Keesokan paginya yang mendung, Krystal, Lais, dan Giiz, berangkat sekolah dengan diantar Ibu. Kemudian dia sahabat itu berpisah dengan Lais di parkiran sekolah, karena Lais langsung bergabung bersama teman-temannya.
Seperti biasa, Krystal dan Giiz berjalan berdampingan dan masing-masing menenteng bekal yang dibawa, Ibu yang menyiapkan.
Di belakang mereka ada Jaehan dan Edgar yang juga melangkah bersisian dan mengamati dua gadis itu dari belakang.
"Kemarin kau menyusulnya, kan?" tanya Kaezn. Karena saat itu dia sedang melakukan sesuatu dan Jaehan pergi tanpa banyak bicara, sehingga Kaezn memilih tak bertanya alih-alih mengikutinya seperti yang kerap dia lakukan.
Jaehan tak menjawab. Bibirnya berdecak pelan. "Aku mendadak lapar," ucapnya, tanpa melepas tatapannya dari bekal yang dijinjing Krystal.
"Kau bisa ke kantin." Kaezn memberi saran, sedikit dongkol karena pertanyaannya mengembang layaknya angin lalu.
"Mereka sangat nekat." Jaehan menghela napas. "Sedangkan yang satunya terlalu ceroboh dan beban."
"Mereka semua beban," kata Kaezn datar.
Jaehan terkekeh geli, dia mengangguk membenarkan.
Mereka berbelok ke kiri menuju lantai yang terdapat tangga ke lantai dua. Mereka enggan menggunakan lift yang rata-rata akan penuh di setiap paginya.
Saat mereka mulai menaiki anak tangga, seorang siswi dengan rambut panjang menepuk bahu Jaehan. Senyumnya mengembang lebar sambil menatap Jaehan dan Kaezn seolah mereka saling kenal.
Meski Jaehan pernah menolongnya dari cengkraman Orlan, bukan berarti Yuna mengenalinya. Karena usai menyelamatkannya, Jaehan tak akan membiarkan gadis itu memiliki ingatan tentang Orlan sejak mereka kenal hingga energinya diserap.
"Pacar Krystal?" Yuna menebak sambil mengacungkan jarinya. "Iya, kan, kau pacarnya Krystal?"
Kaezn langsung menatap Jaehan dan Yuna secara bergantian.
"Kau siapa?" tanya Kaezn masih dengan ekspresi datar dan tak bersahabatnya.
Yuna mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Kaezn hanya menatap tangan itu, lalu beralih ke arah Jaehan yang langsung menyambut tangan Yuna.
"Aku Yuna." Yuna tersenyum. "Belum lama ini aku sempat mengobrol dengan pacar Jaehan, dia tertarik melukis dan menggambar sederhana."
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" timpal Kaezn. Langsung mendapat sikutan di tulang rusuknya.
Yuna mengerjap bingung beberapa saat. Tadinya dia pikir Kaezn tipe laki-laki yang ramah dan mudah bergaul, terlepas dari penampilannya yang culun. Selama ini, Yuna sering memperhatikan Kaezn dari Kejauhan, itulah alasannya dia tau bila Kaezn dan Jaehan itu bersahabat karena tak jarang datang ke sekolah bersama.
Maksud Yuna mengapa mereka pun untuk berbasa-basi, terutama pada Kaezn. Jika orang lain melihat Kaezn tak lebih dari laki-laki culun dan kutu buku, maka berbeda dengan Yuna yang melihat Kaezn dengan sudut pandang berbeda.
Dia pikir Kaezn itu imut dan menggemaskan. Namun, saat dia mendengar respon dingin laki-laki itu, tampaknya Yuna akan berpikir dua kali untuk menyapa Kaezn lagi. Berbanding jauh dengan Jaehan yang menurutnya pacar Krystal.
"Sebenarnya tidak ada." Yuna menggaruk rambutnya kikuk. "Eum, kalau begitu aku ke kelas dulu."
Sepeninggal Yuna, Jaehan langsung berdecak pelan. "Kau membuat gadis yang ramah menjadi kikuk dan tak berkutik," kata Jaehan menyayangkan sikap dingin Kaezn.
Kaezn mengedikkan bahu tak peduli dan malah melangkah lebih dulu.
Di tempat lain, Krystal dan Giiz tengah melihat interaksi itu semua sejak tadi. Giiz di sampingnya sudah misuh-misuh, mulai menebak ini-itu yang rata-rata membuat dirinya semosi sendiri.
"Seperti dugaan, sepertinya Yuna dan Jaehan memang ada sesuatu." Giiz berdecak pelan sambil berkacak pinggang.
Krystal mengedikkan bahu tak terlalu peduli.
"Jangan-jangan Jaehan memang playboy cap kakap, dia mencampakkan perempuan usai mempermainkannya. Lihat kan tadi ekspresi Yuna? Dia terlihat kecewa," kata Giiz.
Mereka tiba di kelas dan langsung menaruh tas masing-masing di atas meja.
"Kurasa itu bukan urusan kita, Giiz. Kita dan dia kan hanya teman."
Giiz melotot tak percaya, dia menggeleng menanggapi ucapan Krystal yang menurutnya tidak benar.
"Ayolah Krys. Dari awal dia pindah ke sini itu terlihat jelas kalau Jaehan tertarik padamu. Di antara banyaknya siswi yang mencoba menarik perhatiannya—termasuk aku—tapi lihat, siapa yang dia datangi? Kau Krys! Tak peduli kau selalu menghindar dan berusaha mengabaikannya, tapi Jaehan selalu mencoba mengajakmu berbicara, 'kan?" jelas Giiz panjang lebar. Dia tak ingin sahabatnya hanya dijadikan persinggahan, kalau Jaehan memang ingin serius maka Giiz akan mendukungnya, tapi melihat hal-hal janggal pada laki-laki itu, Giiz langsung berpikir yang tidak-tidak.
Krystal tersenyum miris. Giiz tidak tau jika awal-awal Jaehan masuk ke MSS itu selalu mendekati Krystal karena mengancam akan sesuatu yang belum jelas dia ketahui, meski Krystal melihatnya, tapi tetap saja Krystal tak begitu yakin akan hal tersebut. Rasanya terlalu mustahil.
"Giiz, akan memalukan jika ada yang mendengarnya," kata Krystal sambil membuka tasnya, mengambil binder dan beberapa alat tulis.
Giiz berdecak, gemas dengan Krystal yang terlalu ... entahlah, Giiz sulit menjelaskannya.
"Memangnya kau tidak kesal, Krys?"
"Maksudmu?" tanya Krystal tanpa menatap lawan bicaranya.
"Dia terlihat tertarik denganmu, kuyakin dia juga berbagi cerita padamu. Tapi, saat malam dia malah mengetuk rumahmu sambil membawa gadis lain." Giiz berdecak.
"Itu bukan urusanku." Krystal mengerutkan keningnya. "Selama ini aku juga tak merasa kalau Jaehan mendekatiku," kata Krystal. Meski beberapa kali Jaehan seperti mengodenya.
"Benarkah?" selidik Giiz.
Krystal tak lagi menjawab, dia menyibukkan diri menulis random di bukunya.
Paham jika Krystal tak ingin melanjutkan obrolan ini, maka Giiz menghela napas paham.
"Jangan-jangan Yuna mendekati laki-laki kulkas itu?" gumam Giiz, masih melanjutkan kecurigaannya.
Krystal berdecak samar.
.
.
"Sepertinya kita sudah terlalu lama di sekolah ini. Sedangkan jauh di sana, ada banyak orang yang harus kau tolong. Bahkan hukuman yang harus kau lakukan tiap hari pun tak berjalan dengan baik."
Sudah lama rasanya Jaehan tak mendengar kalimat terpanjang Kaezn. Mereka tengah duduk di pinggir lapangan, melihat bocah-bocah yang tengah saling mengadu bola dan berteriak sana-sini.
"Hm."
"Semakin jarang kau melakukan hukumanmu—"
"Kata hidupku di dunia ini akan terus berkurang." Jaehan memotongnya seraya menyunggingkan senyum tipis.
Tak terhitung sudah dia melanggar hukumannya dan memilih menghabiskan waktunya di villa dan di sekolah ini. Jaehan safar akan konsekuensi yang harus dia terima, yaitu masa hidupnya akan terus berkurang, artinya dia tak akan memiliki waktu banyak untuk berada di antara manusia-manusia.
"Kurasa itu lebih bagus." Jaehan menaruh ke dua tangannya di belakang kepala sambil melipat ke dua kakinya. Dia memainkan bola yang dimainkan bocah-bocah itu menggunakan kemampuannya, sehingga mereka kesulitan mengendalikan bolanya yang menggelinding tak tentu arah.
Setelahnya dipikir-pikir—meski Jaehan mendapat hukuman ini karena keinginannya untuk hidup berdampingan dengan manusia dan alasan lainnya itu—Jaehan pikir keinginannya di masa lalu itu terlalu konyol. Mungkin memang sudah saatnya dia mengakhiri segalanya.
"Kau mulai berpikir aneh!" Kaezn berkata datar sambil melangkah pergi meninggalkan Jaehan yang memejamkan mata. Sebuah bola melayang mengenai wajahnya, hampir saja dia mengeluarkan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
.
.
Pertemuan yang tidak direncanakan, begitulah kira-kira. Setelah pertemuan di kedai kue beberapa waktu lalu, Krystal hampir tak pernah berpapasan dengan Orlan. Entah dia yang kurang jauh melangkah di MSS atau laki-laki itu yang sengaja menghindarinya.
Namun, kali ini keduanya dipertemukan di samping sekolah, tepatnya di taman yang setiap sebulan sekali menjadi tugas siswa MSS gotong royong untuk membersihkannya dan mengganti dan menanam bunga atau pohon. Sebenarnya itu hanya sekedar formalitas, karena MSS memiliki petugas kebersihan sendiri, mengawasi dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan sampah dan tanaman. Dibanding menanam atau mengganti tanaman yang telah disediakan pihak sekolah, penghuni MSS lebih banyak ongkang-ongkang kaki di bawah pohon atau di kursi besi yang terdapat di bawah pohon tertentu. Mereka bercengkrama dengan suara tawa yang bersahut-sahutan.
Tak terkecuali Krystal, dia langsung turun ke arah tujuan sambil membawa sapu lidi. Hanya ada beberapa daun gugur yang perlu dikumpulkan, tampaknya sebelum hari gotong royong ini petugas sengaja tidak membersihkan MSS dari dedaunan kering.
Krystal berusaha mengambil daun gugur di atas kolam ikan dan berbagai macam tanaman alga di atasnya. Karena menurutnya daun itu mengganggu keindahan kolam buatan tersebut. Namun, karena kurang berhati-hati dan sekitar kolam yang berlumut dan licin, Krystal terperosok dan hampir masuk ke kolam itu jika saja sebuah tangan tidak menarik kerah baju olahraga bagian belakangnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang. Dari nada bicaranya tak terdengar khawatir.
Krystal memegang apa saja yang bisa menjadi pegangannya, lalu beranjak berdiri dan menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor.
"Ya. Terima kasih," kata Krystal tulus.
Laki-laki itu mengangguk, tapi dia tak langsung beranjak. Dia malah berjongkok dan mengambil daun kering itu dengan mudah, lalu menaruhnya di tumpukan daun-daun kering yang sudah Krystal kumpulan sejak tadi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Orlan, terdengar tidak terima.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Krystal, pertanyaan itu terucap dengan sendirinya tanpa atas kendalinya. Setelah sadar dia mengutuk mulutnya sendiri.
"Melakukan tugas seorang siswa, karena aku masih bagian MSS." Orlan menjawab dengan nada rendah.
"Apa kabar?" Krystal kembali melayangkan pertanyaan. Mau tidak mau Orlan langsung menatapnya. Krystal yakin itu bentuk tatapan antara percaya dan tidak, serta mengejek.
"Seperti yang kau lihat."
Krystal menggaruk pipinya, pertemuan mereka ini benar-benar canggung. Maka untuk mematikan kecanggunai ini, Krystal mengambil solusi menjauh dari sekitar Orlan. Dia mengambil sapunya dan bersiap untuk melangkah ke arah Giiz, gadis itu tengah meributkan kecebong bersama teman kelas.
"Krystal."
"Eh, ya?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Meski bingung, Krystal tetap mengangguk. Lagi pula dia juga penasaran entah apa gerangan yang ingin dibicarakannya laki-laki ini.
"Kita duduk di sana." Orlan menunjuk bangku panjang besi, terdapat di bawah pohon akasia.
Krystal mengikutinya lalu duduk di samping Orlan dengan jarak yang lumayan jauh.
"Jadi?"
"Aku ingin membicarakan seseorang, jika kau tidak keberatan."
"Silakan, aku akan mendengarkan. Tapi aku tidak janji akan memberimu saran."
Orlan tak ambil pusing. Sejenak dia membasahi bibirnya yang terasa kering.
"Aku ingin menceritakan mantan kekasihku."