Bab 4 - Kebakaran

1674 Kata
Setelah Krystal berurusan dengan murid baru yang menurutnya aneh dan menyebalkan itu, dia lantas menuju ke perpustakaan karena jam menunjukkan waktu istirahat ke dua, lagi pula guru yang mengajar mata pelajaran selanjutnya dinyatakan berhalangan masuk. Terlebih dia malas mendengarkan kebisingan kelas di waktu jam kosong, maka gadis itu berinisiatif ke perpustakaan yang terletak di lantai tiga. Keadaan perpustakaan lumayan ramai, di mana hampir semua kursi terisi oleh siswa-siswi yang tengah membaca buku atau sekadar bersembunyi di balik buku seraya hanyut di dunia mimpi. Krystal tak menggubris hal itu, dia langsung menuju ke rak buku bagian fiksi genre fantasy yang lumayan sepi—mencari novel yang sekiranya dapat menariknya dari dunia nyata yang melelahkan. Kala sudah menemukan novel yang sesuai dengan moodnya, Krystal langsung mencari bangku kosong sembari membawa novel di genggaman. Akan tetapi, saat berbelok dari rak fiksi, dia dikejutkan dengan kehadiran sosok laki-laki yang berdiri tepat depannya dengan ke dua mata menjurus ke wajah Krystal. Krystal menatap laki-laki itu dengan kening mengerut, tanpa berkata-kata, Krystal memilih menggeser tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya. Saat langkah pertama bertepatan dengan lewatnya Krystal di samping laki-laki itu, sebuah suara membuatnya menghentikan langkah. "Aku menemukanmu." Krystal mengerjap. Tidak ada seorang pun di sekitar laki-laki itu selain dirinya, apakah dia berbicara dengannya? Saat Krystal ingin melanjutkan langkahnya, laki-laki itu kembali membuka suara. "Akhirnya aku menemukanmu." Jeda beberapa detik. "Aurora." Krystal mengerjap dengan kening berkerut dalam. Krystal berinisiatif menoleh, saat yang tepat kala laki-laki itu juga memutar tubuhnya hingga pandangan mereka bertemu. Sejujurnya Krystal tidak mengenal laki-laki itu dan ini pertama kalinya mereka bersitatap. Namun mengapa cara laki-laki itu menatapnya tampak berbeda? Terlihat sarat akan rasa rindu, pahit, tapi ada sesuatu yang menghalang, layaknya amarah terpendam. Krystal tak berniat bertanya atau pun menggubris ucapan laki-laki itu. Hanya ada satu hal yang terlintas di kepala Krystal, yakni laki-laki itu bagian dari siswa aneh di MSS. Hanya itu, membuatnya kembali melangkah dan berbelok ke bagian kanan bangku yang menempel di dinding. "Populasi orang-orang aneh semakin meningkat," gumamnya dengan raut tidak peduli sambil mendaratkan bokongnya di kursi, bersamaan dengan terbukanya lembar pertama novel yang dia pinjam. Baru dua baris kalimat yang terbaca, Krystal langsung menutup bukunya dengan bibir berdecak seraya memejamkan mata. Tangan kanannya terangkat memijit pelipis kala kejadian di belakang sekolah teringat. Wajah Jaehan terbayang di kepalanya, mengenai laki-laki itu yang berkata aneh dan bertindak sesukanya. "Melupakan semuanya heh?" Krystal mencebikkan bibir. "Dasar kri*minal," lanjutnya meski tidak yakin atas praduganya. Namun melihat bagaimana laki-laki itu berbicara dan bertindak, Krystal yakin bahwa Jaehan otak dari pencopet di lorong kumuh. Sedangkan tindakan dan ucapannya yang tidak masuk akal itu bagian dari strateginya memanipulasi korban yang mengenalnya. "Buku yang menarik." Krystal terlonjak sambil melotot, saat melihat empunya suara, garis wajahnya langsung mengendur dan menatap si pelaku dengan sorot dingin. "Kau mengikutiku?" cecar Krystal tak habis pikir. Pasalnya sedikit pun dia tidak mengenal laki-laki bernama Jaehan ini, pasal  di lorong itu pun Krystal tidak peduli meski dia berpikir Jaehan ikut andal. Demi apa pun, Krystal enggan mendapatkan masalah di akhir tahun sekolahnya, apa lagi berurusan dengan siswa aneh ini. "Sepengetahuanku perpustakaan ini tidak dibatasi," balas Jaehan dengan posisi bersandar, satu kakinya dia lipat ke atas kaki kirinya, sedangkan tangannya membuka lembar demi lembar novel itu sebelum direbut paksa oleh Krystal. Bola matanya bergerak ke atas mengikuti Krystal yang sontak berdiri dan menyorotnya aneh. "Kancing bajumu terlepas ..." Tangannya terulur, "Mmm, di urutan ke dua," ucapnya dengan raut polos sambil menunjuk kemeja Krystal. Sedangkan gadis itu spontan melayangkan novel di tangannya ke kepala Jaehan. "Akhh, kau—!!!!" "Sangat pantas untukmu!" "Baiklah ...  tetap di sana atau aku akan berteriak," ucapnya memberi peringatan saat membaca gelagat Krystal. "Kau kira aku peduli?" Sudut bibir Jaehan berkedut samar sambil menunjuk poster yang melambangkan jangan berisik. "Lakukan sesukamu," balas Krystal tidak peduli dan siap untuk pergi dari sana. "Kau ...  kancing bajumu terlepas," kata Jaehan dengan suara lantang. Persis seperti perkiraannya, semua pasang mata menjurus pada mereka. Membuat Krystal mengepalkan tangan dan memutar tubuh, siap menghantamkan novel di tangannya untuk ke dua kalinya. Tangan kanan Jaehan sigap menahan novel itu, sedang jari telunjuk kirinya menempel di bibirnya seraya berbisik, "Jangan berisik atau kita akan diusir." Tak lepas senyum simpul penuh ejekan terukir di bibirnya. "Aku tidak peduli! Haisshhh, sebenarnya kau ini kenapa?" geram Krystal dengan volume rendah sambil menyentak tangan Jaehan di novelnya. Jaehan mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah ..." Sudut matanya melirik Krystal yang tengah menatapnya aneh. "Ingin melihat pertunjukan yang sebentar lagi terjadi." Tanpa menjawab, Krystal memutar tubuhnya, ingin mengembalikan novel yang dia pinjam, mendadak moodnya tidak baik karena laki-laki itu. Namun yang lebih menyesalkannya lagi, Jaehan membuntuti Krystal, tidak terlalu kentara, sebab laki-laki itu berdiri dua langkah darinya sambil merusak susunan buku, sedang matanya sesekali mencuri pandang ke arah Krystal yang terang-terangan menyorotnya kesal. "Aku merasa tidak memiliki kesalahan padamu sehingga kau harus mengikutiku seperti ini." Jaehan menggaruk pipinya sambil menatap Krystal dari bawah ke atas, lalu berdeham. "Tadi kau bertemu dengan laki-laki aneh tidak?" tanyanya tanpa menggubris ucapan Krystal. Sudut mata Krystal berkedut sambil menipiskan bibir. "Bahkan sekarang aku sedang berbicara dengan laki-laki aneh." Lorong rak fiksi yang sepi membuat suara pelan mereka tetap memantul dan terdengar, membuat beberapa pasang mata yang berada di lorong sebelahnya tampak mencuri-curi pandang ke arah mereka, terlebih pada Jaehan yang namanya hampir dikenal oleh seluruh penghuni MSS karena pesonanya. Namun hal itu tidak membuat Jaehan terusik meski menyadari isi kepala mereka. "Kau ini sedang memikirkan apa?" tanya Jaehan seraya ingin menyentuh kening Krystal, namun urung saat gadis itu menahan telunjuknya menggunakan buku. "Jangan asal menyentuhku!" peringat Krystal. "Apakah menjadi siswa baru yang langsung populer membuatmu tertekan hingga harus mencari masalah padaku?" Jaehan menatap wajah Krystal beberapa saat, lalu mengumpat pelan saat menyadari tingkah lakunya yang tidak sesuai atas alasannya berada di sekolah ini. Hal itu pun membuatnya membasahi bibir bawah, lalu kembali mencoba untuk menghilangkan jejak pertemuan mereka, meski ujung-ujungnya berakhir helaan napas panjang. Sia-sia. "Sebenarnya kau ini apa?" bisik Jaehan. "Huh, dasar orang gila!" ketus Krystal sambil mendorong buku di tangannya di d**a Jaehan, lalu meminta laki-laki itu minggir. "Tadi kau bertemu dengannya, ya ...." "Huh?" "Pasti ada kaitannya," monolog Jaehan. Tanpa menjawab, Krystal langsung melenggang meninggalkannya dengan ekspresi tak minat. "Anak jaman sekarang selalu begitu, tidak sopan," kata Jaehan sambil menarik kerah kemejanya dengan gerakan elegan sembari meregangkan otot leher kirinya. Kemudian dia mengedarkan pandangan, lalu tersenyum miring saat menyadari sesuatu. Beberapa detik setelahnya, semua penghuni perpustakaan—selain Jaehan—dikejutkan oleh bunyi alarm kebakaran. Membuat siswa-siswi berteriak panik dan berlarian keluar dari perpustakaan. Di samping rak Fiksi, Jaehan menikmati kehebohan itu seraya bersandar dengan ke dua tangan terlipat di depan d**a. Ke dua bola mata hazelnya berkilat melihat huru-hara tersebut, sedang dirinya tak bergerak untuk keluar dari sana atau sekadar membantu meski telinganya berdenging mendengar segala teriakan permohonan tolong, baik di dalam maupun di luar sana. Meski nyatanya ini termasuk kesempatan untuk melakukan penebusan 'hukuman', tapi laki-laki itu tetap pada tempatnya, tak bergerak sedikit pun meski asap dari ruangan di sampingnya telah masuk ke perpustakaan. "Haruskah?" Monolognya dengan satu alis terangkat saat melihat punggung gadis yang dikenalinya. Gadis itu tengah membantu seorang siswi yang terjatuh sambil mengibaskan tangannya di udara karena serbuan asap. "Sudah kuduga, selalu begitu, ... manusia," bisik Jaehan saat siswi yang ditolong oleh Krystal telah berlari keluar tanpa memedulikan Krystal yang telah menolongnya. Di samping itu, Jaehan kerap kali memperhatikan pintu masuk perpustakaan, menunggu seseorang yang membuatnya harus berada di sekolah ini. Bola matanya kembali bergulir ke arah Krystal yang tampak kesusahan berdiri saat tubuhnya terdorong dan terjatuh, sedang di sekitarnya ramai huru-hara siswa-siswi yang berebut keluar, salah satu dari mereka menginjak pergelangan kaki Krystal, membuat gadis itu meringis sambil memegangi pergelangannya—Jaehan menghela napas bosan melihatnya. "Sangat membosankan," gumamnya sambil menguap. Tak sengaja bola matanya bertemu dengan Krystal yang tengah berusaha berdiri. Raut gadis itu menyiratkan rasa sakit bercampur kesal. "Ck, mau apa anak kecil itu?" ujar Jaehan saat Krystal berusaha berjalan ke arahnya dengan wajah garang, sedangkan siswa-siswi lainnya telah berhasil keluar, hanya tinggal mereka berdua saja. "Kau—" "Kenapa kau masih di sini? Cepat keluar!" "Hah?" beo Jaehan. Krystal berdecak sambil berjalan pincang dan menarik kerah kemeja Jaehan dan menyeretnya, sedangkan laki-laki itu menatapnya heran, namun tetap mengikuti gadis itu. "Walaupun kau tidak menyayangi nyawamu, setidaknya pikirkan orang-orang di sekitarmu yang akan repot jika menemukan mayatmu di sini!" Kecam Krystal dan terus menyeret Jaehan yang langsung terkesiap. Sedetik setelahnya dia menyentak tangan Krystal dan mendorong bahu gadis itu hingga melewati pintu. Krystal yang mendapat perlakuan seperti itu langsung memutar tubuhnya dan menyorot Jaehan dengan pandangan tak percaya seraya mengelap bulir keringat di dahinya. "Padahal aku berniat baik." Krystal menggeleng tak percaya, masih tidak menyangka atas perlakuan Jaehan yang berdiri tiga langkah di bagian perpustakaan, sedangkan asap yang berasal dari ruang sebelahnya semakin mengepul, tampak kobaran api melambai-lambai. "Baiklah. Setidaknya aku sudah mencoba melakukan hal baik," lanjut Krystal sambil menatap Jaehan beberapa detik, kemudian melangkah meninggalkan laki-laki itu di tengah kepulan asap—tak bergerak sedikit pun. Bergeming dengan pandangan mengarah pada langkah Krystal yang terseok. •••••••••• "Kenapa juga aku harus peduli dengannya?" kesal Krystal sambil terbatuk-batuk, di sisi lain dia kesal saat mengingat perlakuannya yang menyeret Jaehan. "Tapi kenapa dia tidak terlihat panik? Bahkan dia masih sempat menguap saat semua orang berlarian menyelamatkan diri," ucap Krystal menyuarakan keheranannya. Setelahnya dia menggeleng tak peduli sambil menyeret kakinya menuruni tangga seraya menahan sakit. Sekali lagi Krystal menoleh ke arah pintu perpustakaan, kemudian mengedarkan pandangannya mencari sosok Jaehan. "Apakah murid baru itu sudah gila?" umpat Krystal saat tak melihat Jaehan keluar dari sana. "Pak, tolong ada seseorang di dalam sana," kata Krystal ke petugas kebakaran yang baru saja melewatinya. "Oke, setidaknya aku sudah melakukan hal baik ke dua kalinya. Sekarang bukan urusanku lagi," gumamnya penuh tekad. Akan tetapi, baru tiga anak tangga yang baru berhasil dia lewati, tiba-tiba angin berembus kencang, tidak lama kemudian sebuah tangan melingkar di pinggang Krystal membuat gadis itu tersentak dan membelalakkan mata, belum sempat dia membaca situasi, tubuhnya telah berpindah di bahu seseorang, bak karung beras. "Lambat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN