Bab 43 - Berniat Mengatakan Sesuatu

2001 Kata
Kaezn menatap Giiz dengan ekspresi tak berarti. Dia melangkah meninggalkan dua gadis itu tanpa bicara, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Giiz yang menurutnya tidak bermutu. Giiz melihat punggung Kaezn yang semakin menjauh dengan ekspresi sebal. "Kenapa dia sok dingin sekali? Memangnya keren begitu? Cih!" gerutu Giiz kesal karena diabaikan. "Tapi emang keren, 'kan?" ceteluk Krystal sambil mengulum senyum. Giiz langsung menatap sembarang arah seraya mengusap rambutnya salah tingkah. "Apaan, sih!" "Giiz." "Yap?" Krystal menunjuk seseorang yang tengah melangkah santai di koridor. Arah tujuannya berlawanan dengan arah Krystal dan Giiz. Sehingga langkahnya semakin dekat dengan dua gadis itu, sedangkan yang ditatap sama sekali tak sadar, dia sibuk memainkan ponselnya dan sesekali melihat jalan. "Aku mau menegurnya," kata Giiz dan langsung menghampiri gadis itu sebelum Krystal menahannya. Maka Krystal mau tak mau mengikuti Giiz. "Yuna, ya?" tegur Giiz. Merasa namanya disebut, gadis itu langsung menoleh ke arah Krystal dan Giiz, sedetik kemudian bibirnya membentuk senyum lebar sambil menjabat tangan Giiz, kemudian Krystal. "Ada apa nih?" tanyanya dengan nada ceria. Gadis itu memiliki rambut panjang sebatas pinggang, matanya cenderung sipit, ada lesung pipi di sebelah kanan, bibirnya tipis dan mungil sama  dengan bentuk hidungnya yang mancung. Krystal sempat terkesima melihat rambut Yuna yang cantik. Pasalnya malam itu dia tak terlalu memperhatikannya. "Kau ketua ekskul Seni, kan?" tanya Giiz. Jelas tengah berbasa-basi. Yuna mengibaskan tangannya di udara seraya menggeleng pelan. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya. "Iya, tapi sekarang tidak lagi. Baru kemarin digantikan dengan Lisa. Kau taulah sekarang kita sudah kelas dua belas, sekarang kesempatan adik kelas kita lagi." "Ah, aku kira kau masih menjabat," kata Giiz. Yuna menggeleng. "Kau mau bergabung? Sebenarnya tidak penting siapa ketuanya, yang penting kau punya kemauan dan niat." Yuna mengerling lucu. "Tapi kalau kau mau, aku bisa merekomendasikanmu pada Lisa. Bagaimana?" tanya Yuna antusias. Giiz meringis. Dia tak memiliki minat dan bakat di bidang seni. Di sisi lain dia tidak menyangkal respon Yuna akan sepositif ini. Begitu pun dengan Krystal, mendadak merasa kasian dengan Yuna, entah apa yang terjadi padanya malam itu. "Sebenarnya kami hanya mau bertanya perihal alat-alat yang perlu disediakan pemula—aku ingin mencoba menggambar, tapi bingung memulai dari mana," timpal Krystal, tak sepenuhnya berbohong. Dia memiliki minat di bidang seni bagian menggambar atau melukis, tapi dia tak memiliki bakat di bidang itu. Setiap kali mencoba menggambar—seperti ilustrasi—Giiz akan menjadi orang pertama yang berdecak melihatnya. Lalu mereka akan tertawa bersama. Yuna mengangguk mengerti. Gadis itu mulai menyebutkan hal-hal apa saja yang perlu Krystal beli dan menjelaskan teknik-teknik mudah untuk Krystal yang memulai dari nol. Yuna juga meminta nomor ponsel Krystal, niatnya untuk mengirim segala macam contoh guna mendukung keinginan Krystal yang ingin melukis dan menggambar. "Kau Krystal yang sempat ramai dibicarakan itu bukan?" celetuk Yuna sambil menatap Krystal penuh minat. Jika siswi-siswi lain menatap Krystal dengan tatapan sinis atau curiga, maka berbanding terbalik dengan Yuna. Gadis itu malah menatap Krystal terpukau dengan senyum yang selalu tersemat. "Maksudmu?" tanya Krystal bingung. "Yang sempat digendong Jaehan saat di tangga." Yuna tertawa kecil. "Kau sangat beruntung ditolong oleh laki-laki sepertinya." Krystal menanggapinya dengan senyum canggung. Tidak tau harus bereaksi seperti apa, karena yang sebenarnya terjadi ialah hari-harinya tak lagi sama sejak hari itu dan kejadian malam di lorong gelap itu. "Dia memang sangat beruntung." Giiz menyenggol bahu Krystal. "Tapi dia terlalu dingin dan cuek," kata Giiz menyayangkan. Yuna mengangguk membenarkan. "Aku harap sesuatu yang baik selalu menyertai kalian," ucapnya tulus. Krystal dan Giiz langsung mengangguk mengaminkan. "Ngomong-ngomong, kau kenal dengan Jaehan?" tanya Giiz menyuarakan keingintahuannya. Krystal diam-diam berterima kasih pada Giiz yang telah mewakili rasa penasarannya. Yuna mengangguk. "Siapa, sih, yang tidak kenal sama dia?" Yuna terkekeh. "Tapi hanya aku yang mengenalnya, sedangkan Jaehan ya jangan ditanya lagi, dia tentunya hanya melirik Krystal," ucapnya sambil tersenyum menggoda ke Krystal. "Kalian tidak pernah berjalan bersama atau mengobrol?" Yuna menggeleng. "Tidak. Aku hanya beberapa kali berpapasan dengan dia. Dan yah, kadang ekspresinya membuatku segan menyapanya. Memangnya kenapa? Oh no, jangan-jangan kalian mencurigaiku dekat dengan Jaehan?" Yuna menggeleng seraya menatap Krystal penuh rasa bersalah. "Aku tak ada rasa apa pun dengan dia loh, ya. Aku harap kau tidak salah paham, Krys." Giliran Krystal yang meringis sambil mencubit pinggang Giiz dari belakang. "Bukan begitu. Aku sama sekali tak mencurigaimu, karena ... eum, aku membebaskannya untuk dekat dengan siapa pun," kata Krystal dengan ekspresi tak enak hati, terpaksa ucapannya seolah-olah dia dan Jaehan memang ada hubungan spesial. Yuna menatap Krystal dengan raut menyelidik. Sedetik kemudian dia terkekeh hingga matanya yang sipit tinggal segaris, tampak imut dan lucu. "Ya, ya, aku paham. Sering terjadi. Tidak salah kok, begitulah kalau punya pacar yang populer." Giiz mengangguk setuju. Sedangkan Krystal menggigit bibir bawahnya. "Oh no, udah bell. Aku duluan ya." Yuna tersenyum lebar sambil memindai Krystal dan Giiz bergantian. "Senang bisa berkenalan dengan kalian, jika ada kesempatan mari kita mengobrol lagi," ucap Yuna, lalu melangkah buru-buru. "Selain cantik, dia juga baik dan ramah," gumam Krystal. "Jadi kira-kira malam itu dia kenapa?" tanya Giiz. Krystal menggeleng tak tau seraya menghela napas berat. "Aku mau ke WC dulu. Kau ke kelas duluan ya," kata Giiz dan dibalas anggukan oleh Krystal yang tengah melihat seseorang dari kejauhan. . . Sikap dan cara berpakaiannya yang terkesan culun tak jarang membuat Kaezn mendapat masalah di sekolah oleh siswa-siswa nakal. Setelah dia memberi mereka pelajaran, maka hal itu tidak terulang lagi. Namun, tampaknya golongan siswa sok tak sedikit jumlahnya di MSS, membuat Kaezn kesal dan di sisi lain merasa tertantang. Rambut dan sekujur tubuhnya basah kuyup. Bahkan kaca matanya sudah terlempar dan retak tak tersisa saat sepatu menginjaknya dengan sengaja. Bell sudah berbunyi. Kaezn langsung mengangkat kepalanya menatap lima bocah laki-laki di hadapannya dengan raut dingin. Siap membekukan mereka hanya dengan satu tarikan tangannya. Hanya saja hal itu urung saat kehadiran seseorang yang tampak terkejut melihat sosok Kaezn. "Heh, siswi perempuan sedang apa di toilet laki-laki?" bentak salah satunya. Giiz langsung menatap plat yang tertempel di atas pintu, lalu melotot tak percaya. Karena buru-buru dan kurang fokus membuatnya ceroboh sehingga masuk di toilet laki-laki. Giiz melangkah mendekati Kaezn dengan raut galaknya. Bahkan gadis itu sudah menggulung lengan kemejanya dan menunjuk siswa-siswa itu satu persatu. "Bocah ingusan seperti kalian membulinya?" Giiz menggeleng tak percaya, tatapannya beralih ke Kaezn. Tangannya melayang memukul lengan Kaezn. "Yang benar saja. Apa gunanya ototmu ini hah?" decaknya dan disambut gelak tawa oleh siswa-siswa nakal itu. "Eum, kau bisa lari tidak?" bisik Giiz sambil berjinjit. Kaezn mengerutkan dahi. "Huh?" "Bisa lari tidak?" geramnya dengan suara tertahan. "Hitungan sampai lima kita lari!" "Huh?" Giiz berdecak. "Satu ... dua ... lima! Ayo!" bisiknya sambil menarik tangan Kaezn agar mengikutinya. Siswa-siswi itu langsung berteriak dan mengejar mereka. Namun baru saja Giiz dan Kaezn ingin berbelok, mereka dikejutkan dengan kehadiran guru yang bertugas bagian mendisiplinkan siswa-siswi MSS. Guru yang terkenal galak itu mengalihkan tatapannya ke arah lima siswa yang langsung menghentikan langkah mereka begitu melihat guru. Senyum miring tercetak di bibirnya. "Pergilah. Jangan lupa keringkan bajumu," ucapnya pada Giiz dan Kaezn. Mendengarnya membuat Giiz tersenyum senang, sebelum benar-benar melangkah dia masih sempat mengacungkan jari tengahnya ke lima siswa-siswa nakal itu yang terlihat menciut di hadapan guru tadi. Sesampainya mereka di ruang ganti yang disediakan untuk siswa-siswi bila ingin mengganti pakaian saat jam pelajaran olahraga. "Kau seharusnya tak melakukan itu," kata Kaezn dingin sambil menarik tangannya dari genggaman Krystal. Lalu melangkah meninggalkan gadis itu yang bergeming. "Fagh yu!" teriak Giiz. . . Jam istirahat sudah tiba. Krystal menggoyang-goyangkan lengan Giiz yang sekembalinya dari toilet tampak tak bersemangat. Gadis itu hanya menggumam tak jelas. "Kau kenapa?" tanya Krystal seraya membereskan buku-bukunya ke dalam laci. "Aku sedang kesal. Tapi jangan tanya sekarang, nanti kalau kesalnya sudah reda baru aku ceritakan," ucapnya. Krystal mengangguk saja. Bukan sesuatu yang baru lagi melihat sahabatnya itu berlaku sedemikian. Krystal berniat ke kantin untuk membeli roti dan minuman untuknya dan Giiz. Bermaksud berbaik hati untuk sahabatnya itu yang selalu membawakannya camilan bila balik dari kantin saat Krystal memilih berdiam diri di kelas menonton atau membaca novel. Saat tengah berdiri di jejeran rak khusus makanan ringan, Krystal dikejutkan oleh kehadiran Kaezn yang berdiri di sampingnya sambil menempelkan sebotol minuman dingin ke pipi Krystal. "Dingin ya?" kata Kaezn. "Maaf," ucapnya dengan ekspresi tak berarti. Krystal mengerjap, lalu menggeleng atas tindakan Kaezn yang di luar dugaannya. "Mau beli apa?" tanya Krystal basa-basi. Kaezn tak langsung menjawab. Dia mengambil beberapa bungkus camilan, lalu memasukkannya ke keranjang Krystal. "Loh?" "Sekalian," katanya. Kaezn melakukan itu bukan tanpa alasan. Semuanya dia lakukan demi Krystal yang jauh dari jangkauan Orlan yang selalu mengamati dari kejauhan serta menjaga jarak gadis ini dengan Jaehan kalau-kalau di saat tak memungkinkan. Seperti tadi, karena fokusnya pecah, dia tak sadar jika ada Giiz yang masuk ke toilet. Hampir saja gadis itu melihat tindakan memberi hukuman ke siswa-siswa nakal tadi. "Gaya rambutmu bagus." Krystal menunjuk kepala Kaezn. "Lebih cocok begitu menurutku," katanya santai. Tangan Kaezn terangkat menyentuh rambutnya yang sekarang telah kering. Poninya yang tersisir rapi ke belakang, sekarang sudah jatuh menutupi dahinya karena siraman air tadi. Dia terlalu malas merapikannya lagi, karena bagian kerapian Edgarlah yang paling tau. "Kau suka matcha?" tanya Kaezn melihat Krystal mengambil roti rasa green tea. Krystal menatap roti di tangannya lalu menggeleng. "Bukan untukku." "Lalu?" tanya Kaezn lagi. "Untuk Giiz. Dia suka matcha." Kaezn langsung terdiam. Mengingat cara gadis itu menariknya keluar dari toilet sambil menggenggam tangannya. Selain itu gadis itu juga membawanya ke ruang ganti yang sebelumnya tidak diketahui Kaezn keberadaannya. Namun alih-alih berterima kasih, Kaezn malah bersikap dingin padanya. "Tidak ada alasan untuk bersikap hangat padanya," gumam Kaezn enteng. "Hah, kau bicara apa?" "Tidak ada," alibi Kaezn sambil menaruh beberapa camilan ke keranjang Krystal yang dia ambil secara asal. Sekarang Krystal bingung melihat dua kantong besar yang tengah dia jinjing. Tadi saat ke bagian pembayaran, semua camilan itu dibayar oleh Kaezn dan tak memedulikan Krystal yang ingin membayar. Bahkan semua camilan yang dia pilih diberikan pada Krystal. "Makan semuanya. Kalian butuh makan banyak," katanya sambil memasukkan ke dua tangannya ke saku celana. Krystal mendongak, lalu melihat kantong besar yang dia jinjing. Dia terlihat usai berbelanja kebutuhan dapur alih-alih hanya membeli camilan untuk mengisi jam istirahat. "Tapi Kaezn—" "Aku pergi dulu," katanya lalu melangkah santai meninggalkan Krystal yang bingung dengan dua kantong camilan itu. Di sisi lain, ada rasa senang di hatinya. Setidaknya semua camilan ini bisa dia bawa pulang dan mengajak Giiz bermalam di rumahnya. Sesampainya Krystal di kelas, dia mendapati Giiz tidak sendirian. Gadis itu tengah mengobrol bersama laki-laki. Mereka berdua langsung mendongak begitu melihat Krystal yang tengah menaruh belanjaannya ke atas meja. "Wow. Kau mau buka toko, ya?" ucap Giiz antusias sambil memilih camilan kesukaannya. "Kaezn yang belikan." Raut wajah yang tadinya secerah cuaca di luar sana kini langsung berubah suram. Giiz mendorong kantong itu menjauh lalu memutar tubuhnya membelakanginya. Krystal mengernyit heran. "Kenapa?" Giiz menggeleng. "Bisa ajarkan temanmu sopan santun?" ujar Giiz pada Jaehan. Laki-laki itu mengangguk sambil mengulum senyum. Paham inti dari permalasahan ini. Tampaknya sahabatnya itu mulai melakukan interaksi lebih banyak dengan manusia. Setidaknya itu kabar baik bagi Jaehan meski dia menyayangkan sikap Kaezn yang sulit mengekspresikan dirinya di sekitar manusia. "Memangnya dia kenapa?" tanya Krystal bingung. "Hati-hati dengan Kaezn ,Krys." Kening Krystal semakin berkedut pertanda tak paham. Sejauh ini menurutnya Kaezn cukup baik meski laki-laki terkesan dingin. Alasan Jaehan ke kelas Krystal pun ingin mengajak gadis itu mengobrol—membicarakan sesuatu yang telah dia pikirkan beberapa hari terakhir ini. "Bisa kita bicara sebentar?" ajak Jaehan pada Krystal. Gadis itu mengangguk sambil membawa beberapa camilan dan mengikuti Jaehan dari belakang. Tentunya dia menjaga jarak dari laki-laki itu, enggan mendapat gosip tak bermutu lagi. Mereka tiba di roof top sekolah. Krystal duduk di atas kardus yang memang telah ada di sana, karena bagaimana pun juga bukan mereka saja yang kerap kemari. "Jadi apa yang mau kau bicarakan?" Krystal membuka obrolan seraya memasukkan camilan ke mulutnya. Kemasan camilan berupa manisan itu dia sodorkan pada Jaehan dan disambut laki-laki itu dengan gelengan. Jaehan menghela napas panjang saat merasakan kehadiran seseorang yang menuju ke roof top sekolah juga. Benar saja, tidak lama kemudian Zei datang sambil menyunggingkan senyum lebar. "Hai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN