya pertanda setuju dengan pertanyaan teman seperjuangannya itu. "Dia tak akan percaya."
"Aku akan tau jawabannya setelah melakukannya."
"Kau gila," kata Kaezn seadanya. Namun berhasil membuat Edgar menatapnya horor, begitu pun dengan Jaehan yang langsung melayangkan raut keberatan.
"Bagaimana jika dia tidak percaya?" tanya Edgar.
"Aku akan membuatnya percaya. Masaku dan Orlan tak lama lagi. Meskipun obsesinya masih begitu besar, tapi jika dia tak menemukan apa yang dia cari maka dia akan berakhir sepertiku," kata Jaehan dengan nada tenang.
Sedangkan Kaezn dan Edgar saing bertukar pandang. Tatapan mereka seolah berbicara, mengutarakannya apa yang mereka rasakan dan pikirkan.
"Lalu bagaimana dengan kami?" Kali ini Edgar lagi yang mengutarakan keberatannya. Nada bicaranya melemah.
Jaehan mengernyit jijik melihat Edgar yang berbicaralah seperti itu. "Jangan membuatku menendangmu keluar!"
"Aku serius. Jika masa hukumanmu sudah berakhir, lalu bagaimana dengan kami?"
"Ya kalian tinggal melanjutkan hidup. Apa susahnya?" kesal Jaehan. Dia membuka kancing teratas kemejanya.
"Tanpamu?" timpal Edgar melankolis.
"Jangan membuatku semakin jijik!" kesal Jaehan. Dan dibalas kekehan oleh Edgar.
"Aku berangkat dulu," kata Kaezn menengahi. Tak tahan melihat sikap Edgar yang kekanakan.
Kaezn menenteng ranselnya dengan kunci mobil di tangan sebelah kanan.
"Kau sedang dekat dengan manusia, ya?" celetuk Edgar.
Kaezn menoleh. "Kau berbicara denganku?"
"Menurutmu?"
"Tidak."
"Damn!" Edgar terkekeh. Lalu beralih ke Jaehan. "Kaezn sedang dekat dengan teman Krystal. Beberapa kali mereka berakhir cekcok, kan?"
Kaezn spontan memutar tubuhnya dan melayangkan tatapan tajam pada Edgar.
Jaehan melepas kemejanya sambil melangkah ke kamarnya. Bersiap-siap untuk ke sekolah. Tidak peduli dengan perdebatan Edgar dan Kaezn yang baru saja dimulai.
Tangan Jaehan menggantung di udara, dia mengurungkan niatnya memasangkan sidik jarinya sebagai akses masuk ke kamarnya. Dia teringat sesuatu, maka secepat mungkin dia melesat ke mobilnya.
"Lembut," gumam Jaehan saat selimut yang dititipkan Krystal sudah tersemat di punggungnya.
.
.
Giiz melangkah layaknya seorang detektif saat menginjakkan kaki di sekolah. Dia dan Krystal berjalan bersisian dan berangkat bersama karena gadis itu menginap di rumah Krystal. Dia melihat sekeliling sambil memasang tubuh siaga. Krystal melihatnya sambil menghela napas lelah. Giiz hiperbola. Dia tak henti membahas Jaehan yang membawa seorang gadis ke rumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Krystal sampai bosan mendengarnya. Jadi dia melangkah lebih cepat, karena kelakuan Giiz itu tak menutup kemungkinan menarik perhatian.
"Kau meninggalkanku heehh!" tegur Giiz sambil menyenggol bahu Krystal.
"Bersikap normal makanya," kesal Krystal.
"Hai sepupu baikku," sapa Lais sambil menjinjing tasnya. Dia berjalan mundur di depan Krystal dan Giiz.
"Heh, jangan bertindak bodoh ya!" tegur Giiz. Ngeri melihat Lais yang melangkah mundur.
Gadis itu mengibaskan rambutnya. "Kalian berangkat bersama, ya?" tanyanya. Dia memutar tubuhnya dan melangkah di tengah-tengah antara Krystal dan Giiz.
"Oh tentu saja," jawab Giiz.
"Malam ini kau menginap lagi?"
Giiz mengedikkan bahu. "Tergantung."
"Ayo menginap lagi di rumah Krystal. Malam ini aku juga berniat menginap di sana," kata Lais dengan senyum lebar di bibirnya.
Giiz mencolek punggung Krystal dari belakang, lalu mengkode gadis itu menggunakan alisnya. Heran dengan tingkah Lais yang mendadak friendly.
Sedangkan Krystal sudah paham betul alasan Lais melakukan itu semua. Pasti sepupunya ini tengah berusaha keras untuk bersikap demikian. Alasannya pun pasti berkaitan dengan pertemuan mereka malam kemarin di rumah Nenek. Semuanya berawal saat Giiz mengadu sedangkan aduannya tak mendasar setelah dicek langsung. Maka dari itu Nenek memberikan Lais sangsi berupa memperbaiki hubungannya dengan Krystal, yaitu meminta maaf. Tapi tampaknya Lais memiliki rencana lain akan hal itu. Dia bukan gadis yang mudah meminta maaf saat dirinya merasa benar.
Sepeninggal Lais karena kelas mereka berbeda, Giiz langsung menggandeng Krystal. Wajah-wajah ingin tau terlihat jelas dari wajahnya.
"Sepupumu kenapa?"
"Dia mengadukanku pada Nenek. Tapi aduannya tak memiliki bukti." Krystal mengedikkan bahu santai. Dia tak peduli.
"Ohhh, jadi sedang masa hukuman ternyata."
"Hukuman apa?" tegur seseorang yang membuat Krystal dan Giiz langsung menoleh ke sumber suara.
Laki-laki itu balas menatap Giiz dan Krystal dengan raut datar khasnya.
"Kau sedang apa di sini?" decak Giiz.
Kaezn menatap Giiz beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya. Tak tahan berlama-lama melihat wajah gadis jutek itu.
"Bersekolah."
"Maksudku ... HEH!"
"Kenapa?"
"KAU—"
"Dasimu tak terpasang dengan benar," ucap Krystal sambil menunjuk dasi Kaezn. Dia berdeham pelan saat telunjuknya menyentuh dasi itu.
Kaezn mengikuti arah pandang Krystal, lalu berdeham. Tangannya langsung bergerak memperbaiki tata letaknya.
"Kenapa gayamu di sekolah dan di luar sekolah sangat berbeda?" tanya Giiz mengutarakan keingintahuannya.