"Krystal ...," gumam laki-laki yang tengah bersandar di pilar sayap belakang sekolah. Satu kakinya dia tekuk ke pilar seraya memasukkan ke dua tangannya ke saku celana. Bibirnya menyunggingkan senyum miring saat meyakini sesuatu.
"Dia si manusia yang melihat aksiku."
Bola mata laki-laki itu bergulir ke samping saat mendengar deru napas seseorang di balik tembok yang terhubung langsung dengan tangga.
Sebelah matanya berkedip ke arah tembok itu bersamaan dengan terdengarnya pekikan laki-laki yang menyebut ular, suara langkah terburu-buru menyusulnya hingga tak terdengar lagi.
Dia Jaehan, si Gumiho yang tengah menyamar dan enggan diganggu oleh manusia kala sedang fokus memikirkan sesuatu.
"Masalah kecil yang menyebalkan," gumamnya lalu melangkah seraya memasukkan ke dua tangan ke saku celana.
Saat dirinya menyusuri koridor sekolah, tak sedikit mata-mata jeli memperhatikannya seraya membisikkan kalimat-kalimat pujian yang terdengar menggelikan di telinganya. Tak sedikit pula yang terang-terangan mendekati laki-laki itu atau sekedar mengajaknya berkenalan, jenis-jenis tipu muslihat yang dia hapal di luar kepala.
"Modal dusta," cibirnya, kendati demikian dia tetap menyunggingkan senyum, membuat mereka terpekik seolah baru saja diberi hati.
Saat berbelok ke ruangan yang menjadi tujuannya, laki-laki itu langsung mendengkus dan menormalkan ekspresinya—datar.
"Harusnya dia ada di sini," batin Jaehan sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang terdapat puluhan orang—yang rata-rata menoleh ke arahnya.
"Kena kau," bisik Jaehan saat menemukan punggung seorang gadis yang letak mejanya menempel langsung di jendela kantin. Dia satu-satunya orang di kantin itu yang tidak memedulikan kehadiran Jaehan, sedang laki-laki itu menahan diri agar tidak mencolok semua mata yang tengah menyorotnya.
"Ssstt, dia ada di sini." Giiz memukul punggung tangan Krystal agar gadis itu menanggapinya. "Ternyata dia jauh lebih tampan saat dilihat dari dekat," ucapnya hiperbola, membayangkan saat Jaehan menangkap tubuh Krystal saat insiden di tangga.
"Cepat habisi makananmu, Giiz. Dan hentikan omong kosongmu itu," tegur Krystal sambil mengaduk-aduk minumannya. Sedikit pun tidak menggerakkan kepalanya untuk melihat objek pandangan Giiz.
"Dari caranya menatap dan tersenyum, dia tampak berbahaya dan sedikit menyeramkan secara bersamaan. Tapi ketampanannya lebih mendominasi, yakin kau tidak tertarik dengan dia?"
"Hari ini sudah tidak terhitung berapa kali kau membicarakannya, Giiz." Krystal berdecak kesal. "Mau dia berbahaya, gila, atau sosiopat pun aku tidak peduli!" geram Krystal sambil menggebrak meja. Sudah cukup moodnya berantakan pasal nilai ulangan, kemudian diperkeruh oleh Giiz dengan segala omong kosongnya.
Giiz terlonjak dengan mata melotot.
"Kenapa matamu seperti itu?" kesal Krystal, pasalnya setiap dia mengomel, Giiz tak pernah menghiraukannya.
"Dia—"
"Tenanglah."
Krystal membeku saat sebuah tangan menepuk-nepuk bahunya, lalu disusul bangku kosong di sampingnya tertarik ke belakang, kemudian ditempati oleh laki-laki yang menjadi topik hangat di MSS siang ini.
"Kau—"
Jaehan menatap Giiz yang melongo. "Kulihat hanya bangku ini yang kosong. Jadi kurasa tak ada salahnya aku menempatinya, eumm ... apa aku salah?" tanya Jaehan dengan raut polos dibuat-buat.
"Oh tidak-tidak. Hehehe, siapa pun boleh duduk di situ." Giiz berujar buru-buru seraya menyinggungkan senyum lebar.
Krystal menipiskan bibir sambil mendorong tangan Jaehan di bahunya menggunakan sendok bakso. Sedikit pun tidak menoleh ke samping saat semua pasang mata mengarah padanya, bahkan Krystal dapat merasakan kesunyian beberapa saat.
Sebenarnya siapa dan apa yang dilakukan laki-laki ini? Pikir Krystal.
Jaehan menatap tangannya, lalu memegang sandaran kursi Krystal.
"Selamat bergabung di MSS." Giiz menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga, lalu melanjutkan, "Kalau boleh tau kau pindahan dari sekolah mana?"
Jaehan menatap Giiz lurus, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Alam gaib."
"Hah?" Giiz tercengang, persis seperti orang bodoh.
Sedang Krystal langsung menatap Jaehan dengan pandangan aneh, lalu menghela napas.
"Aku bercanda."
"Ahhahahaha ... sudah kuduga. Ternyata kau punya selera humor yang bagus."
Di sisi lain, Jaehan menahan senyum mendengar isi kepala orang-orang di kantin itu mengenai dirinya yang duduk di meja dua gadis ini.
"Aku ke kelas duluan," ujar Krystal yang dibalas Giiz dengan anggukan.
Pada dasarnya Krystal bukan siswi menonjol yang setiap langkahnya diikuti oleh sorot mata orang-orang. Tidak. Itulah alasan Krystal merasa aneh saat Jaehan tiba-tiba menyambangi meja mereka, karena saat mengedarkan pandangan, ternyata masih banyak bangku kosong tersedia. Satu lagi, karena isi sekolah digemparkan olehnya, Krystal enggan berurusan dengan siswa baru itu.
"Krystal!"
Gadis itu mengangkat kepalanya dan langsung mengernyit saat ketua kelasnya memanggil.
"Ya?"
"Jangan ke belakang sekolah." Laki-laki itu bernama Deniz.
Krystal menatap koridor yang mengarah ke belakang sekolah. "Kenapa?" tanyanya tanpa minat.
"Di sana ada ular," ujarnya dengan wajah memucat. "Tadi aku melihatnya, tepat di depan kakiku ...."
Tanpa mendengar lebih lanjut, Krystal melangkah ke belakang sekolah, tempat dia selalu berdiam diri kala lelah dengan hiruk-pikuk sekolah.
Saat dia berbelok menuju bangku yang bersandar di pohon beringin, Krystal terlonjak saat deru napas menggelitik area leher dan telinganya.
"Temanmu sudah mengingatkan. Jangan ke sini."
Krystal langsung menarik diri dan memutar tubuh, mendapati sosok jangkung yang berdiri sambil memasukkan ke dua tangannya ke saku celana. Bibirnya menyunggingkan senyum miring, lalu tanpa berkata-kata dia melewati Krystal dan berdiri di depan tangga yang terhubung ke balkon—tempat yang tak digunakan lagi.
"Kau mengikutiku?" tanya Krystal sangsi.
Jaehan duduk di undakan tangga sambil menekuk satu lututnya dan menaruh sebelah tangannya di atas lutut. "Kukira siapa pun boleh ke sini," sarkasnya.
"Huhh!" rutuk Krystal dan bersiap meninggalkan tempat itu. Namun kalimat yang diucapkan Jaehan membuatnya urung.
"Sekarang kau boleh berhenti berpura-pura tidak mengenalku."
Krystal menatap Jaehan dengan kening mengerut. "Soal insiden di tangga?" Krystal memejamkan mata sejenak. "Oke, terimakasih telah menolongku ...."
Jaehan membalas tatapan Krystal dengan mata berkilat.
".... Kalau itu yang ingin kau dengar."
Jaehan beranjak dan melangkah mendekati Krystal yang berdiri tegap, sedikit pun tak terintimidasi.
"Hujan lebat, lorong gelap dan bau, pencopet, dan ...." Jaehan menggantung ucapannya sambil melangkah, membuat Krystal mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Jaehan tersenyum kecil sambil mengurung Krystal dengan ke dua tangannya.
"Petir," lanjutnya seraya mensejajarkan kepalanya dengan wajah Krystal.
Krystal bergeming dengan wajah menyiratkan keterkejutan. Krystal mengalihkan pandangannya dari tatapan Jaehan kala ingatan malam itu terlintas di kepalanya. Jadi laki-laki tegap di lorong itu Jaehan?
"Lepas!" sentak Krystal sambil menendang tulang kering Jaehan yang langsung melotot sambil meringis memegangi kakinya.
"Kau ...!"
Krystal menyibakkan rambutnya, lalu berkacak pinggang. "Jadi ini alasan kenapa kau mengikutiku?" Gadis itu tertawa kecil, lalu berdecak. "Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apa pun ... kalau siswa pindahan yang menghebohkan MSS adalah seorang kriminal yang mengerahkan pencopet di kota ini."
"APA?" geram Jaehan tak menyangka.
"Kau kriminal," kata Krystal penuh penekanan. Logikanya mengatakan jika Jaehan otak dari pencopet-pencopet, salah satunya yang merebut dompetnya malam itu.
Terlihat jelas dari keberadaannya di lorong, pasti orang yang berlutut di depannya itu anak buahnya juga.
"Si*alan!" umpat Jaehan sambil menatap punggung Krystal yang mulai melangkah.
Dengan gerakan cepat, dia menarik pergelangan Krystal dan menyudutkannya hingga gadis itu meringis dan berusaha melepaskan genggaman Jaehan.
"Lupakan semua kejadian di lorong itu dan semua pertemuan kita," kata Jaehan penuh kesungguhan sambil menatap Krystal tepat di bola matanya.
Hening beberapa saat, sebelum u*****n Krystal menyadarkan Jaehan.
"Selain kriminal, ternyata kau juga gila, ya!" umpat Krystal.
Genggaman Jaehan mengendur bersamaan dengan tubuhnya yang bergerak mundur. "Kau masih mengingat semuanya?"
"Aku harap ini terakhir kalinya kau berbicara denganku!" ketus Krystal, lalu melanjutkan. "Dan aku akan berpura-pura tidak mengetahui apa pun," lanjutnya dan meninggalkan Jaehan yang bergeming.
"Mustahil," bisik Jaehan dengan pandangan tak percaya.
•
•
•
Semilir angin berembus pelan menerpa rambut laki-laki yang tengah melangkah santai sembari memasukkan ke dua tangannya ke saku celana, sedang bibirnya bersiul pelan dan tidak menggubris suara-suara jauh yang masuk menerobos indra pendengarannya. Terlalu banyak yang meminta dan memohon pertolongan, akan tetapi hati dan langkahnya tetap pada pendirian, dia tetaplah Gumiho keras kepala meski hukuman mengurungnya dalam kurun waktu tak terhingga.
"Melelahkan," gumamnya sambil mengembuskan napas berat meski dia belum melakukan tugasnya.
"Aneh, sulit dipercaya, dan langka." Kakinya berhenti melangkah saat tujuannya tinggal beberapa langkah lagi, yakni gudang yang tak jauh dari gedung utama MSS. "Ini pertama kalinya aku menemukan manusia sejenisnya."
"Dia bukan tujuanmu kemari."
Suara serak dan berat itu membuat bola mata Jaehan bergulir ke arahnya, sebelum kembali menatap ke depan. Sedangkan pemilik suara itu berdiri tak jauh dari samping Jaehan, entah sejak kapan dia ada di sana.
"Kau mengikutiku?" tanya Jaehan dengan nada pelan dan sarat akan penegasan.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendiri."
"Selalu begitu." Decakan pelan meluncur di bibir Jaehan sambil menatap laki-laki di sampingnya dengan pandangan tak bersahabat. "Haruskah kau berpenampilan seperti ini?" ketusnya.
"Aku menyukainya," jawabnya pendek dan tidak menggubris pandangan aneh yang dilayangkan Jaehan.
Dia Kaezn, sahabat sekaligus asisten Jaehan—yang telah berada di sisi Jaehan dalam kurun waktu lama. Tidak peduli seberapa keras Jaehan menyuruhnya untuk pergi dan mencari kehidupan sendiri, laki-laki irit bicara itu tetap pada pendiriannya, yakni membantu Jaehan dalam masa hukuman.
"Kau tampak seperti laki-laki yang hidup pada abad ke-19," jelas Jaehan hiperbola.
"Aku menyukainya," ulang Kaezn. Tidak peduli seberapa risihnya Jaehan dengan penampilannya yang culun dan terlihat ketinggalan jaman.
"Kau akan mendapatkan masalah," ujar Jaehan lagi, mampu menebak dan membaca situasi yang akan terjadi pada sahabatnya ini.
"Masalah tak bisa dihindari," balasnya sambil menatap Jaehan dengan raut nol ekspresi.
Belum lama dia berkata seperti itu, sebuah bola melayang mengenai kepala Kaezn, sesuai dengan perkiraan Jaehan yang kini tersenyum simpul sambil melirik Kaezn yang juga menatapnya.
"Tepat seperti dugaanku," bisik Jaehan.
"Ini tujuanku."
"Hei, bocah culun. Cepat ambilkan bola kami!" teriak siswa yang melempar bola itu sambil tertawa bersama teman-temannya.
"Dasar bocah," ujar Jaehan tanpa menggerakkan bibirnya.
"Ternyata penindasan masih berlaku," kata Kaezn seperti berkata pada dirinya sendiri.
"Memangnya apa yang kau harapkan? Isi dunia dipenuhi oleh makhluk berhati baik? Sayangnya kita hidup di dunia yang sebenar-benarnya dunia," bisik Jaehan sambil memungut bola itu dan memiringkan kepalanya demi melihat siswa-siswa itu.
"Kalian mau bola ini?"
Siswa-siswa itu saling pandang, lalu menunjuk Jaehan dengan raut tak mengenakkan, tipikal siswa yang gemar mencari masalah dan perhatian.
Namun, sayangnya bola itu melayang bak angin di depan wajah mereka yang hanya berjarak satu inci dari kulit wajahnya.
"A-apa y-ang ka-kau la-lakukan hah?"
Jaehan dan Kaezn saling pandang, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Bermain-main."