Seorang laki-laki duduk di depan cermin dengan ekspresi datar, posisi tubuhnya melemas, sama sekali tak bersemangat. Dia hanya menyorot pantulannya dengan raut kosong. Di belakangnya berdiri laki-laki pemilik rambut gondrong yang tengah mengutak-atik rambut laki-laki itu dengan ekspresi sumringah, seolah yang dilakukannya adalah pekerjaan menyenangkan sedunia. Helai demi helai terpangkas dan jatuh tergeletak, membuat empunya meringis kala melihat hasil kerja laki-laki gondrong itu.
"Edgar!" geram laki-laki itu kala tangan pemilik rambut gondrong mengelus sisi kanan-kiri kepalanya.
"Ini bukan apa-apa, Jae." Laki-laki bernama Edgar itu tersenyum puas. "Sekarang kau sudah terlihat seperti anak sekolahan," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Jaehan.
Jaehan mengedikkan bahunya dan melepas kain Kep itu dan melangkah ke kamar mandi. Kaezn dan Edgar saling pandang, lalu mengangkat jempol, menandakan siap beraksi.
"Kalian kenapa masih di sini?" tegur Jaehan usai membersihkan diri.
"Tentu saja menyiapkan perlengkapan sekolah anak sekolah kita," candanya sambil tertawa.
Jaehan menggeram kesal dan merebut seragam sekolah di tangan Edgar dan mengenakannya dengan gerakan kasar.
"Puas?" sentaknya.
Edgar menggeleng sambil mengulum senyum. "Kau perlu mengenakan dasi," ucapnya mengingatkan dan dibalas decakan oleh Jaehan.
Selagi Jaehan bersiap-siap, Edgar dan Kaezn berinisiatif menunggu di luar kamar laki-laki itu.
"Menyedihkan. Hidup hampir seribu tahun, tapi ujung-ujungnya menyamar jadi anak sekolah. Cih!" rutuknya sambil menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan serta di titik nadi lehernya, tidak lupa di bagian tubuh lainnya.
Beberapa hari yang lalu Jaehan sempat meminta agar ditempatkan menjadi guru atau petugas lain di MSS selain menjadi siswa pindahan. Namun idenya ditolak oleh Kaezn dengan alasan akan sulit bergaul dan sulitnya mengorek informasi jika Jaehan menyamar sebagai guru atau satpam sekolah. Jaehan tau jika itu hanya akal-akalan sahabat sekaligus asistennya demi mengerjainya.
"Kupastikan hanya sekali ini saja kalian mengerjaiku!" sinis Jaehan sambil memasang jam tangan merk
Seiko Emperor yang disiapkan Edgar, alasannya pun karena tidak mencolok digunakan oleh anak sekolah. Sangat berbeda jauh dengan model dan selera jam tangan Jaehan yang biasanya.
Usai mematut penampilannya, Jaehan meraih ranselnya dan mengalungkannya di bahu kanannya.
"Berapa lama aku harus menyamar menjadi anak sekolah?" tanya Jaehan saat melewati Kaezn dan Edgar di pintu menuju garasi.
"Woah, aku tidak menyangka, baru kali ini kau menanyakan batas waktu saat menjalani hukuman," kata Edgar seraya memperbaiki jas bagian belakang Jaehan.
"Aku malas berlama-lama di antara bocah-bocah." Jaehan menjawab malas.
"Tapi kau terlihat seperti anak sekolah sungguhan." Kaezn menimpali dan langsung disambut kekehan oleh Edgar.
"Aku setuju denganmu," ujar Edgar sambil mengedipkan mata jahil.
"Aku berangkat," putus Jaehan sambil membuka pintu Maserati MC20 kesayangannya.
"Aku tidak bermaksud merusak suasana hatimu." Edgar menahan lengan Jaehan. "Aku hanya mengingatkan, akan sangat mencolok jika anak sekolah menggunakan mobil mewah."
"Aku tidak peduli," balas Jaehan dan melajukan mobilnya, meninggalkan Edgar dan Kaezn yang saling pandang, lalu mengembuskan napas panjang.
•
•
•
Sepanjang memasuki kawasan MSS, hampir semua mata mengarah pada kendaraan putih yang melaju menuju parkiran khusus kendaraan roda empat. Raut bertanya-tanya, terpukau, dan sejenisnya, terpampang jelas di wajah siswa-siswi Moon Star School. Sedangkan si pengendara menekuk wajahnya saat mendapati dirinya menjadi pusat perhatian. Dengan gerakan malas, laki-laki itu melepas seat belt-nya dan mendorong pintu mobil.
Bertepatan saat menjejakkan sepatunya yang memiliki logo merk terkenal itu, Jaehan merasakan dorongan ingin pergi dari sini saat itu juga. Dia merasa kesal dan risih kala menangkap bisik-bisik penghuni sekolah yang mempertanyakan dirinya. Usai mengalungkan ranselnya di bahu kanan, Jaehan mengedarkan pandangannya ke penjuru sekolah seraya melepas kacamata hitamnya. Setelahnya dia menutup pintu mobil dan mulai melangkah sambil memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Satu."
Satu langkah.
"Dua."
Dua langkah.
"Tiga," bisik Jaehan, bertepatan dengan turunnya hujan, sesuai dengan perkiraannya. Laki-laki itu tersenyum miring dan melanjutkan langkahnya diikuti hujan di belakangnya yang tak akan melewati tubuhnya sebelum tiba di gedung MSS.
Jaehan lagi-lagi tersenyum miring saat penghuni MSS riuh mencari tempat berteduh atau lari sekuat tenaga untuk sampai di gedung MSS.
Di lain tempat, seorang gadis merutuk penuh kekesalan sambil berlari, tangannya dia taruh di atas kepala, berharap rambutnya tidak basah meski sia-sia.
"Aku benci hujan!" teriaknya sambil berlari.
"Sedikit lagi Krystal, sedikit lagiiii!" teriaknya di tengah guyuran hujan. Gadis itu mengembuskan napas lega saat bagian pintu masuk MSS sudah di depan mata. Saat kaki kanannya menginjak ubin depan MSS, bola mata gadis itu membola saat kaki kirinya menginjak sesuatu yang licin.
"Oh tidak-tidak," pekiknya. Reflek tangannya menggapai laki-laki yang berdiri di depannya. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh seragam, laki-laki itu langsung melangkah ke kanan dan berakhir terjerambabnya Krystal dengan posisi tak mengenakkan.
Sejenak laki-laki itu menghentikan langkahnya, lalu tersenyum miring, setelahnya dia kembali melangkah tanpa menoleh sedikit pun.
"Sakit?" tanya seorang gadis sambil mengulurkan tangannya, membantu Krystal bangun usai bokongnya mencium lantai. Sebelumnya gadis itu tertawa terpingkal-pingkal melihat kemalangan sahabatnya.
"Menurutmu?" ketus Krystal sambil menyambut uluran Giiz.
"Ngomong-ngomong, sepertinya aku tak pernah melihat laki-laki tadi," ujar Giiz sambil menatap punggung laki-laki itu, Krystal mengikuti arah pandang sahabatnya, lalu mengibaskan tangan.
"Aku tidak peduli. Ayo ke kelas, semoga jaketku masih ada di loker," kata Krystal sambil menepuk-nepuk seragamnya yang basah.
Giiz mencebik. "Kau selalu saja begitu, tak pernah peduli dengan laki-laki tampan di sekitarmu," ejek Giiz sambil menatap punggung laki-laki asing itu.
•
•
•
"Aku punya berita yang sangattttt mengejutkan!" pekik Giiz sambil menyusul Krystal di pertengahan tangga menuju lantai atas sekolahnya.
Krystal menoleh, menatap sahabatnya dengan raut bosan. "Gosip lagi?"
Giiz menggeleng, lalu mengangguk sambil menormalkan deru napasnya karena berlari menaiki banyak anak tangga.
"Tentang laki-laki asing tadi itu, Krys. Dia—"
"Dia murid baru," potong Krystal dengan nada bosan. Pasalnya pagi ini di sepanjang koridor sekolah, siswa-siswi sedang membicarakan laki-laki itu. Krystal tak habis pikir, apa istimewanya dia?
Giiz melotot. "Tumben kau tau berita terbaru di sekolah kita."
"Semua orang membicarakannya." Krystal mengedikkan bahu tak peduli. "Kabar baiknya aku punya telinga yang bisa mendengar membuatku ingin menyumpal mulut mereka."
"Kau iri?"
"Bosan. Apa istimewanya murid baru?" decak Krystal, risih dengan hiperbolis sahabatnya ini.
"Yang satu ini berbeda, Krys. Dia siswa pindahan yang tampan dan kaya raya."
Krystal mengedarkan pandangannya, menelisik semua siswa laki-laki, lalu menatap Giiz. "Semuanya terlihat tampan di mataku."
"Aku curiga, apa kau terlambat puber?" ketus Giiz.
"Dibanding memikirkan hal omong kosong itu, aku lebih khawatir dengan ulangan pagi ini," kata Krystal mulai menaiki anak tangga selanjutnya.
"Kau ada benarnya, mari kita ke kelas ... oh tidak-tidak. Sepertinya aku tak bisa melewatkan ini ... oh tidakkkk!! Dia berjalan ke arah sini," pekik Giiz sambil bergerak acak di tempatnya berdiri. Pandangannya mengarah pada segerombolan siswa laki-laki yang di tengah-tengahnya terdapat siswa baru itu.
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri!" ketus Krystal sambil menarik sahabatnya.
"Kau harus melihatnya Krys!" kata Giiz sambil menoleh ke belakang.
"Yah sudah, terserah kau saja. Aku duluan."
"Krystal, dia menaiki tangga yang sama dengan kita," bisik Giiz sambil menarik ujung seragam Krystal.
Gadis yang memiliki rambut sebatas leher itu berdecak kesal, lalu menghempas tangan Giiz di bajunya. Namun karena kurang berhati-hati, sepatunya menginjak pinggiran anak tangga hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Bola matanya melotot, lalu memejamkan mata erat, siap merasakan benturan keras di tubuhnya.
Namun hingga beberapa detik, dia tak merasakan tubuhnya membentur benda keras, apa lagi berguling di tangga. Seperkian detik itu, Krystal merasakan sunyi di sekitarnya, sebelum teriakan Giiz yang memecah hening.
"KRYSTAL, KAU TIDAK APA-APA?"
Krystal memberanikan diri membuka mata dan langsung membola saat wajah seorang laki-laki langsung menyambutnya. Krystal melotot, lalu pandangannya turun ke d**a laki-laki itu yang menempel di lengannya. Beberapa detik berlalu, Krystal baru menyadari jika dirinya dalam pelukan orang lain.
"Maaf, maaf," ringis Krystal sambil menarik tubuhnya lalu berjalan cepat meninggalkan laki-laki yang menyelamatkan tubuhnya dari benturan kerasnya lantai untuk ke dua kalinya.
Saat melewati siswa-siswi yang melihat kejadian itu, Krystal merasa tengah menjadi sorotan yang berlebihan. Terlebih suasana tadi begitu mencekam, seolah semuanya menahan napas. Memangnya siapa laki-laki itu?
"Aku tidak percaya ini," kata Giiz mengejar Krystal. "Kau sengaja akting jatuh, ya, Krys?"
Krystal memejamkan mata sambil mengatur napasnya. "Apakah aku sekolot itu?"
"Tidak, tapi bisa saja kau melakukannya demi mencari perhatian anak baru itu." Giiz menghalangi langkah Krystal. "Pertama, saat hujan itu, kedua saat di tangga dengan laki-laki yang sama. Kebetulan yang mencurigakan bukan?"
Krystal tersenyum miris. "Anggap saja begitu." Jeda. "Bahkan aku tidak tau dia siapa!" teriaknya, membuat beberapa pasang mata mengarah kepadanya.
"Ahahahaha, santai Krys."
Krystal tak menjawab, memilih membenamkan wajahnya di lipatan tangan. Bukan karena malu atau kesal karena kejadian barusan, melainkan karena dia lelah dan mengantuk lantaran pulang larut malam akibat mengejar pencopet sampai di lorong kumuh.
"By the way, Krys, sepertinya niatmu menjadi murid bayangan sudah gagal."
"Apa lagi?"
"Orang-orang membicarakanmu—"
"Aku tak peduli."
"—karena Lee Jaehan menanyakan namamu pada seorang siswa penggosip."
"Lee Jaehan?"
"Good question, Sobat. Nama murid baru itu. Lee Jaehan."