"ADA KEBAKARAN DI PERPUSTAKAAN LANTAI TIGA!"
Mendengar teriakan itu, Giiz selaku sahabat Krystal langsung tersedak kuah mienya dan berlari begitu saja meninggalkan meja kantin. Jantungnya berdegup kencang dengan pikiran terfokus pada satu orang, Krystal. Dia ingat tadi Krystal mengatakan ingin ke perpustakaan.
Di tengah keributan seraya mencari sosok Krystal—Giiz berharap sahabatnya itu telah keluar dari sana. Namun tetap saja rasa khawatirnya semakin membuncah saat Krystal tak menjawab teleponnya.
Di tengah hiruk-pikuk itu, mata Giiz menangkap sosok seseorang yang tampak berusaha menerobos pihak keamanan yang menjaga tangga, setelahnya beberapa orang di antaranya menarik laki-laki itu keluar dari gedung MSS, hal itu pun terjadi pada Giiz yang memberontak meski tenaganya kalah tangguh.
"Oh tidak-tidak ... haisss bagiamana ini ..." Giiz menarik rambutnya frustasi. "Astaga Krystal, angkat teleponmu! Aku tau kau lelah dengan hidup ini, tapi ayolah! Jangan menambah kebodohanmu dengan cara menyerah!" racau Giiz memikirkan sesuatu yang buruk mengenai sahabatnya.
"Em ... Sorry, apa kau juga mencari temanmu? Maksudku, apa temanmu juga terjebak di perpustakaan itu?" tanya Giiz sambil mencolek bahu laki-laki itu hingga dia menoleh dan menatap Giiz dengan raut datar.
Kendati demikian gadis itu tak terusik sedikit pun. Nyawa sahabatnya jauh lebih berharga meski Krystal kerap membuatnya kesal setengah mati.
Sorot tajam laki-laki itu tak melepas tatapannya dari wajah Giiz yang mengernyit bodoh karena tak kunjung mendapat jawaban, terlebih ditatap sedemikian rupa. Wajahnya memang tampan, terlihat penuh perawatan, walaupun stylenya sedikit meresahkan, tapi melihat sorot dinginnya, Giiz menggeleng—merasa bertanya pada orang yang salah, kemudian mengabaikan laki-laki itu dan kembali menelpon Krystal.
"Mereka tidak di sana." Sebuah kalimat meluncur dari bibir laki-laki itu usai memastikan sesuatu.
Giiz yang tengah menjambak rambutnya pun langsung menoleh dengan wajah bingung bercampur frustasi. "Maksudmu?"
Tanpa menjawab Giiz, laki-laki itu melangkah —meninggalkan area depan MSS dan berjalan ke arah samping menuju belakang sekolah. Meski bingung—katakanlah dia bodoh, Giiz tetap mengikuti laki-laki itu dengan pikiran bertanya-tanya.
Sesampainya di area belakang MSS, barulah Giiz mampu bernapas dengan benar. Bahunya melemas begitu saja bersamaan dengan air menetes dari sudut matanya yang kemudian dia hapus dengan kasar sambil mengumpat.
"Huh, temanku memang sia*lan!"
•••••
"Apa yang kau lakukan hah?" sungut Krystal saat Jaehan memanggulnya bak karung beras, tak peduli seberapa keras dia memberontak, saking kesalnya Krystal menggigit bahu laki-laki itu, tetap saja Jaehan tak menurunkannya sebelum sampai di belakang sekolah dan mendudukkan gadis itu di bangku kayu reyot.
"Membantumu, apa lagi?" balas Jaehan dengan nada kesal. Sebenarnya dia tidak sudi menyusahkan dirinya sendiri demi gadis tidak tau diri seperti Krystal, namun dia terganggu saat melihat gerakan lambat Krystal menuruni tangga.
"Diam," tekan Jaehan sambil menahan bahu Krystal yang ingin berdiri. Krystal terus menggerutu sambil mengedikkan bahu— tempat Jaehan menahannya.
"Kakimu membengkak," kata Jaehan sambil berjongkok dengan menekuk satu kakinya di lantai. Jaehan menatap Krystal dengan ekspresi sangsi saat Krystal menarik kakinya kala Jaehan ingin menyentuhnya. Sedang gadis itu langsung membuang muka dan menatap sembarang arah.
"Rasanya aku ingin mematahkannya sekalian," keluh Jaehan dengan nada pelan sambil menarik pergelangan Krystal dengan kasar.
"Itu sakit, s**l*an!" pekik Krystal.
"Diam, bodoh!" rutuk Jaehan. Gadis di depannya ini terlihat dingin dan pendiam, namun ternyata di situasi tertentu dia akan banyak bicara yang dipenuhi sumpah serapah.
Detik itu Jaehan berpikir, apakah dia salah menyelidiki Krystal yang terlihat tidak memiliki keistimewaan apa pun seperti dugaannya. Bahkan dia merasa hanya membuang-buang waktu.
"Pelan-pelan," ringis Krystal saat Jaehan ingin menyentuh pergelangannya.
Laki-laki itu mendongak sejenak lalu menghela napas panjang. Tangan kanannya terulur menyentuh pergelangan Krystal, memijitnya pelan sebagai basa-basi, lalu dia berdiri dan menendang sepatu gadis itu hingga empunya mengumpat, lagi.
"Kau—!" geram Krystal. Beberapa detik kemudian dia terkesiap saat tidak merasakan nyeri dan sakit di pergelangannya seperti beberapa detik lalu.
Lantas dia menatap Jaehan yang menepuk-nepuk celananya, kemudian laki-laki itu berdiri seraya memasukkan ke dua tangan ke saku celana, sedangkan matanya tengah menatap lurus ke laki-laki yang tak jauh dari mereka.
Krystal mengikuti arah pandang Jaehan, dia sempat terkesiap, lalu langsung meringis saat melihat keberadaan Giiz yang melepas satu sepatunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi seraya berjalan ke arah Krystal yang mengernyit tak mengenakkan.
"Apakah sesulit itu mengangkat telepon dariku heh?" serbu Giiz sambil menatap Krystal bak seorang ibu yang tengah memarahi anaknya.
"Ah, ponselku mode silent," ringis Krystal saat mengecek ponselnya di saku rok.
"Aku sangat panik. Bagaimana kalau kau mati di dalam sana hah!" seru Giiz hiperbola, sedetik setelahnya dia langsung terkesiap dan mengunci bibirnya rapat-rapat saat matanya bersitatap dengan Jaehan yang melihat mereka dengan alis terangkat.
"Ck!" decak Krystal dengan raut biasa saja. Dia kembali duduk sambil berseluncur di benda pipih di genggaman. Tidak peduli jika laki-laki yang menolongnya kerap mencuri pandang ke arahnya.
"Jaehan?" tegur Giiz sambil tersenyum simpul.
Laki-laki itu mengerjap, lalu menyinggungkan senyum ramah. "Kita bertemu lagi, ya."
Giiz mengangguk antusias. "Ah iya, kenapa kau bisa bersama temanku ini?" tanyanya. Raut wajahnya seketika berubah saat menatap Krystal yang tidak peduli dengan sekitar.
Jaehan menatap Krystal sejenak, lalu tersenyum miring. Sorot matanya menajam kala teringat semua tingkah gadis itu di dalam perpustakaan tadi. Sama sekali tak memiliki keistimewaan seperti dugaannya.
"Bukan apa-apa. Kami hanya kebetulan bertemu di perpustakaan sebelum ruang sebelahnya kebakaran ...."
"Dan kau menolongnya keluar dari sana?" potong Giiz tidak sabaran.
Bibirnya sontak membeo saat Jaehan tersenyum tipis, seolah membenarkan ucapan Giiz.
"Aku tidak sebaik itu." Jaehan meralat pikiran-pikiran Giiz yang jelas tengah menyanjungnya di dalam sana. "Dia memohon meminta tolong padaku ... jadi kurasa tidak ada salahnya saling membantu."
Wajah gadis itu kentara menyiratkan kekaguman yang membuat Jaehan menyesal mengucapkan kalimat-kalimat tipu muslihatnya. Setelah berbasa-basi secukupnya, Jaehan langsung memutar tubuhnya dan melangkah ke arah Kaezn yang telah menunggunya sedari tadi, bahkan laki-laki itu pula yang menuntun Giiz ke mari. Sebuah perubahan kecil dan berarti bagi Jaehan.
"Apa yang terjadi?"
Sudut bibir Jaehan berkedut samar, kemudian berbelok diikuti oleh Kaezn yang melangkah tegap di sampingnya.
"Aku sudah lelah dengan 'pemburuan' di tengah anak kecil," kata Jaehan dengan wajah datar sambil melonggarkan dasinya.
"Kau tidak bisa melepaskan tanggung jawabmu begitu saja."
"Pria tua itu tak akan peduli." Jaehan menatap Kaezn sekilas, lalu kembali menatap lurus. "Bahkan jika dia ingin menarikku dari dunia kehidupan pun tidak masalah."
Kaezn tercenung, lalu menggeleng tak habis pikir. Ucapan itu tak hanya sekali dua kali keluar dari Gumiho bernama Jaehan ini, saking seringnya, bahkan Kaezn tak menghiraukannya lagi.
"Nyawa kami ada di tanganmu."
"Kalau begitu ...." Sudut bibir Jaehan berkedut dengan mata berkilat. "Mari mati bersama," ucapnya sambil menyeringai.
•••••
"Jadi kau sudah melakukan langkah awal ya?" goda Giiz sambil memukul lengan Krystal. Bahkan gadis itu sudah melupakan kekesalannya.
Krystal terdiam beberapa saat, mengingat bagaimana tingkah laku Jaehan terhadapnya. Dia yakin betul jika laki-laki itu memperhatikannya di ruang perpustakaan tadi, begitu pun saat dirinya kesulitan turun dari tangga di tengah hiruk-pikuk.
"Giiz, dia benar-benar laki-laki aneh," kata Krystal dengan wajah tak begitu peduli. Meski jauh di lubuk hati terdalamnya mengatakan bahwa dia penasaran dengan Jaehan.
Namun memikirkan orang lain bukanlah hal yang dia sukai. Dibanding mengurus urusan orang lain, Krystal lebih mementingkan kebutuhannya meski itu terdengar egois.
"Aneh apanya? Harusnya kau bersyukur ditolong oleh Jaehan, padahal kalian sama-sama asing!" rutuk Giiz. "Jika kau terus berpikiran buruk mengenai orang, kurasa orang sekitarmu akan berpikir dua kali untuk mengulurkan tangan untukmu, Krys," tutur Giiz sambil menghela napas lelah.
Krystal terdiam beberapa saat, lalu mengedikkan bahu tak peduli. Dibanding memikirkan sesuatu yang tidak penting, Krystal memilih menatap ponselnya saat pesan-pesan 'itu' kembali memenuhi room chatnya. Pesan yang hampir mewarnai masa remajanya ini. Cukup menyebalkan dan memuakkan.
"Apa aku salah bicara?" tanya Giiz saat menyadari raut aneh Krystal.
Gadis itu menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan. "Jangan terlalu berlebihan dengan Jaehan," peringat Krystal.
Giiz mengernyit. "Kau menyukainya? Tadi dia bilang kau meminta tolong padanya, syukurlah, setidaknya kau memiliki niat untuk hidup lebih lama."
"Giiz, aku serius."
"Loh, kau kira aku tidak serius? Hidupmu itu sangat berarti."
Krystal menggeleng pelan sambil menatap sekeliling, sekilas sudut matanya menangkap pergerakan seseorang di balik tembok, namun hanya sekilas, karena sosok itu langsung menghindar.
"Aku akan tetap hidup, Giiz. Sampai waktunya tiba."
Giiz melengos. "Kau butuh seseorang."
"Jangan aneh-aneh. Aku punya ibu, ayah, dan kau."
"Krys—"
"Giiz, please ...."
Giiz mengangguk maklum meski wajahnya menyiratkan kekecewaan. "Oke. Mari lupakan pembahasan tadi. Jadi bisa jelaskan kenapa kau tiba-tiba memiliki insting meminta tolong pada orang lain?" tanya Giiz lebih ke interogasi. Pasalnya Krystal pantang meminta tolong pada orang lain, terlebih dengan sahabatnya sendiri.
Lalu tadi Jaehan mengatakan bahwa Krystal meminta tolong padanya? Membuat Giiz tak habis pikir.
Krystal berdecak pelan. Tatapannya turun pada pergelangan kakinya yang terinjak tadi, kini tak terasa sakit atau pun nyeri lagi. Agak aneh dan membingungkan, karena rasa nyeri itu langsung raib usai diperiksa oleh Jaehan. Namun, bukankah ini hal aneh? Apakah selain kriminal, laki-laki itu memiliki kemampuan khusus—dapat menyembuhkan rasa sakit misal? Akan tetapi pikiran aneh itu langsung ditepis Krystal dan berlagak tidak peduli.
"Sepertinya semua siswa dipulangkan—"
"Aku duluan, terimakasih sudah mengkhawatirkanku," ujar Krystal sambil menepuk pipi Giiz, kemudian melangkah terburu-buru sambil mengecek ponselnya.
•••••
Gelas berisi minuman dingin di tangannya dia goyang-goyangkan dengan sorot tertuju pada televisi yang menayangkan berita peneroran k**i di sebuah perumahan. Hingga hari ini, dikabarkan puluhan anggota keluarga yang mendapat teror serupa, tak jarang pula mereka dilukai jika berani melawan.
"Pemburuan selanjutnya," gumam Kaezn sambil duduk di samping Jaehan.
Laki-laki dengan rambut acak-acakan itu langsung melengos dan mematikan televisi, raut tertariknya langsung hilang tergantikan ekspresi malas.
"Aku tau kau tertarik."
"Tidak."
"Kurasa ya."
"Hm jangan sok tahu, kau tidak bisa membaca pikiranku," tegur Jaehan sambil menandaskan minumannya. Kemudian berdiri dan menatap Kaezn dengan ekspresi tak tertarik.
"Tapi wajahmu menyiratkan semuanya."
"Ka—"
"Termasuk tentang gadis itu."