"Hai," sapa Zei seraya duduk di samping Krystal.
"Hai, Bu," balas Krystal kikuk.
Sedangkan Jaehan hanya menghela napas panjang. Tampaknya niatnya kali ini urung karena kehadiran Zei yang tak diundang.
Karena merasa kurang enak berada di antara gurunya dan Jaehan, maka Krystal undur diri untuk kembali ke kelasnya dengan alasan sebentar lagi pergantian pelajaran. Zei menanggapinya dengan anggukan, sedangkan Jaehan diam saja dengan pandangan lurus ke depan.
.
.
Ruangan yang didominasi warna krim itu tampak lengang dan sunyi. Hanya suara kertas yang bergesekan dengan yang lainnya saat seseorang membuka lembaran baru.
Sepulang sekolah Krystal langsung membersihkan diri dan menyelesaikan bacaan novelnya. Ada sepuluh novel lagi yang baru dia beli dan masih dalam kemasan. Di sisi lain, ada Giiz yang tengah menonton drama menggunakan headset sehingga suara dari drama itu tak mengusik Krystal yang fokus membaca. Ke duanya larut dengan kegiatan masing-masing. Mengenai camilan dua kantong yang dibelikan Kaezn di sekolah itu memang Krystal bawa pulang sisanya. Sebagian dia membagikannya ke teman-teman sekelas yang disambut sorak senang.
Jam digital di atas meja belajar Krystal menunjukkan angka lima sore. Suasana di luar jendela pun terlihat gelap karena matahari tertutupi awan gelap. Tampaknya akan turun hujan.
"Mau lagi." Giiz menyodorkan tangannya meminta jajan tanpa menoleh sedikit pun. Krystal berdecak pelan karena Giiz sedikit mengganggunya.
Tidak lama kemudian Krystal tersentak saat ponselnya berdering nyaring. Dengan gerakan malas dia melangkah mengambil benda pipih itu, dan langsung mengangkatnya cepat saat nama Ibu terpampang di layar.
"Krystal, kamu sedang apa, Nak?" tanya Ibu di seberang sana.
Krystal melihat ke arah ranjangnya. "Baca novel, Bu. Sama Giiz."
Terdengar helaan napas di seberang sana. "Boleh ibu meminta tolong?" tanya Ibu penuh kehati-hatian, terdengar merasa bersalah karena akan mengusik waktu tenang putrinya.
"Apa, Bu? Ibu mau dijemput?" tanya Krystal. Mengingat jika ibu tak membawa mobil sendiri tadi pagi..
"Barusan Lais menelpon Ibu." Terdengar decakan pelan. "Dia tersesat di sebuah tempat dan tidak tau arah pulang."
Krystal mendongak, menatap langit-langit kamarnya dengan ponsel menempel di telinga. "Dia bisa menggunakan google maps, Bu." Krystal menyarankan. Karena memang itulah jalan keluarnya selain bertanya pada orang lain.
"Sudah. Tapi katanya dia selalu kembali di tempat semula," terang Ibu terdengar frustasi.
Krystal menggigit bibirnya. Secara tak langsung dia pun langsung memikirkan Lais yang sekarang entah ada di mana.
"Memangnya dia pergi ke mana, Bu?"
"Sebentar, ibu kirim alamatnya."
Krystal membuka room chat menampakkan alamat yang dikirim Ibu. Keningnya mengerut dalam saat melihat alamat tersebut.
"Bisa tolong jemput dia ke sana, nak?" pinta Ibu penuh harap.
Krystal menyugar rambutnya yang memang berantakan. Di ranjang, Giiz duduk bersila sambil menatap Krystal dengan pandangan penasaran. Dia sesekali bertanya tanpa suara.
"Dia bisa menggunakan jasa ojek atau taksi online, Bu."
"Krys, ibu tidak akan menelpon jika itu semua belum dicoba sepupumu itu. Tapi hasilnya nihil, semuanya cancel."
"Sebentar lagi aku menyusulnya ke sana, Bu," ujar Krystal akhirnya.
Terdengar helaan napas lega di seberang sana.
"Kamu gunakan mobil mama aja, ya. Di situ ada Giiz, kan? Giiz sudah memiliki surat izin mengemudi, kamu bisa minta tolong sama dia," kata Ibu. Tadinya Krystal yang ingin menyetir tanpa melibatkan Giiz, namun saat teringat SIM-nya belum keluar, Krystal pun mengurungkan niatnya itu.
Setelah menjelaskan maksud dan tujuan mereka, Giiz pun mengangguk setuju untuk menemani Krystal tanpa banyak bicara.
Krystal membawa tas ranselnya yang berukuran sedang, tidak lupa dia membawa sebotol air untuk masing-masing, makanan, kotak p3k, sente, dan handuk tebal, menurut Krystal benda-benda itu sangat berguna. Gadis itu mematut penampilannya di cermin sambil menarik resleting jaket yang dia kenakan. Selain mengenakan jaket, Krystal juga mengenakan celana training panjang. Begitu pun dengan Giiz yang meminjam jaket dan celana panjang Giiz.
"Kok aku deg-degan, ya," gumam Giiz. Teringat tempat yang akan mereka datangi itu. Giiz terkesiap saat mengeceknya di maps, nyatanya rute yang mereka tuju itu jauh dari kota.
Setelah semuanya siap, Giiz mulai menancapkan gas. Krystal duduk tenang di kursi penumpang sampingnya.
Jalanan tampak lengang, mungkin karena rute mereka tak melewati jalanan kota. Langit pun tampak lebih gelap dengan suara gemuruh yang sesekali terdengar. Mereka melewati hutan Pinus yang terdapat pemukiman warga di sekitarnya.
Giiz dan Krystal saling pandang ketika titik-titik air nampak mulai jatuh di kaca mobil.
"Aku tidak yakin, tapi kita sudah setengah jalan," kata Giiz. Memarkirkan mobil di pinggir jalan.
Krystal menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke depan. Gemuruh yang disertai angin membuat pohon-pohon di sekitar tempat meliuk-liuk seakan ingin tumbang. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras.
"Sepuluh menit dari sini," kata Krystal sambil melihat ponselnya yang menunjukkan rute ke tempat Lais.
Giiz mengangguk mengerti. "Kita ke sana sekarang, karena kalau menunggu hujan reda bisa-bisa kita menginap di sini," ujar Giiz dan diangguki oleh Krystal. Dia kembali menancapkan gas dan menyetir dengan pelan.
Jarak pandang mereka terbatas karena hujan begitu deras yang tampak seperti kabut dari kejauhan.
Krystal bergerak gelisah. Meski dia kesal dengan Lais yang selalu merepotkan, tapi dia tak dapat membohongi dirinya jika dia tengah dilanda kekhawatiran.
"Sebenarnya sedang apa Lais di tempat seperti ini?" tanya Giiz.
Krystal menggeleng. "Aku lupa menanyakannya pada Ibu."
"Sepupumu itu ya ... ck! Benar-benar merepotkan," keluh Giiz. Prihatin dengan Krystal yang selalu menjadi orang yang akan dihubungi bila Lais melakukan kesalahan atau mendapat masalah.
Mobil yang mereka tumpangi mendadak berhenti sehingga tubuh Krystal terhuyung ke depan. Dia langsung menatap Giiz yang mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat sesuatu yang hampir saja dia tabrak.
"Anak babi," ucap Giiz sambil menyandarkan tubuhnya seraya mengusap keningnya.
Krystal menelisik sekitar dan tak melihat tanda-tanda keberadaan manusia. Memang sepanjang jalan terdapat rumah, tapi rumah-rumah itu tertutup rapat, mengingat jika sekarang sudah jam enam lewat.
Tatapan Krystal mengarah pada rumah kecil yang berada tak jauh dari mobil mereka. Rumah mini itu terlihat seperti tempat pada satpam atau petugas keamanan beristirahat. Krystal lupa namanya.
Dia pun menelpon Lais yang langsung diangkat saat deringan ke tiga.
"Hei, kau sudah di mana? Cepatlah! Aku kedinginan!"
Krystal menjauhkan ponselnya dari telinga karena Lais yang berteriak.
"Kau ada di mana sekarang?" tanya Krystal.
Lais tak langsung menjawab. Mungkin dia tengah mengecek sekitarnya.
"Entahlah. Sekarang aku sedang berteduh di sebuah pos ronda," kata Lais.
"Warna catnya hijau?"
"Ya, betul sekali! Kau di mana? Heh! Aku melihat mobil, itu kau, ya?" teriak Lais lagi.
"Iya. Cepatlah kemari."
"Tidak bisa. Jalannya terlalu kecil untuk mobil."
"Yang benar saja! Cepat bawakan payung ke mari!"
Giiz merebut ponsel Krystal. "Kau yang dijemput jauh-jauh ke mari tapi kau yang banyak bicara!"
"Diam, ya! Kau tidak tau apa-apa."
"Kau berjalan ke sini atau kami akan meninggalkanmu," ancam Krystal, mengambil ponselnya kembali.
Terdengar decakan kesal di seberang sana. Tanpa mematikan ponselnya, Lais langsung menerobos hujan. Setibanya di mobil, gadis itu langsung masuk tak peduli sepatunya yang penuh dengan lumpur.
"Ambil tas itu," kata Krystal menunjuk ransel di kursi penumpang samping Lais.
Gadis itu langsung mengambilnya. Dia langsung membuka sweaternya yang basah kuyup dan menjadikan handuk tebal di dalam tas itu sebagai pengganti.
"Kalian lama sekali," keluhnya sambil meregangkan tubuhnya.
Krystal menghela napas lelah. "Setidaknya kau bisa diam jika tak bisa mengatakan hal baik."
Lais berdecak, kendati demikian dia menuruti ucapan Krystal.
"Kau sedang apa di tempat ini huh?" kesal Giiz.
"Memancing," jawab Lais dengan malas.
"Sendirian?"
"Bersama temanku."
"Lalu?"
"Entah. Aku tersesat."
Tidak lama kemudian mobil mereka kembali membelah hujan. Tidak sadar jika dari kejauhan ada yang mengamatinya.
.
.
Saat tengah menikmati pemandangan di sekitar villanya dari lantai dua, Jaehan tersentak saat merasakan sesuatu yang berbahaya tengah mengincar seseorang. Maka meski langit begitu gelap akan turun hujan, laki-laki itu tetap bergegas ke suatu tempat.
Di tengah sunyinya pedesaan itu, Jaehan melangkah tegap, tak peduli hujan mengguyur tubuhnya dan becek tanah tanpa aspal mengotori sepatu mahalnya. Dia tiba lebih dulu dari dua gadis yang tengah berada di mobil itu. Jaehan mengamati mereka dari kejauhan saat mobil gadis-gadis itu tiba-tiba berhenti saat ada hewan yang melintas.
Saat mobil itu sudah melaju dengan kecepatan sedang, Jaehan pun menyusul dengan langkah santai. Dia mendesis beberapa kali, kembali menyayangkan hukumannya yang harus di waktu hujan.
Di sisi lain dia menertawakan niat Orlan yang memancing Krystal ke mari dengan memperalat Lais. Lambat sedikit saja Jaehan, dia tidak tau entah kecerobohan apa lagi yang dilakukan Orlan.
"Lama tidak bertemu," sapa Jaehan penuh basa-basi. Dia melayangkan senyum mengejek ke arah Orlan yang berdiri di bawah pohon, tangannya mengepal di samping pohon.
"Kau tidak mau dia berakhir seperti Aurora, kan?" tanya Jaehan.
Orlan menggeram. "Jangan ikut campur."
"Jika menyangkut tugasku tak ada yang bisa menghalangiku," jawab Jaehan.
"Hukuman menyedihkan," ralat Orlan sambil mendengkus sinis.
"Tak ada gunanya." Jaehan mengibaskan rambutnya yang basah kuyup. "Aku tau aku memiliki sisi baik, dan jika kau benar-benar melukainya, maka hanya rasa penyesalan yang kau dapat."
"Bagaimana jika kau salah?"
Jaehan mengedikkan bahu. Dia mengibas-ngibaskan bajunya. "Masalahnya aku percaya diri aku benar," kata Jaehan.
"Menyebalkan!"
.
.
Jarum jam menunjukkan angka sembilan malam saat mereka tiba di rumah Krystal. Di depan rumah sudah ada Ibu menunggu dengan raut cemas.
Dia langsung menghampiri mobil.
Lais keluar dengan wajah memucat dan bibir menggigil kedinginan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ibu.
Lais menggeleng. "Kurasa tidak."
"Ya, sudah. Masuk ke kamar, pinjam baru Krystal, ya. Setelah itu makan lalu istirahat," ujar Ibu tanpa menanyakan ini itu. Dia paham situasi yang tidak memungkinkan mengintrogasi gadis itu.
Di sisi lain Krystal dan Giiz keluar bersamaan.
"Terima kasih, Giiz," kata Ibu tulus.
Giiz terkekeh pelan, dia mengangguk. "Sama-sama, Tante."
"Maaf ya merepotkanmu. Pasti kalian capek banget."
Giiz menggaruk rambutnya. Dia memang lelah, begitu pun dengan Krystal yang menguap sejak di jalan.
"Tante, eum boleh aku menginap? Sepertinya sudah larut untuk pulang ke rumah."
Ibu mengangguk antusias. "Dengan senang hati. Iyakan, Krys?"
Krystal mengangguk lalu merangkul Giiz.
Giiz masuk lebih dulu ke kamar Krystal. Menyisakan Ibu dan Krystal di meja makan. Gadis itu tak langsung ke kamarnya, dia malah membuka kulkas dan mengambil beberapa roti dan buah untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ibu.
Krystal mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol. Mulut demi penuh dengan makanan sehingga sulit berbicara.
"Ibu akan mengingatkan Giiz agar tak pergi ke sembarang tempat tanpa pengawasan," kata Ibu. Dia pun mengkhawatirkan putrinya yang hadir memastikan keselamatan Lais yang keras kepala dan sulit diatur.
"Kenapa tak bicarakan ke Nenek?" tanya Krystal. Menurutnya jika nenek mengetahui semua kenakalan Lais di sekolah maupun di luar sekolah, Krystal yakin gadis itu akan diberi sangsi. Minimal kartu kreditnya disita.
Ibu hanya mengelus rambut Krystal tanpa menjawab usulan putrinya itu.
.
.
"Krystal."
Merasa dipanggil, Krystal pun menoleh sambil mengeringkan rambutnya usai keramas.
Giiz, gadis itu usai mandi langsung naik ke ranjang dan melanjutkan tontonannya seraya memangku sekaleng biskuit Krystal.
"Kita tidak lama lagi tamat sekolah."
Krystal mengerjap beberapa saat, kembali teringat dengan pertanyaan neneknya beberapa waktu lalu. Hingga saat ini Krystal masih yakin dengan keinginannya, lagi pula ibunya sangat sanggup membiayainya hingga lulus, kalau pun tidak, Krystal akan berusaha sendiri seperti mengandalkan uang sakunya yang dia tabung sejak kecil.
Lalu obrolan mereka larut begitu saja, menceritakan cita-cita masing-masing sambil mengkhayalkan bertemu dengan senior tampan di bangku perkuliahan.
Obrolan keduanya terusik saat pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok Lais yang cemberut.
"Mohon maaf, ranjang ini hanya muat dua orang," kata Giiz tanpa segan sedikit pun.
"Dih," ketus Lais. Dia menutup pintu lalu melempar tubuhnya ke kasur Krystal. Dia memeluk guling yang dia bawa dari kamar sebelah, lalu tidur menghadap tembok—mengambil posisi paling samping.
"Aku tidak mau tidur di tengah," kata Krystal sambil menatap Giiz yang memukul kaki Lais yang mengusilinya.
Bukan tanpa alasan Krystal tak ingin tidur di tengah, menurutnya tidur di antara Lais dan Giiz itu benar-benar bencana. Dua gadis itu tidak bisa tenang saat tidur. Pasti tangan mereka akan memeluk Krystal atau menjadikannya sebagai bantal guling. Maka solusi terbaiknya ialah membuat Giiz dan Lais tidur berdampingan, walaupun mereka selalu cekcok dan bertengkar, tapi saat tidur keduanya akur dan saling berbagi selimut. Meski saat bangun keesokan paginya akan saling melempar makian.
"Oh tidak-tidak. Kau harus di tengah, Krys. Tau kan kalau kau tidak di tengah?" ujar Giiz dengan ekspresi tak terima.
Krystal menggeleng. "Pokoknya aku akan tidur di sini," kata Krystal sambil menaruh bantal di posisi yang dia maksud beserta dengan boneka pinguinnya.
Mau tidak mau Lais dan Giiz tidur berdampingan. Mereka tidak berhenti saling melayangkan cubitan, tendangan, memaki, dan lemparan bantal yang berujung mengenai wajah Krystal.
"Dia yang melakukannya," kata Lais dan Giiz bersamaan sambil saling tunjuk.