Bab 24 - Kejadian Belakang Sekolah

1017 Kata
"Sekarang giliranmu lagi yang mengantar buku-buku ini ke ruangan Bu Zei," kata Giiz sambil menaruh setumpuk buku di atas meja Krystal. Krystal menerimanya dengan raut tak ikhlas. Dia paling malas ke ruangan guru yang terletak di lantai satu. Krystal harus menuruni banyak anak tangga dan itu sangat merepotkan. Namun, pada akhirnya Krystal pasti akan melakukannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di ruangan gurunya itu. Sebenarnya Krystal masih merasa canggup sebab pernah memergoki Bu Zei tengah berinteraksi intim bersama Jaehan. Semoga saja Bu Zei berpikir jika Krystal bukan tipikal siswi yang gemar menyebar gosip sehingga dirinya tetap aman di MSS. Krystal mengetuk pintu Bu Zei menggunakan tangan kirinya. Hingga ketukan ke tiga, tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Krystal berinisiatif membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci. "Seharusnya tidak apa-apa," gumam Krystal saat berinisiatif untuk masuk begitu saja dan menaruh buku-buku ini ke atas meja. Usai bergelut dengan pikiran sendiri, Krystal memilih untuk masuk saja meski sang guru tak terlihat keberadaannya. "Selesai," gumam Krystal dan ingin kembali ke kelasnya. Akan tetapi, sudut mata Krystal tak sengaja menangkap sosok di dalam layar komputer yang terdapat di ruangan Bu Zei. Krystal mendekati layar itu sambil mengerjap—memastikan jika dia tidak salah lihat. Sadar jika itu nyata dan berasal dari pantaun Cctv, Krystal tak mampu menutupi keterkejutannya. Krystal hapal lokasi itu, yaitu di belakang sekolah. Apakah ini alasan Jaehan melarangnya ke sana karena cctv ini? Terlepas dari itu semua, Krystal lebih penasaran dengan kejadian yang terekam cctv itu. Tampak dua orang laki-laki yang tengah berasiteru. Krystal memekik tertahan saat laki-laki satunya mencekik laki-laki yang tidak dikenali Krystal. "Mau apa dia?" ujar Krystal panik melihat kelakuan laki-laki satunya. Dia Jaehan, tengah mencekik seorang siswa laki-laki. Wajah siswa itu tampak sudah memerah dengan urat leher menonjol. "Ada apa dengannya?" geram Krystal saat Jaehan melepas cengkeramannya. Tanpa membuang waktu lebih lama, Krystal berlari ke luar ruangan Bu Zei dan langsung menyusul Jaehan di belakang sekolah. Di tempat lain, Jaehan menghela napas lelah sambil berkacak pinggang. Di hadapannya seorang laki-laki tengah berusaha menormalkan deru napasnya sambil memegangi lehernya yang memerah akibat cengkraman Jaehan. Dia bernama Gin, salah satu orang yang menangani kebersihan MSS. Sudah sejak lama Jaehan sering memperhatikannya dan mengawasinya. Hingga tadi, Jaehan tak mampu menahan kesabarannya lagi saat Gin melakukan tindakan kurang ajarnya, yakni memotret siswi yang tengah di toilet. Hal itu jelas sangat menjijikkan dan membuat siapa pun marah. Demi tak mengundang perhatian orang banyak, Jaehan menyeret Gin ke belakang sekolah dan memberikan laki-laki itu pelajaran. "Kau hanya bocah bodoh," ucap Gin sambil terkekeh. "Kau tidak akan bisa merusak kesenanganku." Jaehan menatap Gin dengan ekspresi datar. "Kau sakit." "Hm terserah apa katamu saja. Kita sudahi, ya. Aku harus berkeliling lagi ...." Gin terkekeh lagi, menampakkan giginya yang kuning dan menjijikkan. "Bocah, bocah, kau hanya membuang-buang waktumu, hush sana masuk ke kelasmu," lanjutnya sambil menepuk pipi Jaehan. Jaehan hanya bergeming saat Gin melewatinya. Hingga langkah ke lima Gin, barulah Jaehan membuka suara. "Tangan kiri." "Akhhhh!" teriak Gin sambil berlutut dan memegangi tangannya yang tiba-tiba sakit luar biasa. "Tangan ini yang sering melakukan kejahatannya," ucap Jaehan sambil menunduk dan menepuk pipi Gin seperti yang dilakukan laki-laki itu padanya tadi. Gin menggertak. Giginya saling bertubrukan dengan pandangan sarat akan kemarahan. "Sebenarnya kau siapa hah?" raung Gin. Lalu terbaring saat tangannya bertambah sakit. Jaehan tidak akan membuat laki-laki ini mati. Dia hanya akan mengujinya dan memberikannya mimpi yang akan selalu menghantuinya saat keinginan buruknya kembali datang. Selebihnya biar polisi yang menanganinya. "HENTIKAN!" "Ah, s**l!" geram Jaehan saat mendengar teriakan seseorang di belakangnya. Tidak lama kemudian gadis itu pun sampai di sampingnya sambil menormalkan deru napasnya. Gin mengangkat kepala, penasaran dengan gadis yang baru saja tiba. Jaehan menyadari tindakan laki-laki itu yang menatap Krystal dengan ekspresi aneh. Tidak lama kemudian, Gin kembali berteriak saat rasa sakit tiba-tiba menyerang tangannya. "Apa yang kau lakukan padanya?" bentak Krystal sambil memukul bahu Jaehan. Pandangannya beralih ke Gin. "Dia petugas kebersihan sekolah kita ... kau ini apa-apaan!" Jaehan mengedikkan bahu. Sepertinya akan memakan waktu lama untuk menyudahi perburuannya ini karena adanya Krystal yang ikut campur. Krystal berjongkok, membantu Gin untuk berdiri. Laki-laki b***t itu tentu langsung tersenyum sambil meringis kesakitan sambil memegang tangan Krystal yang membantunya. "Kau akan menyesal jika tau apa yang dilakukan laki-laki itu pada kalian," ucap Jaehan dengan nada rendah. Krystal menyorot Jaehan dengan ekspresi kesal. "Memangnya apa?" Sudut bibir Jaehan berkedut tipis. "Dia pelaku yang pernah memasang kamera tersembunyi di kamar kecil dan memotret siswi di toilet." Beberapa saat, Krystal mematung dengan ekspresi kosong. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jaehan sambil menyentuh bahu Krystal. Krystal mengerjap, lalu menggeleng. Ekspresinya menunjukkan jika dia sangat terkejut. Setelahnya Krystal beralih ke Gin yang mundur takut-takut, sedangkan Krystal semakin maju menghampirinya. "Hal yang sangat aku sesali hari ini ialah karena membantu orang sepertimu." "Dia berbohong!" bela Gin panik. Tanpa menunggu lebih lama, Krystal langsung melompat dan memutar tubuhnya seraya melayangkan kakinya ke kelamin Laki-laki itu hingga memekik keras. "Rasakan s****n!" geram Krystal sambil menyampirkan rambutnya. Jaehan tersenyum simpul di belakang sambil bersidekap d**a. "Apakah aku melakukannya dengan baik?" tanya Krystal dan dibalas anggukan oleh Jaehan. "Kau melakukannya dengan baik." "Kita harus membawanya ke kantor polisi. Tapi sepertinya akan sulit jika tak memiliki alat bukti," kata Krystal. Jaehan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan flashdisk. "Semuanya ada di sini." Krystal langsung tersenyum. "Kau sudah mempersiapkannya ternyata. Kalau begitu ayo kita laporkan ke kantor polisi," kata Krystal. Setidaknya berita itu pasti akan beredar cepat atau lambat hingga sampai ke telinga kepala sekolah. Sebenarnya dulu memang ada desas-desus mengenai ditemukannya kamera tersembunyi di toilet. Sayangnya tak ada yang tau siapa pelakunya. Sedangkan pihak sekolah seolah menutup mata dan telinga serta meminta semuanya tutup mulut demi terjaganya reputasi MSS. "Biar aku yang mengurusnya," ucap Jaehan. Seperti yang selalu dia lakukan. Hasil buruannya akan mengantarkan dirinya sendiri ke kantor polisi dan menjelaskan semua perbuatan-perbuatan jahat mereka sambil memberikan alat bukti yang telah disiapkan Jaehan. Krystal menatap Jaehan beberapa saat, seolah mencari titik kebohongan di wajah itu. "Kau serius bisa melakukannya?" tanya Krystal. Jaehan mengangguk. Lebih tepatnya Kaezn yang akan mengurus semua kekacauan ini. Krystal mengangguk mengerti. Kemudian menatap Gin yang meringis kesakitan. "b******k!" geram Krystal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN